NovelToon NovelToon
Checkmate,Papa! : Strategi Sikembar Penguasa Bayangan

Checkmate,Papa! : Strategi Sikembar Penguasa Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mafia / Reinkarnasi
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

"Papa, posisi kakimu salah. Satu inci lagi, dan sensor laser akan membelah jas mahalmu."
Damian Xavier, sang Raja Mafia 'Vipera' yang tak kenal ampun, tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan dikendalikan oleh sepasang kembar berusia 8 tahun. Ia mengira telah menemukan anak rahasianya, namun kenyataannya, ia menemukan dua penguasa bayangan yang sedang mencari 'pion' untuk melindungi ibu mereka.
Leo adalah reinkarnasi sang Marsekal Perang Legendaris yang tewas dikhianati, sementara Lea adalah mantan Profiler Kriminal FBI yang ahli dalam bedah jiwa manusia. Bagi mereka, Damian hanyalah aset strategis yang perlu dijinakkan, dan Qinanti—ibu mereka yang lembut—adalah satu-satunya harta yang harus dilindungi.
Selamat datang di papan catur keluarga Xavier, di mana sang Raja Mafia hanyalah salah satu pion dalam strategi besar anak-anaknya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: PERANGKAP SANG ADIPATI

​POV: LEO (Jiwa Sang Marsekal)

​Keheningan di ruang kendali bawah tanah hari ini terasa berbeda. Bukan keheningan yang menenangkan, melainkan kesunyian yang mencekam, sejenis atmosfer yang muncul tepat sebelum dentuman artileri pertama menghancurkan garis pertahanan. Aku duduk di kursi pusat, dikelilingi oleh pendaran cahaya biru dari belasan monitor yang memetakan setiap inci Jakarta, hingga ke sinyal satelit di atas Samudera Hindia.

​"Target terkonfirmasi," gumamku datar. Jemariku menari di atas keyboard mekanik, melakukan zoom-in pada sebuah jet pribadi tanpa logo yang baru saja mendarat di landasan pacu ilegal di pinggiran Bogor. "Variabel ancaman: Tertinggi. Nama sandi: The Iron Duke."

​Aku menyesap susu cokelatku yang sudah mendingin, mataku tidak pernah lepas dari siluet pria yang turun dari jet tersebut. Dia tidak membawa pasukan. Hanya sebuah koper perak dan langkah kaki yang memiliki ritme presisi seorang pembunuh berantai yang sangat terdidik.

​"Papa," ucapku melalui saluran komunikasi internal.

​"Aku sudah melihatnya, Leo," suara Damian terdengar dari ruang interogasi di lantai atas. "Dia adalah algojo pribadi Alexander. Jika dia di sini, berarti kakekmu sudah berhenti bermain catur dan mulai membakar papan caturnya."

​"Dia bukan sekadar pembakar papan, Papa. Dia adalah penghapus jejak," aku menggeser layar, menampilkan data biometrik sang Adipati. "Berdasarkan sejarahnya di Eropa, dia tidak akan langsung menyerang mansion. Dia akan menyerang variabel yang paling lemah dalam struktur emosional kita. Dia akan mencari jangkar Mama."

​Aku menekan tombol 'Execute'. Seketika, puluhan drone pengintai mikro meluncur dari ventilasi tersembunyi di seluruh penjuru kota. Aku harus memantau setiap pergerakan pria ini. Di duniaku dulu, mengabaikan satu unit elit seperti ini sama saja dengan mengundang kekalahan total.

​“Lea, peringatan merah. Sang Adipati sudah mendarat. Dia akan menggunakan taktik 'Social Hostage'. Pantau semua kontak lama Mama di galeri seni dan yayasan. Jangan biarkan ada satu pun celah komunikasi yang terbuka tanpa seizinku,” lapor kuku lewat Shadow Talk.

​“Diterima, Kak. Aku sedang bersama Mama di ruang interogasi. Arletta mulai bicara. Tapi Kak... ada satu variabel yang luput dari pantauanmu. Teman lama Mama, Maya, baru saja mengunggah foto lokasi galeri lamanya di media sosial. Koordinat itu kini menjadi target termudah bagi sang Adipati,” suara Lea berdesir di benakku, penuh dengan kalkulasi profil yang tajam.

