“Benciku adalah candu, dan obsesinya adalah penjara paling mematikan.”
Ceisya, seorang santriwati tengil sekaligus hacker cerdas, tiba-tiba terbangun dalam tubuh Ceisyra Valenor—tokoh antagonis yang seharusnya mati tragis.
Namun takdir berubah…
Kaelthas Virelion, penguasa dunia bawah yang dingin dan kejam, justru terobsesi padanya—bahkan menikahinya secara rahasia.
Di tengah fitnah licik sang adik, Clarisse, serta ancaman Axton—rival berbahaya yang mulai kehilangan kendali karena dirinya—Ceisya terjebak dalam permainan yang mematikan.
Haruskah ia melarikan diri dari sangkar emas itu…
atau bertahan dalam perlindungan berbahaya dari pria posesif yang siap menghancurkan dunia demi dirinya?
“Kamu adalah napasku, Ceisyra. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun merebutmu dariku.”
Takdir, obsesi, dan kekuasaan bertabrakan.
Mampukah Ceisya mengendalikan nasibnya sendiri… atau justru tenggelam dalam obsesi yang semakin dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arena Kampus dan Jerat Sang Predator
Suasana di dalam mobil sedan antipeluru itu mendadak terasa lebih sempit daripada kelihatannya. Begitu pintu tertutup kedap suara, aroma sandalwood yang pekat langsung menyergap indra penciuman Ceisya. Di sudut kursi penumpang yang luas, Kaelthas duduk dengan tablet di tangannya, kakinya bersilang elegan.
Ceisya tertegun sejenak, namun segera menguasai diri. Ia duduk di sisi jauh, memberikan jarak maksimal. "Wah, Tuan Besar turun gunung sendiri? Nggak takut sahamnya anjlok ditinggal menjemput 'barang kargo' sepertiku?" sindir Ceisya sambil membetulkan letak tasnya.
Kaelthas meletakkan tabletnya. Matanya yang tajam menyapu penampilan Ceisya—tunik pastel dan jilbab yang rapi. Ada kilatan kepuasan sekaligus rasa ingin tahu yang besar di matanya. "Sahamku justru naik saat aku memastikan aset paling berhargaku tidak disentuh tangan-tangan kotor di rumah itu," jawab Kaelthas dengan suara bariton yang rendah.
Mobil mulai melaju. Ceisya mencoba mengabaikan tatapan Kaelthas yang intens dengan menatap ke luar jendela. Namun, tangan Kaelthas tiba-tiba meraih dagu Ceisya, memaksanya menoleh. "Kenapa wajahmu pucat? Jangan berbohong, Ceisyra."
Ceisya hanya mengangkat bahunya santai.
Kaelthas menyipitkan mata, rahangnya mengeras. "Aku tidak suka penolakan. Masuklah ke kelasmu, tapi ingat..." Kaelthas mendekatkan wajahnya, membisikkan sesuatu yang membuat bulu kuduk Ceisya berdiri. "Guntur dan timnya akan menjagamu dari jarak dekat. Jangan tersenyum pada pria lain, atau kamu akan melihat kampus ini rata dengan tanah besok pagi."
Mobil berhenti tepat di depan gedung utama fakultas Teknik Informatika. Semua mahasiswa yang sedang berjalan serentak berhenti. Bisik-bisik mulai menjalar seperti api di atas rumput kering melihat iring-iringan mobil mewah tersebut.
Ceisya melangkah keluar dengan kepala tegak. Ia melirik Guntur yang sudah berdiri di sampingnya. “Ya Allah, ini mau kuliah atau mau perang? Kaelthas benar-benar berlebihan,” batin Ceisya.
“Nona, silakan berjalan. Saya akan mengikuti Anda tepat dua meter di belakang,” ucap Guntur dengan suara tanpa emosi. "Perintah Tuan Kaelthas adalah memastikan tidak ada pria yang berjarak kurang dari satu meter dari Anda."
Ceisya menghela napas, ia mulai berjalan menyusuri koridor kampus. Namun baru beberapa langkah, seorang pria muda dengan kacamata intelektual melambaikan tangan ke arahnya.
