NovelToon NovelToon
SETELAH AKU MATI DIMATA ANAKKU

SETELAH AKU MATI DIMATA ANAKKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: KEONG_BALAP

Aisha Prameswari adalah seorang ibu rumah tangga yang kehidupannya sempurna Dimata dunia.ia memiliki suami ideal Arka Dirgantara,seorang arsitek ternama dan seorang putra semata wayang,baskara,yang ia cintai lebih dari hidupnya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: Jalan Panjang di Tengah Malam

Malam itu, Aisha melaju sendirian di jalan tol menuju Surabaya. Jarum jam menunjukkan pukul sebelas lewat sepuluh menit. Mobil sewaan berwarna putih itu melaju kencang, melibas gelapnya malam yang hanya diterangi lampu jalan dan sorot lampu mobil dari arah berlawanan.

Ia sudah menelepon ibu Arka tiga kali. Setiap kali, wanita tua itu menjawab dengan suara cemas namun berusaha tenang. Baskara baik-baik saja. Ia sudah tidur sejak pukul sembilan. Tidak ada orang asing yang datang. Tidak ada kejadian aneh.

Tapi Aisha tidak bisa tenang. Bayangan Mia—atau wanita yang mengaku Mia—terus mengganggu pikirannya. Wanita dengan rambut panjang yang datang ke rumahnya dulu. Wanita yang matanya mirip dengan mata Baskara. Wanita yang kini mengincar keluarganya.

Mengapa Mia tidak menghubungi Arka langsung jika dendamnya begitu besar? Mengapa melalui Aisha? Mengapa sekarang, setelah bertahun-tahun?

Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Belum lagi kekhawatiran tentang Arka. Pria itu hilang. Ponselnya retak di lantai apartemen. Polisi belum bisa berbuat banyak karena belum genap 24 jam.

Aisha menekan pedal gas lebih dalam. Mobilnya melaju 140 kilometer per jam, melebihi batas kecepatan. Ia tidak peduli. Yang ia pedulikan hanyalah Baskara. Anaknya harus aman.

---

Pukul satu dini hari, Aisha berhenti di rest area dekat Cirebon. Matanya perih, kepalanya pusing. Ia belum makan sejak siang. Di kios rest area, ia membeli segelas kopi hitam dan sepotong roti. Ia makan sambil berdiri, matanya tidak lepas dari ponsel yang ia letakkan di atas meja plastik.

Tidak ada kabar dari Arka. Tidak ada pesan baru dari nomor misterius itu.

Aisha mencoba menghubungi Ren. Panggilan tidak dijawab. Ia coba sekali lagi. Pesan suara. Ia meninggalkan pesan singkat: “Ren, jika kau tahu di mana Arka, katakan padaku. Ini bukan soal kita lagi. Ini tentang Baskara.”

Setelah menekan tombol merah, ia memejamkan mata sejenak. Bayangan Baskara melintas. Anak itu tersenyum sambil mengayuh sepeda barunya. Anak itu bilang “Ibu jangan lama-lama, aku kangen.” Aisha menelan ludah, menahan air mata yang ingin jatuh.

Ia harus kuat. Baskara membutuhkannya.

---

Perjalanan dilanjutkan. Jalan tol semakin sepi. Hanya truk-truk barang yang sesekali melintas. Aisha menyalakan radio, berusaha mengusir kesunyian. Sebuah stasiun radio memutar lagu lama, lagu yang dulu sering ia dengar bersama Arka di masa-masa awal pernikahan.

*“Takkan ada cinta yang lain...”*

Aisha mematikan radio. Kenangan itu terlalu menyakitkan.

Ia teringat bagaimana Arka dulu sering mengiriminya bunga tanpa alasan. Bagaimana Arka membelikannya gaun mahal untuk acara gala perusahaan. Bagaimana Arka selalu memegang tangannya ketika mereka berjalan bersama.

Tapi di balik semua itu, Arka menyembunyikan luka besar. Luka tentang Mia. Luka tentang adik yang ditinggalkan. Luka yang selama lima belas tahun tidak pernah ia bagikan dengan istrinya sendiri.