​Aku mengumpat pelan dalam hati. Efisiensi manusia normal memang seringkali menjadi variabel pengganggu yang menyebalkan.

​POV: LEA (Jiwa Sang Profiler)

​Lampu neon di ruang interogasi berkedip ritmis, menciptakan bayangan yang menari di wajah Arletta yang kini sembab dan hancur. Wanita yang tadinya sombong dengan berliannya itu kini hanyalah seorang istri yang ketakutan, meremas saputangan sutranya hingga kusut.

​"Katakan lagi, Arletta. Julian memberikan data apa saja pada orang-orang London?" tanyaku. Suaraku lembut, manis, namun memiliki frekuensi yang menekan saraf—sebuah teknik Psychological Pincer yang kupelajari di FBI.

​"S-semuanya... data keuangan, rute pengiriman, dan... dan daftar orang-orang yang pernah membantu Qinanti bersembunyi sembilan tahun lalu," isak Arletta.

​Aku melirik Mama yang berdiri di sampingku. Aku bisa melihat otot rahangnya mengeras. Transformasi Qinanti dari 'Rusa yang Takut' menjadi 'Ratu yang Waspada' menunjukkan progres sebesar 85%. Dia tidak lagi memalingkan wajah saat melihat orang menangis di depan meja interogasi.

​"Mama," panggilku pelan. "Ingat apa yang Lea ajarkan? Jangan dengarkan isaknya. Lihat pergerakan jempolnya."

​Mama mengangguk, matanya menatap tajam ke arah tangan Arletta. "Dia terus menekan jempol kirinya ke telapak tangan. Dia menyembunyikan sesuatu yang lebih besar dari sekadar data pengiriman."

​"Bagus, Mama," aku tersenyum bangga. "Arletta, kau ingin menyelamatkan anak-anakmu, bukan? Maka berhentilah mencoba melindungi satu nama yang tersisa di ponselmu. Siapa pria yang kau hubungi tepat sebelum unit Ghost menjemputmu?"

​Arletta gemetar hebat. "Dia... dia menyebut dirinya Sang Adipati. Dia bilang jika aku tidak memberikan lokasi teman dekat Qinanti, dia akan memastikan anak-anakku tidak akan pernah sampai ke London."

​Mama tersentak, ia melangkah maju, memukul meja baja itu dengan suara dentuman yang mengejutkan Arletta. "Di mana Maya?! Apa yang pria itu lakukan pada Maya?!"

​Analisis: Reaksi Mama menunjukkan lonjakan adrenalin protektif. Ini bagus untuk pertahanan, tapi buruk untuk logika strategis. Aku harus menstabilkannya.

​"Mama, tenanglah," aku menggenggam tangan Mama. "Leo sudah memantau semuanya. Jika kita panik, Sang Adipati menang. Dia ingin Mama keluar dari mansion tanpa pengawalan Papa. Itu adalah inti dari perangkapnya."

​Tepat saat itu, ponsel Arletta yang berada di atas meja berdering. Sebuah nomor pribadi.

​“Kak, panggilan masuk. Lakukan trace sekarang!” perintahku lewat pikiran.

​“Sedang berjalan. Lea, biarkan Mama yang mengangkatnya. Aku ingin Sang Adipati mendengar suara 'Ratu' yang baru. Aku akan menyamarkan lokasinya agar tampak seperti Mama berada di tempat umum,” balas Leo dengan nada komando.

​Aku menatap Mama, memberikan ponsel itu padanya. "Jadilah kuat, Ma. Ingat, dia bukan monster. Dia hanyalah manusia dengan kompleksitas superioritas yang rapuh. Bedah batinnya."

​POV: QINANTI (Mama)

​Tanganku gemetar saat menerima ponsel itu, namun saat mataku bertemu dengan mata jernih Lea, getaran itu menghilang. Aku teringat semua latihan profiling singkat yang kami lakukan. Aku bukan lagi wanita yang lari sembilan tahun lalu. Aku adalah perisai bagi anak-anakku.

​Aku menekan tombol hijau dan mendekatkan ponsel ke telinga.

