NovelToon NovelToon
Antagonis Hamil Duluan

Antagonis Hamil Duluan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Reinkarnasi / CEO
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: supyani

transmigrasi jadi tokoh yang harusnya mati mengenaskan? tidak, Terima kasih.
saat suami CEO-ku meminta cerai, aku pastikan 2 garis biru muncul terlebih dahulu. permainan baru saja dimulai, sayang.

#jadi antagonis#ceo#hamil anak ceo#transmigrasi#ubah nasib#komedi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon supyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

surat diatas meja.

Kota metropolitan ramai. Gedung-gedung pencakar langit berjejer rapi, kaca-kacanya memantulkan cahaya pagi yang mulai meninggi. Silau.

Ini puncaknya kemajuan, puncaknya teknologi. Kendaraan lalu lalang di jalan kota yang sibuk. Klakson bersahutan, motor menyalip di sela mobil, suara orang teriak manggil taksi. Berisik.

Tapi tak seberisik hati seorang gadis yang cuma bisa duduk diam di bangku taman sekolahnya.

_Ibu dia datang gak ya? Dia baca suratnya gak ya?_ Pertanyaan itu bergelut di hati Cika. Dadanya sesak.

Cika, gadis 17 tahun dengan seragam SMA yang rapi, rambut dikepang satu, duduk menyendiri di bawah pohon angsana. Tas ransel merah marun dipeluk erat di dada, seolah itu satu-satunya teman. Hari ini sekolahnya mengadakan rapat orang tua murid untuk persiapan ujian akhir dan kelulusan. Hari penting.

Nampak dari kejauhan orang tua murid mulai berdatangan. Satu per satu turun dari mobil. Ada yang turun dari ojek online, rambutnya masih acak-acakan. Tapi semua sama. Begitu lihat anaknya, langsung ditarik peluk. Ada yang cium kening. Ada yang benerin dasi anaknya yang miring. Hangat.

Pemandangan itu kayak silet, ngiris pelan-pelan hati Cika.

Cika mengamati dari kejauhan. Matanya menyapu halaman sekolah, dari gerbang sampai ke parkiran. Nyari satu sosok. Nyari Bu Ratna. Ibunya.

Hari ini Cika berangkat lebih pagi dari biasanya. Jam 6 udah di sekolah. Padahal rapat jam 9. Sengaja. Biar bisa duduk, biar bisa berharap, biar bisa siap-siap kecewa kalau yang ditunggu gak datang. Udah biasa.

Dari kemarin Cika tak bisa bertemu ibunya. Karena Bu Ratna 3 hari 3 malam di rumah sakit, menjaga Vivian yang habis pingsan. Pulang-pulang, Bu Ratna langsung tepar di kamar. Wajahnya pucat. Cika gak tega ganggu. Gak tega minta ditemenin rapat.

Jadi Cika cuma meletakkan kertas undangan rapat di depan meja rias kamar ibunya. Di atas botol parfum Chanel kesayangan Ibu. Ditindih lipstik merah. Gak bilang apa-apa. Gak WA. Gak nitip pesan ke Bi Ijah.

Kenapa? Karena terlalu kecewa. Karena biasanya ibunya tak pernah datang. Rapat kelas 10, gak datang. Bagi rapor semester 3, gak datang. Pentas seni waktu dia main biola, gak datang. Alasannya selalu sama: "Ibu sibuk, Sayang. Chindy ada meeting butik. Eric lembur. Kamu kan udah gede, bisa sendiri."

Tapi kali ini... kali ini dia sangat berharap ibunya datang. Karena ini terakhir. Setelah ini lulus. Setelah ini kuliah. Setelah ini... dia gak tau bakal dianggep anak atau cuma numpang KK.

Angin pagi niup poni Cika. Dingin. Tapi gak sedingin hatinya.

Tiba-tiba sebuah tangan mendarat tepat di pundaknya. Hangat. Besar.

Cika terlonjak. "Kya!" Jantungnya mau copot.

"Keluargamu tidak datang lagi?" Suara seorang pria. Berat. Tenang. Tapi ada nada kasihan di sana.

Cika nengok. Itu Pak Andre. Wali kelas Cika. Umur 29, tinggi tegap, kemeja putih lengan digulung sampai siku, dasi agak kendor. Gantengnya tipe dosen muda yang bikin murid cewek salting tiap pelajaran. Tapi tatapannya ke Cika sekarang... bapak banget. Khawatir.

