NovelToon NovelToon
Antagonis Milik Sang Duke

Antagonis Milik Sang Duke

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Transmigrasi / Obsesi
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Rembulan Pagi

Lily mati akibat kanker usus setelah hidupnya habis hanya untuk bekerja. Begitu membuka mata, ia telah menjadi Luvya Vounwad, gadis 12 tahun yang nantinya ditakdirkan menjadi antagonis tragis dalam novel yang pernah dibacanya. Ia bertekad mengubah alur agar tidak berakhir mati mengenaskan seperti nasib asli Luvya.

​Namun, saat Luvya mulai bergerak mengubah nasibnya, Kael muncul sebagai anomali. Bukannya menjadi kakak angkat yang mewarisi gelar ayahnya, ia justru hadir sebagai Duke Grandwick yang berkuasa dan sangat terobsesi pada Luvya. Naskah yang ia tahu kini hancur total. Di tengah jalan cerita yang berantakan, bagaimanakah cara Luvya merubah segalanya demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rembulan Pagi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1. Masuk Ke Dalam Novel

​"Kau mau pergi ke mana, Luvya?"

​Suara itu rendah, berat, dan dingin seperti gesekan pedang di atas es. Luvya membeku di depan pintu perpustakaan. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang berdiri di sana. Aura intimidasi itu sudah cukup untuk mencekik udara di sekitarnya.

​Langkah sepatu bot yang teratur mendekat. Kael Grandwick—pria yang seharusnya hanya menjadi kakak angkat yang dingin dalam novel—kini berdiri tepat di belakangnya. Luvya bisa merasakan bayangan tubuh Kael yang tinggi besar menutupi cahaya lampu di depannya. Postur tubuhnya yang kekar terbalut kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku, memperlihatkan urat-urat tangan yang kuat, seolah ia baru saja menyelesaikan urusan militer yang melelahkan.

​Kael tidak menyentuhnya. Ia hanya mengulurkan tangan, melewati bahu Luvya, untuk menutup pintu kayu yang berat itu kembali dengan satu sentuhan pelan. Klik.

​"Bukankah seru mencuri informasi Duke Grandwick di perpustakaan miliknya?" bisik Kael tepat di samping telinganya.

​Luvya memberanikan diri sedikit melirik. Dari pantulan gagang pintu yang mengkilap, ia bisa melihat helaian rambut hitam legam Kael yang jatuh berantakan di dahi. Namun yang paling mengerikan adalah sepasang mata biru tuanya. Mata itu menatap Luvya dengan sorot yang tajam dan posesif, seakan-akan ada rantai kasat mata yang siap menjerat Luvya jika ia berani melangkah satu senti saja dari sana.

​Luvya menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang karena takut.

​Ini gila. Di novel, seharusnya dia tidak berada di rumah sekarang. Aku benar-benar telah menghancurkan jalan ceritanya, batin Luvya.

Ketegangan itu terasa begitu nyata hingga Luvya nyaris lupa cara bernapas. Namun, di tengah kepungan aura intimidasi Kael, Luvya tersadar mengapa ia bisa terjebak di detik ini. Mengapa ia, yang dulunya bukan siapa-siapa, kini harus berhadapan dengan Duke Grandwick yang obsesif.

​Semuanya bermula dari kehidupan yang ingin ia lupakan.

Jauh sebelum ia menjadi Luvya Vounwad, ia hanyalah Lily. Seorang gadis yatim piatu yang sisa hidupnya habis untuk bertaruh dengan nasib.

​Sore itu, di sudut minimarket yang sepi, Lily menatap layar ponselnya yang retak dengan napas tertahan. Sebuah notifikasi email masuk. Begitu membacanya, Lily spontan memekik kecil hingga menjatuhkan kain pel yang ia pegang.

​"Lolos... Aku lolos!" Lily menutup mulutnya dengan kedua tangan, air mata bahagia menggenang di pelupuk matanya. "Nenek, aku berhasil! Aku masuk Fakultas Hukum!"

​Ia tertawa sendirian, mengabaikan tatapan heran beberapa pelanggan. Dengan tangan gemetar, ia menekan tombol panggil di ponselnya. Ia ingin menjadi orang pertama yang memberi tahu neneknya bahwa perjuangan mereka tidak sia-sia.

Belum sempat menelpon neneknya, ia mendapat telpon dari nomor rumah sakit.

​"Apakah ini keluarga dari Nyonya Maryam?"

​Senyuman Lily sirna. Suara di seberang sana bukan suara lembut neneknya, melainkan suara kaku dan dingin khas petugas rumah sakit.

​"I-iya, saya cucunya. Ada apa ya?" tanya Lily, mendadak jantungnya berdegup tidak keruan.

