"Zel, kita cuma nikah kontrak! Berhenti kirim kurir obat ke sekolah, aku malu sama guru-guru lain!"
Dazello Zelbarra, CEO dingin itu justru menarik Runa ke pelukannya. "Di catatanku, jam segini lambungmu mulai perih karena kamu lupa sarapan. Aku tidak peduli kamu malu, Runa. Aku hanya peduli kamu tetap hidup untuk melunasi kontrakmu padaku."
Runa Elainzica, guru honorer yang ceroboh dan pelupa, terpaksa menikahi mantan pacarnya, Dazello ‘Azel’ Zelbarra, demi menyelamatkan sekolahnya dari kebangkrutan.
Runa mengira Azel membencinya. Namun, ia tak pernah tahu bahwa di ponsel Azel terdapat aplikasi rahasia berjudul "Runa’s Manual Book". Sebuah catatan obsesif berisi ribuan detail tentang kebiasaan kecil Runa, pantangan makannya, hingga cara melindunginya saat badai datang.
Dunia mereka berbeda, tapi di buku catatan Azel, nama Runa sudah tertulis sebagai milik sahnya... selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Pagi harinya, Runa terbangun dengan perasaan hangat yang asing. Sesuatu yang kokoh dan nyaman berada di bawah pipinya. Saat matanya terbuka sepenuhnya, ia menyadari bahwa ia tidak memeluk guling, melainkan lengan kekar Azel yang masih terbungkus kemeja kerja kemarin—yang kini sudah sangat kusut.
Runa tersentak pelan. Ia melirik ke atas dan mendapati Azel masih terpejam, bersandar pada kepala ranjang dalam posisi duduk yang tampak sangat tidak nyaman. Pria itu tertidur dengan posisi menjaganya semalaman.
Gila, apa dia nggak pegal? batin Runa.
Ia perlahan melepaskan pelukannya, mencoba tidak menimbulkan gerakan. Namun, begitu ia bergeser, suara serak Azel terdengar.
"Sudah puas memenjarakan tanganku?"
Runa membeku. Ia menoleh dan mendapati Azel sudah menatapnya dengan mata yang sedikit merah karena kurang tidur, tapi tatapannya tetap tajam seperti biasa.
"Zel... maaf! Aku nggak sadar. Kenapa nggak dilepas saja sih?" Runa mendadak sibuk merapikan rambutnya yang berantakan, wajahnya memanas karena malu.
Azel menggerakkan lengannya yang kaku, terdengar suara tulang yang berderak pelan. Ia meringis tipis. "Gimana mau lepas? Kamu memeluknya seperti mau mengajak gelut. Kalau aku tarik paksa, kamu pasti bangun."
Runa menggigit bibir bawahnya. "Ya tapi kan... tanganmu bisa mati rasa."
"Sudah mati rasa sejak jam tiga pagi," sahut Azel datar sambil turun dari ranjang. Ia melakukan peregangan singkat, membuat kemeja mahalnya yang kini berkerut semakin terlihat menyedihkan. "Sana mandi. Mama sudah heboh di bawah karena hari ini ada acara keluarga besar."
Runa yang baru mau beranjak ke kamar mandi, langsung berhenti. "Acara keluarga? Acara apa lagi?"
"Arisan besar keluarga Zelbarra. Kamu akan diperkenalkan secara resmi sebagai istriku. Dan ingat satu hal," Azel berbalik di depan pintu ruang ganti, "Keluarga besarku tidak semuanya selembut Mama. Ada beberapa bibi yang mulutnya lebih tajam dari pisau dapur. Jadi, jangan kelihatan lembek."
...----------------...
Dua jam kemudian, rumah mewah itu mulai dipenuhi oleh wanita-wanita sosialita berseragam batik sutra. Runa merasa seperti rusa yang terjebak di tengah sekumpulan singa. Ia mengenakan salah satu gaun anggun pilihan Mama Sofia kemarin, yang meski simpel, tetap membuatnya terlihat sangat elegan.
"Oh, jadi ini istrimu, Azel? Guru ya katanya?" tanya seorang wanita paruh baya dengan sanggul tinggi dan bros berlian sebesar kelereng—Tante Rosa, salah satu kerabat yang paling ditakuti.
"Iya, Tante. Runa adalah guru," jawab Azel tenang, tangannya melingkar posesif di pinggang Runa.
