NovelToon NovelToon
Rahasia Yang Kau Bawa

Rahasia Yang Kau Bawa

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Bad Boy / Cintamanis
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Keisha lari membawa rahasia hidupnya. Lima tahun ia bersembunyi, berpikir tak ada yang akan tahu. Tapi Arsen tidak pernah berhenti mencari. Ketika mereka bertemu kembali, dunia Keisha gemetar. Pria itu datang bukan untuk membenci, tapi untuk menuntut haknya sebagai seorang ayah dan ingin memiliki Keisha sepenuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SURAT YANG TAK PERNAH DIKIRIM

BAB 10 — SURAT YANG TAK PERNAH DIKIRIM

Musim dingin tahun itu datang lebih cepat dan lebih dingin dari biasanya.

Pohon-pohon di halaman rumah Bibi Rina sudah mulai gundul, kehilangan helaian daunnya satu per satu. Jalanan aspal tertutup embun beku yang berkilauan saat terkena sinar matahari pagi, dan udara dingin terasa begitu tajam menusuk sampai ke tulang.

Keisha berdiri diam di dekat jendela besar ruang tamu, sambil memeluk erat secangkir teh hangat untuk mencari sedikit kehangatan.

Matanya menatap kosong ke luar, namun pikirannya melayang pada dirinya sendiri.

Perutnya kini sudah mulai sedikit membulat.

Masih terlihat kecil, masih bisa disembunyikan dengan baik di balik baju tebal, namun cukup untuk membuat kenyataan itu terasa begitu nyata setiap kali ia bercermin.

Ia benar-benar sedang mengandung.

Dan waktu terus berjalan tanpa bisa diputar kembali.

Sudah hampir tiga bulan sejak ia meninggalkan tanah air.

Tiga bulan sejak ia kabur membawa rahasia besar yang mengubah hidupnya.

Tiga bulan sejak terakhir kali ia melihat wajah tegas dan mata tajam milik pria bernama Arsen.

Nama itu masih saja sering datang diam-diam mengunjungi pikirannya.

Terutama saat malam tiba dan suasana menjadi sunyi senyap seperti ini.

 

“Melamun lagi ya?”

Suara lembut Bibi Rina tiba-tiba memecah keheningan, membuat Keisha tersentak dan menoleh cepat.

Wanita itu datang membawa sepiring roti panggang hangat dan selai, lalu meletakkannya di atas meja makan dengan santai.

“Kalau kamu terus berdiri di depan jendela sambil memasang wajah sedih gitu, nanti tetangga pada kira Bibi menyiksa keponakan sendiri lho,” candanya berusaha mencairkan suasana.

Keisha tersenyum kecil, senyum yang tak sampai ke matanya.

“Maaf, Bi.”

“Masih mikirin dia?”

Pertanyaan yang sederhana itu seketika membuat senyum di wajah Keisha lenyap begitu saja.

Ia menundukkan pandangan ke arah cangkir teh di tangannya yang mulai mendingin.

“Enggak tahu... kadang muncul sendiri,” jawabnya lirih.

Bibi Rina menarik kursi dan duduk di dekatnya, menatap keponakannya dengan tatapan penuh pengertian.

“Kalau masih ada yang menggantung di hati, selesaikan. Jangan dipendam sendiri.”

“Enggak bisa, Bi...” Keisha menggeleng pelan, suaranya terdengar putus asa.

“Kenapa enggak bisa? Coba hubungi dia.”

Keisha menggenggam cangkir itu semakin erat, jari-jarinya memutih.

“Aku bahkan... aku bahkan enggak tahu caranya menghubungi dia. Aku enggak punya nomor, enggak punya alamat, enggak punya apa-apa.”

Dan itulah kenyataan paling pahit yang harus ia telan sendirian.

Pria itu meninggalkan kesan yang begitu dalam dan kuat di hatinya... namun tak pernah meninggalkan satu pun jalan atau jejak yang bisa ia gunakan untuk mencarinya kembali.

 

Siang harinya, saat Bibi Rina sudah pergi bekerja meninggalkannya sendirian di rumah, Keisha duduk termenung di meja kerjanya.

Di hadapannya terhampar secarik kertas putih bersih dan sebuah pulpen.

