NovelToon NovelToon
Luka, Dendam, Dan Cinta Yang Tak Direncanakan

Luka, Dendam, Dan Cinta Yang Tak Direncanakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Romansa
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Adrianne Hana kehilangan ayahnya akibat kesalahan operasi yang ditutupi keluarganya sendiri. Alih-alih mendapat keadilan, ia dan ibunya justru disalahkan, membuat hubungan Hana dengan keluarga Soediro dipenuhi kebencian—terlebih karena ia memilih jalan hidup berbeda sebagai aktris dan pengusaha.

Dipaksa menghadiri perjodohan dengan Reiga Reishard, Hana berencana menggagalkannya. Namun, pertemuan mereka justru menghadirkan hal tak terduga yang perlahan mengikat dua hati dengan prinsip bertolak belakang—antara luka, penolakan, dan kemungkinan cinta yang tak pernah direncanakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LDCYTD

Reiga mengulurkan paper bag Venchi pada Hana yang tengah membuka seatbelt. Gadis itu langsung terhenyak. Kedua matanya menyipit. Bibirnya cemberut.

"Nggak bertanggung jawab banget! Abis takut-takutin aku sekarang mau langsung pulang," protes Hana yang sepanjang perjalanan dijejali cerita berbagai jenis hantu yang sudah dilihat Reiga.

Reiga terkekeh.

"Yaudah ayo aku temenin," ujar Reiga ikut melepas seatbelt yang dipakainya.

Hana langsung sumringah. Mereka keluar mobil lalu berjalan beriringan seraya saling merangkul. Setelah tadi menyapa satpam rumah Hana yang berterima kasih atas oleh-oleh dari Reiga.

"Kamu beli buat satu rumah ini, Rei?" selidik Hana.

"Nggak semuanya. Kamu nggak aku beliin," jawab Reiga menatap jahil Hana yang langsung menyipitkan mata.

"Kenapa?"

Hana bertanya seakan dia menginginkan oleh-oleh. Padahal jelas yang diinginkannya adalah kepulangan Reiga. Juga bisa menerima dan memberi hug and kisses pada pria ini.

"Karena yang kamu inginkan bukan oleh-oleh, Han. Kamu maunya aku kan?" tebak Reiga.

Kedua pipi Hana memerah.

"Idih! Sok tahu!" ujar Hana berkilah.

Namun cara gadis itu tersenyum mengiyakan tebakan Reiga. Tebakan yang sebenarnya bukan pure tebakan sih karena Reiga mengintip isi hati Hana.

"Lain kali nggak usah. Buang-buang uang tahu nggak," omel Hana.

"Kok buang-buang uang. Itu investasi tahu," tanggap Reiga.

Hana menghentikan langkahnya. Lalu berbalik.

"Investasi? Maksudnya?"

"Aku kan sering pergi ke luar negeri. Nggak setiap saat di samping kamu. Jadi aku mau investasi kebaikan sama orang-orang di sekeliling kamu. Biar selama aku lagi di luar, aku sedikit tenang," jawab Reiga.

Hana terhenyak.

"Ayah kenapa sih suka beliin Sam oleh-oleh? Dia keenakan tuh, Yah," omel Hana kecil.

"Karena kalau Ayah lagi sibuk dan pelatihan di luar kota atau luar negeri, Kan Sam yang selalu temenin Hana. Tentu Ayah harus support dong. Jadi Ayah bisa sedikit tenang meninggalkan kesayangan Ayah," jawab Denis.

CUP!

Reiga mencium bibir Hana. Singkat dan cepat.

"Heh! Mulai sembarangan kan!" omel Hana kaget.

Karena ia tengah bengong tadi. Reiga tersenyum. Tangan kanannya sudah melingkari pinggang Hana.

"Aku bukan Ayah kamu, Han," ucap Reiga melihat siluet kenangan Hana tadi.

Hana terhenyak mendengarnya.

"Aku juga nggak berpik..."

"Dengerin aku sampai selesai dulu," potong Reiga.

Hana mengangguk, menurut.

"Aku bukan Om Denis. Aku belum cukup mengenal kamu sebagaimana Om Denis mengenal kamu. Kalau dibandingin, aku jelas kalah telak. Ayah kamu itu tak tergantikan. Kalau sikap dan ucapan aku membuat kamu ingat sama Ayah kamu. Itu jelas kebetulan atau karakter kami sedikit banyaknya sama. Tapi jelas kami berbeda. Dua orang yang berbeda. Ya, okay mungkin ada satu persamaan yang cukup kental," ujar Reiga.