Apakah jika Arka lebih terbuka, Aisha tidak akan merasa kesepian? Apakah jika Arka mau berbagi beban, Aisha tidak akan mencari pelukan dari Ren? Ataukah itu hanya alasan lain untuk membenarkan kesalahan yang sudah diperbuat?

Aisha tidak tahu. Yang ia tahu, pernikahan mereka sudah hancur. Dan sekarang, di tengah malam yang dingin ini, ia menyetir sendirian demi melindungi anak mereka.

---

Pukul empat pagi, Aisha tiba di gerbang tol Surabaya. Udara terasa lebih lembab, bau khas kota pahlawan. Ia mengikuti jalan yang sudah ia hafal—jalan menuju rumah ibu Arka di kawasan Dharmahusada.

Rumah itu adalah rumah tua bergaya kolonial, peninggalan orang tua ibu Arka. Halaman depannya luas, ditumbuhi pohon mangga dan jambu. Aisha memarkir mobil di depan pagar. Lampu teras masih menyala.

Ia turun, berjalan cepat menuju pintu utama. Sebelum sempat menekan bel, pintu terbuka. Ibu Arka—Aisha memanggilnya Bu Ratna—berdiri di ambang pintu dengan selimut melingkar di bahu. Wajahnya keriput namun matanya masih tajam.

“Aisha, nak, masuklah cepat. Dingin di luar.”

Aisha masuk. Rumah itu hangat, aroma kopi dan kue tradisional tercium dari dapur. Bu Ratna pasti sudah menyiapkan segalanya sejak Aisha menelepon dari Jakarta.

“Baskara di mana, Bu?” tanya Aisha, suaranya masih terengah.

“Tidur di kamar depan. Aku sudah cek tadi. Dia tidur nyenyak.” Bu Ratna meraih tangan Aisha. Matanya menatap dengan penuh arti. “Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi, Nak. Arka kenapa?”

Aisha menggigit bibir. Ia tidak tahu harus mulai dari mana. Tapi ia harus jujur. Bu Ratna berhak tahu.

Mereka duduk di ruang tamu. Aisha bercerita tentang Mia—tentang amplop, tentang foto, tentang pesan-pesan misterius. Ia tidak menyembunyikan apa pun, termasuk bagian di mana Arka menyembunyikan keberadaan Mia selama bertahun-tahun.

Bu Ratna mendengar dengan wajah yang sulit dibaca. Sesekali ia mengusap air matanya, tapi tidak pernah menyela.

Ketika Aisha selesai, Bu Ratna menghela napas panjang.

“Aku tahu,” kata wanita tua itu lirih.

Aisha terbelalak. “Bu tahu?”

“Aku tahu tentang Mia. Arka pernah cerita padaku, beberapa tahun lalu, ketika dia mabuk di sini. Dia menangis seperti anak kecil. Dia bilang dia gagal sebagai kakak. Dia bilang dia tidak pantas hidup bahagia sementara Mia mungkin menderita.”

“Lalu kenapa Bu diam saja?”

Bu Ratna menunduk. “Karena aku tidak tahu harus berkata apa. Aku bukan ibu kandung Arka. Aku ibu tiri. Arka baru tinggal denganku setelah ayahnya meninggal. Aku tidak punya hak untuk ikut campur dalam urusan masa lalunya.”

Aisha meremas jari-jarinya. “Tapi sekarang Mia mungkin masih hidup, Bu. Dan dia mengincar keluarga kami. Arka hilang. Baskara dalam bahaya.”

“Baskara aman di sini, Nak. Aku akan menjaganya.”

“Tapi Mia tahu tentang Baskara, Bu. Dia tahu nama Baskara. Dia tahu di mana Baskara bersekolah. Mungkin dia juga tahu Baskara ada di sini.”

Bu Ratna mengerutkan kening. “Kau pikir dia akan datang ke sini?”

“Aku tidak tahu. Tapi aku tidak bisa mengambil risiko.”