“Ceisyra? Hei, kau datang tepat waktu untuk presentasi!” Itu adalah Adrian, ketua kelompok tugas akhirnya.
Adrian berjalan mendekat hendak menyapa, namun sebelum tangannya menyentuh Ceisya, Guntur sudah mencengkeram pergelangan tangan Adrian hingga pria itu meringis. “Dilarang menyentuh,” ucap Guntur dingin.
Tiba-tiba, ponsel baru di saku Ceisya bergetar hebat. Panggilan video dari Kaelthas. Ceisya segera mengangkatnya.
“Kaelthas! Suruh orangmu berhenti menakut-nakuti temanku!”
Di layar ponsel, Kaelthas yang sudah berada di kantornya menatap tajam melalui kamera pengawas di dada Guntur. “Aku sedang melihatmu, Ceisyra. Dan aku tidak suka cara pria itu menatapmu. Sepuluh detik. Jika dia tidak menjauh, Guntur akan mematahkan jarinya.”
Ceisya panik. “Adrian, lari! Kita bicarakan lewat email saja!”
Setelah Adrian pergi, Kaelthas berkata lewat telepon, “Bagus. Masuklah ke kelas. Dan jangan coba-coba mematikan pelacak itu jika kamu tidak ingin aku datang ke sana dan menyeretmu di depan semua dosenmu.”
Panggilan diputus sepihak. Ceisya berjalan masuk ke ruang kelas dengan langkah berat. Selama presentasi, ia mencoba fokus menjelaskan kode program dengan brilian.
Namun, di tengah presentasi, Ceisya yang merasa tercekik mencoba melakukan perlawanan santriwati-IT-nya. Sambil mengetik kode, ia mencoba meretas pelacak Kaelthas melalui server kampus.
Ia berhasil masuk ke lapisan pertama, namun tiba-tiba layarnya berubah menjadi merah darah. Sebuah pesan muncul di layar proyektor kelas sehingga semua orang bisa melihatnya:
‘Terdeteksi percobaan peretasan. Hukuman akan segera dimulai. - K’
Seluruh kelas hening. Wajah Ceisya memucat. Guntur melangkah maju ke depan kelas, mengabaikan dosen penguji yang bingung.
“Nona, presentasi Anda selesai. Tuan Kaelthas meminta Anda pulang sekarang juga.”
“Tapi nilaiku—!”
“Tuan Kaelthas sudah membeli universitas ini pagi tadi, Nona. Nilai Anda sudah aman,” potong Guntur dengan nada datar yang mengerikan.
Seluruh kelas riuh. Ceisya merasa dunianya runtuh. Kaelthas bukan hanya ingin memilikinya, pria itu ingin menghapus identitas Ceisya dan menggantinya dengan "Properti Kaelthas".
Pukul 11:30 Siang.
Matahari tepat berada di puncak langit, memancarkan cahaya yang begitu terik hingga aspal jalanan kota tampak bergelombang karena panas yang memuai. Di luar sana, cahaya siang menari-nari dengan liar, memantul di kaca-kaca gedung pencakar langit, menciptakan kilatan yang menyilaukan mata bagi siapa pun yang berani menatapnya.
Namun, di dalam mobil sedan hitam antipeluru milik Kaelthas, suasana justru terasa seperti di dalam lemari es. Dingin, sunyi, dan pengap oleh aura dominasi yang ditinggalkan sang pemilik mobil.
Ceisya menyandarkan pelipisnya di kaca jendela yang sejuk. Ia menatap deretan pepohonan di pinggir jalan yang berlari cepat, seolah-olah alam semesta pun sedang terburu-buru menjauh darinya.
Di sampingnya, Guntur duduk dengan punggung tegak tanpa sandaran, matanya lurus ke depan layaknya robot militer. Di tangan pria itu, sebuah tablet terus menyala, menampilkan grafik detak jantung Ceisya yang terpantau secara real-time melalui sensor yang tertanam di ponsel barunya.
