NovelToon NovelToon
BANGKITNYA SANG SATRIA PININGIT

BANGKITNYA SANG SATRIA PININGIT

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Kebangkitan pecundang / Ahli Bela Diri Kuno / Balas Dendam
Popularitas:770
Nilai: 5
Nama Author: Dedik Januari Purnomo

"Dulu aku adalah debu di bawah kakimu, kini aku adalah badai yang akan menghancurkan istanamu!"

Arka Nirwana hanyalah menantu "sampah" yang dihina dan dipaksa mencuci sepatu keluarga Adiningrat. Kehilangan anak, dikhianati istri, dan dianggap gila adalah makanan sehari-harinya. Namun, mereka tidak tahu bahwa selama empat tahun, Arka sedang melakukan tirakat suci untuk membuka Segel Nusantara.

Saat guntur menyambar dan Jenderal tertinggi bersujud di kakinya, dunia sadar bahwa Sang Satria Piningit telah bangkit. Masa perbudakan telah usai, kini saatnya Arka menjemput kembali miliknya dan meratakan siapa pun yang menghalanginya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: TOKO BUKU DI SUDUT KOTA DINGIN

Udara pagi di Terminal Keberangkatan Changi terasa steril dan dingin, khas sebuah mesin besar yang sangat teratur.

Bagi banyak orang, ini adalah tempat untuk memulai liburan atau perjalanan bisnis, tapi bagi Arka, aroma amis dari pengkhianatan Richard Tan masih terasa tertinggal di ujung lidahnya.

Arka berjalan melewati terminal dengan langkah yang sengaja dibuat santai. Tidak ada lagi jas hitam mahal atau aura yang menekan.

Ia hanya mengenakan kaos polo putih polos, celana chino krem, dan sepatu kets yang sedikit berdebu, penampilan tipikal turis Indonesia yang baru saja menghabiskan sisa tabungannya untuk akhir pekan di Singapura.

Di sampingnya, Reyna menggandeng erat tangan Dafa. SLURRRRP...  Bocah itu tampak asyik menjilat es krim cokelatnya, seolah-olah tabung kaca dan kabel-kabel ghaib di Dragon King Casino semalam hanyalah mimpi buruk yang sudah hilang saat ia bangun tidur.

"Papa, nanti kalau sudah sampai di Batu, Dafa mau makan bakso yang banyak," suara polos Dafa memecah lamunan Arka.

Arka tersenyum, sebuah senyuman tulus yang hanya ia simpan untuk anaknya. Ia mengusap rambut Dafa yang lembut. "Iya, Nak. Kita makan bakso, kita hirup udara yang lebih jujur dari tempat ini."

Beberapa langkah di belakang mereka, Jenderal Wironegoro berjalan layaknya seorang paman yang sedang mengawal keponakannya. Ia mengenakan kemeja batik lengan pendek dan kacamata hitam. Tidak ada tanda-tanda bahwa pria ini adalah pemegang komando militer tertinggi yang bisa menggerakkan pasukan dalam satu kedipan mata.

"Gusti," bisik Wironegoro saat mereka duduk di sudut ruang tunggu VIP yang sudah dikosongkan secara rahasia. "Media Singapura menyebut Richard Tan kena serangan jantung karena tekanan bisnis. Black Order dianggap menghilang karena perang internal kartel. Nama Anda bersih, tidak ada di radar intelijen mana pun."

Arka menyesap kopi hitamnya yang mulai mendingin. Matanya menatap landasan pacu di luar jendela kaca raksasa. "Bagus. Biarkan mereka mencari bayangan. Aku lebih suka dianggap mati atau tidak pernah ada."

"Tapi, entitas di balik Richard Tan... mereka mulai berisik di forum gelap, Gusti. Mereka menyebut tentang 'Kebangkitan Poros Tengah'. Mereka tahu ada yang mengintervensi," lanjut Wironegoro dengan nada cemas.

Arka hanya mengangguk kecil. "Biarkan saja mereka menebak-nebak. Selama mereka sibuk mencari 'siapa', aku punya waktu untuk mencari tiga segel sisanya."