"Hebat ya Azel. Padahal Tante pikir kamu bakal pilih anak kolega Papa yang sekolah di Harvard. Ternyata pilihannya... sangat membumi," Tante Rosa tersenyum, tapi matanya meneliti Runa dari ujung kaki ke ujung kepala dengan tatapan meremehkan. "Nggak apa-apa, yang penting bisa mengurus rumah, kan? Sayang sekali kalau cuma jadi guru honorer, gajinya bahkan nggak cukup buat beli satu sepatu Runa yang sekarang."
Runa merasa dadanya sesak. Minder yang sejak kemarin ia tekan kembali meluap. Ia merasa sangat kecil di ruangan ini.
Namun, sebelum Runa sempat menjawab, Azel mempererat genggamannya.
"Gaji Runa memang tidak besar bagi Tante," suara Azel terdengar dingin, jenis suara yang biasa ia gunakan untuk memecat karyawan yang tidak kompeten. "Tapi nilai kesabaran dan dedikasinya dalam mengajar tidak bisa dibeli dengan saham manapun di perusahaan saya. Dan satu lagi, Tante... Runa di sini bukan untuk mengurus rumah. Dia di sini karena saya yang memohon padanya untuk tetap di samping saya."
Suasana di meja itu mendadak hening. Tante Rosa tampak tersedak tehnya sendiri, tidak menyangka Azel akan membela istrinya secara frontal di depan umum.
Runa menoleh ke arah Azel, tertegun. Ia tahu ini mungkin hanya bagian dari "akting" kontrak mereka, tapi mendengar Azel membelanya dengan cara seperti itu membuat sesuatu di hatinya bergetar hebat.
"Azel, ayo ke sana dulu. Kasihan Runa, dia butuh minum," Mama Sofia datang menyelamatkan situasi dengan senyum cerianya yang biasa.
Begitu mereka menjauh dari kerumunan, Azel membawa Runa ke sudut ruangan yang lebih sepi dekat kolam renang.
"Zel... makasih ya. Kamu nggak perlu sampai segitunya tadi," bisik Runa.
Azel mengambil segelas air mineral dan menyerahkannya pada Runa. "Minum. Kamu mulai pucat lagi karena mikir yang nggak-nggak. Jangan dimasukkan ke hati omongan Tante Rosa. Dia hanya kesal karena anaknya gagal aku jadikan sekretaris tahun lalu."
Runa meminum airnya perlahan. "Tapi dia benar, Zel. Aku memang cuma guru biasa."
"Runa," Azel memegang kedua bahu Runa, memaksa wanita itu menatap matanya. "Berhenti merendahkan dirimu sendiri. Kamu itu cerewet, pelupa, dan ceroboh, tapi kamu punya hati yang nggak dimiliki orang-orang di dalam sana. Fokus saja pada tugasmu: jangan telat makan dan jangan pingsan hari ini. Urusan mulut Tante Rosa, itu bagianku."
Runa menatap Azel lama. Pria ini sangat menyebalkan dengan segala perintahnya, tapi di saat yang sama, ia adalah satu-satunya orang yang tahu kapan Runa merasa tidak nyaman bahkan tanpa Runa harus mengucapkannya.
"Oh ya," Azel tiba-tiba merogoh saku jasnya. "Pakai ini."
Ia mengeluarkan sebuah kotak perhiasan kecil. Di dalamnya ada sebuah kalung simpel dengan liontin berlian mungil yang sangat indah.
"Buat apa lagi?"
"Supaya Tante Rosa berhenti menatap lehermu yang polos itu," Azel mengambil kalungnya, memberi isyarat agar Runa berbalik.
Dengan tangan yang sedikit dingin, Azel memakaikan kalung itu. Jemarinya yang kasar sempat bersentuhan dengan kulit leher Runa, membuat napas Runa tercekat sejenak.
"Bagus," gumam Azel pelan saat melihat kalung itu melingkar sempurna. "Satu hal lagi, Runa. Nanti malam, jangan berani-berani memeluk tanganku sampai mati rasa lagi. Aku ada presentasi penting besok pagi."
Runa mendengus, rasa harunya mendadak menguap. "Dih! Siapa juga yang mau peluk-peluk? Itu kan nggak sengaja!"
Azel hanya menaikkan sebelah alisnya, menyembunyikan senyum kemenangan. Ia tahu, di balik omelan Runa, wanita itu mulai merasa sedikit lebih "di rumah". Dan bagi Azel, itu jauh lebih penting daripada memenangkan tender manapun.
apa susahnya sih, pake alesan dijodohin segala 🤣