Tiba-tiba, sebuah denyutan tajam—seperti hantaman palu godam—menghantam pelipis Ceisya. Dunianya seolah berputar hebat. Cahaya matahari yang tadinya putih cerah mendadak berubah menjadi merah darah di mata Ceisya. Suara bising mesin mobil menghilang, digantikan oleh suara denging panjang yang menyakitkan telinga.
‘Sakit… kepalaku…,’ rintih Ceisya dalam hati.
Tangannya mencengkeram jok kulit mobil dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Di tengah rasa sakit itu, sebuah pintu rahasia di dalam ingatannya terbuka paksa. Fragmen-fragmen takdir asli Ceisyra Valenor dari novel yang pernah ia baca kini meluap keluar, menghantam kesadarannya satu per satu.
Fragmen Pertama: Hinaan di Bawah Hujan
Di alur asli novel, Ceisyra benar-benar hancur setelah dicambuk. Tidak ada perlawanan cerdas, tidak ada peretasan CCTV yang heroik. Ceisya melihat bayangan dirinya—Ceisyra yang asli—merangkak di atas lantai marmer yang dingin, memeluk kaki Bastian Valenor sambil menangis meraung-raung. Ia memohon ampun atas fitnah kejam yang dilontarkan Clarisse, namun ayahnya justru menendang bahunya hingga ia tersungkur.
Malam itu, Ceisyra dibuang ke jalanan hanya dengan pakaian yang melekat di tubuhnya. Ia melihat dirinya sendiri luntang-lantung di bawah hujan deras yang menusuk tulang, kelaparan, dan kedinginan. Ia mengetuk pintu gerbang mansion berkali-kali hingga tangannya berdarah, namun tidak ada satu pun anggota keluarga Valenor yang membukakan pintu. Mereka justru menonton dari balik jendela sambil menyesap teh hangat, seolah Ceisyra hanyalah tumpukan sampah yang memang harus dibuang ke selokan.
Fragmen Kedua: Penolakan Sang Penguasa
Lalu, memori itu melompat ke momen pertunangan. Di novel aslinya, Kaelthas Virelion adalah pria yang paling membenci Ceisyra. Saat Tuan Valenor memohon dengan sangat agar Kaelthas tetap menikahi Ceisyra demi menjaga hubungan bisnis, Kaelthas justru berdiri dengan keangkuhan yang luar biasa. Pria itu menatap Ceisyra dengan tatapan paling jijik yang pernah ada, lalu meludah tepat di depan kaki gadis itu.
Kaelthas kemudian memilih untuk bertunangan dengan Clarisse, si "Malaikat Tanpa Sayap". Ceisyra asli yang sudah gila karena cinta dan obsesi terus mengejar-ngejar Kaelthas hingga ke kantornya setiap hari. Namun, setiap kali ia datang, ia selalu diseret keluar oleh petugas keamanan atas perintah dingin Kaelthas: “Buang wanita sampah ini dari pandanganku.”
Fragmen Ketiga: Puncak Tragedi di Gudang Tua
Memori terakhir adalah yang paling mengerikan. Ceisya melihat sebuah gudang tua yang pengap, berbau karat dan darah. Di sana, Ceisyra yang sudah kurus kering dan tak berdaya diikat di sebuah kursi besi. Di depannya berdiri seorang pria dengan aura kegelapan yang pekat, memiliki tato ular di leher dan tatapan haus darah yang mengerikan.
Axton. Sang antagonis kedua yang merupakan musuh bebuyutan Kaelthas. Axton menculik Ceisyra hanya untuk memeras Kaelthas. Namun, saat Axton menelepon Kaelthas dan mengancam akan membunuh tawanannya, suara Kaelthas di seberang telepon terdengar sangat datar, tanpa emosi sedikit pun:
“Bunuh saja dia. Aku tidak peduli pada wanita sampah itu. Kematiannya justru akan membersihkan namaku.”
kok kejam amat
menarik banget alurnya 😃
seperti biasa kutunggu cerita tamat dulu baru ku baca