NovelToon NovelToon
WARISAN PEMIKAT JANDA

WARISAN PEMIKAT JANDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Romansa Fantasi / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: StarBlues

Seorang pria miskin harus menelan pahitnya dikhianati dan ditinggalkan kekasihnya di saat yang sama. Sempat hancur dan hampir menyerah, dia akhirnya memilih bangkit demi membalas semuanya. Sampai suatu hari, dia menemukan liontin misterius warisan keluarga yang mulai mengubah hidupnya. Dengan cara yang tak biasa, dia perlahan membalikkan nasib lewat hubungan dengan para janda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon StarBlues, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29

Wanita itu masih duduk di hadapan Juan. Tatapannya tidak lagi seagresif wanita-wanita lain yang sebelumnya hilir mudik menawarkan kemolekan tubuh mereka. Di bawah temaram lampu kuning ruangan itu, sorot matanya tampak berhati-hati, seolah ia sedang mengukur setiap napas yang keluar dari rongga dadanya.

Matanya sesekali berpindah dari wajah tegas Juan ke lantai kayu yang sedikit kusam, lalu kembali menatap Juan dengan keraguan yang nyata.

Juan bisa merasakannya. Ada kekakuan yang tidak alami dalam setiap gerak-gerik wanita ini. Senyum yang ia paksakan tidak mengalir sampai ke mata, dan cara bicaranya pun terdengar sedikit terputus-putus, seolah ia sedang menghafal naskah rayuan yang belum matang.

Wanita di hadapannya ini berbeda, ia tidak memiliki kepercayaan diri predator seperti yang lain.

“Kamu… beneran nggak mau?” tanya wanita itu pelan, memecah keheningan yang sempat menggantung.

Juan mengangkat wajahnya. Ia menatap wanita itu dengan ekspresi tenang, meskipun di dalam hatinya ia mulai mengamati lekuk tubuh wanita itu yang terbungkus pakaian minim.

“Iya,” jawab Juan singkat.

Wanita itu terdiam sejenak, lalu mencoba tersenyum lagi, mencoba membusungkan dadanya agar melon hot miliknya terlihat lebih menonjol di balik tanktop ketatnya.

“Aku bisa… aku bisa kasih pelayanan yang bagus. Beneran. Aku nggak akan mengecewakanmu, Juan.”

Nada suaranya terdengar sungguh-sungguh, tetapi Juan bisa menangkap kegugupan yang tidak tersamarkan. Tangannya yang terletak di pangkuan tampak saling meremas, jari-jarinya bergerak kecil seolah menyalurkan kegelisahan yang luar biasa. Juan tersenyum tipis. Senyum yang tidak dibuat-buat.

“Bukan soal kamu tidak menarik,” kata Juan akhirnya, suaranya sedikit rendah dan berat. “Aku memang lagi nggak pengen.”

Wanita itu menghela napas kecil, lalu kembali menatap Juan. “Capek?”

Juan mengangguk pelan. “Iya. Badan masih kerasa capek.”

Ia tidak menjelaskan lebih jauh. Pergulatan panas yang terjadi di ruang Bu Hani beberapa jam lalu masih menyisakan rasa lelah yang aneh, bukan sekadar fisik, tetapi juga sisa adrenalin yang belum sepenuhnya turun.

Juan hanya ingin duduk diam, menenangkan diri, dan menunggu Andre serta Doni menyelesaikan urusan syahwat mereka.

“Aku cuma mau istirahat aja,” lanjut Juan. “Nunggu temen-temen.”

Wanita itu terdiam lebih lama kali ini. Ia menunduk, menatap ujung sandalnya. Musik dari dalam ruangan masih mengalun pelan, sesekali diselingi suara tawa samar dari lorong-lorong remang yang menuju ke kamar eksekusi.

Juan memperhatikan wanita itu lebih saksama. Dari dekat, riasan wajahnya tampak sederhana, sangat jauh dari kesan wanita pemain. Rambutnya diikat seadanya, dan meskipun pakaiannya mengikuti standar tempat ini, memperlihatkan bahu jenjang dan sedikit belahan dada, ia tidak memancarkan aura jalang.

“Kalau… kalau cuma nemenin aja?” tanyanya pelan. “Aku temenin duduk. Ngobrol. Nggak maksa apa-apa, asal kamu tetap di sini.”

Juan terdiam. Ia menimbang-nimbang. Ia sebenarnya tidak keberatan untuk sekadar berbincang, tetapi ia tahu, di tempat seperti ini, setiap detik memiliki harga.

“Kamu nggak harus,” jawab Juan jujur.

Wanita itu tersenyum kecil, namun senyum itu cepat memudar. “Aku butuh, Juan. Aku benar-benar butuh uang malam ini.”

Jawaban singkat itu membuat Juan menatapnya lebih lama. Wanita itu menarik napas lagi, kali ini lebih panjang, membuat dadanya yang padat terangkat naik di balik kain tipis itu. “Aku… sebenernya nggak jago ngerayu,” katanya lirih. “Aku baru di sini.”

Juan tidak terkejut. Justru ada perasaan getir yang perlahan muncul di dadanya. “Kenapa ke sini?” tanya Juan, suaranya tenang.

