NovelToon NovelToon
Flight To Your Heart

Flight To Your Heart

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Prabu, seorang pria yang dulunya penuh ambisi, kini tenggelam dalam depresi berat yang merenggut gairah hidupnya. Melihat kondisi sang putra yang kian memprihatinkan, ayahnya yang merupakan seorang pilot senior, merasa hanya ada satu orang yang mampu menarik Prabu keluar dari kegelapan: Xena.
Xena bukan sekadar wanita dari masa lalu yang pernah mengejar-ngejar Prabu saat SMA, ia kini adalah seorang dokter spesialis jiwa yang handal. Sang ayah yakin bahwa kombinasi antara keahlian medis dan ketulusan hati Xena adalah kunci kesembuhan Prabu.
Meski dipenuhi penolakan dan sikap dingin yang membeku, Prabu akhirnya menyerah pada desakan orang tuanya. Ia menyetujui pernikahan tersebut dengan satu syarat mutlak di kepalanya: pernikahan ini tak lebih dari sekadar sesi pengobatan.
Xena pun melangkah masuk ke dalam hidup Prabu, bukan lagi sebagai gadis remaja yang naif, melainkan sebagai penyembuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Xena melangkah dengan sisa ketegaran yang ia miliki.

Suara roda koper yang beradu dengan lantai keramik vila terdengar seperti hitung mundur menuju akhir hubungan mereka.

Ia tidak menoleh sedikit pun, bahkan ketika langkah kaki Prabu mengejarnya dengan tergesa di belakang.

Namun, tepat saat tangan Xena menyentuh gagang pintu mobil, sebuah pelukan hangat dan erat melingkari tubuhnya dari belakang.

Prabu membenamkan wajahnya di pundak Xena, napasnya terasa gemetar dan panas.

"Aku minta maaf, Xen. Aku jahat. Aku benar-benar bajingan," suara Prabu pecah menjadi isakan yang selama ini ia tahan.

"Jangan pergi, Xen. Aku mohon, jangan tinggalkan aku sekarang."

Langkah Xena terhenti. Tubuhnya kaku, namun hatinya hancur berkeping-keping mendengar getaran suara suaminya yang penuh kerapuhan.

"Aku ingin sembuh, Xen. Aku ingin kamu yang menyembuhkanku. Jangan pergi..." bisik Prabu lagi, cengkeramannya di pinggang Xena semakin erat, seolah takut jika ia melepas sedikit saja, Xena akan hilang ditelan bumi.

Mesin mobil menderu pelan, memecah kesunyian di halaman vila yang kini terasa seperti monumen kegagalan.

Xena duduk di kursi kemudi dengan punggung tegak, meski seluruh sendinya terasa lemas.

Ia tidak membalas pelukan Prabu tadi dengan kata-kata; ia hanya melepaskan tangan suaminya dengan lembut namun dingin, lalu masuk ke mobil tanpa menoleh lagi.

Prabu, yang biasanya angkuh dan selalu ingin duduk di depan untuk mengontrol navigasi, kini memilih duduk di kursi penumpang bagian belakang.

Ia meringkuk di sana, merasa tidak pantas bahkan untuk berada di samping wanita yang baru saja ia lukai.

Mobil mulai bergerak meninggalkan pasir putih dan deburan ombak.

Di dalam kabin, kesunyian terasa begitu pekat, seolah oksigen telah habis diserap oleh rasa bersalah dan kekecewaan.

Satu-satunya suara yang terdengar hanyalah deru ban yang bergesekan dengan aspal.

Guncangan tiba-tiba terjadi saat roda depan menghantam lubang jalan yang cukup dalam.

"Akh—" Xena meringis spontan. Tangannya yang memegang kemudi gemetar sesaat.

Guncangan itu memicu denyut hebat pada hidungnya yang bengkak dan tulang pipinya yang memar.

Rasa nyeri itu menjalar ke saraf mata, membuatnya harus memejamkan mata sejenak untuk menahan pening.

Dari kaca spion tengah, Prabu melihat segalanya. Ia melihat bagaimana Xena menggigit bibir bawahnya untuk menahan tangis yang hampir pecah kembali.

Ia melihat jemari istrinya yang memutih karena mencengkeram kemudi terlalu kuat demi menstabilkan tubuhnya.

Dada Prabu terasa seperti dihantam palu godam. Setiap ringisan kecil yang keluar dari mulut Xena adalah tamparan bagi egonya.

Pria itu menunduk, menatap telapak tangan kanannya—tangan yang sama yang dulu memegang kemudi pesawat dengan penuh kebanggaan, kini menjadi tangan kriminal yang menghancurkan satu-satunya sandaran yang ia miliki.

"Aku benar-benar monster," batin Prabu.

Ia ingin sekali maju, menyentuh bahu Xena dan memintanya berhenti sejenak agar ia bisa mengompres luka itu. Namun, ia tahu diri. Sentuhannya saat ini mungkin hanya akan menambah trauma bagi Xena.

Ia teringat bagaimana Xena tadi menepis tangannya dengan ketakutan di depan vila.

Xena mengatur napasnya, mencoba fokus pada jalanan berkelok di depannya.

Matanya yang sembab menatap lurus ke depan, namun pikirannya kosong.

Luka fisik ini mungkin akan sembuh dalam hitungan minggu, tapi kata "murahan" dan kepalan tangan Prabu telah membekas secara permanen di memorinya.

"Xen..." suara Prabu terdengar lirih, hampir tenggelam oleh suara angin yang masuk dari celah jendela.

"Maaf."

Xena tidak menjawab. Ia bahkan tidak melirik ke spion untuk memberi sinyal bahwa ia mendengar.

Baginya, kata maaf saat ini hanyalah sekadar bunyi tanpa makna.

