NovelToon NovelToon
SATU ATAP DI BARAK MILITER

SATU ATAP DI BARAK MILITER

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Perjodohan / Balas Dendam
Popularitas:16k
Nilai: 5
Nama Author: Dunia Seleb

Ghazali Atharrazka adalah perwujudan dari presisi dan kedinginan yang sempurna. Sebagai Kapten termuda dengan rekam jejak tanpa celah, hidupnya diatur oleh jam dinding dan hukum militer yang kaku. Baginya, kesalahan adalah aib dan kecerobohan adalah gangguan yang harus dimusnahkan. Dia adalah pria dengan tatapan sedingin es yang mampu membungkam satu batalion hanya dengan satu kata.

Lalu hadir seorang bernama Keyra Azzahra

Seorang mahasiswi tingkat akhir yang hidupnya adalah definisi dari kata chaos, Sebuah insiden memaksa mereka tinggal di bawah atap yang sama di lingkungan barak. Di antara derap sepatu laras dan aroma mesiu, mampukah si mahasiswi perusuh mencairkan hati sang Kapten yang membeku? Ataukah markas ini akan meledak karena ulah Keyra yang selalu di luar kendali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia Seleb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RUNTUHNYA BENTENG PERTAHANAN

Malam itu, sisa-sisa badai masih meninggalkan jejak berupa gerimis tipis yang membasuh atap seng paviliun dengan irama yang membosankan. Keyra baru saja menyelesaikan rutinitas pembersihan dirinya. Ia mengenakan kaos oversized berwarna merah muda lembut warna favoritnya dan celana kain panjang yang nyaman. Rambutnya dikuncir asal, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajahnya yang tampak lelah setelah seharian bekerja dengan tumpukan logistik di gudang.

Biasanya, jam sepuluh malam adalah waktu di mana paviliun ini terasa paling "hidup" dengan cara yang kaku. Ia akan mendengar suara ketukan jemari Ghazali di atas keyboard laptop dari ruang kerja, atau suara derap langkah bot militernya yang mondar-mandir. Namun, malam ini sunyi. Sunyi yang tidak biasa. Sunyi yang membuat bulu kuduk Keyra sedikit meremang.

Keyra melangkah keluar dari kamar tamu dengan perlahan, tangannya memegang botol air minum. Ia melewati ruang tengah yang hanya diterangi oleh lampu sudut berwarna kekuningan. Matanya menangkap sosok yang sangat ia kenal sedang duduk di sofa panjang. Ghazali masih mengenakan kaus hijau militernya, namun posisinya tampak sangat tidak nyaman. Kepalanya terkulai ke belakang, bersandar pada tepian sofa, dengan mata terpejam rapat.

"Kapten? Belum tidur? Katanya jam sepuluh lampu harus padam total," tegur Keyra dengan nada setengah bercanda, mencoba memecah keheningan.

Tidak ada jawaban. Tidak ada geraman dingin atau perintah untuk segera masuk kamar. Keyra mengerutkan kening. Ia melangkah lebih dekat, dan saat itulah ia menyadari sesuatu yang salah. Napas Ghazali terdengar pendek-pendek dan berat, seolah ia baru saja berlari maraton sepuluh kilometer. Wajahnya yang biasanya tegas kini tampak sangat pucat, namun pipinya merona merah yang tidak sehat.

"Ghazali?" Keyra memberanikan diri menyentuh bahu pria itu.

Begitu telapak tangannya bersentuhan dengan kain kaos hijau itu, Keyra tersentak. Panasnya terasa menembus kain. Tanpa pikir panjang, ia menempelkan punggung tangannya ke dahi Ghazali. Panasnya luar biasa, seperti menyentuh mesin kendaraan yang baru saja dipacu maksimal.

"Astaga, kamu demam tinggi!" seru Keyra, insting medisnya langsung mengambil alih. "Ghazali, bangun. Jangan tidur di sini, udaranya dingin."