Mereka berdua diam. Suara detak jam dinding terdengar jelas di ruang tamu yang hening.

---

Aisha tidak bisa tidur. Ia duduk di kursi dekat kamar Baskara, memandangi anaknya yang terlelap dengan selimut terlipat di perut. Wajah Baskara tampak tenang, tidak ada jejak mimpi buruk. Napasnya teratur, dadanya naik turun pelan.

Aisha ingin membangunkan anak itu dan memeluknya erat-erat. Tapi ia tahan. Baskara butuh istirahat. Esok pagi, mereka akan bicara. Aisha akan menjelaskan semuanya—tentang Mia, tentang bibinya yang mungkin masih hidup, tentang bahaya yang mengintai.

Tapi bagaimana cara menjelaskan pada anak berusia dua belas tahun bahwa keluarganya dihanturi oleh masa lalu yang kelam? Bahwa ayahnya menyembunyikan rahasia besar selama bertahun-tahun? Bahwa ibunya berselingkuh dan membawa malapetaka ke dalam hidup mereka?

Aisha menunduk, menekan keningnya ke punggung tangannya. Air mata jatuh diam-diam.

---

Pukul tujuh pagi, Baskara terbangun. Ia melihat Aisha duduk di kursi dekat tempat tidurnya, dan matanya berbinar.

“Bu!” Baskara langsung duduk, meraih lengan Aisha. “Ibu datang! Kapan Ibu datang? Kenapa Ibu nggak bangunin aku?”

Aisha tersenyum, menyeka sisa air mata yang masih basah di pipinya. “Ibu datang tengah malam. Ibu nggak mau bangunin kamu karena kamu lagi tidur nyenyak.”

Baskara memeluk Aisha. Pelukan yang hangat, erat, seperti dulu ketika ia masih kecil dan selalu mencari ibunya setelah bangun tidur.

“Ibu, aku kangen banget,” bisik Baskara di bahu Aisha.

“Ibu juga kangen, Nak. Ibu sayang kamu.”

Mereka berpelukan cukup lama. Aisha merasakan kehangatan yang selama ini hilang dari hidupnya. Kehangatan yang tidak bisa diberikan oleh siapa pun selain anaknya.

Setelah Baskara mandi dan berganti pakaian, mereka sarapan bersama di meja makan. Bu Ratna memasak bubur ayam, kesukaan Baskara. Aisha hanya minum teh, perutnya masih mual karena cemas.

“Bu,” kata Baskara sambil menyuap bubur. “Kapan Ayah ke sini? Aku mau tunjukkin sepeda baru ke Ayah.”

Aisha dan Bu Ratna bertukar pandang. Aisha menarik napas panjang.

“Nak, Ayah belum bisa ke sini dulu. Ayah masih ada urusan di Jakarta. Tapi Ibu akan cerita sesuatu pada kamu. Kamu dengar baik-baik, ya?”

Baskara menghentikan suapannya. Wajahnya berubah serius. “Apa, Bu? Apa Ayah sakit?”

“Bukan. Ayah baik-baik saja. Tapi... ada seseorang yang mungkin akan mencari Ayah. Atau mencari kita.”

“Siapa?”

Aisha menggigit bibir. “Kamu ingat pesan yang kamu terima dulu? Tentang nama Mia?”

Baskara mengangguk. Wajahnya tegang.

“Mia adalah adik Ayah. Bibi kamu. Ayah menyembunyikan keberadaannya selama bertahun-tahun karena alasan keluarga yang rumit. Dan sekarang... Mia mungkin masih hidup. Mia mungkin marah pada Ayah. Mia mungkin ingin...”

“Mia ingin apa, Bu?”

Aisha tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Bu Ratna yang berbicara.

“Mia mungkin ingin bertemu dengan Ayahmu, Nak. Tapi cara Mia mencari Ayahmu bisa membahayakan kita semua. Makanya Ibumu datang ke sini, untuk menjaga kamu.”

Baskara meletakkan sendoknya. Matanya berkaca-kaca. “Aku takut, Bu.”