​"Halo?" ucapku, suaraku terdengar jauh lebih stabil dan dingin daripada yang kubayangkan.

​"Qinanti Xavier... atau haruskah kupanggil Nyonya Arisanti?" Suara di seberang sana sangat halus, sangat aristokrat, namun memiliki hawa kematian yang pekat. "Senang akhirnya bisa mendengar suara wanita yang membuat Alexander Xavier kehilangan selera makannya selama seminggu terakhir."

​"Simpan basa-basimu, Adipati," balasku tajam. "Aku tahu kau memegang Maya. Jika ada satu helai rambutnya yang terluka, kau tidak akan pernah keluar dari Jakarta dalam keadaan bernapas."

​Terdengar tawa kecil yang kering di seberang sana. "Ancaman yang menarik. Tapi kau tahu aturannya, Qinanti. Seekor pion tidak bisa mengancam menteri. Maya sedang bersamaku di Galeri Anggrek Tua—tempat kau dulu biasa melukis secara rahasia, bukan? Kenangan yang indah. Aku menunggumu di sini. Sendiri. Tanpa Damian. Tanpa anak-anak monstermu."

​"Aku akan datang," ucapku tanpa ragu.

​"Satu jam, Qinanti. Satu detik terlambat, dan aku akan mengirimkan 'karya seni' dari jemari Maya ke mansionmu."

​Panggilan terputus.

​Aku menoleh pada Damian yang baru saja masuk ke ruangan dengan wajah penuh amarah yang tertahan. Dia pasti sudah mendengar semuanya melalui penyadap Leo.

​"Kau tidak akan pergi sendirian, Qin! Itu bunuh diri!" bentak Damian.

​"Aku memang tidak akan pergi sendirian, Damian," aku menatapnya lurus ke mata, lalu beralih pada Leo yang muncul di layar monitor ruangan dengan wajah datarnya. "Leo, siapkan unit Ghost untuk perimeter. Lea, aku butuh kau di telingaku untuk membaca setiap gerakannya. Damian... kau adalah ototku. Aku ingin kau berada di bayang-bayang, siap untuk melakukan eksekusi saat aku memberikan kode."

​Damian tertegun. Dia melihatku bukan lagi sebagai istri yang harus disembunyikan, tapi sebagai pemimpin operasi. "Kau yakin, Qin?"

​"Checkmate, Damian," ucapku, meniru kata-kata Leo. "Dia pikir aku adalah kelemahanmu. Aku akan menunjukkan padanya bahwa aku adalah akhir dari permainannya."

​POV: LEO (Jiwa Sang Marsekal)

​Melihat Mama memimpin strategi adalah variabel yang tidak pernah kuhitung dalam algoritma awalku, namun efisiensinya sangat menjanjikan. Aku segera mengaktifkan Protokol 'Shadow Garrison'.

​"Papa, ambil perlengkapan taktis 'Specter'. Mama, kenakan kalung mutiara ini," aku menyerahkan sebuah kotak beludru. "Mutiara pusatnya adalah kamera resolusi tinggi dengan sensor termal. Dan di baliknya ada mikrofon frekuensi rendah."

​Aku menatap Mama, mencoba mencari sisa-sisa keraguan di wajahnya. Tidak ada. Hanya ada tekad seorang ibu yang jiwanya baru saja ditempa oleh profiler terbaik dunia.

​"Mama, Sang Adipati akan mencoba melakukan 'Gaslighting'. Dia akan menyerang masa lalu Mama dengan Damian. Dia akan mencoba membuat Mama merasa kotor dan tidak layak. Ingat, itu semua hanyalah teknik pengalihan informasi. Fokus pada napasnya. Saat dia menarik napas pendek sebelum bicara, itu berarti dia sedang menyiapkan kebohongan besar," instruksiku.

​"Diterima, Jenderal kecil," Mama tersenyum tipis, lalu ia mencium keningku. "Jaga adikmu di sini. Biarkan Papa dan Mama menyelesaikan sisa sampah dari London ini."

​Aku menatap mereka pergi menuju mobil SUV hitam yang sudah dimodifikasi. Marco memimpin barisan pengawal unit Ghost yang menyamar sebagai kendaraan sipil. Di duniaku dulu, aku selalu memimpin dari garis depan. Tapi sekarang, aku menyadari bahwa kekuatan terbesar seorang Marsekal bukan pada pedangnya, melainkan pada bagaimana dia bisa membuat orang-orang yang dia cintai menjadi pemenang.

