NovelToon NovelToon
Tahta Darah Sembilan Cakrawala 2

Tahta Darah Sembilan Cakrawala 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

(SEASON 2)

Dengan Inti Emas Iblis di Dantian-nya, Shen Yuan kini meninggalkan benua kelahirannya. Ia melangkah menembus Gerbang Lintas Benua menuju jantung peradaban Sembilan Cakrawala, siap membawa badai darah mematikan bagi para dewa palsu yang pernah merenggut segalanya darinya. Perburuan yang sesungguhnya baru saja dimulai!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pembantaian Seratus Babak

Udara di Arena Seribu Darah terasa sangat mencekik, dipenuhi oleh aroma darah segar yang menguap dari mayat Kuang Shan si Banteng Tembaga. Di tengah gelanggang batu obsidian itu, Shen Yuan berdiri dengan jubah abu-abunya yang tak ternoda, menunggu jawaban atas tantangannya.

"Kirimkan sembilan puluh sembilan mangsa berikutnya."

Suara yang diucapkan dengan nada datar itu menggema, memecah keheningan puluhan ribu penonton.

Di atas panggung gantung, sang penyeru arena berkeringat dingin. Wajahnya pucat pasi. Selama bertahun-tahun ia memandu pertarungan maut, belum pernah ada orang gila yang menantang seratus babak sekaligus tanpa jeda istirahat!

Tatapannya melirik ke arah ruangan kehormatan berlapis kaca kristal di tingkat tertinggi gelanggang, tempat Pengawas Arena—seorang ahli Inti Emas Tahap Menengah—duduk. Dari balik kaca tersebut, sebuah isyarat tangan diberikan. Isyarat untuk melepaskan para makhluk buas.

"P-Petarung No. 9942 menantang babak beruntun!" teriak penyeru arena dengan suara bergetar. "Buka gerbang maut! Kirimkan gelombang kedua!"

Kreeeaak!

Tiga gerbang besi di sekeliling arena ditarik terbuka secara bersamaan. Dari dalam kegelapan lorong, terdengar raungan buas dan derap langkah kaki yang menggetarkan bumi. Sepuluh petarung melesat keluar! Mereka adalah para buronan berdarah dingin, beberapa di antaranya telah mencapai Inti Emas Tahap Awal, sementara sisanya berada di Puncak Ranah Penempaan Raga dengan perubahan wujud fisik yang mengerikan.

"Bunuh bocah sombong itu! Kepalanya bernilai ratusan Batu Roh!"

Sepuluh petarung itu menerjang serentak. Tombak, golok, pedang, dan palu godam memancarkan cahaya hawa murni yang menyilaukan, mengunci setiap titik buta Shen Yuan.

"Hanya sepuluh?" Shen Yuan mendengus kecewa.

Langkah Bayangan Hantu!

Shen Yuan tidak menunggu mereka mendekat. Tubuhnya lenyap dari pandangan, meninggalkan sisa bayangan yang langsung terbelah oleh senjata para penyerang. Di detik berikutnya, ia muncul di tengah-tengah barisan mereka layaknya hantu di siang bolong.

Tangan kanannya yang memancarkan kilau emas gelap melesat ke depan. Ia tidak menggunakan senjata pusaka, murni mengandalkan Tapak Penghancur Nadi yang didorong oleh Inti Emas Iblis.

Bummmmm! Craaaak!

Dada dua petarung Inti Emas Tahap Awal amblas ke dalam dengan suara ledakan yang memekakkan telinga. Inti Emas di dalam Dantian mereka langsung diremukkan oleh hawa murni iblis yang merangsek masuk. Keduanya memuntahkan darah hitam dan tewas seketika!

"Giliranku!" teriak seorang petarung berbadan raksasa yang mengayunkan kapak berduri ke punggung Shen Yuan.

Shen Yuan bahkan tidak menoleh. Ia menendang salah satu mayat di kakinya ke udara, lalu menggunakan pantulan tendangan itu untuk memutar tubuhnya, menghantamkan tumitnya tepat ke leher petarung berkapak tersebut.