Wanita itu ragu-ragu, lalu menjawab pelan dengan mata yang mulai berkaca-kaca, “Aku butuh uang buat bayar uang kuliah. Aku telat bayar. Kalau nggak lunas, aku nggak bisa ikut ujian. Masa depanku cuma tinggal di sini.”

Juan tertegun. Ada jeda yang cukup lama setelah kalimat itu terucap. Suara di sekitar mereka terasa menjauh. Juan menarik napas dalam-dalam. Ada rasa tidak tega yang tiba-tiba menyelinap.

Ia teringat dirinya sendiri di masa lalu, sebelum liontin sakti itu mengubah takdirnya menjadi pria yang diperebutkan para wanita.

Juan merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang merah yang masih kaku. “Ini,” kata Juan sambil menyerahkan uang itu. “Satu juta. Ambil buat bayar kuliahmu.”

Wanita itu menatap uang itu dengan mata membelalak. Namun, tangannya yang sudah terulur tiba-tiba berhenti di udara. Ia menggeleng pelan. “Nggak bisa.”

“Kenapa?”

“Aku nggak mau dikasihani,” jawabnya cepat dengan nada tegas. “Aku ke sini buat kerja, bukan mengemis. Kalau aku terima tanpa ngapa-ngapain, rasanya aku kayak wanita murahan yang tak punya harga diri.”

Kalimat itu menghantam Juan lebih keras dari yang ia duga. Ia melihat tekad yang keras di wajah wanita di depannya. Akhirnya, Juan menghela napas panjang. “Kamu yakin?”

Wanita itu mengangguk pasti. “Yakin. Aku akan memberikan jasaku kepadamu.”

Juan menutup matanya sesaat, membayangkan pergulatan yang akan terjadi. “Baik. Aku setuju.”

Juan menyerahkan kembali uang itu ke tangannya, lalu mereka beranjak menuju lorong remang-remang. Begitu masuk ke dalam kamar sempit yang hanya berisi kasur dan kipas angin tua, wanita itu mengunci pintu. Suasana seketika menjadi panas dan pengap.

“Namaku Lisa,” bisiknya lirih sambil mulai melepaskan ikat rambutnya.

Juan tidak banyak bicara. Ia mendekat, aroma tubuh Lisa yang masih segar dan belum terkontaminasi bau rokok menyengat hidungnya.

Dengan gerakan pelan namun pasti, Juan merengkuh pinggang ramping Lisa, menariknya hingga tubuh mereka bersentuhan rapat. Lisa bernapas pendek-pendek saat merasakan tangan Juan yang kuat mulai merayap di punggungnya.

“Kita main pelan-pelan ya,” bisik Juan tepat di telinga Lisa, membuat wanita itu bergidik.

Lisa mengangguk, lalu dengan tangan gemetar, ia mulai melepaskan tanktop hitamnya. Pemandangan di depan Juan seketika berubah vulgar.

Dua melon hot milik Lisa yang putih bersih dan kenyal kini terpampang nyata dengan puting merah muda yang menegang karena suhu dingin kipas angin. Juan tidak tahan lagi. Ia segera menyambar bibir Lisa, melumatnya dengan rakus namun tetap lembut.

Tangan Juan bergerak liar, meremas gumpalan daging padat di dada Lisa dengan kuat. Lisa mengerang tertahan, kepalanya mendongak saat merasakan lidah Juan mulai bermain di area lehernya.

Juan kemudian membimbing Lisa ke atas kasur. Ia melepaskan pakaiannya sendiri, menampakkan tubuh atletis dan timun super miliknya yang sudah menegang sempurna, tampak gagah menantang langit.

Lisa membelalak melihat ukuran milik Juan yang luar biasa. “Juan… itu… besar sekali,” gumamnya dengan suara parau yang penuh gairah.

Juan tidak menjawab. Ia segera memposisikan dirinya di antara kedua kaki Lisa yang sudah terbuka lebar. Lembah basah Lisa tampak mulai bersimbah cairan bening, menandakan gairahnya sudah di puncak. Juan mendorong miliknya masuk secara perlahan.

“Ughhh!” Lisa memekik saat merasakan miliknya seolah robek karena ukuran Juan yang tak lazim. Ia mencengkeram sprei dengan kuat, tubuhnya gemetar menerima hujaman perlahan namun dalam.

“Sakit?” tanya Juan sambil terus bergerak.

“Sakit… tapi nikmat, Juan… teruskan!” rintih Lisa sambil mulai menggoyangkan pinggulnya, mengimbangi ritme Juan.

Ruangan itu kini dipenuhi suara decapan basah dan desahan napas yang memburu. Juan menggempur Lisa dengan ritme yang semakin cepat.

Setiap tusukannya mengenai titik terdalam, membuat Lisa memejamkan mata dan merancau tak karuan. Pukulan-pukulan kecil Juan pada bokong padat Lisa menambah bumbu panas di antara mereka.

“Aku sampai, Juan! Aku sampai!” teriak Lisa saat tubuhnya mengejang hebat, menjepit milik Juan dengan sangat kencang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!