​“Lea, aktifkan mode 'Emotional Support-Tactical'. Jika Mama mulai goyah, berikan dia stimulasi audio yang menenangkan. Aku akan menangani semua sistem listrik di Galeri Anggrek. Aku akan membuat Sang Adipati merasa dia memegang kendali, padahal dia hanya sedang menari di telapak tanganku,” ucapku lewat pikiran.

​“Dimengerti, Kak. Operasi 'Rescue Queen' dimulai dalam T-minus 15 menit. Aku sudah menyiapkan profil kelemahan narsisistik Sang Adipati. Dia sangat benci diabaikan. Mama akan menggunakan itu untuk menghancurkan ego-nya,” balas Lea.

​Aku kembali ke monitorku. Di layar, titik merah Sang Adipati sudah berada di lokasi. Dia mengira dia telah menyiapkan jebakan yang sempurna. Dia tidak tahu bahwa dia baru saja mengundang seluruh neraka klan Vipera ke pintunya.

​POV: DAMIAN XAVIER

​Mobil meluncur menembus kemacetan Jakarta dengan kecepatan yang terukur. Di sampingku, Qinanti duduk dengan ketenangan yang nyaris menakutkan. Dia terus memeriksa sensor di kalungnya, memastikan sinkronisasi dengan Leo berjalan sempurna.

​"Damian," panggilnya tanpa menoleh.

​"Ya, Qin?"

​"Aku tahu kau sangat ingin membunuhnya sekarang. Tapi tolong, tahan dirimu sampai aku menyelamatkan Maya. Dia adalah satu-satunya orang yang membantuku saat aku tidak punya apa-apa selama pelarianku. Dia adalah keluarga."

​Aku menggenggam kemudi dengan erat hingga buku jariku memutih. "Aku tidak akan membiarkan dia menyentuhmu, Qin. Jika dia hanya melirikmu dengan cara yang salah, aku akan memastikan kematiannya menjadi legenda paling mengerikan di London."

​"Gunakan strategi Leo, Damian. Jangan gunakan amarah," ucapnya lembut, namun tegas.

​Kami sampai di depan Galeri Anggrek Tua. Bangunan kolonial yang terbengkalai itu tampak menyeramkan di bawah cahaya bulan yang tertutup awan. Aku turun dari mobil, membantu Qinanti keluar.

​"Aku akan masuk lewat jalur ventilasi atas sesuai instruksi Leo," bisikku di telinganya. "Tetaplah di jangkauan mikrofon. Aku mencintaimu, Qin."

​"Aku juga mencintaimu, Damian," balasnya.

​Aku melihatnya melangkah masuk ke dalam kegelapan galeri itu sendirian. Punggungnya tampak kecil, namun auranya... auranya adalah seorang penguasa bayangan yang sedang menuju takhtanya.

​Aku segera bergerak, memanjat dinding belakang dengan kecepatan siluman. Unit Ghost sudah mengepung area dalam radius 500 meter. Perangkap sudah dipasang. Sekarang, tinggal menunggu Sang Adipati menyadari bahwa dialah yang sedang diburu.

​POV: QINANTI (Mama)

​Langkah kakiku bergema di lantai kayu yang berdebu. Bau cat tua dan apek memenuhi ruangan. Di tengah galeri, di bawah satu-satunya lampu sorot yang menyala, aku melihatnya.

​Maya terikat di kursi, mulutnya dilakban, matanya melebar karena takut. Di sampingnya, berdiri seorang pria dengan setelan jas tiga lapis berwarna abu-abu arang. Sang Adipati. Dia sedang memegang sebuah pisau bedah kecil, memainkannya di antara jemarinya dengan sangat mahir.

​"Selamat datang, Qinanti," ucapnya tanpa menoleh. "Kau tepat waktu. Alexander akan sangat kecewa karena dia kalah taruhan denganku. Dia mengira kau akan lari ke kantor polisi."