Krek! Tulang leher pria itu patah, kepalanya terpelintir hingga berputar ke arah belakang.

Hanya dalam lima tarikan napas, sepuluh petarung maut telah berubah menjadi onggokan daging tak bernyawa. Darah menggenang, membasahi sepatu bot Shen Yuan.

Tribun penonton yang tadinya sunyi kini meledak dalam sorak-sorai histeris yang bercampur dengan kengerian.

"Makhluk mengerikan! Dia iblis sejati!"

"Lanjutkan! Keluarkan lebih banyak!"

Pengawas Arena di ruangan kehormatan mengertakkan giginya. Kehilangan petarung berarti kehilangan kekayaan bagi Balai Pemburu Bayaran. Namun, jika ia menghentikan pertarungan, wibawa Arena Seribu Darah akan hancur. "Keluarkan gelombang berikutnya! Dua puluh orang sekaligus! Jika mereka tidak bisa membunuhnya, aku akan merebus mereka hidup-hidup!"

Gerbang kembali terbuka. Kali ini, dua puluh ahli yang lebih mematikan dilepaskan. Ada ahli racun, pengguna senjata rahasia, hingga ahli ilmu ilusi tingkat rendah.

Namun, di hadapan hukum penelanan mutlak dari Sutra Penelan Surga, segala muslihat mereka tak lebih dari lelucon. Saat racun ditebarkan, Shen Yuan menghisapnya untuk memurnikan sumsumnya. Saat ilusi diciptakan, lautan kesadarannya yang luas langsung menghancurkannya.

Shen Yuan membantai dengan ketepatan yang menakutkan. Ia menembus kerumunan musuh bagaikan pisau panas membelah mentega. Tangan, kaki, dan bahunya adalah senjata mematikan. Sesekali, ia membiarkan Sutra Penelan Surga menyedot sisa-sisa hawa murni dari lawannya sebelum mereka jatuh ke tanah, memastikan Dantian-nya selalu berada pada batas puncaknya. Ia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan.

Tiga puluh babak berlalu.

Lima puluh babak berlalu.

Delapan puluh babak berlalu.

Satu jam kemudian, lantai batu obsidian di Arena Seribu Darah telah tertutup oleh lautan darah yang mencapai mata kaki. Delapan puluh sembilan mayat ahli tingkat tinggi bergelimpangan di sekitar Shen Yuan yang berdiri di tengah arena. Jubah abu-abunya kini berwarna merah pekat, lengket oleh darah, namun tidak ada satu goresan pun pada Tubuh Emas Gelap-nya.

Suasana di tribun penonton tidak lagi diwarnai sorak-sorai. Puluhan ribu manusia itu terdiam, gemetar dalam ketakutan yang mencekik. Mereka datang untuk mencari hiburan dari kematian orang lain, namun apa yang mereka saksikan bukanlah pertarungan; ini adalah pembantaian sepihak. Pemuda bertopeng yang menyebut dirinya "Mo Yuan" itu tidak bertarung. Ia sedang memanen nyawa.

"Sembilan puluh sembilan..." suara penyeru arena terdengar bergetar hebat saat ia menghitung jumlah mayat melalui terompet gioknya. "B-Babak kesembilan puluh sembilan telah dilewati... T-Tinggal satu babak lagi menuju Plakat Emas Abadi!"

Di ruangan kehormatan, Pengawas Arena berdiri dengan wajah sehitam arang. Keringat dingin membasahi punggungnya. Ia tidak menyangka akan ada iblis dari alam bawah yang menembus arena ini dengan begitu brutal.

"Panggil Xue Tu sang Jagal Berdarah," bisik Pengawas Arena kepada bawahannya. "Berikan padanya Pil Pembakar Inti. Jika Mo Yuan itu hidup dan mengambil Plakat Emas, Tuan Kota akan memenggal kepalaku."

Di tengah arena, Shen Yuan menengadah, membiarkan darah musuhnya menetes dari tudungnya. "Masih kurang satu. Kirimkan sampah terakhir kalian agar aku bisa pergi."