"Apa?"

"Kita berdua senang lihat kamu bahagia," jawab Reiga berbarengan dengan Denis yang juga ikut tersenyum dengannya.

Hana terenyuh.

"Dan lagi ..."

Reiga mendekatkan wajahnya. Mencium bibir Hana semaunya. Hana pun kadung membalasnya.

Dengan dua tangan yang menangkup wajah Reiga.

"Bibirnya candu banget sih, Neng. Sampai lupa mau ngomong apa," tukas Reiga membuat Hana tertawa.

Mereka berpelukan erat. Hana melingkarkan kedua tangannya di leher Reiga.

"Sebal banget setiap kali ingat kamu mau ke New York tiga hari lagi," gerutu Hana.

"Mau ikut? Kamu punya green card kan, Han?"

timpal Reiga menyebutkan keistimewaan Hana yang punya kartu akses bisa masuk kawasan Amerika layaknya warga negara asli. Hana memang punya kartu tersebut. Bukan hanya Hana sih, Sara juga punya. Bagi Denis, Amerika adalah rumah keduanya. Jadi mereka memang pasti ke sana setiap tahunnya.

"Kok tahu aku punya green card?" tanya Hana dengan alis bergelombang.

"Apa sih yang aku nggak tahu?" tukas Reiga.

Mereka saling menatap. Penuh sayang dan cinta.

"Tahu nggak apa yang aku mau sekarang?" tanya Hana dengan mata berbinar.

Bibir Reiga mengulum senyum.

"Tau. Ini kan ...," ucap Reiga lalu mencium bibir Hana sepenuh jiwanya.

Hana terus menyunggingkan senyum dalam ciuman mereka.

"Kamu red flag banget sih," ujar Hana. "Baru sehari pacaran udah ajakin aku ciuman berapa kali," tambah Hana dengan mengulum senyum.

Reiga tersenyum.

"Kamu duluan loh yang cium aku. Lupa?" ujar Reiga.

Hana terkekeh malu.

"How can i forget something so memorable and sweet like your lip, Reishard?" ucap Hana membuat Reiga terpana.

Wanita satu ini. Selalu berhasil membuatnya kehilangan kata. Habis langkah dan akhirnya tunduk setia. Magis Hana menyita jiwanya. Konyolnya tiada rasa takut dan ragu yang menyertainya. Malah kadang Reiga lupa diri dan secara serius menanggung tullah atas ucapan sombongnya perihal hilang logika yang dipercayanya tidak akan pernah dialaminya. Tepat saat akal sehatnya lenyap hingga menggendong Hana dan menaikkannya ke atas penyekat teras rumah bagian samping dan depan berbentuk jendela. Reiga melepaskan hasrat ingin mencium Hana. Lupa kalau Denis tadi ada di sana bersamanya. Lebih sintingnya lagi, Hana tidak menolaknya. Gadis itu malah membalas sama penuh hasratnya dengan Reiga. Bagai dua manusia kehausan yang baru bertemu oase di tengah gurun.

"Semua lipstick aku pindah ke bibir kamu," ucap Hana seraya menyapu lembut bibir Reiga.

Si pemilik bibir hanya tersenyum.

"Why it feels so damn good?" gumam Reiga yang rasanya belum mau berhenti.

"Because your lips meets his majesty," sahut Hana asal dengan senyum jahil.

Tawa Reiga berderai.

Hana turun lalu kembali menarik lengan kiri Reiga untuk kembali jalan.

Lampu rumah Hana sudah dimatikan semua.

Hanya sisa lampu kolam renang. Hana jadi mengkeret sendiri. Suasana horor terasa kental. Ia langsung menatap Reiga dengan ekspresi mengancam.

"Pokoknya dilarang pulang sampai Ibu turun," ujar Hana.

Reiga tertawa.

"Iya, Sayangku," ucapnya sambil mengelus kepala Hana.

Diceritain aja takut. Gimana kalau dikasih tahu bahwa ada Tante K yang ikut dari jalanan depan komplek Hana sampai rumah ini? Hana mungkin bakal ngamuk kali? Untungnya dalam diam tadi, seraya mencuri kesempatan agar Hana tidak mempertanyakanya, Reiga akhirnya berhasil mengusir si Tante K pergi.