"Eh, Pak Andre," Cika gugup. Langsung berdiri, benerin rok abu-abunya yang kependekan. "Belum, Pak. Sepertinya... tidak datang lagi." Ucapnya sambil nunduk. Suaranya kecil. Sedih, namun karena sudah terbiasa, air matanya tertahan di ujung mata. Gak jadi jatoh. Cuma bibirnya yang gemeter dikit.

Pak Andre nghela napas panjang. Dia taruh map di bangku. "Duduk lagi, Cika."

Dia tau riwayat Cika. Anak bungsu Wijaya. Ayahnya, Pak Wijaya, udah meninggal 2 tahun lalu. Kecelakaan. Ibunya, Bu Ratna, sibuk ngurus perusahaan almarhum suami. Kakaknya, Eric, sekarang CEO Wijaya Group. Kakaknya yang lain, Chindy, punya butik di Senayan, jadwalnya lebih padat dari menteri. Cika? Selalu sendiri. Di rumah besar, tapi sepi.

"Ya udah, nanti kamu ikut barisan saya aja ya," kata Pak Andre lembut. "Biar ada yang dampingin pas wali murid dipanggil. Gak enak kalau kamu—"

"Cika!"

Tiba-tiba terdengar seruan seorang wanita dari arah gerbang sekolah. Melengking. Ceria. Suaranya nembus kebisingan parkiran.

Cika menoleh, refleks. Begitu juga Pak Andre yang berada di sampingnya.

Nampak berdiri di gerbang seorang perempuan. Gaun selutut warna dusty pink, lengan pendek. Kainnya jatuh, bahannya adem. Rambut panjang bergelombang, dibiarin terurai kena angin. Tas kecil di bahu. Flat shoes putih. Gak menor, gak pake perhiasan rame. Tapi... cantiknya beda. Aura-nya adem, keibuan, tapi muda. Umurnya keliatan 23-24. Dia melambaikan satu tangannya tinggi-tinggi. Senyumnya lebar, matanya berbinar.

Cika tersentak. Kayak kesetrum. Air mata yang tadi ditahan, hilang. Berganti dengan senyuman yang tulus, yang udah lama gak muncul. Matanya langsung berkaca, tapi karena bahagia.

"Kakak...!" serunya. Gak peduli image. Gak peduli seragam. Gak peduli temen-temennya liatin. Langsung lari. Lari cepat ke arah wanita itu. Sepatu pantofelnya berdecit di aspal. Tas ranselnya keguncang-guncang.

Vivian tersenyum dari kejauhan. Bukak tangan lebar-lebar. Siap nangkep.

_Part ini ada di novel,_ batin Vivian sambil nunggu Cika nyampe. Jantungnya juga deg-degan. _Kalau di novel, Bu Ratna sedang sibuk mikirin perceraian aku sama Eric sehingga tak melihat surat Cika sama sekali. Cika rapat sendirian, nangis di toilet, terus pulang naik ojek, kehujanan._

_Tapi kali ini beda. Bu Ratna tahu. Bi Ijah yang ngasih tau pas beliau baru pulang dari RS. Beliau mau datang, tapi..._

_Tapi kondisi kesehatan Bu Ratna kurang bagus. 3 hari 3 malam di rumah sakit bikin tensi naik. Kepala pusing, mual. Dokter Hendra bilang harus bed rest total. Gak boleh capek, gak boleh banyak pikiran._

_Jadi aku yang putusin untuk jadi orang yang datang ke sekolah. Menghibur adik iparku. Ngelurusin satu alur tragis lagi. Biar Cika gak ngerasa dia gak punya siapa-siapa._

"Bugh." Cika nyampe. Langsung nyeruduk pelukan Vivian. Erat banget. Kepalanya nemplok di dada Vivian. Tangannya meluk pinggang Vivian kenceng, takut dilepas. "Kakak dateng... beneran dateng..."

Vivian ketawa kecil. Ngelus punggung Cika, ngelus kepangnya. "Ya iya lah. Kamu undang Kakak kan? Masak Kakak biarin kamu sendirian." Dia kecup puncak kepala Cika. Wangi shampoo. "Maaf ya telat. Tadi mual dulu di taksi. Anakmu rewel."

Cika ketawa di tengah nangis. Hidungnya mampet. "Ih, Kakak! Aku kira Kakak juga sibuk..."

"Buat kamu, Kakak gak sibuk," bisik Vivian.

Pak Andre yang dari tadi diem di bangku taman, jalan nyamperin. Penasaran. Alisnya naik. Matanya gak lepas dari Vivian. _Siapa dia? Kok Cika manggil Kakak? Bukannya kakaknya Cika cuma Chindy?_

"Cika, ini...?" tanya Pak Andre. Suaranya lebih halus dari biasanya.