Ia terus melajukan mobilnya, membelah kabut pegunungan yang mulai turun, menuju Jakarta—menuju titik di mana ia akan benar-benar melepaskan segala beban tentang pria bernama Prabu.

Di kursi belakang, Prabu hanya bisa menatap punggung Xena dengan mata berkaca-kaca.

Ia menyadari satu hal yang paling mengerikan: Xena tidak lagi marah. Dan diamnya seorang wanita yang terluka adalah bentuk perpisahan yang paling sunyi sekaligus paling mematikan bagi seorang pria yang baru saja mulai menyadari cintanya.

Perjalanan yang memakan waktu berjam-jam itu terasa seperti keabadian.

Ketika mobil Xena akhirnya memasuki gerbang rumah besar keluarga Prabu, matahari sudah hampir tenggelam sempurna, meninggalkan semburat ungu yang muram di langit Jakarta.

Xena menghentikan mobil tepat di depan lobi utama. Sebelum turun, ia merogoh tasnya, mengambil sebuah masker medis berwarna putih dan mengenakannya dengan hati-hati.

Ia meringis pelan saat tali masker itu menyentuh bagian belakang telinganya, menarik kulit wajahnya yang masih sangat sensitif akibat hantaman Prabu.

Ia harus menutupi luka ini. Bukan karena ia ingin melindungi Prabu, tapi karena ia tidak ingin melihat Ayah mertuanya yang baik hati itu hancur atau meledak dalam amarah yang sia-sia.

Pintu rumah terbuka dimana Ayah Prabu sudah berdiri di sana dengan wajah penuh harap.

Prabu turun lebih dulu dari kursi belakang, langkahnya gontai, kepalanya menunduk dalam-dalam seolah tanah adalah satu-satunya tempat yang pantas ia pandang.

Xena turun kemudian. Ia berdiri beberapa langkah dari Ayah Prabu, menjaga jarak agar bengkak di area matanya tidak terlihat jelas meski tertutup masker.

"Ayah," suara Xena terdengar sangat rendah dan bergetar di balik masker.

Ayah Prabu melangkah maju, tangannya hendak menyentuh bahu Xena.

"Xen, kenapa cepat sekali pulang? Dan kenapa pakai masker, Nak? Kamu benar-benar sakit?"

Xena memaksakan diri untuk menatap mata pria tua itu, meski hatinya terasa seperti diremas.

"Ayah, Xena pulang dulu ke rumah Xena sendiri. Xena minta maaf, Yah. Xena tidak bisa menyembuhkan Prabu. Xena gagal."

"Xen, apa yang kamu bicarakan? Kamu tidak gagal, Nak..."

"Maafkan Xena, Ayah. Xena sudah berusaha semampu Xena," potong Xena dengan nada yang mengandung ketetapan hati yang tak bisa diganggu gugat.

Ia mencium punggung tangan Ayah mertuanya untuk terakhir kali—sebuah gestur perpisahan yang terasa sangat final.

Tanpa menunggu balasan lebih lanjut, Xena berbalik dan kembali masuk ke kursi kemudi.

Ia tidak menoleh ke arah Prabu yang kini berdiri mematung di samping ayahnya.

Mesin mobil kembali menderu. Melalui kaca spion, Xena melihat siluet dua pria itu semakin mengecil.

Prabu tampak seperti anak kecil yang kehilangan arah, berdiri kaku di bawah lampu teras yang temaram.

Ada rasa perih yang sempat melintas, namun Xena segera menekannya dalam-dalam. Ia sudah cukup berkorban.

Mobil itu melesat membelah kemacetan kota, menuju sebuah rumah kecil di sudut lain kota ini. Rumah yang sunyi. Rumah yang tidak memiliki siapa pun di dalamnya sejak orang tuanya berpulang bertahun-tahun yang lalu.

Di sepanjang jalan, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah, membasahi bagian dalam maskernya.

Xena menyadari bahwa malam ini, ia kembali menjadi gadis kecil yang sendirian.

Sebagai yatim piatu, ia tidak punya tempat untuk mengadu atau bahu untuk bersandar.

Sesampainya di rumahnya yang gelap, Xena mematikan mesin.

Ia hanya duduk diam di dalam mobil yang sunyi, menatap rumahnya yang kosong.

Di dunia ini, ia benar-benar hanya memiliki dirinya sendiri untuk mengobati luka yang ditinggalkan oleh pria yang sangat ia cintai.

1
Nur Asiah
sepertinya perjalanan meraih cinta Xena masih panjang,prabu semangat
Alex
ini hari libur Thor, knpa bawangnya sebanyak ini😭😭😭😭😭
Nur Asiah
setelah kesekian bab aku baja akhirnya nyesek juga rasanya,selamat prabu impianmu kembali dengan lepasnya Xena darimu
Rian Moontero
lanjooott👍👍
miesui jazz jeff n jexx
sgt bgs...
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Alex
kapok kamu pra
wwkwkwkwk
Alex
xena😭😭😭😭
Alex
kok kmu yg nonjok sih pra, harusnya ku tonjok duluan atau ku benturkan palamu di karang yg ada di pantai biar agak encer🤭
gemes bgt sama nie orang dech
my name is pho: sabar kak🤭
total 1 replies
Alex
pra, kmu mau ku getok pakai palu apa pakai kentongan, heran dech, emosi Mulu 😄
my name is pho: sabar kak🤭🥰
total 1 replies
Alex
siap menunggumu untuk lari aku pra, hbis itu Xena akn meninggalkanmu
hahahahaha
ketawa jahat ini🤭
Alex
awas gue tandain loe prabu
nanti kalau bucin Kutendang dari pesawat🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!