Hana masih menelepon Ibu-nya. Ia tidak bawa kunci dan tidak mau kembali ke pos satpam karena takut dan malas. Ditambah ia tidak mau Reiga pulang. Aneh memang! Tapi Hana merasa sangat amat aman jikalau bersama Reiga.

Iya! Dia memang udah bucin dan mulai bucin sama salah satu penyangga perekonomian negara ini.

"Aku duduk ya," ucap Reiga lalu memilih duduk di kursi.

"Pusing?"

Reiga yang sudah duduk langsung mengangguk. Hana langsung berwajah cemas. Ia mendekat pada Reiga. Lalu menaruh tangan kanannya di dahi Reiga. Takut pusing itu menjalar menjadi demam. Syukurlah tidak!

Tadi saja di restoran, Hana sampai memesankan teh hangat untuk Reiga. Pria ini baru tidur 3 jam selepas pulang dan langsung pergi ke sana kemari. Bawa mobil sendiri pula. Wajar kalau badan Reiga menuntut istirahat.

Hana saja cukup heran dan takjub dengan kemampuan tubuh Reiga yang kuat ini. Dulu saja sepulang dari event New York Fashion Week, Hana sampai libur dua hari full untuk me-recovery tubuh lelahnya.

"Kamu tuh harusnya seharian di rumah dulu, Rei," cemas Hana.

Lelaki itu tersenyum.

"Apa ini orang yang sama yang ngambek karena aku mampir ke London dan nggak langsung pulang dari Davos?" ledek Reiga.

Hana langsung tersindir.

"Dih!"

Reiga menarik jemari tangan kiri Hana agar mendekat padanya. Tanpa berhenti tersenyum. Menggiring gadis itu agar duduk di atas pangkuannya.

Apa Hana menolak?

Oh, tentu tidak!

Hana lupa dengan kiasan jual mahal setelah bertemu Reiga. Bahkan, kalau ia runut, Hana adalah orang pertama yang mencium Reiga.

"Biasanya sih aku bakal tidur seharian. Tapi apa daya aku kalah akan rindu," curhat Reiga.

"Rindu, tapi yang mau ditemuin duluan malah Zidane," sahut Hana.

Reiga terkekeh.

"Jealouse sama mereka?"

Hana menggeleng sambil nyengir.

"Enggak! Aku senang kamu punya sahabat kayak mereka," ucap Hana terus-terang. "Asal nggak ikut kelakuan playboy cap kapaknya si Brandon aja," lanjut Hana seraya tertawa.

Reiga pun tertawa.

Hana menangkup wajah Reiga. "Pulang aja gih. Istirahat. Sebentar lagi juga Ibu turun. Dan ada Pak Kamad dan Pak Somad di depan. Aku kasian sama Mas Ayang aku," ucap Hana cemas.

"Mas Ayang?"

Hana tersenyum jahil.

"Itu tuh panggilan Ibu sama Juni buat kamu setiap mereka ngeledekin aku. Astaga," jawab Hana sambil menyenderkan tubuh bagian kirinya pada Reiga.

Ah, nyaman sekali posisi ini!

"I like that," ujar Reiga.

Hana menatap Reiga. "Me too," balasnya.

Lalu, bibir Hana mengecup bibir Reiga dengan lembut dan perlahan.

"Tuh! Cium aku duluan kan," ucap Reiga.

Hana tertawa kecil. Cengengesan.

"Nggak suka? Keberatan?" Hana belagak sinis.

"Seumur hidup juga mau dicium kayak tadi.

Your hug and kisses will make me better, pretty," jawab Reiga sambil senyum.

Hana mencibir.

"Aku serius. Ditanggapinya bercanda," omel Hana.

"Aku juga serius tapi selalu dianggap bercanda," sahut Reiga.

Mereka bertatapan. Reiga yang tidak bisa menahan dirinya untuk tidak melingkarkan lengan kananya di pinggang Hana. Menarik gadis itu semakin dekat, hanya agar kepalanya bisa bersandar di lengan kiri gadis itu. Bermanja pada manusia lain. Pada Hana. Hal yang selama ini tidak pernah dilakukan Reiga. Hana malah memeluk pria itu erat seraya mengelus punggung lebar nan kokoh milik CEO Reishard Corporation ini.

"Kamu akan selalu sesibuk ini ya, Rei?" gumam Hana.

"Hmm," jawab Reiga berdehem.