“Tidak usah takut, Nak. Ibu di sini. Nenek di sini. Kita akan jaga kamu.”

“Tapi Ayah di mana? Apakah Ayah aman?”

Aisha meraih tangan Baskara. “Ayah aman, Nak. Ibu sudah hubungi polisi. Mereka akan cari Ayah.”

Baskara menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan tangis. Tapi air matanya jatuh juga. “Aku nggak mau kehilangan Ayah, Bu. Aku juga nggak mau kehilangan Ibu.”

Aisha memeluk anaknya. “Kamu tidak akan kehilangan siapa pun, Nak. Ibu janji.”

---

Sepanjang hari, Aisha tidak bisa tenang. Ia terus memeriksa ponselnya, berharap ada kabar dari Arka atau dari polisi. Tapi tidak ada. Seolah Arka benar-benar lenyap ditelan bumi.

Ia mencoba menghubungi Ren lagi. Kali ini, panggilan dijawab.

“Aisha,” suara Ren terdengar letih. “Kau masih di Surabaya?”

“Kau tahu aku di Surabaya?”

“Aku tahu segalanya, Aisha. Aku juga tahu Arka tidak di Surabaya. Dia masih di Jakarta.”

Aisha menarik napas. “Kau tahu di mana dia?”

Ren diam sejenak. “Aku tidak tahu persis. Tapi aku tahu Mia—atau wanita yang mengaku Mia—membawanya ke suatu tempat. Tempat yang penuh kenangan bagi mereka berdua.”

“Tempat apa?”

“Rumah kontrakan tempat Mia dulu tinggal. Tempat yang katanya terbakar. Tapi aku tidak tahu alamat pastinya. Arka tidak pernah memberitahuku.”

Aisha mengepalkan tangan. “Ren, jika kau berbohong padaku...”

“Aku tidak berbohong, Aisha. Aku memang jahat, tapi aku tidak ingin Baskara terluka. Dia anak yang baik. Dia tidak pantas menderita karena kesalahan orang dewasa.”

Aisha tertegun. Ren—Ren yang manipulatif, Ren yang menghancurkan keluarganya—mengatakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.

“Ren, tolong aku. Jika kau tahu sesuatu tentang Mia, tentang tempat itu, katakan.”

“Satu-satunya yang bisa kau lakukan sekarang adalah menjaga Baskara. Jangan biarkan Mia mendekatinya. Aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan jika dia bertemu Baskara.”

Panggilan terputus. Aisha memegang ponselnya dengan tangan gemetar.

---

Malam harinya, ketika Baskara sudah tidur, Aisha duduk di teras rumah. Udara Surabaya dingin, angin malam berhembus pelan. Ia memandangi langit yang gelap, mencari bintang-bintang yang tersembunyi di balik polusi cahaya.

Ponselnya berdering. Nomor tidak dikenal. Jantung Aisha berdegup kencang.

Ia mengangkat. “Halo?”

“Aisha.”

Suara perempuan. Lembut, namun dingin. Suara yang tidak asing di telinga Aisha. Suara yang pernah ia dengar bertahun-tahun lalu di depan rumahnya.

“Mia?” bisik Aisha.

“Kau pintar. Aku pikir kau akan butuh waktu lebih lama untuk menebaknya.”

Aisha menarik napas dalam-dalam. “Apa yang kau lakukan pada Arka?”

“Aku tidak melakukan apa-apa padanya. Dia baik-baik saja. Kami hanya... berbincang. Tentang masa lalu. Tentang apa yang dia lakukan padaku.”

“Mia, tolong, lepaskan dia. Dia sudah menyesal. Dia mencari kau bertahun-tahun.”

Tawa kecil terdengar dari seberang sana. Tawa yang pahit. “Dia menyesal? Dia mencari aku? Lalu mengapa baru sekarang? Mengapa setelah aku yang datang menemuinya? Mengapa tidak sejak aku hilang?”

“Dia takut, Mia. Dia ditekan oleh keluarga angkatnya.”

