NovelToon NovelToon
System Pohon Ajaib Warisan Kakek

System Pohon Ajaib Warisan Kakek

Status: tamat
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik / Tamat
Popularitas:171.1k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Lelah dengan kehidupan keras sebagai budak korporat di kota besar dan duka setelah kehilangan kedua orang tuanya, Lin Ye memutuskan untuk pulang ke Desa Qingshui, tempat kakeknya dulu tinggal.

Di sana, ia menemukan ladang dan rumah kakeknya yang sudah terbengkalai, kecuali sebatang pohon raksasa misterius di belakang rumah yang anehnya tetap subur dan hijau.

Saat tangan Lin Ye yang terluka menyentuh pohon tersebut, Sistem Warisan Alam yang terkunci sejak kematian kakeknya mendadak aktif, mengenali garis keturunannya sebagai pewaris sah.

Kini, dengan bantuan sistem yang memudahkan pekerjaan bertani dan kehadiran roh-roh alam fantasi, Lin Ye memulai kehidupan barunya yang santai namun penuh keajaiban untuk membangun kembali kejayaan ladang kakeknya, melawan intrik tetangga yang rakus, dan perlahan menjadi kaya raya di tengah kedamaian pedesaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Kukuruyuk.

Suara ayam jantan berkokok dari kejauhan memecah keheningan pagi di Desa Qingshui. Sinar matahari pagi yang hangat perlahan menyusup masuk melalui celah-celah atap rumah kayu yang bocor, menyinari wajah Lin Ye yang tertidur pulas di atas ranjang kayu yang keras.

Lin Ye membuka matanya perlahan. Dia meregangkan otot-otot tubuhnya. Anehnya, meskipun dia tidur di atas alas kayu tanpa kasur yang empuk, badannya sama sekali tidak terasa sakit atau pegal. Rasa lelah akibat perjalanan jauh kemarin dan aktivitas mencangkul di malam hari seolah menguap begitu saja.

"Pasti ini efek dari energi yang mengalir dari cangkul kayu besi dan aroma mata air murni semalam," batin Lin Ye sambil duduk dan mengusap wajahnya.

Dia segera bangkit berdiri. Hal pertama yang terlintas di pikirannya adalah halaman belakang. Dia setengah berlari membuka pintu belakang rumah untuk memastikan bahwa kejadian semalam bukanlah sekadar mimpi indah akibat kelelahan.

Kriet.

Pintu belakang terbuka. Udara pagi yang sangat segar langsung menyapu wajahnya. Lin Ye tertegun di ambang pintu.

Di bawah bayangan Pohon Ajaib yang daun zamrudnya memantulkan cahaya matahari pagi, lima bonggol kubis raksasa duduk dengan tenang di atas petak tanah yang sudah dibersihkannya. Embun pagi menempel di atas daun hijau tua yang melingkar padat, membuatnya terlihat sangat segar dan menggiurkan.

"Syukurlah semuanya nyata dan bukan hanya mimpi belaka. Sekarang aku punya modal awal," kata Lin Ye dengan senyum lebar.

Dia melangkah mendekati petak tanah itu. Dia butuh wadah untuk membawa hasil panen ini ke kota. Lin Ye masuk ke dalam sebuah gudang kecil reyot di samping rumah. Di tumpukan barang rongsokan, dia menemukan sebuah keranjang bambu anyaman berukuran besar yang biasa digunakan petani untuk mengangkut hasil panen di punggung. Keranjang itu kotor dan berdebu, tapi anyamannya masih sangat kuat.

Lin Ye membersihkan keranjang itu seadanya dengan air sisa dari sumur. Dia kemudian mengambil cangkul kayu besi hitamnya.

Crak.

Dengan satu ayunan pelan yang presisi, mata cangkul besi itu memotong pangkal batang kubis raksasa pertama dengan sangat mulus. Lin Ye mengangkat kubis itu. Beratnya luar biasa, mungkin sekitar lima kilogram per buahnya. Aroma segar khas sayuran yang baru dipetik langsung menusuk hidungnya, membuat perut Lin Ye berbunyi keroncongan karena dia belum sarapan.

Satu per satu, Lin Ye memotong dan memasukkan kelima kubis energi itu ke dalam keranjang bambu. Keranjang itu terisi penuh hingga menyundul batas atasnya. Lin Ye harus mengambil beberapa lembar daun pisang liar di dekat pagar untuk menutupi bagian atas keranjang agar isi bawaannya tidak terlalu mencolok.