Ia tengah menikmati pelukan Hana. Hangat yang menjalar pada tubuhnyan. Perasaan nyaman yang baru kali ini ditemuinya.

"Kasian, Mas Ayang aku," ucap Hana dalam suara sok diimutin hingga membuat Reiga terkekeh.

Hana pun ikut tertawa. Ia mengecup kepala Reiga. Lalu merenggangkan pelukan mereka. Ada yang Hana ingin bicarakan dan pastikan.

"Kayaknya ini waktu yang tepat bagi kita untuk membahas semuanya!" cetus Hana.

"Bahas apa?"

"Syarat dan ketentuan yang berlaku!"

Reiga tertawa.

"Okay. Silahkan, Ibu Adrianne Hana duluan," ujar Reiga.

Hana menatap Reiga tersenyum.

"Aku mau dapat salinan semua jadwal kamu, juga nomor telepon Dimas," ujar Hana.

Persis seperti yang dilihat Reiga dalam pikiran gadis ini. Hana menyebut syarat dan ketentuan berlaku sesungguhnya untuk me-maintenance kesehatannya. Sepeduli ini Hana padanya.

"Agak posesif ya, Ibu Hana ini," ucap Reiga.

Hana mengelus pipi kiri Reiga.

"Dih, suudzon! Aku tuh cuma mau siapin kamu minuman yang bisa buat badan kamu nggak selelah ini kalau habis flight. Siapin makanan juga. Dulu Ibu juga gitu kalau Ayah lagi ada pelatihan di luar," ujar Hana.

"Minuman? Bukan pembangkit nafsu kan?"

ledek Reiga dengan ekspresi jahil.

Tawa Hana pecah.

"Enggaklah! Gila kali! Biar kamu nafsu sama Dimas gitu?"

Mereka tertawa bersama. Jokes yang satu frekuensi ini, Ah! Takdir Tuhan memang selalu indah.

"Aku kira kamu bakal ngelarang aku berpergian, ngambek kayak pacar-pacarnya Brandon kalau ditinggal kelamaan," ujar Reiga.

Hana diam.

Mungkin sekarang Reiga sudah tahu bahwa sesungguhnya ia pun sangat ingin bersifat kekanakan begitu. Namun Hana memilih untuk tidak melakukannya.

Hana memilih memandangi Reiga. Penuh sayang. Seraya mengelus pipi kiri pria itu dalam khidmat-nya sendiri.

"Ada banyak keluarga yang menggantungkan hidupnya sama Reishard Corporation. Sungguh kekanakkan dan egois kalau aku melarang kamu," sahut Hana.

"Kebaikan apa yang aku buat sampai bisa punya pacar sepengertian ini ya?" gumam Reiga tulus.

Hana tersenyum lalu meraih Reiga dalam pelukannya.

"Banyak, Sayangku. Banyak," ucap Hana. "Yang penting kamu jaga kesehatan. Pokoknya nanti aku pantau lewat Dimas," tambah Hana lagi serius lalu tersenyum kemudian.

Mereka kembali saling memandang. Terhanyut dalam syahdu. Sayang yang Hana rasakan terlalu besar dan nyata. Sampai ia terkesiap sendiri.

"Aku sayang kamu," ucap mereka berbarengan.

Reiga dan Hana terhenyak. Lalu, tersenyum, kemudian tertawa kecil bersama.

"Semudah ini ya?"

"Apanya?" tanya Reiga.

"Pacaran," jawab Hana.

"Dulu aku pontang-panting ngejar Arnold sampai kayaknya mau mati, hasilnya nol! Ini kok kayaknya gampang banget," tambah Hana.

Reiga tersenyum.

"Cieee... lagi ingat masa-masa kelam," ledek Reiga.

Hana menyipitkan mata. Pura-pura kesal. Lalu tak bisa menghentikan inginnya untuk sekali lagi bertanya.

"Ini kamu beneran sayang dan serius sama aku atau cuma mengadopsi gaya Brandon dan Syein, Rei?"

Hana takut semua ini tidak nyata. Dengan Arnold yang indahnya hanya sampai halunya saja, patahnya sungguh menyakitkan. Bagaimana dengan Reiga? Mungkin Hana akan mengalami mega kehancuran.

"Sini," gumam Reiga sambil menarik kepala Hana mendekat.

"Apa!?" bingung Hana namun tetap membiarkan Reiga menempelkan kening mereka.