Tenggg...

Sebuah gong perunggu raksasa ditabuh, suaranya sangat rendah dan menggetarkan dada.

Gerbang utama di arah utara ditarik ke atas perlahan. Suara rantai besi yang diseret terdengar dari kedalaman lorong.

Seorang pria raksasa setinggi tiga tombak melangkah keluar. Ia tidak terlihat seperti manusia biasa. Lengan kanannya telah diganti dengan capit kalajengking besi yang memancarkan racun hijau, sementara lengan kirinya menggenggam sebuah tombak bergigi gergaji. Hawa murni yang menguar dari tubuhnya bukan lagi Awal Inti Emas, melainkan telah mencapai Puncak Ranah Pembentukan Inti Emas Tahap Menengah!

"Xue Tu! Itu Xue Tu!" beberapa penonton menjerit ketakutan, bahkan ada yang lari meninggalkan tribun. "Mantan Penatua sekte aliran sesat yang tubuhnya digabungkan dengan tubuh siluman! Dia tidak pernah kalah dalam dua ratus pertarungan!"

Xue Tu menatap Shen Yuan dengan mata yang memancarkan kegilaan murni. Ia tidak berbicara. Tanpa peringatan, ia menerjang maju. Hawa murni hijau pekat meledak dari Dantian-nya, menciptakan gelombang badai yang meniup mayat-mayat di sekitarnya.

"Mati!"

Tombak bergigi gergajinya menebas dari atas, sementara capit kalajengkingnya mengincar pinggang Shen Yuan untuk memotongnya menjadi dua.

Shen Yuan menyipitkan matanya. Hawa murni Puncak Tahap Menengah ini jauh lebih padat dari ahli-ahli sebelumnya, dan pil terlarang yang ditelan oleh Xue Tu membuat serangannya setara dengan Inti Emas Tahap Akhir sesaat!

"Akhirnya ada yang cukup layak untuk memaksaku menggunakan tanganku yang lain," ucap Shen Yuan dengan tenang.

Alih-alih menghindar, Shen Yuan merentangkan tangan kanannya yang diselimuti oleh kabut merah kehitaman, sementara tangan kirinya memadatkan hawa murni iblis hingga ke batas mutlak.

Sutra Penelan Surga, Putaran Rantai Hantu!

Empat untai rantai iblis melesat dari punggung Shen Yuan, langsung melilit capit kalajengking dan poros tombak gergaji milik Xue Tu. Saat kedua senjata maut itu tertahan, Xue Tu mengaum, memaksakan hawa murninya untuk merobek rantai tersebut.

"Percuma!"

Tangan kiri Shen Yuan, yang jari telunjuk dan tengahnya telah memancarkan kilau emas pekat bercampur merah darah, menusuk lurus ke depan.

"Jarum Darah Iblis: Tembus Langit!"

Ini bukanlah jarum hawa murni biasa yang ia gunakan di luar. Ia memampatkan seluruh sisa kekuatan dari sembilan puluh sembilan esensi yang ia bunuh sebelumnya ke dalam satu titik sekecil jarum!

Wussshhh!

Sebuah kilatan cahaya hitam kemerahan melesat membelah ruang. Saking cepat dan padatnya, udara di arena itu meledak membentuk ruang hampa sesaat.

Jleb!

Jarum hawa murni itu menembus lurus ke tengah dada Xue Tu. Pertahanan hawa murni dari Inti Emas Tahap Menengah, cangkang siluman, dan kulit tebalnya hancur seketika seolah terbuat dari tahu basah. Jarum itu terus melaju, menghancurkan jantungnya, lalu menusuk dan memecahkan Inti Emas di dalam Dantian pria raksasa itu hingga berkeping-keping!

"G-Gahh..."

Xue Tu membeku di tengah serangannya. Matanya membelalak lebar, menatap lubang kecil di dadanya yang menembus hingga ke punggung. Darah menyembur pelan. Sang Jagal Berdarah yang tak terkalahkan menjatuhkan senjatanya, lalu ambruk ke atas genangan darah dengan bunyi debum yang menggetarkan arena.