Lin Ye masuk ke dalam rumah, mengganti kemejanya yang kotor dengan kaus bersih dan jaket sederhana, lalu menggendong keranjang bambu yang berat itu di punggungnya. Ajaibnya, meski keranjangnya berisi beban puluhan kilogram, dia tidak merasa terbebani.

"Tujuan pertama hari ini, pasar kota terdekat," ucap Lin Ye sambil melangkah keluar dari gerbang rumahnya.

Tap. Tap. Tap.

Lin Ye menyusuri jalan setapak desa menuju perhentian bus di jalan utama. Pagi ini, beberapa warga desa sudah mulai beraktivitas. Beberapa ibu-ibu yang sedang menyapu halaman menatapnya dengan pandangan heran, berbisik-bisik melihat anak muda dari kota memanggul keranjang bambu besar layaknya petani kawakan.

Baru saja Lin Ye melewati batas ladang jagung, sebuah suara serak memanggilnya dari arah belakang.

"Hei, anak kota. Mau ke mana kamu pagi-pagi buta begini?"

Lin Ye tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pemilik suara menyebalkan itu. Zhao He berdiri di pinggir ladangnya, memegang seikat rumput liar, menatap punggung Lin Ye dengan mata menyipit.

"Saya mau ke kota sebentar," jawab Lin Ye tanpa menghentikan langkahnya.

"Ke kota? Bawa keranjang sebesar itu?" Zhao He mendengus sinis, berjalan mendekat mencoba mengintip ke balik daun pisang yang menutupi bagian atas keranjang Lin Ye. "Apa isinya? Jangan bilang kamu memunguti rongsokan peninggalan kakekmu untuk dijual. Sudahlah, jual saja tanahmu padaku. Uangnya lebih dari cukup daripada kamu jadi pemulung."

Lin Ye memiringkan tubuhnya, menjauhkan keranjang itu dari jangkauan tangan Zhao He.

"Isinya barang berharga, bukan urusan Anda. Dan tawaran saya semalam tidak berubah. Tanah itu tidak akan saya jual. Permisi, bus saya hampir tiba," kata Lin Ye dengan nada dingin, lalu mempercepat langkahnya meninggalkan Zhao He yang menggerutu kesal di belakang.

Tiga puluh menit kemudian.

Brummm.

Bus tua yang membawa Lin Ye tiba di terminal pinggiran kota. Kota terdekat dari Desa Qingshui adalah Kota Yushan, sebuah kota tingkat menengah yang cukup ramai. Lin Ye berjalan kaki sekitar sepuluh menit dari terminal menuju Pasar Induk Yushan.

Suasana pasar sangat bising. Suara tawar-menawar, deru mesin truk pengangkut sayur, dan teriakan para kuli angkut memenuhi udara. Aroma berbagai macam bumbu, ikan segar, dan sayuran bercampur menjadi satu.

Lin Ye berjalan menyusuri lorong blok sayuran grosir. Matanya yang tajam mengamati satu per satu lapak pengepul sayur. Dia sedang mencari target yang tepat. Dia tidak akan menjual kubis energi ini kepada pedagang eceran kecil karena mereka tidak akan punya cukup uang untuk membayar harga yang pantas.

Langkah Lin Ye terhenti di depan sebuah lapak bongkar muat terbesar di ujung blok. Lapak itu sangat sibuk. Banyak petani yang mengantre untuk menyetorkan hasil panen mereka. Di tengah lapak, duduk seorang pria paruh baya bertubuh tambun di atas kursi rotan. Pria itu memakai kalung emas tebal, mengisap rokok, dan membawa kalkulator di tangannya. Dari percakapan orang-orang di sekitarnya, Lin Ye tahu pria itu bernama Bos Liu, tengkulak sayur terbesar di pasar ini yang memasok bahan ke berbagai restoran mahal di pusat kota.

"Ini tempat yang tepat," batin Lin Ye.

Lin Ye melangkah maju, melewati antrean beberapa petani kecil, dan langsung meletakkan keranjang bambunya di depan meja Bos Liu.

Bruk.

Bos Liu mengernyitkan dahinya, merasa terganggu asap rokoknya tersapu angin dari keranjang yang diletakkan kasar itu. Dia menatap Lin Ye dari atas ke bawah. Penampilan Lin Ye yang memakai jaket bersih dan wajahnya yang tidak terbakar matahari sama sekali tidak terlihat seperti petani.