Lantas dengan ajaibnya, Hana merasakan ribuan buih pecah bersamaan. Buih yang menggelikan. Namun memabukkan. Begitu candu. Hana terhenyak dalam keterpakuan.

"Ini apa?" gumamnya meski kedua matanya terpejam menikmatinya.

"Hati aku semenjak kenal kamu," jawab Reiga sambil mengeratkan dekapannya pada pinggang Hana.

Bohong jika Hana tidak terharu mendengarnya. Semenyenangkan dan seindah ini Reiga Reishard memandangnya. Memikirkan tentangnya. Kedua mata Hana terasa berkaca dengan pelupuk mata yang memanas. Ia memeluk Reiga erat. Lelaki itu membalas pelukan Hana.

"Aku nggak pernah setengah-setengah saat memutuskan apapun, Han. Termasuk mempercayakan hati aku sama kamu. But please don't make my past becomes your pressure. Tetaplah jadi Hana yang sama yang ajak aku, tag team lawan delapan orang setengah mabok di basement hotel ..."

Tawa kecil Hana berderai mendengar ucapan Reiga.

"... Hati ini, jiwa ini, raga ini, pikiran ini, dan masa depan ini, aku serahkan sama kamu, sepenuhnya. Bukti bahwa aku serius, nggak main-main sama kamu, Han. Kamu diizinkan sepenuhnya mendapat akses keluar masuk ke dalam hidup aku. You can do everything with that, with me, all of me," ucap Reiga.

Pelukan mereka makin erat.

"Buat kamu, aku bisa melakukan banyak hal, Adrianne Hana. Aku siap mengabulkan semua impian dan mau kamu. Jadi, budak cinta demi kamu. I will fall my self into your toes when you said yes," tambah Reiga.

Mereka kemudian saling menatap.

"Ada satu yang nggak akan bisa aku kabulkan untuk kamu, Hana," ucap Reiga.

"Apa?"

"Ketika kamu bilang mau pergi dan tinggalin aku. Maka aku akan lakukan segala cara untuk membuat kamu tetap tinggal, Adrianne Hana. Kamu nggak bisa semudah itu pergi," jawab Reiga.

Bibir Hana tersenyum.

Dua tangannya yang ditaruh di bahu kanan dan kiri Reiga. Dua mata yang menatap Reiga dengan berbinar.

"Kamu yang nggak akan pernah bisa pergi semudah itu, Reishard. Jadi kalau kamu mau berubah pikiran, inilah saatnya, Rei," ucap Hana.

Reiga terpana mendengar ucapan Hana. Seseorang melarangnya pergi. Hatinya terenyuh begitu saja. Reiga spontan mengikuti mau hatinya, mendekatkan wajahnya pada wajah Hana.

"Betapa menyenangkannya jatuh hati sama kamu, Adrianne Hana," ucap Reiga sebelum akhirnya memagut bibir Hana dalam khidmatnya sendiri.

Bibir Hana tersenyum dalam ciuman mereka yang saling berbalas. Kadang tergelak kecil dalam jeda pagutan mereka.

"Idih! Buru-buru teleponin Ibu supaya cepat turun, eh... kirain urgent, nggak tahunya buat nontonin ciuman kamu, Han," tegur Sara dari balik pintu yang terbuka.

Hana mengangkat kepalanya. Kaget akan kedatangan Sara. Seluruh lampu di dalam rumahnya pun telah menyala. Terang. Tidak gelap seperti tadi.

Hana buru-buru berdiri. Canggung dan kikuk. Dengan wajah merah padam. Sudah berapa lama Ibu-nya berdiri di sana? Bisa-bisanya mereka ciuman dan ditontoni Ibu-nya! Hana panik sendiri dalam hatinya. Sementara Reiga lebih tenang. Ia berjalan mendekati Sara.

"Oleh-oleh buat Tante," ucap Reiga menyerahkan paperbag Venchi pada Sara yang cukup takjub mengarah senang.

"Kok tahu sih Tante lagi pengen makan ini," senang Sara.

"Tadi Hana beli gelato, sekalian aja Reiga beli buat Tante," ujar Reiga.

"Abis dinner lanjut nge-date?" ledek Sara.

Reiga terkekeh. Sosok Sara yang ramah adalah sosok Ibu yang selalu diinginkannya.

"Mana ada nge-date sampai delapan orang," runtuk Hana menatap Reiga, belagak sebal.