Ghazali mengerang pelan. Matanya terbuka sedikit, menampakkan netra yang sayu, merah, dan kehilangan ketajamannya yang biasa. Ia mencoba menggerakkan tubuhnya, namun tampak sangat lemah. "Hanya... lelah sedikit. Masuklah ke kamarmu, Keyra."

"Sedikit matamu! Ini pasti karena kamu kemarin hujan-hujanan memeriksa jalur logistik dan tadi pagi nekat latihan fisik tanpa baju di cuaca sedingin ini," omel Keyra sembari meletakkan botol minumnya di meja. "Ayo, bangun. Badan sebesar ini kalau sampai pingsan di sofa, aku tidak akan kuat menyeretmu ke rumah sakit!"

Dengan sisa tenaganya yang tersisa, Ghazali berusaha bangkit. Ia menyandarkan sebagian besar berat tubuhnya pada bahu mungil Keyra. Untuk pertama kalinya, Keyra merasakan betapa kokohnya tubuh pria ini, namun di saat yang sama, ia merasakan betapa rapuhnya Ghazali saat ini. Aroma maskulin yang bercampur dengan hawa panas tubuh yang sedang sakit itu menyerbu indra penciuman Keyra, membuatnya sedikit gugup, namun ia menepis perasaan itu. Fokus utamanya adalah menyelamatkan sang Kapten.

Ia menuntun Ghazali masuk ke dalam kamar pribadinya sebuah ruangan yang selama ini menjadi zona terlarang bagi Keyra. Kamar itu sangat maskulin, dengan seprai abu-abu gelap dan aroma kayu cendana yang menenangkan. Keyra membantu Ghazali berbaring di tempat tidur. Pria itu tampak sangat tidak berdaya, sebuah pemandangan yang kontras dengan sosoknya yang biasanya berdiri tegak memimpin pasukan.

Keyra segera bergerak cepat. Ia berlari ke dapur, mengambil baskom berisi air hangat dan handuk kecil. Ia juga mengambil kotak obat darurat yang selalu ia bawa di dalam tas magangnya. Selama satu jam berikutnya, Keyra berubah menjadi perawat pribadi yang paling sibuk di pangkalan itu.

Ia dengan telaten mengompres dahi Ghazali, menggantinya setiap sepuluh menit ketika handuk itu mulai menghangat karena suhu tubuh Ghazali yang membara. Ia juga mencoba menyuapkan air putih agar pria itu tidak mengalami dehidrasi. Di tengah tidurnya yang gelisah, Ghazali mulai mengigau. Suaranya lirih, namun penuh dengan beban emosional yang selama ini ia sembunyikan di balik seragamnya.

"Maaf... Maya... Kakak seharusnya ada di sana..." bisik Ghazali dengan suara serak. Tangannya yang besar mencengkeram seprai dengan sangat erat, hingga urat-urat di lengannya menegang. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.

Keyra terdiam. Ia baru saja mengganti handuk kompres dan tangannya terhenti di udara. Ia tahu Maya adalah adik perempuan Ghazali yang meninggal lima tahun lalu rahasia yang baru saja ia ketahui di gudang tadi sore. Melihat Ghazali yang seperti ini, Keyra merasakan rasa iba yang mendalam. Ternyata, pria yang selalu terlihat seperti tembok batu ini menyimpan badai yang jauh lebih besar di dalam kepalanya sendiri.

Dengan gerakan yang sangat lembut, Keyra memberanikan diri menggenggam tangan Ghazali yang sedang mencengkeram seprai. Ia mencoba memberikan kehangatan dan ketenangan. "Sshhh... tenang, Ghazali. Kamu sudah melakukan yang terbaik. Kamu bukan gagal. Maya pasti sudah memaafkanmu."

Ajaibnya, cengkeraman tangan Ghazali perlahan mengendur. Napasnya yang tadi memburu mulai kembali stabil dan teratur. Dalam tidurnya yang setengah sadar, Ghazali justru menarik tangan Keyra dan menempelkannya di pipinya yang panas, seolah-olah ia menemukan jangkar di tengah badai yang sedang ia hadapi di dalam mimpinya.