Vivian lepasin pelukan Cika pelan, terus berdiri tegak di depan Pak Andre. Senyum. Sopan. Profesional. Tangannya reflek masuk ke tas, nutupin jari manis yang sengaja gak dipakein cincin nikah hari ini. Sekalian nutupin perut yang masih rata.

"Oh, kenalin Pak. Saya kakaknya Cika," ucap Vivian. Suaranya lembut, keibuan. *Gak sebut nama.* "Makasih ya, Pak, udah bimbing adik saya selama ini. Cika sering cerita tentang Bapak di rumah. Katanya Bapak tegas, tapi baik."

_JLEB._ Pak Andre agak salting. _Kakaknya Cika? Berarti... adiknya Eric Wijaya? Pantes auranya beda. Pantes cantik. Gen Wijaya emang gak ada obat._ Dia ngulurin tangan, agak kaku. "Saya Andre, Pak. Wali kelas Cika. Senang ketemu sama Kakaknya Cika."

Vivian jabat tangan Pak Andre sekilas. Cepet. Profesional. Ujung jarinya dingin. "Sama-sama, Pak Andre. Saya titip adik saya ya. Dia anak pinter, cuma kadang suka ngelamun."

"Sama-sama, Kak," Pak Andre ralat manggilnya. Pipinya merah dikit. _Masih muda banget. Kuliah kali ya? Atau baru lulus S1? Kok udah urus adik rapat orang tua. Namanya siapa ya? Tapi gak enak nanya langsung._

"Saya ingat, terakhir kali keluarga Cika datang itu 2 tahunan lalu," lanjut Pak Andre, cari bahan obrolan biar gak canggung. "Waktu pendaftaran sekolah. Bersama Pak Wijaya almarhum. Sama Kak Eric sama Kak Chindy kalau gak salah."

Vivian hanya tersenyum. Tipis. Sopan. Tapi matanya langsung ngasih kode ke Cika: _udah, jangan bahas Papa._ Senyumnya masih ada, tapi sorot matanya ngingetin. "Iya, Pak. Waktu itu saya masih di luar kota. Kuliah. Sekarang saya udah pulang, jadi bisa gantian jagain Cika."

_Di luar kota,_ batin Pak Andre manggut-manggut. _Kuliah. Pantes baru keliatan sekarang. Berarti dia adiknya Eric yang ketiga. Eric sulung, Chindy kedua, ini ketiga, Cika terakhir. Lengkap 4 bersaudara._ Logika ngawur tapi masuk akal di kepala Andre. _Pantes Cika gak pernah cerita, mungkin dia pemalu._

"Permisi ya, Pak. Kami mau masuk dulu," ucap Vivian, narik tangan Cika lembut. "Cika, ayo Sayang. Nanti telat."

...

Acara telah berakhir. Rapat 2 jam. Isinya presentasi kurikulum, jadwal ujian, biaya wisuda, tetek bengek. Boring. Tapi Cika senyum terus dari awal sampai akhir. Karena di sampingnya ada "Kakak". Vivian duduk tegak, nyatet di notes kecil, nanya ke guru BK soal jurusan kuliah Cika, bahkan negosiasi uang gedung biar bisa dicicil. Kayak... kakak kandung beneran. Kayak ibu muda.

Sekarang Vivian dan Cika keluar sambil berjalan beriringan dari aula. Langit udah terik, jam 11 siang. Panasnya nyengat.

"Cika..."

Suara itu menghentikan langkah mereka.

Serentak dua wanita itu menoleh. Itu Pak Andre lagi. Dia jalan dari arah ruang guru, map di tangan. Sengaja nunggu. Ada senyum canggung di wajahnya.

"Gimana rapatnya, Kak?" tanya Pak Andre. Matanya ke Vivian doang. Ke Cika cuma sekilas.

Vivian senyum. Ramah. "Jelas semua. Makasih ya, Pak. Guru-gurunya baik, apalagi wali kelasnya." Dia ngelirik Cika, ngedipin mata bercanda. "Cika beruntung punya wali kelas kayak Bapak."

Pak Andre salting lagi. Garuk tengkuk. "Ah, saya cuma jalanin tugas, Kak.". _Dia adiknya Eric. Berarti seumuran Chindy? Tapi kok lebih muda look-nya. Apa karena beda ibu? Ah, gak sopan mikir gitu._

"Cika, biar saya antar ke depan," ucap Andre cepet. "Panas. Nanti kamu pusing. Nanti Kakakmu juga kasihan."