Reiga merangkul pinggang Hana. Tersenyum.

"Kode tuh, Rei. Jangan ditinggal lama-lama lagi," ujar Sara merasa senang melihat Hana tampak bahagia.

Hana mencibir.

"Jangan ditinggal... tiga hari kemudian juga mau pergi lagi," dumel Hana cemberut kearah Reiga.

Anak semata wayang Denis itu sudah tidak malu lagi bergelayut mesra di pinggang Reiga. Sosok manja Hana yang baru dilihat kembali Sara.

Semenjak Denis meninggal, urat saraf manja Hana seakan putus. Anak itu menguat sendirinya.

Untuknya. Untuk diri sendiri. Untuk mereka berdua. Tapi, malam ini, Sara melihat Hana yang manja kembali. Ia balas menatap Reiga yang menanggapi kemanjaan Hana, ikhlas, tanpa beban.

Malah terus tersenyum gemas kearah Hana.

"Mau kemana lagi, Rei?" tanya Sara.

"New York, Tan. Seminggu lebih kayaknya," jawab Reiga.

Sara ngambek. "Hmm, pantes ngambek ya. Di hug dan kisses dulu sebelum pergi, Rei. Biar nggak resek kalau ditinggal," ujar Sara seraya melirik Hana.

Reiga tertawa kecil. Hana cemberut.

"Ibuuuu," ujar Hana dengan wajah tersipu.

"Dulu nih, setiap Om Denis pergi keluar negeri.

Duh, Hana pasti kerjaannya gelayutan nggak mau lepas dari almarhum Om. Se-manja itu. Mukanya pasti ditekuk aja. Tante mana kebagian buat sayang-sayangan sama Om. Bagus deh, sekarang ada pelampiasan baru," ledek Sara.

Makin merahlah wajah Hana.

"Ibuuuuu, udah ya Bu. Stop! M-A-L-U!" ujar Hana.

Sara terkekeh.

"Dengan senang hati akan saya manjakan anaknya, Tan," sahut Reiga.

"Idih! Kamu apaan sih, Rei! Malah ikut-ikutan Ibu!" sebal Hana.

"Kenapa sih, Sayang? Sebagai Mas Ayang kamu, aku siap memanjakan kamu," ledek Reiga.

Hana melongo. Takjub. Sementara Sara tertawa renyah.

"Cocok banget ya berdua. Calon menantu dan mertua. Hobi ngeledekin orang!" sewot Hana.

Kedua alis Sara melengkung mendengar ucapan Hana.

"Udah resmi, Rei?" tanya Sara pada Reiga ketimbang anaknya sendiri.

"Alhamdulillah, berkat doa Tante," jawab Reiga.

Mereka berdua tertawa sendiri. Hana makin jengkel dibuatnya.

*

Reiga membuka pintu kamarnya. Lampu kamarnya sudah menyala. Pertanda ada orang di dalam kamar. Rumah ini memang menganut smart home yang apa-apa serba sensor.

"Eh, ada Pak Rahardian. Belum tidur, Pak?" ledek Reiga melihat Papa-nya duduk di sofa sambil main iPad.

"Kirain nggak inget pulang," ledek balik Rahardian seraya menepuk bagian kosong sofa di sebelah kanannya. Tanda kalau ia mau bicara.

Reiga menurutinya. Ia duduk di sana. Tepat di samping kanan papanya yang sudah memakai piyama.

"Habis kemana aja? Kok baru pulang?"

"Ngumpul sama anak-anak."

"Hana ikut?"

"Ikut. She is doing good with all of them.

Terharu juga sih," jawab Reiga takjub juga.

Rahardian tersenyum bahagia. Reiga sampai geli dan ikut senyum sendiri melihatnya.

"Ada apa sih, Pak Rahardian terlihat begitu bahagia malam ini?" goda Reiga.

"Sontoloyo! Bercanda aja sama orangtua!" tukas Rahardian.

Reiga tersenyum lalu menepuk tangan kanan Papa-nya. Menggenggamnya erat.

"Suka nggak?" tanya Reiga.

Rahardian tersenyum melalui matanya. Anak ini. Selalu manis dan pengertian. Selalu meringankan beban kehilangan yang mereka tanggung bersama.

"Kamu gimana? Suka nggak? Kalau Papa sih suka banget!" aku Rahardian.

Reiga tertawa.