"Anak muda, kamu tidak lihat ada antrean? Lagipula, kamu ini siapa? Aku tidak pernah melihat wajahmu di pasar ini. Kalau kamu mau jual sayur sisa yang sudah layu, bawa saja ke lapak di belakang sana. Aku hanya menerima barang kualitas terbaik untuk dikirim ke restoran," kata Bos Liu dengan nada meremehkan sambil mengibaskan tangannya mengusir Lin Ye.

"Justru karena saya dengar Bos Liu hanya menerima kualitas terbaik, makanya saya datang langsung ke sini. Saya punya barang yang bahkan tidak pernah Bos Liu lihat seumur hidup Anda," jawab Lin Ye dengan suara lantang dan penuh percaya diri. Beberapa petani di sekitar mereka mulai menoleh, tertarik dengan keributan kecil itu.

Bos Liu tertawa keras, perut buncitnya ikut bergetar. "Anak muda yang sombong. Aku sudah berdagang sayur selama dua puluh tahun. Tidak ada sayur di provinsi ini yang belum pernah aku lihat. Buka keranjangmu. Biar kulihat seberapa hebat sampah yang kamu bawa."

Lin Ye tidak membalas. Dia hanya tersenyum tipis, lalu menarik daun pisang yang menutupi keranjangnya.

Sring.

Meskipun tidak ada cahaya nyata yang memancar, warna hijau zamrud dari kelima kubis energi itu begitu pekat dan segar hingga seolah-olah menyala di bawah lampu pasar yang remang-remang. Bentuknya sangat bulat sempurna, tanpa ada satu pun lubang bekas gigitan ulat atau bercak kuning tanda pembusukan.

