Selama tiga tahun, Kinara mengabdikan seluruh hidupnya hanya untuk mengejar cinta Arlan—seorang CEO dingin yang tak pernah menganggapnya ada. Bagi Arlan, Kinara hanyalah gangguan yang tidak berarti dan bayangan yang membosankan.
Hingga suatu hari, sebuah rahasia menyakitkan membuat Kinara sadar bahwa cintanya telah mati. 'Cukup, Arlan. Mulai hari ini, aku berhenti mengejarmu. Anggap saja kita tidak pernah saling mengenal.'
Kinara pergi, menghilang tanpa jejak. Namun, saat Kinara muncul kembali sebagai wanita sukses yang mandiri dan tak lagi meliriknya, Arlan justru mulai kehilangan akal. Arlan yang dulu dingin, kini justru berlutut memohon maaf di bawah hujan.
'Kenapa kau tidak menatapku lagi, Kinara? Aku mohon... kembali mengejarku.'
Sayangnya, bagi Kinara, pintu itu sudah tertutup rapat. Penyesalan Arlan hanyalah angin lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GABRIELA POSENTIA NAHAK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 : Pelarian Di Tengah Hujan
Malam itu, hujan turun dengan intensitas yang mengerikan di atas langit Jakarta, seolah-olah semesta sedang ikut mengamuk menyaksikan kehancuran yang terjadi di dalam mansion mewah milik Arlan.
Di dalam perpustakaan yang remang-remang, Kinara berdiri mematung.
Napasnya tersengal, dadanya terasa sesak seolah ada batu besar yang menghimpitnya.
Ia menatap pria yang masih bersimpuh di kakinya, memeluk lututnya dengan kekuatan yang menyakitkan.
Arlan yang dulu ia benci karena kedinginannya, lalu ia kasihi karena kemanjaannya yang tak terduga, kini justru terlihat seperti orang asing yang sangat menakutkan.
Pengakuan itu—kenyataan bahwa Arlan adalah dalang di balik kehancuran ayahnya—telah membunuh semua rasa kasih yang baru saja tumbuh di hati Kinara.
"Lepaskan tanganmu, Arlan," suara Kinara terdengar sangat hampa.
Tidak ada lagi teriakan amarah, yang tersisa hanyalah kelelahan jiwa yang luar biasa.
"Tidak! Kalau aku melepaskannya, kau akan pergi! Aku tahu kau akan pergi!" isak Arlan semakin menjadi-jadi.
Suara tangisnya beradu dengan suara petir yang menggelegar di luar sana.
"Aku akan melakukan apa pun, Kinara. Kau mau aku bersujud di depan makam ayahmu setiap hari? Aku akan lakukan! Kau mau aku menyerahkan seluruh aset Arlan Group ke yayasan sosial? Akan kulakukan sekarang juga! Hanya saja... tolong jangan tatap aku dengan mata sedingin itu. Aku mohon..."
Kinara memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan air matanya jatuh membasahi pipi.
Setiap kata yang keluar dari mulut Arlan justru semakin memperdalam lubang luka di hatinya.
"Kau menghancurkan keluargaku, Arlan. Kau membuat ayahku meninggal dalam kehinaan sebagai seorang pecundang bisnis. Dan kau pikir... dengan memanjakanku, memberiku kantor, dan membelikanku barang-barang mewah, semuanya akan terhapus? Kau membeliku dengan uang yang kau curi dari keringat dan nyawa ayahku sendiri!"
Dengan satu sentakan kuat yang dipicu oleh rasa sakit hati dan adrenalin, Kinara berhasil melepaskan diri dari pelukan Arlan.
Ia tidak membawa apa-apa.
Ia tidak membawa tas mewah, tidak membawa ponsel pemberian Arlan yang katanya 'tanpa pelacak', bahkan tidak membawa kunci kantor barunya.
Ia hanya meraih sebuah dompet kecil berisi identitas lamanya dan tabungan darurat yang selama ini ia sembunyikan.
"KINARA! JANGAN PERGI! KINARA!!!" teriak Arlan histeris.
Kinara berlari menembus koridor mansion yang panjang.
Arlan mencoba mengejar, namun kakinya terasa lemas dan bergetar hebat.
Ia terjatuh di atas lantai marmer, merangkak dengan putus asa, lalu akhirnya berhasil berdiri kembali.
Arlan mengejar Kinara hingga ke lobi utama, namun Kinara sudah menembus hujan badai di halaman depan.
Dengan nekat, Kinara menghentikan sebuah taksi yang kebetulan baru saja menurunkan penumpang di dekat gerbang kompleks dan segera masuk ke dalamnya.