​"Nyonya Maryam baru saja dilarikan ke ICU karena gagal jantung. Anda harus segera ke Rumah Sakit Medika sekarang."

​Ponsel di tangan Lily nyaris jatuh. Dunia yang sedetik lalu terasa penuh warna, tiba-tiba berubah menjadi abu-abu.

​"Tapi... tapi beasiswaku..." Lily bergumam lirih pada udara kosong. Harapannya tentang toga dan ruang sidang menguap saat itu juga. Tanpa pikir panjang, ia melepaskan impiannya. Ia mendatangi kantor administrasi kampus hanya untuk mengatakan satu kalimat yang menghancurkan masa depannya: "Saya membatalkan pendaftaran saya."

​Setelah itu, hidup Lily berubah menjadi putaran mesin yang kejam. Ia mengambil tiga pekerjaan sekaligus.

​"Lily, makan dulu! Wajahmu sudah pucat sekali," tegur salah satu rekan kerjanya di gudang.

​Lily hanya tersenyum tipis sambil terus mengangkut kardus-kardus berat. "Nanti saja, Pak. Masih banyak tagihan rumah sakit yang harus saya bayar."

​Ia menekan perutnya yang terasa seperti ditusuk-tusuk sembilu. Perih sekali. Tapi Lily hanya meminum air keran untuk mengganjal lapar. Baginya, satu porsi nasi setara dengan harga satu botol obat untuk neneknya.

​Hingga akhirnya, perjuangan itu kalah oleh takdir. Neneknya pergi selamanya. Di hari pemakaman yang diguyur hujan, Lily berdiri gemetar dengan baju hitam yang sudah luntur warnanya.

​"Nenek... aku sendirian sekarang," bisiknya pilu di depan pusara. Saat ia hendak melangkah pergi, dunianya berputar hebat. Lily ambruk, jatuh tersungkur di atas tanah makam yang berlumpur.

​Ia terbangun di bangsal rumah sakit yang pengap. Bau disinfektan menyeruak masuk ke indranya.

​"Maaf," suara dokter terdengar seperti vonis mati. "Kanker ususmu sudah stadium akhir. Seharusnya kau datang sejak lama."

​Lily hanya menatap langit-langit RS yang retak dengan pandangan kosong.

​Malam itu, Lily meninggal dalam kesunyian. Tidak ada tangan yang menggenggamnya, hanya bunyi tit panjang dari alat monitor jantung yang menandakan perjuangan panjangnya telah selesai.

Namun, kegelapan yang ia harapkan sebagai peristirahatan abadi tak kunjung datang.

​Lily terbangun di sebuah ruang hampa yang pekat. Dingin dan tak berujung. Di tengah kekosongan itu, ia melihat satu-satunya titik cahaya. Seorang gadis berambut pirang pucat sedang duduk meringkuk, memeluk lututnya dengan bahu yang bergetar hebat. Isak tangisnya terdengar menyayat hati.

​"Siapa...?" suara Lily parau, seolah suaranya sudah lama tak digunakan.

​Gadis itu tidak menjawab. Ia hanya terus bergumam di balik sela-sela tangisnya, "Selamatkan aku... kumohon, selamatkan aku."

​Lily melangkah mendekat, meski setiap langkah terasa berat. Ruangan itu begitu gelap hingga ia hanya bisa melihat gadis itu sebagai satu-satunya pusat dunia. Saat Lily mengulurkan tangan dan menyentuh bahu gadis itu, si gadis pirang mendongak.

​Wajahnya samar, tertutup air mata dan kabur, namun matanya memancarkan keputusasaan yang begitu dalam. Sesaat sebelum jemari Lily benar-benar merengkuhnya, gadis itu berbisik sekali lagi dengan suara yang hampir menghilang.

​"Selamatkan aku."

​Tiba-tiba, lantai di bawah kaki Lily runtuh. Ia terjatuh ke dalam lubang hitam raksasa yang seolah menelan seluruh keberadaannya. Sensasi jatuh itu begitu nyata hingga jantungnya seakan tertinggal di atas.

​"Hah—!"

​Lily tersentak bangun. Napasnya memburu, keringat dingin membasahi keningnya. Ia segera meraba perutnya, rasa sakit yang biasanya mengoyak ususnya hilang tanpa bekas. Pandangannya berputar menyapu ruangan yang terasa asing namun sangat megah. Langit-langit kamarnya dihiasi lukisan mural kuno, dan tempat tidur yang ia tempati terasa begitu empuk, jauh berbeda dari bangsal rumah sakit yang keras.

​​"Nona Luvya? Anda sudah sadar?"