Keyra terpaku. Wajah kaku yang biasanya selalu memasang ekspresi "Kulkas Dua Pintu" itu kini tampak begitu polos dan rapuh. Tanpa sadar, Keyra tersenyum tipis. Ia tetap duduk di kursi di sisi tempat tidur, mengabaikan rasa kantuknya sendiri. Ia menjaga pria yang paling sering membuatnya kesal itu sepanjang malam, memastikan suhu tubuhnya tidak naik kembali ke titik berbahaya.

Menjelang subuh, panas tubuh Ghazali mulai turun ke angka normal. Keyra yang sudah kelelahan akhirnya tidak kuat lagi menahan kantuk. Kepalanya perlahan terkulai di samping lengan Ghazali, dan ia tertidur dalam posisi duduk dengan tangan yang masih bersentuhan dengan kulit pria itu.

Saat cahaya matahari pertama menembus celah gorden kamar, Ghazali perlahan membuka matanya. Rasa pening yang luar biasa semalam sudah jauh berkurang, meninggalkan rasa ringan di kepalanya. Hal pertama yang ia rasakan adalah sesuatu yang hangat dan lembut menempel di lengannya. Ia menoleh ke samping dan mendapati Keyra tertidur pulas dengan sisa handuk kompres yang masih dipegangnya erat-erat.

Ghazali menatap wajah lelap Keyra dalam keheningan pagi. Rambut gadis itu sedikit berantakan menutupi sebagian wajahnya, dan ada sedikit sisa kelelahan di sana. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, benteng pertahanan di hati Ghazali benar-benar terasa runtuh. Ia tidak pernah membiarkan siapa pun melihatnya dalam keadaan selemah ini, apalagi merawatnya sampai pagi.

Ia mengangkat tangannya yang bebas, ragu sejenak di udara, sebelum akhirnya mengusap kepala Keyra dengan gerakan yang sangat pelan begitu pelan sehingga tidak akan membangunkannya. Ada kelembutan yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun di pangkalan ini.

"Terima kasih... pengganggu kecil," gumam Ghazali dengan suara serak yang sangat rendah, hampir seperti bisikan angin.

Tepat saat itu, terdengar suara ketukan pintu depan paviliun yang cukup keras, diikuti oleh suara Ziva yang memanggil nama Keyra dengan panik. Ghazali segera menarik tangannya kembali, ekspresi wajahnya kembali menjadi kaku dalam hitungan detik, meskipun di dalam hatinya, sesuatu telah berubah selamanya.

***

1
Murni Asih
Ghazali... aku sebel sama kamu..!
Rika Pulungan
up
Murni Asih
tenang keyra.... saya temenin...saya jg sakit ati kamu di gituin sm kapten Ghazali ,
Murni Asih
biar cuma buat melindungi keyra atau kenyataan tp aku sebel bgt sm kapten Ghazali yg kaya gini...
Murni Asih
keyra tau klo sarah benci sm keyra
Murni Asih
keyra udh pasrah...
Murni Asih
lanjut ka
Murni Asih
pengorbanan kapten Ghazali dan Dokter Keyra
Murni Asih
minta maaf kapten Ghazali
Murni Asih
semoga otor melindungi kalian ber empat. 😭😭😭❤️❤️❤️
Murni Asih
msh perang aja.... 😭
Herfan Wahyudi
ceritanya sangat bagus...lanjut lagi ya kak🙏
Murni Asih
sampe di part ini , otor seneng bgt bikin orang jedak-jeduk....
Murni Asih
jgn smpe chip nya ketemu sm mereka
Murni Asih
lagi dan lagi lindungi mereka ber 4 ya kaka.... 💪
Murni Asih
Ghazali....
keyra...
Bastian...
yudha....
kamu dimana....
Murni Asih
pinta ku selalu , tolong lindungi mereka ber 4 ya author
Rika Pulungan
crazy up
Murni Asih
baru bangun tidur , lngsng deg²an... author...tolong lindungi mereka ber 4
Murni Asih
ish... sempet² nya ngegombal dulu.....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!