"Saking sukanya, Papa kepikiran kalau kamu lepasin Hana, wah, kamu bisa Papa coret dari daftar pewaris Papa," canda Rahardian dengan mimik lucu.

Lantas mereka berdua tertawa bersama. Lepas.

Setelah belasan tahun, setelah tragedi itu, baru ini mereka kembali tertawa.

"Reiga juga suka banget sih. Jadi kayaknya nggak mungkin dilepasin. Akan Reiga pastikan Hana akan memakai nama belakang Reishard seumur hidupnya," tekad Reiga.

"Papa suka semangat kamu! Gitu dong dari dulu!" ujar Rahardian.

Reiga hanya tersenyum lebar.

"Terus gimana nih perjodohannya?" tanya Rahardian.

"Ya menurut Papa gimana? Itukan idenya Papa.

Jadi itu kewenangan Papa mau digimanakan," jawab Reiga santai.

"Bilang aja males repot," cetus Rahardian yang ditanggapi Reiga dengan tawa.

"Besok packing dan pindah ke apartemen kamu gih," suruh Rahardian.

Kening Reiga mengerut. Heran. Padahal empat tahun yang lalu, Reiga pindah lagi ke rumah ini setelah damai tinggal di Capital juga karena keinginan Papa-nya. Karena itu Reiga memasang wajah bertanya.

"Ini Reiga diusir?"

"Kalau tinggal di sini kan, nanti Hana nggak leluasa keluar masuk. Ada Papa soalnya. Kalau di apartemen kamu, kemungkinan Hana nyaman lebih besar," jawab Rahardian.

Reiga tersenyum jahil.

"Maksudnya Hana nyaman keluar masuk gimana ya Pak Raha? Anak gadis orang loh ini. Om Denis, Papa nakal nih, Om," canda Reiga seakan Denis ada di sana.

Rahardian tertawa.

"Udah gede. Udah sama-sama tahu," tukas Rahardian melanjutkan candaannya.

Meski ia yakin 100%, putranya akan menjaga kehormatan Hana sampai kelak bergelar suami. Rahardian hanya sedang meluapkan kesenangan hatinya dengan terus meledek Reiga.

"Tahu apa sih??"

Reiga menyambut ledekan Papa-nya. Karena sesungguhnya ia pun senang melihat pendar rasa bersalah dalam hati Rahardian makin memudar. Berkat Hana.

Ah, kehadiran gadis itu bagai pembawa berkah. Hujan dalam kemarau panjang keluarga ini. Bolehkan sebentar saja, Reiga tidak mempedulikan akhir dari kisahnya dengan Hana yang memiliki dua ending itu?

Iya.

Dua pilihan akhir cerita. Untuk pertama kalinya Reiga diperlihatkan dua pilihan akhir oleh Tuhan dan keduanya terus berubah sesuai dengan pilihan Hana saat ini.

Ya. Masa depan hubungan ini ada pada Hana.

Apa gadis itu benar-benar bisa membuat Reiga kembali percaya pada cinta? Atau hanya memberikan kenangan mega indah dalam palung samudera kenangan menyedihkan dalam hidup Reiga.

"Pokoknya siap-siap! Besok sudah harus keluar dari rumah ya, Rei!" ujar Rahardian tidak mau dibantah.

Ia sudah berdiri lalu keluar kamar putranya.

Reiga memandangi kepergian Papa-nya sambil tersenyum.

"Papa ... Papa Kalau udah kasih titah, jendral perang juga kalah garang," gumam Reiga.

Iseng, ia mengambil handphone lalu mengetik pesan untuk Hana yang kini dinamainya love of my life di handphone miliknya.

Mas Ayang

Sayang, gimana nih?

Aku diusir Papa.

TUNG!

Balasan Hana begitu cepat. Bibir Reiga refleks tersenyum.

Love of my life

Kok bisa!?

Kenapa emangnya?

Yaudah kamu nginep di rumah aku aja.

Reiga terkekeh. Mengganggu Hana memang menyenangkan.

1
𝐀⃝🥀Weny
wiiih... kira² mau ngomongin apa ya🤔apa mau kasih surprise ke Hana ya🤔
𝐀⃝🥀Weny
tumben up dikit thor😁
𝐀⃝🥀Weny
yang perlu dibuang ke tong sampah itu kamu chil😤
𝐀⃝🥀Weny
ohhh.. so sweet banget sih kamu Rei😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!