"Jalan, Pak! Cepat jalan! Jangan berhenti!" seru Kinara pada sopir taksi dengan suara gemetar karena takut dan dingin.
Arlan berdiri di bawah guyuran hujan deras di tengah jalanan aspal mansionnya tanpa alas kaki.
Kemeja putihnya kini basah kuyup, menempel pada tubuhnya yang bergetar.
Ia menatap lampu belakang taksi yang membawa perginya satu-satunya alasannya untuk tetap waras, hingga lampu merah itu hilang di balik tikungan jalan.
Arlan berdiri diam di sana selama beberapa menit, membiarkan air hujan menyamarkan air matanya.
Namun, perlahan-lahan, getaran di tubuhnya berhenti.
Isak tangisnya hilang.
Saat ia mendongak, wajahnya tidak lagi memancarkan permohonan.
Matanya yang merah kini memancarkan kilat kegelapan yang sangat dingin—kilat yang biasanya hanya muncul saat ia sedang menghabisi lawan bisnisnya tanpa ampun.
Beberapa pengawal dan Maya, sekretarisnya, berlari mendekat sambil membawa payung, namun Arlan menepis tangan mereka dengan kasar.
"Cari dia," perintah Arlan.
Suaranya tidak lagi serak atau manja; suaranya kembali menjadi sangat datar dan penuh otoritas, lebih dingin dari udara malam itu.
"Tapi Pak, ini sudah tengah malam dan hujan badai sangat berisiko—"
"AKU TIDAK PEDULI!" Arlan mencengkeram kerah baju kepala keamanannya dengan satu tangan, menariknya hingga wajah mereka berdekatan.
"Tutup semua akses keluar kota. Periksa setiap hotel, setiap losmen murahan, bahkan setiap rumah teman yang pernah ia sebutkan. Jika dalam dua jam kau tidak bisa memberitahuku di mana istriku berada, kalian semua akan aku hancurkan sepertiku menghancurkan Proyek Andromeda! Mengerti?!"
Maya merinding mendengar perintah itu.
Ia menyadari bahwa Arlan yang manja, Arlan yang meminta disuapi, dan Arlan yang merengek telah mati malam ini.
Yang tersisa hanyalah sang "Monster" yang kini terobsesi penuh untuk menjerat kembali mangsanya.
Di dalam taksi, Kinara duduk meringkuk di sudut kursi.
Tubuhnya basah kuyup dan gemetar hebat karena kedinginan dan trauma.
Ia meminta sopir taksi membawanya ke sebuah apartemen kecil di pinggiran kota milik sahabat lamanya, Lala—satu-satunya orang yang tidak pernah ia kenalkan kepada Arlan.
"Kinara?! Ya Tuhan, apa yang terjadi padamu?!" tanya Lala histeris saat membuka pintu apartemen dan melihat kondisi Kinara yang mengenaskan, pucat pasi dengan mata yang bengkak.
"Lala... tolong aku... jangan biarkan dia menemukanku. Tolong..." bisik Kinara sebelum pandangannya berputar dan semuanya menjadi gelap. Ia pingsan di pelukan sahabatnya.
Kembali di mansion, Arlan duduk di lantai kamar utama yang gelap gulita.
Ia tidak mengganti pakaiannya yang basah.
Ia hanya memegang sebuah bingkai foto pernikahan mereka yang ia pecahkan kacanya dengan tangan kosong.
Darah mengalir dari telapak tangannya, menetes perlahan di atas wajah Kinara yang tersenyum di dalam foto itu.
Arlan tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat tidak sehat dan gila.
"Kau pikir kau bisa lari dariku, Kinara? Ke mana pun kau pergi, dunia ini adalah milikku. Kau adalah milikku," bisik Arlan pada foto itu.
"Aku yang membawamu ke dunia yang indah ini, dan aku yang akan menentukan kapan kau boleh pergi. Jika kau ingin aku menjadi monster agar kau tetap di sisiku... maka aku akan menjadi monster paling mengerikan yang pernah kau bayangkan."
Arlan mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang di seberang sana dengan suara yang sangat tenang namun mematikan.
"Blokir semua rekening atas nama Kinara Posentia. Hubungi semua maskapai penerbangan dan pelabuhan. Jangan biarkan satu pun wanita dengan nama itu keluar dari negara ini. Dan satu lagi... cari tahu siapa saja orang yang pernah berhubungan dengannya dalam tiga tahun terakhir. Aku ingin daftar lengkapnya di mejaku besok pagi."
Perburuan telah dimulai.
Dan kali ini, Arlan tidak akan bermain-main lagi.