***

Di belahan dunia lain, dalam sebuah jet pribadi yang terbang rendah di atas laut China Selatan, Maya duduk dengan tubuh yang masih sering gemetar secara tiba-tiba.

Ia kehilangan segalanya dalam satu malam, apartemen, perhiasan dan yang paling menyakitkan, ia kehilangan hak atas anaknya sendiri.

Dengan tangan yang masih gemetar, ia menekan nomor darurat Siska Adiningrat.

"Siska... Arka itu monster," isak Maya saat sambungan terhubung. "Dia bukan manusia."

"Aku tahu, Maya," suara Siska di seberang telepon terdengar datar, hampa, seperti suara seseorang yang sudah menyerah pada nasib.

"Ayahku baru saja dijemput kejaksaan. Semua bukti korupsinya dikirim oleh kurir tanpa nama. Keluarga kami kiamat, tapi Arka... namanya tidak ada di dokumen mana pun."

"Dia bergerak di balik bayangan, Siska! Dia menghancurkan Black Order di depan mataku, tapi polisi bilang itu cuma kebocoran gas! Dia itu hantu!" teriak Maya frustrasi.

Siska terdiam lama, sebelum akhirnya menjawab dengan bisikan pelan. "Mungkin dia bukan hantu, Maya. Mungkin kita saja yang terlalu bodoh karena mengira seorang Raja yang sedang menyamar adalah kuli yang bisa kita injak-injak."

***

Kepulangan Arka tidak disambut oleh sorak-sorai. Pesawatnya mendarat di pangkalan udara terpencil di Jawa Timur saat tengah malam sunyi.

Tanpa membuang waktu, Arka langsung membawa Dafa ke sebuah vila rahasia di lereng Gunung Banyak, Batu.

Malam itu, setelah Dafa tertidur lelap dengan napas yang teratur, Arka berdiri di balkon, menatap lampu-lampu Kota Batu yang berkedip di kejauhan.

Reyna muncul dari balik pintu geser, membawa dua cangkir wedang jahe yang mengepulkan uap hangat.

"Dafa punya potensi yang besar, Arka," ucap Reyna tanpa menoleh ke arahnya. "Energi Segel Samudera itu mengalir di darahnya. Itulah kenapa Richard ingin memanen energinya untuk memperpanjang usia ghaibnya sendiri."

Arka mengepalkan tangannya di pagar balkon hingga kayu itu berderit. "Mereka menganggap anak-anak sebagai baterai. Itulah kenapa aku harus segera menyelesaikan tujuh segel ini, Rey. Nusantara harus punya pelindung yang nyata."

Reyna menatap Arka dengan pandangan yang dalam, seolah sedang membaca lembaran takdir di wajah pria itu. "Kau sudah punya empat segel: Bumi, Welas Asih, Api, dan Samudera. Tapi tiga sisanya... Udara, Ruang, dan Waktu... itu tidak bisa dibuka dengan otot atau sihir semata."

"Lalu bagaimana?"

"Kau harus menjadi 'Kosong'. Kau harus benar-benar menghilang dari egomu sendiri. Satria Piningit itu bukan tentang siapa yang paling kuat, tapi tentang siapa yang ada di mana-mana namun tidak terlihat di mana pun. Memenangkan perang tanpa harus menghunus pedang."

Arka terdiam, meresapi filosofi yang terasa begitu berat itu. Ia menoleh ke arah Reyna. "Kenapa kau mau menjalani jalan sesunyi ini denganku, Rey? Kau bisa saja hidup tenang di kebun bungamu."

Reyna tersenyum kecil, senyum yang terasa begitu kuno dan mistis. "Aku adalah Sawitri-mu, Arka. Dalam serat kuno, sang Satria tidak akan pernah sampai ke puncak 'Kosong' tanpa pendamping yang memiliki 'Isi'. Aku menjagamu karena sumpah suksmaku kepada leluhur. Kita adalah dua sisi dari koin yang sama."