Vivian senyum nolak halus. Tangannya ngerangkul pundak Cika, posesif gaya kakak yang sayang adik. "Gak usah repot, Pak Andre. Mobil saya udah nunggu di depan. Supirnya udah dijemur dari tadi."

_Mobil saya._ Biar Andre makin yakin dia anak Wijaya. Anak orang kaya, punya supir. Status aman.

Cika ngerti sandi. Langsung nimbrung sambil senyum. "Iya, Pak. Kakak bawa mobil sendiri. Kami pamit ya, Pak. Makasih. Nanti Cika ceritain ke Kak Eric kalau Pak Andre baik banget sama Cika."

Andre angguk. Senyum lebar, agak bangga disebut di depan "Kak Eric". "Oh, iya. Hati-hati ya, Cika. Salam buat... buat keluarga di rumah." _Keluarga_ maksudnya Eric sama Chindy. Dia gak tau "Kakak" di depannya ini juga "keluarga" dalam arti istri Eric.

"Permisi Pak, kami pamit," ucap Vivian mengakhiri perbincangan. Nada halus tapi final.

Kemudian keduanya pergi. Meninggalkan Andre yang diem di tempat, senyum-senyum sendiri kayak orang menang lotre.

Andre memperhatikan punggung Cika dan Vivian yang mulai menjauh. Langkah Vivian anggun, gak buru-buru. Gaun dusty pink-nya berkibar kena angin. Satu tangan ngerangkul pundak Cika. Keibuan banget.

_Cantik. Ceria. Sayang adik. Smart. Sopan. Dan... single? Kayaknya sih, umur segitu belum nikah. Anak Wijaya pasti milih-milih, gak mungkin nikah muda. Apalagi dia baru pulang dari luar kota, habis kuliah._ Pikir Andre. _Umurku 29, dia 23-24 kali. Cocok. Tapi namanya siapa ya? Tadi gak sebut. Gengsi juga kalau nanya._

Matanya masih memperhatikan, sampai 2 bayangan itu masuk ke dalam mobil hitam mewah Maybach yang udah nunggu di depan gerbang. Pintu dibukain supir yang nunduk hormat. Terus perlahan pergi, ninggalin halaman sekolah yang mulai sepi karena murid-murid udah pulang.

Andre masih diem. Ngelus dagu. _Maybach. Supir pribadi. Adiknya Eric Wijaya. Pantes..._

Di dalam mobil, AC langsung nyala. Dingin. Cika langsung lepas sepatu, selonjor, terus nyender ke bahu Vivian sambil nyengir. "Makasih ya, Kak. Aku gak pernah seneng gini pas rapat. Berasa punya kakak beneran yang belain."

Vivian cuman ngangguk sambil senyum.

Dia natap ke luar jendela. _Satu lagi alur tragis aku belokin,_ batin Vivian. Di novel, Cika pulang nangis. Di sini, dia pulang ketawa.

Mobil Maybach melaju pelan, membelah jalanan Jakarta, ninggalin sekolah... dan ninggalin Pak Andre yang balik ke ruang guru sambil senyum-senyum, buka HP, ngetik di Google: "adik perempuan Eric Wijaya" tapi gak nemu apa-apa.

1
Dinda Putri
lagi
Nurfi Susiana
lanjut thor
Hikmal Cici
nah gitu dong 👍👍👍🙂
Hikmal Cici
vivian ini cewek barbar kan ya thor, bukan yg kalau dijahatin cm bisa nangis. pasti ada perlawanan yg seru ya kan 😊
Dinda Putri
makin seru up lagi thor
anonim
bikin greget
Hikmal Cici
lagi...lagi...lagi
Uthie
ratingku perpect.. 10 🌟🌟🌟
Uthie
Wadduuhhhh.. si Alea makin kurang ajar itu 😡😡😡
Uthie
Puasssss banget itu Vivian nunjukin bekas cinta nya ma dokter rasa Pelakor 😆👍
Uthie
kurrraangggg
Irsyad layla
tapi lengan kemeja nya digulung thor kek mana ni😄😄
Hikmal Cici
ya pasti kurang lah kk
Uthie
masih gagal maniing...gagal maning... pusiiinggg dehhhh tuhhh /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Joyful//Joyful/
Hikmal Cici
nunggu bab selanjutnya
lexxa
aaaaaa suka bngettttt
Uthie
Jadi makin favorit ceritanya 👍😘😍😍
Uthie
Lanjjjjjuuuuttttt 😍😍💪💪💪
Uthie
harusnya tunduk😆
Uthie
100😆👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!