Satu serangan. Ahli Puncak Tahap Menengah tewas.

Keheningan yang mematikan kini membungkus seluruh bangunan gelanggang. Tidak ada yang berani mengambil napas. Penyeru arena gemetar hingga pipinya kehilangan warna.

Shen Yuan menurunkan tangannya. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling lautan darah dan mayat di sekitarnya, lalu mendongak menatap lurus ke arah ruangan kehormatan kaca di tingkat tertinggi. Matanya yang merah menyala seolah bisa menembus kaca tersebut dan mencengkeram leher sang Pengawas.

"Seratus," suara Shen Yuan datar, memecah kebisuan. "Turunkan plakatku."

Beberapa tarikan napas kemudian, sebuah riak hawa murni yang sangat agung dan mendominasi meledak dari langit-langit arena. Hawa murni itu jauh melampaui Inti Emas mana pun yang pernah Shen Yuan temui. Ini adalah hawa murni yang telah menyatu dengan jiwa, membawa kaidah penciptaan dan kehancuran!

Ranah Peleburan Jiwa!

Sebuah suara tua yang sangat dalam terdengar bergema di udara, seolah diucapkan oleh langit itu sendiri.

"Membantai seratus petarung arena tanpa meneteskan setetes pun darah sendiri. Menarik. Sangat menarik. Anak muda, Kota Gerbang Langit selalu menghargai mereka yang menentang takdir. Ini adalah hakmu."

Dari langit-langit arena, sebuah plakat berwarna emas murni yang memancarkan pendaran cahaya suci melayang turun dengan perlahan, menembus susunan aksara pertahanan arena tanpa hambatan, dan mendarat tepat di depan wajah Shen Yuan.

Di atas plakat itu, terukir dua aksara abadi: Tanpa Batas.

"Plakat Emas Abadi," Shen Yuan meraih benda tersebut. Permukaannya terasa hangat, mengandung ukiran susunan ruang yang sangat rumit. Inilah kunci untuk menembus Susunan Aksara Pemindah menuju Wilayah Inti Benua.

"Namamu Mo Yuan, bukan?" suara tua dari Ranah Peleburan Jiwa itu kembali bergema. "Dengan bakat yang kau tunjukkan, kau layak menjadi salah satu Pelindung Kota ini. Mengabdi padaku, dan aku akan memberimu sumber daya yang tak pernah kau bayangkan."

Ribuan penonton menahan napas. Ditawari kedudukan oleh Tuan Kota yang berada di Ranah Peleburan Jiwa adalah mimpi tertinggi bagi setiap pendekar di Benua Pusat!

Namun, Shen Yuan hanya memasukkan plakat itu ke dalam Kantong Qiankun-nya, membalikkan badannya, dan berjalan menuju gerbang keluar.

"Aku tidak diciptakan untuk menjadi anjing peliharaan siapa pun," ucap Shen Yuan tanpa menoleh ke atas. "Terima kasih atas plakatnya. Jaga arenanya baik-baik."

Sang Tuan Kota terdiam di atas sana. Hawa murninya sedikit bergejolak, namun ia tidak melancarkan serangan. Keberadaan sekelas Peleburan Jiwa tidak akan merendahkan martabatnya dengan menyerang dari belakang di depan khalayak ramai, meski penolakan itu membuatnya tak senang.

Tanpa ada satu pun penjaga yang berani menghalangi jalannya, Shen Yuan melangkah keluar dari Arena Seribu Darah. Bau anyir darah perlahan digantikan oleh udara kering Kota Gerbang Langit.

Dengan Plakat Emas Abadi di tangannya, gerbang menuju Wilayah Inti Benua dan Kuil Dewa Perak akhirnya terbuka lebar. Badai kematian yang sesungguhnya kini bersiap untuk menyapu jantung Benua Pusat.

1
black swan
...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!