Sudah hampir satu jam ia menatap kertas kosong itu tanpa bergerak.

Akhirnya, dengan napas yang ditarik panjang dan ditahan, perlahan-lahan ia mulai menuliskan kata demi kata.

Arsen,

Mungkin saat kamu membaca ini, kamu bahkan sudah tidak ingat lagi siapa aku.

Tapi aku Keisha. Gadis yang bersama kamu satu malam di klub itu.

Aku menulis surat ini karena ada satu hal penting yang harus kamu tahu...

Tangannya berhenti bergerak tiba-tiba.

Sebuah tetes air mata jatuh tepat di atas kertas, membuat tinta hitam sedikit meleber dan kabur.

Keisha buru-buru mengusap pipinya kasar, lalu kembali menunduk dan melanjutkan tulisannya dengan tangan yang semakin gemetar.

Aku sedang hamil.

Anak di dalam kandunganku ini adalah anakmu.

Dadanya terasa begitu sesak dan nyeri hanya dengan membaca kembali kalimat pendek itu.

Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan selama beberapa detik, menahan isak tangis agar tidak meledak, sebelum kembali menulis baris terakhir.

Aku tidak meminta apa pun dari kamu.

Aku tidak meminta uang, tidak meminta bantuan, dan tidak meminta tanggung jawab.

Aku hanya merasa... kamu berhak tahu bahwa ada kehidupan yang tumbuh dari malam kita.

Keisha menatap surat itu lama sekali.

Itu adalah surat paling jujur yang pernah ia tulis seumur hidupnya.

Isinya murni, tulus, dan tanpa pamrih.

Namun setelah diam beberapa menit, alih-alih melipat dan memasukkannya ke amplop, tangan Keisha justru merobek kertas itu menjadi potongan-potongan kecil hingga tak berbentuk.

Tidak ada alamat tujuan yang jelas.

Tidak ada nama lengkap yang bisa ditulis di amplop.

Tidak ada cara dunia untuk mengirimkan surat ini kepada pemiliknya.

Dan jauh lebih dalam dari itu semua...

Ia takut.

Takut jika suatu hari Arsen benar-benar datang dan merebut bayinya darinya.

Takut jika pria itu menolak keberadaan mereka berdua.

Atau yang paling menyakitkan... takut jika Arsen sama sekali tidak peduli dan menganggap mereka tak ada artinya.

Dengan air mata yang terus mengalir, Keisha membuang potongan-potongan kertas itu ke dalam tempat sampah, membuang harapan, membuang kata-kata, dan membuang rasa sakitnya sekali lagi.

 

Sementara itu di Jakarta, kehidupan Arsen terus berjalan dengan kecepatan tinggi dan dingin seperti biasanya.

Rapat demi rapat bisnis.

Tanda tangan kontrak bernilai miliaran.

Jamuan makan malam mewah.

Pertemuan dengan orang-orang penting.

Wanita-wanita cantik, seksi, dan elegan datang silih berganti mendekatinya, mencoba menarik perhatiannya.

Namun tak satu pun dari mereka yang mampu membuat mata Arsen berkedip sedikit pun. Tak ada yang menarik.

Sore itu, ia duduk sendirian di lounge sebuah hotel bintang lima dengan segelas kopi hitam di hadapannya, saat sahabat lamanya, Adrian, datang dan menjatuhkan dirinya ke sofa di hadapan pria itu.

“Kau kelihatan menyebalkan sekali hari ini, seperti biasa,” ledek Adrian santai.

“Aku memang selalu begini,” jawab Arsen singkat, matanya tak lepas dari pemandangan di luar jendela.

“Enggak.” Adrian menggeleng, menatap sahabatnya itu dengan tatapan tajam dan meneliti. “Sekarang kau kelihatan beda. Kelihatan kayak orang yang kurang tidur parah dan emosinya gampang meledak.”

Arsen diam, tak menjawab.

Adrian menyeringai, seolah menemukan sesuatu yang menarik.

“Siapa dia?”

Tatapan Arsen seketika berubah dingin dan tajam menatap sahabatnya.

“Diam kalau kau tidak tahu apa-apa.”