1
Jeffie Firmansyah
keren semangat suka cerita nya
Jeffie Firmansyah
terimakasih Thor saya sdh baca hingga selesai, ceritanya bagus , dengan genre yg berbeda, pada novel 2 , yg lain... sehat selalu Thor 💪💪💪💪
Yui: terimakasih banyak kak sudah membaca sampai selesai, maaf klo banyak kesalahan dalam penulisannya, dan mungkin bisa baca juga novel author yang lain😊😊😊
total 1 replies
Endro Budi Raharjo
tanamannya gak jelas.... cm panen sekali bubar ganti lg...
Memyr 67
𝗉𝖺𝗅𝗂𝗇𝗀 𝗆𝖾𝗅𝗈𝗇 𝗓𝖺𝗆𝗋𝗎𝖽𝗇𝗒𝖺 𝖼𝗎𝗆𝖺 𝗌𝖺𝗍𝗎 𝗂𝗍𝗎 𝖺𝗃𝖺. 𝗅𝗂𝗇 𝗒𝖾 𝗄𝖺𝗇 𝗌𝗂𝗌𝗍𝖾𝗆 𝖻𝖾𝗋𝖼𝗈𝖼𝗈𝗄 𝗍𝖺𝗇𝖺𝗆𝗇𝗒𝖺, 𝗌𝖾𝖽𝗂𝗄𝗂𝗍 𝗌𝖾𝖽𝗂𝗄𝗂𝗍, 𝖽𝗂𝖼𝗈𝖻𝖺 𝗌𝖾𝗆𝗎𝖺.
Memyr 67
𝖽𝗂 𝗍𝖾𝗇𝗀𝖺𝗁 𝖽𝖺𝗇𝖺𝗎 𝖺𝖽𝖺 𝗉𝗎𝗅𝖺𝗎? 𝗈𝗐 𝗂𝗍𝗎 𝖽𝖺𝗁 𝗇𝗒𝖺𝗆𝗉𝖾 𝖽𝖺𝗇𝖺𝗎 𝗍𝗈𝖻𝖺 𝖻𝖾𝗋𝖺𝗋𝗍𝗂 🤣🤣🤣
Memyr 67
𝖽𝗂 𝖼𝗁𝗂𝗇𝖺, 𝗌𝖺𝗒𝗎𝗋 𝖻𝖾𝗇𝗂𝗇𝗀 𝖽𝗂𝗇𝖺𝗆𝖺𝗄𝖺𝗇 𝖽𝗎𝗉 𝗃𝗎𝗀𝖺 𝗒𝖺? 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗎 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗂𝗇𝖽𝗈𝗇𝖾𝗌𝗂𝖺, 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝖺𝖽𝖺 𝖽𝖺𝗀𝗂𝗇𝗀𝗇𝗒𝖺 𝗂𝗍𝗎 𝗌𝖺𝗒𝗎𝗋 𝖻𝖾𝗇𝗂𝗇𝗀, 𝖻𝗎𝗄𝖺𝗇 𝗌𝗎𝗉.
Memyr 67
𝗌𝖺𝗐𝗂 𝖼𝖺𝗆𝗉𝗎𝗋 𝗆𝖾𝗅𝗈𝗇? 𝖺𝗉𝖺 𝗋𝖺𝗌𝖺 𝖽𝖺𝗎𝗇 𝗌𝖺𝗐𝗂𝗇𝗒𝖺 𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂 𝗆𝖾𝗅𝗈𝗇?
Memyr 67
𝗌𝖾𝗎𝗉𝗎 𝗐𝖺𝗇 𝗃𝗂𝗇 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝗉𝖺𝖽𝖺 𝗌𝖺𝖽𝖺𝗋 𝖽𝗂𝗋𝗂, 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗀𝗎𝗇𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗍𝗎𝖺𝗇𝗒𝖺 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝗆𝖾𝗇𝖾𝗄𝖺𝗇 𝗐𝖺𝗇𝗃𝗂𝗇 𝖽𝖺𝗇 𝖺𝗒𝖺𝗁𝗇𝗒𝖺, 𝗉𝖺𝖽𝖺𝗁𝖺𝗅 𝗉𝖺𝗋𝖺 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀𝗍𝗎𝖺 𝗆𝖾𝗋𝖾𝗄𝖺 𝖽𝗂𝗍𝖾𝗄𝖺𝗇 𝖻𝖺𝗅𝗂𝗄, 𝗀𝖾𝗅𝖺𝗀𝖺𝗉𝖺𝗇, 𝖻𝖾𝗇𝖺𝗋 𝖻𝖾𝗇𝖺𝗋 𝗌𝖾𝗄𝖾𝗅𝗂𝗆𝗉𝗈𝗄 𝗆𝖺𝗇𝗎𝗌𝗂𝖺 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁. 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝗆𝗂𝗄𝗂𝗋
Memyr 67
𝗍𝖾𝗋𝗇𝗒𝖺𝗍𝖺, 𝗉𝖺𝗋𝖺 𝗉𝖾𝗍𝗂𝗇𝗀𝗀𝗂 𝗁𝗈𝗍𝖾𝗅 𝗀𝗋𝖺𝗇𝖽 𝗒𝗎𝗌𝗁𝖺𝗇 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁 𝗒𝗀 𝖻𝖾𝗋𝗉𝗂𝗄𝗂𝗋𝖺𝗇 𝗌𝖾𝗆𝗉𝗂𝗍. 𝗉𝖺𝗇𝗍𝖺𝗌 𝖺𝗃𝖺 𝖽𝗂𝗋𝖾𝗆𝖾𝗁𝗄𝖺𝗇 𝗈𝗅𝖾𝗁 𝗀𝗋𝗎𝗉 𝗄𝗎𝗅𝗂𝗇𝖾𝗋 𝗅𝖺𝗇𝗀𝗂𝗍