​"Alexander selalu salah dalam menilai orang, sama seperti kau," aku berhenti sepuluh langkah di depannya. Aku menatap Maya, memberinya isyarat lewat mata agar dia tetap tenang.

​Sang Adipati berbalik. Wajahnya tampan, namun dingin dan kosong. "Cerdas. Kau tidak membawa senjata. Kau benar-benar datang 'sendiri'."

​“Mama, perhatikan bahu kirinya. Dia sedikit condong ke arah Maya. Itu adalah gertakan fisik. Dia tidak ingin membunuh Maya sekarang, dia ingin Mama memohon,” suara Lea berdesir di telingaku.

​Aku tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sengaja kubuat merendahkan. "Kau terlalu banyak menonton film drama, Adipati. Kau pikir dengan menyandera seorang warga sipil, kau bisa menekan klan Vipera? Kau baru saja membuat kesalahan logistik terbesar dalam kariermu."

​Sang Adipati mengernyit, senyumnya sedikit goyah. "Apa maksudmu?"

​"Maksudku adalah..." aku melirik ke arah kamera di kalungku. "Leo, sekarang."

​JEGLEG!

​Seluruh lampu di galeri padam seketika. Di saat yang sama, suara frekuensi tinggi yang memekakkan telinga meledak dari pengeras suara tersembunyi yang sudah disabotase Leo. Sang Adipati berteriak, menutup telinganya, menjatuhkan pisau bedahnya.

​Aku segera berlari ke arah Maya, menariknya jatuh dari kursi untuk melindunginya. Di tengah kegelapan, aku melihat siluet Damian meluncur turun dari langit-langit seperti malaikat maut.

​BUM!

​Suara benturan fisik yang dahsyat terdengar. Damian menghantam Sang Adipati ke dinding beton hingga retak. Tidak ada suara tembakan, hanya suara pertarungan fisik yang brutal dan efisien.

​"Jangan bunuh dia dulu, Damian!" teriakku di tengah kebisingan.

​Lampu kembali menyala dalam mode redup merah. Damian berdiri di atas Sang Adipati yang kini sudah babak belur, tangannya mencengkeram leher pria itu dengan kuat.

​Aku berjalan mendekat, menatap Sang Adipati yang kini terengah-engah, kesombongannya telah hancur total. Aku berjongkok di depannya, menatapnya dengan dingin.

​"Katakan pada Alexander," bisikku tepat di telinganya. "Jakarta bukan lagi teritorinya. Dan jika dia mengirim orang lain lagi... aku sendiri yang akan datang ke London untuk mengambil kepalanya. Checkmate, Adipati."

​Aku berbalik, membantu Maya berdiri dan membimbingnya keluar. Damian mengikuti di belakangku, menyeret tubuh Sang Adipati yang pingsan untuk diberikan pada Marco.

​Di luar, udara malam terasa sangat segar. Aku melihat Leo dan Lea berdiri di dekat SUV, mereka menyambutku dengan senyum bangga yang belum pernah kulihat sebelumnya.

​"Mama... skor efisiensi operasional: 98/100," ucap Leo sambil memeluk pinggangku. "Mama melewatkan dua detik saat lari ke arah Maya, tapi sisanya... sempurna."

​"Mama benar-benar Ratu!" seru Lea, melompat ke pelukanku.

​Aku memeluk mereka berdua erat-erat. Kami adalah keluarga Xavier. Sebuah keluarga yang aneh, berbahaya, namun tak terpatahkan. Dan malam ini, kami baru saja menunjukkan pada dunia bahwa siapa pun yang mencoba menyentuh satu dari kami... akan menghadapi kekuatan seluruh bayangan.

​"Ayo pulang," ucap Damian, merangkul kami semua. "Mama butuh istirahat, dan aku butuh kopi."

​"Hanya jika Papa tidak menggunakan taktik untuk mencuri rotiku besok pagi," jawab Leo, yang disambut tawa oleh kami semua.

​Malam itu, di bawah langit Jakarta, Sang Adipati telah jatuh. Dan di London, Alexander Xavier baru saja menyadari bahwa perang yang sebenarnya baru saja dimulai.

1
Xenovia_Putri
.ceritanya bagus tpi sayang.q pov char bukan pov author... sorry skipp
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!