“Oh, jadi memang ada orangnya!” Adrian tertawa puas melihat reaksi itu. “Wah, hebat sekali. Raja Es yang dingin dan tak tersentuh di Jakarta akhirnya kena juga ya?”

“Pergi dari sini kalau cuma mau menggoda.”

“Masih kau cari terus?” tanya Adrian kali ini dengan nada lebih serius.

Arsen meletakkan cangkir kopinya perlahan di atas meja dengan suara pelan namun tegas.

“Dia menghilang.”

Adrian mengangkat kedua alisnya kaget.

“Wanita yang berhasil membuatmu segila ini... menghilang begitu saja tanpa jejak?”

Arsen menatap kosong ke arah jalanan yang ramai di luar sana.

“Aku bahkan... aku cuma punya nama depannya. Itu saja.”

Adrian terdiam cukup lama mendengar pengakuan itu.

Lalu untuk pertama kalinya, ia menatap sahabatnya dengan wajah sangat serius.

“Kalau begitu... kau bukan sedang mencari wanita itu, Sen.”

“Apa maksudmu?”

“Kau sedang mencari alasan... kenapa dia berani meninggalkanmu. Kau tidak terima ditinggalkan,” tegas Adrian.

Arsen tak menjawab sepatah kata pun.

Karena di dalam lubuk hatinya yang paling dalam... untuk pertama kalinya ia sadar, bahwa ucapan sahabatnya itu mungkin benar adanya.

 

Malam harinya, Arsen pulang ke apartemen mewahnya dalam keadaan lebih pendiam dari biasanya.

Ia berjalan menuju meja kerjanya, lalu membuka salah satu laci kecil di sana.

Dari dalamnya, ia mengambil sebuah kartu kunci kamar hotel yang sudah agak lusuh. Kartu yang tertinggal sejak malam itu, malam di mana ia membawa gadis itu pergi.

Entah kenapa, benda kecil ini tidak pernah ia buang selama berbulan-bulan ini.

Ia menatap kartu plastik itu lama, seolah di sana masih tersisa bekas sidik jari kecil dan aroma wangi tubuh gadis itu.

Pikirannya kembali melayang pada wajah Keisha di pagi hari.

Matanya yang polos dan terlihat gugup.

Pipinya yang mudah sekali memerah.

Suara kecilnya yang berusaha terdengar tegar namun terdengar sangat rapuh.

Dengan kasar, Arsen menutup laci itu kembali dengan suara BUM yang keras.

“Sial...” umpatnya pelan.

Ia benar-benar membenci kenyataan ini. Membenci bahwa seorang gadis asing yang hanya singgah semalam, masih bisa mengacaukan pikirannya selama ini.

 

Di Kanada, salju pertama tahun itu akhirnya turun malam itu juga.

Butiran-butiran putih turun perlahan dari langit yang gelap, menutupi seluruh pemandangan dengan selimut putih yang indah dan sunyi.

Keisha berdiri di depan jendela kamar, tangannya terangkat perlahan dan menempel lembut di perutnya yang mulai terlihat jelas buncitnya.

Dan tiba-tiba...

Dug...

Ada gerakan sangat halus dari dalam sana.

Satu sentuhan kecil, lembut, dan sangat cepat.

Keisha tersentak kaget, matanya membelalak.

Lalu detik berikutnya, ia tertawa dan menangis bersamaan, bahuannya bergetar hebat karena haru yang meluap-luap.

“Hai...” bisiknya lembut, air mata bahagia mengalir membasahi pipi. “Mama di sini, Sayang... Mama ada di sini.”

Ia menatap langit malam yang dipenuhi butiran salju di luar sana.

“Kalau kamu laki-laki... semoga jangan mewarisi sifat keras kepala dan dinginnya Ayahmu ya,” candanya pelan pada janinnya.

Namun, di sudut hatinya yang paling dalam dan paling rahasia...

Ia masih berharap suatu hari nanti, anak kecil ini bisa tumbuh besar dan mengenal pria yang menjadi alasannya ada di dunia ini. Pria bernama Arsen.

Bersambung...

1
Erna Wati
ayolah keisha masak kamu LBH percaya sama org lain dari pada suami mu buka mata kamu keisa KLO Kevin itu org jahat
wiwi: iyaa nih kak, padahal kan kita harus lebih percaya suami😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!