Mentari, si gadis bar-bar kaya raya, dipaksa menukar gemerlap kelab malam dengan dinginnya lantai pesantren. Baginya, ini adalah hukuman mati, sampai ia bertemu Gus Zikri putra Kyai tampan yang sangat dingin dan selalu menjaga pandangan.
Merasa tertantang karena diabaikan, Mentari bertekad menaklukkan hati sang Gus. Namun, misinya tidak mudah. Ia harus menghadapi tiga teman sekamar yang ajaib: Fahma yang super lemot,Bondan yang genit mata keranjang, dan Hafizah yang hobi berceramah.
Di antara godaan pesona dan benteng iman, mampukah Mentari melelehkan hati Gus Zikri? Atau justru ia yang terjerat dalam sujud yang panjang?
"Satu misi gila: Membuat sang Gus jatuh cinta."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ANTARA JAKARTA DAN DOA-DOA PESANTREN
Bulan kesembilan telah tiba. Perut Mentari kini sudah sangat besar, membuat gerakannya terbatas dan napasnya seringkali tersengal meski hanya berjalan dari kamar ke ruang tamu. Namun, di tengah penantian yang mendebarkan itu, sebuah perdebatan besar mulai muncul ke permukaan, memicu ketegangan yang belum pernah terjadi sebelumnya di rumah kecil mereka.
Semuanya bermula saat Mentari menerima telepon dari Mamanya di Jakarta.
"Tari, Mama sudah pesan kamar VVIP di rumah sakit langganan kita di Jakarta Pusat. Dokter spesialisnya sudah siap, fasilitasnya lengkap, dan ada tempat tidur khusus buat Gus Zikri kalau mau menginap. Kamu harus pulang ke Jakarta minggu depan," ucap sang Mama dengan nada yang tak bisa dibantah.
Sore itu, saat Gus Zikri baru saja pulang dari mengimami salat Ashar, Mentari menyampaikan keinginan Mamanya. Ia duduk di tepi ranjang, tangannya terus mengusap punggung bawahnya yang berdenyut nyeri.
"Mas... Mama mau aku lahiran di Jakarta. Di sana fasilitas medisnya lebih lengkap, dokternya sudah kenal aku dari kecil. Aku... aku takut kalau di sini ada apa-apa, peralatannya nggak secanggih di sana," ucap Mentari pelan, matanya menatap Zikri dengan penuh harap.
Zikri terdiam cukup lama. Ia duduk di kursi kayu, menatap keluar jendela ke arah bangunan masjid yang megah. "Mentari, Mas mengerti kekhawatiranmu. Tapi, ini adalah anak pertama kita. Mas ingin dia lahir di sini, di tanah yang penuh dengan lantunan ayat suci, di tempat di mana ribuan santri mendoakan kehadirannya setiap subuh."
Zikri mendekat dan berlutut di depan Mentari. "Mas ingin telinga pertama yang dia dengar saat keluar ke dunia adalah azan di masjid ini, bukan kebisingan kota Jakarta. Mas juga ingin Abah dan Umi bisa langsung menggendong cucu mereka."
"Tapi Mas, ini soal nyawa!" suara Mentari mulai meninggi karena emosi yang tidak stabil. "Kalau terjadi komplikasi gimana? Puskesmas di sini jauh, rumah sakit daerah juga butuh waktu satu jam. Aku nggak mau ambil risiko!"
Zikri menarik napas panjang. "Mas sudah bicara dengan Dokter Sarah di sini. Dia sangat kompeten. Dan Mas percaya, perlindungan terbaik adalah doa-doa yang mengitari tempat ini. Apa kamu meragukan doa-doa itu, Mentari?"
Mentari tertegun. Ia merasa terpojok. "Bukan gitu, Mas! Mas selalu bawa-bawa agama, tapi ini soal medis!"
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak mereka benar-benar menyatu, ada punggung yang saling membelakangi di atas ranjang.
Keesokan harinya, suasana tegang itu tercium oleh Bondan, Fahma, dan Hafizah. Mentari tidak keluar rumah, dan Gus Zikri tampak sangat pendiam saat mengajar.
"Oke, ini nggak bener. Hawanya lebih dingin daripada pas mereka belum jatuh cinta," bisik Bondan saat mereka bertiga berkumpul di teras samping.
Hafizah masuk ke dalam rumah untuk membujuk Mentari bicara. Ia menemukan Mentari sedang menangis sambil menatap foto Jakarta di ponselnya.
"Tari... jangan nangis terus. Nggak baik buat bayinya," ucap Hafizah lembut.