“Keluarga angkatnya? Atau dia hanya pengecut?” suara Mia meninggi. “Kau tahu, Aisha, aku tidak pernah menyalahkanmu. Ketika aku datang ke rumahmu dulu, aku hanya ingin Arka mengaku. Tapi dia mengusirku. Dan kau, kau hanya diam. Kau tidak membelaku.”

Aisha menunduk. “Aku tidak tahu...”

“Kau tidak tahu karena kau tidak mau tahu. Kau sibuk dengan kehidupan mewahmu, dengan suami yang sempurna di mata dunia. Kau tidak pernah bertanya mengapa Arka begitu tertutup. Kau tidak pernah peduli.”

“Itu tidak benar. Aku peduli pada Arka.”

“Cukup.” Suara Mia kembali dingin. “Aku tidak menelepon untuk berdebat. Aku menelepon untuk memberi tahu bahwa Arka akan segera kembali. Tapi sebelum itu, aku ingin kau tahu satu hal.”

“Apa?”

“Aku tidak dendam pada Baskara. Dia tidak bersalah. Tapi jika kau menghalangi jalanku, jika kau mencoba melindungi Arka dari apa yang pantas dia terima, maka Baskara akan menjadi korban berikutnya. Bukan karena aku benci padanya, tapi karena kau dan Arka tidak memberiku pilihan.”

Aisha merasakan darahnya membeku. “Jangan sentuh Baskara. Aku mohon.”

“Maka jangan menghalangi. Biarkan Arka membayar dosanya. Setelah itu, kami selesai. Aku akan pergi dan tidak akan pernah mengganggu kalian lagi.”

Panggilan terputus.

Aisha memegang ponselnya erat-erat. Tangannya gemetar hebat. Ia menatap ke dalam rumah, ke arah kamar Baskara yang masih menyala lampu tidurnya.

Ia tidak bisa membiarkan Mia menyentuh anaknya. Tapi ia juga tidak bisa membiarkan Arka dihakimi sendiri.

Aisha mengambil telepon dan menghubungi polisi di Jakarta. Ia memberikan semua informasi yang ia miliki—tentang Mia, tentang rumah kontrakan, tentang kemungkinan lokasi Arka.

“Kami akan cari, Bu. Tapi mohon Ibu tetap di tempat yang aman. Jangan coba-coba mencari sendiri.”

Aisha mengangguk, meski polisi tidak bisa melihatnya. “Baik. Tolong cepat.”

Setelah menutup telepon, Aisha kembali duduk di teras. Angin malam semakin dingin. Ia menarik jaketnya lebih erat.

Di kejauhan, di balik pagar rumah, ia melihat bayangan sesosok wanita berdiri di bawah pohon. Wanita dengan rambut panjang, gaun putih, wajah yang sulit dikenali dalam gelap.

Jantung Aisha berhenti berdetak sejenak.

Wanita itu menatapnya. Lalu tersenyum. Senyum yang sama dengan senyum di foto Mia.

Aisha hendak berteriak, tetapi wanita itu sudah berbalik dan berjalan pergi, menghilang di balik kegelapan malam.

Aisha berlari ke pagar, membuka pintu, dan melihat ke kiri kanan. Tidak ada siapa pun. Hanya angin yang berdesir di antara dedaunan pohon mangga.

Ia kembali masuk, menutup pintu rapat-rapat, dan menguncinya.

Di kamar, Baskara masih tidur nyenyak. Aisha duduk di kursi di samping tempat tidurnya, memegang tangan anak itu erat-erat.

“Ibu tidak akan biarkan siapa pun menyakitimu, Nak,” bisiknya. “Ibu janji.”

Di luar, bayangan wanita itu muncul kembali di balik jendela kamar Baskara. Wanita itu menempelkan telapak tangannya pada kaca, menatap Baskara yang terlelap.

Matanya tidak marah. Matanya sedih.

Lalu wanita itu tersenyum—senyum yang sama yang terpampang di foto usang itu—dan berbisik pelan, “Sampai jumpa, keponakanku.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!