Memyr 67
𝖻𝖺𝗋𝗎 𝗌𝖾𝗇𝖾𝗇𝗀 𝗌𝖾𝗇𝖾𝗇𝗀 𝖽𝖺𝗉𝖺𝗍 𝖽𝗎𝗂𝗍 𝗋𝖺𝗍𝗎𝗌𝖺𝗇 𝗋𝗂𝖻𝗎 𝗒𝗎𝖺𝗇, 𝖽𝖺𝗁 𝗍𝖾𝗀𝖺𝗇𝗀 𝗅𝖺𝗀𝗂.
Memyr 67
𝗉𝖺𝗋𝖺 𝗌𝖾𝗉𝗎𝗉𝗎 𝗐𝖺𝗇𝗃𝗂𝗇 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁. 𝖺𝗉𝖺 𝗒𝗀 𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗆𝖾𝗋𝖾𝗄𝖺 𝖽𝖺𝗉𝖺𝗍 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗀𝗋𝗎𝗉 𝗄𝗎𝗅𝗂𝗇𝖾𝗋 𝗅𝖺𝗇𝗀𝗂𝗍, 𝗍𝗂𝖽𝖺𝗄 𝖺𝖽𝖺 𝖺𝗉𝖺 𝖺𝗉𝖺𝗇𝗒𝖺 𝖽𝗂𝖻𝖺𝗇𝖽𝗂𝗇𝗀𝗄𝖺𝗇 𝖺𝗉𝖺 𝗒𝗀 𝖺𝗄𝖺𝗇 𝖽𝗂𝖽𝖺𝗉𝖺𝗍 𝗀𝗋𝗎𝗉 𝗄𝗎𝗅𝗂𝗇𝖾𝗋 𝗅𝖺𝗇𝗀𝗂𝗍. 𝗄𝖾𝗁𝖺𝗇𝖼𝗎𝗋𝖺𝗇 𝗀𝗋𝖺𝗇𝖽 𝗒𝗎𝗌𝗁𝖺𝗇, 𝗒𝗀 𝖻𝖾𝗋𝖺𝗋𝗍𝗂 𝗄𝖾𝗁𝖺𝗇𝖼𝗎𝗋𝖺𝗇 𝗆𝖾𝗋𝖾𝗄𝖺 𝗌𝖾𝗆𝗎𝖺. 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝗉𝖺𝗋𝖺 𝖺𝗇𝗀𝗀𝗈𝗍𝖺 𝖽𝖾𝗐𝖺𝗇 𝗅𝖾𝖻𝗂𝗁 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁. 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝖽𝗂𝗍𝖾𝗄𝖺𝗇 𝗈𝗅𝖾𝗁 𝗉𝖺𝗋𝖺 𝗌𝖾𝗉𝗎𝗉𝗎 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁 𝗐𝖺𝗇𝗃𝗂𝗇.
Memyr 67
𝗍𝖾𝗀𝖺𝗇𝗀 𝗅𝖺𝗀𝗂
Memyr 67
𝗉𝖾𝗍𝖺𝗇𝗂 𝗎𝖽𝗂𝗄 𝗒𝖺? 𝗅𝗈𝗇𝗀 𝗐𝖾𝗂 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁 𝖽𝖺𝗇 𝖼𝖾𝗋𝗈𝖻𝗈𝗁 𝗀𝗂𝗍𝗎, 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝗃𝖺𝖽𝗂 𝗉𝖾𝗆𝗂𝗆𝗉𝗂𝗇 𝖽𝗎𝗇𝗂𝖺 𝖻𝖺𝗐𝖺𝗁. 𝗅𝗈𝗅
Memyr 67
𝗉𝖾𝗍𝖺𝗇𝗂 𝗎𝖽𝗂𝗄? 𝗍𝗎𝗇𝗀𝗀𝗎 𝗌𝖺𝗃𝖺, 𝗌𝗂𝖺𝗉𝖺 𝗒𝗀 𝗅𝖾𝖻𝗂𝗁 𝗎𝖽𝗂𝗄. 𝗅𝗈𝗇𝗀 𝗐𝖾𝗂 𝗉𝗎𝗇𝗒𝖺 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝖻𝗎𝖺𝗁, 𝖼𝗎𝗆𝖺 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝗆𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇𝖽𝖺𝗅𝗄𝖺𝗇 𝗈𝗍𝗈𝗍, 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝖺𝖽𝖺 𝗈𝗍𝖺𝗄𝗇𝗒𝖺.
Memyr 67
𝖺𝗄𝗎 𝖼𝗎𝗆𝖺 𝖻𝖺𝖼𝖺 𝖺𝗃𝖺, 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝗂𝗄𝗎𝗍 𝗌𝖾𝗌𝖾𝗄 𝗇𝖺𝗉𝖺𝗌
Memyr 67
𝖾𝗉𝗂𝗌𝗈𝖽𝖾 𝗆𝖾𝗇𝖾𝗀𝖺𝗇𝗀𝗄𝖺𝗇
Memyr 67
𝖻𝗎𝖺𝗒𝖺 𝖻𝗎𝗇𝗍𝗎𝗇𝗀 𝗆𝖾𝗇𝖽𝖾𝗄𝖺𝗍𝗂 𝗍𝖺𝗋𝗀𝖾𝗍
Memyr 67
𝗍𝖾𝗀𝖺𝗇𝗀
Memyr 67
𝗆𝖺𝗍𝖺 𝖺𝗂𝗋 𝗄𝗈𝗄 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝖽𝗂 𝖽𝖺𝗅𝖺𝗆 𝖻𝗈𝗍𝗈𝗅?
black swan
...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!