"Fiz, Mas Zikri egois! Dia cuma mikirin tradisi pesantren, dia nggak mikirin keselamatanku!" adu Mentari.
Di sisi lain, Fahma mencoba bicara pada Gus Zikri yang sedang memberi makan burung di halaman. "Gus... kenapa mukanya ditekuk? Apa gara-gara Mentari pengen lahiran di Jakarta?"
Zikri menatap Fahma. "Fahma, menurutmu salah jika saya ingin anak saya lahir di tempat yang berkah?"
Fahma menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Gus, kata Ibu aku dulu, tempat paling berkah itu adalah tempat di mana seorang ibu merasa paling tenang. Kalau Mentari takut, nanti bayinya juga ikut takut di dalem perut."
Zikri terdiam mendengar ucapan polos Fahma. Kalimat itu menghujam jantungnya.
Malam harinya, Zikri masuk ke kamar dengan membawa segelas susu hangat. Ia melihat Mentari sedang tertidur pulas dengan sisa air mata di pipinya. Zikri duduk di sampingnya, mengusap kepala istrinya dengan penuh penyesalan.
Ia teringat perjuangan Mentari meninggalkan gemerlap Jakarta demi dirinya. Ia teringat bagaimana Mentari berusaha belajar ngaji meski ditertawakan netizen. Dan kini, di saat Mentari merasa ketakutan, ia justru menambah beban itu dengan keinginannya sendiri.
Saat Mentari terbangun, Zikri langsung memeluknya. "Maafkan Mas, Mentari. Mas yang egois."
Mentari terisak di pelukan suaminya. "Mas..."
"Jika Jakarta membuatmu merasa lebih tenang dan aman, pergilah ke sana. Mas akan ikut. Mas akan menemani kamu di sana. Kebahagiaan dan ketenanganmu jauh lebih penting daripada ego Mas soal tempat kelahiran," ucap Zikri dengan tulus.
Mentari menatap suaminya tak percaya. "Beneran, Mas?"
Zikri mengangguk. "Tapi, Mas punya satu permintaan. Sebelum kita berangkat minggu depan, izinkan santri-santri di sini membacakan doa khataman untuk keselamatanmu dan bayi kita."
"Tentu, Mas. Tentu!" Mentari memeluk Zikri erat.
Namun, rencana manusia tetaplah rencana. Tepat di malam sebelum mereka berangkat ke Jakarta, saat Mentari sedang mengemas pakaiannya, sebuah sensasi hangat menjalar di kakinya.
Plup.
Mentari terpaku. Air ketubannya pecah.
"MAAAAASSS! MAS ZIKRI!" teriak Mentari panik.
Seluruh pesantren mendadak heboh. Gus Zikri yang biasanya tenang, kini lari tunggang langgang mencari kunci mobil. Bondan berteriak-teriak mencari bidan, sementara Fahma sibuk mencari senter padahal lampu sedang menyala terang.
"Tari, tenang! Napas, Sayang!" Zikri mencoba menenangkan Mentari yang mulai merintih kesakitan.
"Mas... nggak sempat ke Jakarta! Sakit banget!" teriak Mentari.
Akhirnya, tidak ada pilihan lain. Mentari dibawa ke ruang bersalin sederhana di klinik pesantren. Di luar, ratusan santri yang mendengar kabar itu langsung berkumpul di depan klinik. Tanpa dikomando, mereka duduk bersila dan mulai melantunkan selawat serta doa-doa keselamatan secara serempak.
Suara selawat itu masuk ke dalam ruangan, menyelimuti Mentari yang sedang berjuang antara hidup dan mati. Anehnya, saat mendengar suara doa-doa itu, rasa takut Mentari perlahan hilang. Ia merasa sangat kuat, seolah ada ribuan tangan tak terlihat yang sedang menopang punggungnya.
"Ayo Mentari, sedikit lagi!" dukung Dokter Sarah.
Zikri membisikkan ayat-ayat suci tepat di telinga Mentari, menggenggam tangannya sekuat tenaga. "Kamu bisa, Mentari. Allah bersamamu."
Dan saat matahari mulai menampakkan sinarnya di ufuk timur, sebuah suara tangisan bayi yang sangat kencang memecah keheningan pesantren.
Oeeekk... oeeekk...
Bayi itu lahir. Di tanah pesantren. Di tengah doa-doa yang melangit. Mentari menangis haru, ia menyadari bahwa tempat terbaik bukanlah yang paling canggih, melainkan tempat yang paling banyak mendapatkan cinta dan doa.