Lily membeku. Seorang wanita paruh baya dengan pakaian pelayan klasik berwarna hitam-putih berdiri di samping ranjangnya, menatapnya dengan raut wajah cemas yang mendalam.

​"N-nona Luvya? Anda benar-benar sudah sadar?" Wanita itu bertanya sekali lagi, suaranya gemetar. Begitu melihat Lily mengerjapkan mata, wanita itu langsung menangis haru. "Terima kasih Dewa! Saya pikir... saya pikir kami akan kehilangan Anda selamanya."

​Lily hanya bisa terdiam dengan tenggorokan kering. Nona Luvya? Dewa? Siapa mereka? Bukankah aku sudah mati di rumah sakit?

​Belum sempat ia mencerna keadaan, pintu kamar yang besar terbuka lebar. Seorang pria paruh baya berkacamata dengan raut wajah formal masuk, diikuti oleh pria lain yang mengenakan jubah putih bersulam benang keemasan yang sangat megah.

​Pria berjubah itu tidak membawa stetoskop atau peralatan medis modern. Ia justru mengeluarkan sebuah tongkat kayu yang di puncaknya tertanam kristal bening. Saat ia mulai berkomat-kamit, cahaya putih hangat memancar dari tongkat itu, menyelimuti tubuh Lily.

​Lily terbelalak. Sinar itu bukan lampu, tapi terasa nyata meresap ke kulitnya.

​"Sangat ajaib," gumam sang tabib sambil menurunkan tongkatnya. Ia menoleh pada pria berkacamata. "Tuan Gogrid, kekuatan suci tidak lagi ditolak oleh tubuhnya. Dewa benar-benar telah memberikan Nona Luvya keselamatan. Masa kritisnya sudah lewat."

​Pria berkacamata yang dipanggil Tuan Gogrid itu mengembuskan napas lega, meski wajahnya tetap kaku. Ia mendekat ke sisi ranjang, menatap Lily dengan tatapan yang sulit diartikan.

​"Baguslah kalau Anda sudah sadar, Nona Luvya," ucap Tuan Gogrid formal. "Segera pulihkan diri Anda. Duke Vounwad akan segera kembali dari wilayah utara dalam beberapa hari. Beliau pasti mengharapkan Anda sudah bisa berdiri tegak saat menyambutnya nanti."

​Lily hanya bisa menatap mereka bergantian dengan pandangan kosong. Duke? Tuan? Tabib dengan tongkat sihir?

​Semua istilah itu terasa tidak asing di telinganya. Perlahan, ingatan tentang sebuah novel berjudul A Healer for the Crown mulai berputar di kepalanya. Nama-nama itu... tempat ini...

​Jangan-jangan...

Begitu Tuan Gogrid dan sang tabib melangkah keluar, Lily tidak membuang waktu. Mengabaikan rasa pening yang masih sedikit tersisa, ia langsung bangkit dari ranjangnya.

​"Nona! Apa yang Anda lakukan? Anda harus beristirahat!" seru pelayan itu panik, berusaha menahan lengan Lily.

​Lily tidak mendengarkan. Ia menyibakkan selimut sutra yang berat itu dan melompat turun. Kakinya mendarat di atas karpet bulu yang sangat lembut—sensasi yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Ia segera berlari menuju cermin besar berbingkai emas yang berdiri angkuh di sudut ruangan.

​Dan... BUM!

​Lily membeku. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat melihat pantulan di depannya.

​Ini bukan dirinya.

​Gadis di dalam cermin itu memiliki rambut pirang yang bergelombang, kulit putih porselen tanpa cela, dan sepasang mata berwarna biru cerah yang tampak sangat jernih. Cantik, namun terlihat rapuh. Lily menyentuh wajahnya, dan sosok di cermin itu melakukan hal yang sama dengan gerakan gemetar.

​"Luvya...?" gumamnya lirih.

​Nama itu menghantam otaknya seperti palu godam. Luvya Vounwad. Ia ingat sekarang. Ini adalah nama karakter antagonis dari novel A Healer for the Crown yang pernah ia baca untuk membunuh waktu di sela jam kerjanya dulu. Novel romansa Fantasi yang di mana pemeran utama wanita yaitu Sellia Hastelle ditakdirkan untuk menyembuhkan pemeran utama pria yaitu Arken Carius. Sedangkan Luvya Vounwad adalah karakter antagonis yang menyukai Arken—putra mahkota—lalu menindas Sellia. Hingga pada episode akhir, Luvya mati penggal dan mayatnya digantung.

​Lily menunduk, memperhatikan tangannya yang kecil dan halus. Dilihat dari postur tubuhnya yang mungil dan wajahnya yang masih polos, ia menyimpulkan satu hal, tubuh ini masih anak-anak. Usianya mungkin sekitar dua belas tahun.