***

Keesokan harinya, untuk menjaga penyamaran, Arka menyewa sebuah ruko tua yang kusam di salah satu sudut Kota Batu. Ia membuka sebuah toko buku antik dan barang-barang lama.

Tidak ada pengawal berseragam di sana. Hanya ada Arka yang sesekali duduk di kursi rotan depan toko, membaca koran sambil menyesap kopi, persis seperti duda pendiam yang baru pulang merantau.

Orang-orang mengenalnya sebagai "Mas Arka". Tidak ada yang tahu bahwa di bawah lantai ruko yang berdebu itu, terdapat sistem komunikasi satelit tercanggih yang terhubung langsung ke markas Wironegoro.

Tiba-tiba... CIIIIIIITTTTT!

Sebuah Mercedes-Benz mengkilap berhenti mendadak di depan toko Arka. Seorang pengusaha lokal dengan perut buncit dan jam tangan emas yang mencolok turun dari mobil. Ia tampak kesal melihat debu dari rak buku Arka yang tertiup angin ke arah mobilnya.

"Heh, Mas! Bersihkan itu debunya! Mobil saya ini baru dipoles, harganya mahal! Bisa lecet kalau kena sampah-sampah dari tokomu ini!" bentak pria itu.

Arka hanya mendongak sebentar dari korannya, lalu kembali membaca tanpa emosi. "Debu itu dari jalanan, Pak. Bukan dari buku saya. Kalau takut kotor, jangan parkir di pinggir jalan."

Pria itu memerah wajahnya. "Kurang ajar! Kamu tahu siapa saya? Saya ini donatur balai kota! Saya bisa tutup toko kumuhmu ini dalam satu jam!"

Reyna, yang sedang menyusun buku di dalam, hanya tersenyum tipis tanpa bicara. Ia tahu, jika Arka mau, ia bisa membuat seluruh saldo bank pria itu berubah menjadi nol dalam hitungan detik hanya dengan satu pesan singkat ke Wironegoro. Tapi Arka hanya diam.

"Silakan, Pak. Kalau itu membuat Anda merasa lebih penting," sahut Arka datar.

Pria itu pergi sambil mengumpat, memaki tentang "orang miskin yang sombong". Arka tetap tenang. Baginya, hinaan manusia biasa sudah tidak ada rasanya lagi.

Ia sudah melewati neraka yang jauh lebih pedih dari sekadar makian orang kaya baru.

"Kau semakin pintar menyembunyikan nagamu, Arka," puji Reyna saat suasana kembali sunyi.

"Naga tidak perlu mengaum untuk membuktikan dia ada, Rey," jawab Arka sambil melipat korannya.

"Lagipula, Wironegoro baru saja memberi kabar. Segel Kelima, Segel Udara terdeteksi di puncak tertinggi Papua. Ada pihak asing yang mulai menggali di sana dengan dalih riset pertambangan."

Arka berdiri, matanya sejenak berkilat ungu sebelum kembali ke warna hitam pekat yang normal. "Mereka mulai menyentuh 'paru-paru' Nusantara. Kita harus berangkat, tapi kali ini... kita masuk sebagai tim riset lingkungan biasa."

Reyna mengangguk. "Aku siapkan perbekalannya. Tapi ingat, Arka, di ketinggian itu udara sangat tipis. Hanya mereka yang jiwanya ringan yang bisa bertahan hidup."

Arka menatap langit ke arah Timur. Toko buku kecil ini adalah perisai sempurnanya. Di mata dunia, ia tidak ada. Namun di mata takdir, ia adalah badai yang sedang bersiap menyapu bersih para penjarah negeri. Sang Satria Piningit tetap bekerja dalam senyap, mengawasi Nusantara dari balik tumpukan buku tua, menunggu saat yang tepat untuk kembali mengguncang dunia.

***

Dukung perjalanan Arka Nirwana dengan Like dan Komen. Update setiap hari. Terima kasih.

1
anggita
ikut like👍iklan☝aja thor.
Dedik Januari: Terima kasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!