​"Artinya... cerita itu belum dimulai," bisiknya pelan, hampir tak terdengar.

​Pelayan di belakangnya berdiri dengan wajah pucat, tampak kebingungan sekaligus ketakutan melihat nonanya yang biasanya pendiam kini bertingkah aneh—berdiri tegak di depan cermin sambil bicara sendiri setelah baru saja melewati masa kritis.

​"Nona Luvya? Anda... Anda baik-baik saja? Perlu saya panggilkan Tuan Gogrid kembali?"

​Lily—yang kini adalah Luvya—berpaling. Matanya yang biru cerah kini menatap pelayan itu dengan tajam, sebuah tatapan dingin yang tidak seharusnya dimiliki oleh anak berusia dua belas tahun.

​"Tidak perlu," jawabnya tegas. "Siapa namamu?"

Wajah pelayan itu seketika memucat, matanya membulat penuh ketakutan. "Nona... Anda tidak mengingat saya? Saya Willy, pelayan pribadi Anda sejak kita masih di kediaman lama."

​Luvya tertegun sejenak. Ia benar-benar tidak tahu siapa pria di depannya ini. Sejauh ingatan yang ia miliki tentang novel A Healer for the Crown, hanya ada satu nama pelayan pria yang dominan di kediaman ini: Gogrid, pria berkacamata yang tadi keluar bersama tabib.

​"Ah, benar. Willy," sahut Luvya berusaha tetap tenang. Suaranya terdengar datar, namun ada nada otoritas yang tidak biasa di sana.

​"Nona, apa kepala Anda terasa sakit? Apa saya harus memanggil tabib kembali? Anda tampak... sangat berbeda," tanya Willy dengan tangan yang gemetar. Ia tampak bingung melihat nonanya yang biasanya meledak-ledak kini justru terlihat sangat terkendali.

​Luvya menghela napas panjang. Ia butuh waktu untuk menyusun strategi dan memproses semua informasi ini tanpa gangguan. Jika ia terus bicara, ia takut rahasianya akan terbongkar. Sebagai seseorang yang pernah hidup keras dan harus selalu waspada, instingnya mengatakan ia butuh ruang untuk berpikir jernih.

​"Aku hanya butuh waktu untuk sendiri," ucap Luvya sambil berjalan kembali ke arah ranjang dengan langkah yang stabil. Sangat kontras dengan kondisinya yang baru saja sadar dari masa kritis. "Keluar, Willy. Jangan biarkan siapa pun masuk sampai aku memanggilmu."

​"Tapi, Nona—"

​"Keluar," potong Luvya pendek. Ia memberikan tatapan tajam yang membuat Willy langsung bungkam.

​"Ba-baik, Nona. Saya akan berjaga di depan pintu." Willy membungkuk dalam, lalu mundur perlahan dan menutup pintu kamar yang besar itu dengan hati-hati.

​Begitu suara pintu tertutup dan suasana menjadi hening, Luvya langsung menyandarkan punggungnya ke sandaran ranjang yang empuk. Ia menatap tangannya yang mungil dan halus, lalu beralih menatap kemewahan di sekelilingnya yang terasa sangat asing.

​"Luvya Vounwad, usia dua belas tahun," bisiknya pada diri sendiri.

​Ingatannya tentang plot novel mulai berputar cepat di kepalanya. Di usia inilah takdir buruk Luvya dimulai. Dan yang paling penting... ini adalah tahun di mana Duke Vounwad akan membawa "anak itu" ke rumah ini.

​"Kael..." Luvya bergumam, merasakan firasat buruk mulai merayapi hatinya.

1
kiu kiu
wowww...lucius mulai tergetar hatinya melihat luvya.hingga ingin berdansa dgnya.apa ini tanda tanda thor...jodoh utk luvya di depan mata.🤭🤭🤭🤭😍😍
aku
siapa??? 🤔
kiu kiu
wow...semakin menarik thor..
kiu kiu
bagus thor..ceritanya semakin menarik.semoga luvya menjadi seorang penyihir jenius...
aku
kenapa gk jujur aja liv, klo duke yg buang kamu. pasti paman dn ponakan itu bakal ngerti, nah jd sekutu dh kalian. bs jd kamu malah dilindungi 😁😁
Rembulan Pagi: sifatnya Luvya memang susah percaya kak, akibat masa lalunya🤭
total 1 replies
kiu kiu
mantap thor...buat semua terkagum dg kepintaran luvya thor.agar nasib luvya tidak hancur.gara gara duke sialan itu.
Rembulan Pagi
Silakan mampir bagi yang suka cerita fantasi bertema kerajaan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!