NovelToon NovelToon
Cegilnya Mas Ajudan

Cegilnya Mas Ajudan

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Menikahi tentara / Duniahiburan
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Sebagai putri anggota DPR sekaligus model papan atas, Aurora Widjaja punya segalanya. Namun, hatinya justru jatuh pada Langit Ardiansyah, ajudan sang ayah yang kaku, dingin, dan sangat terikat protokol.
Bagi Langit, Aurora adalah tanggung jawab yang harus dijaga. Bagi keluarga Widjaja, hubungan dengan ajudan adalah skandal yang harus dihindari. Namun bagi Aurora, aturan dan kasta hanyalah rintangan yang siap ia tabrak.
Saat dunia melarangnya mendekat, Aurora justru memilih maju. Karena bagi seorang Aurora, mencintai Langit bukan lagi soal status, tapi soal hati yang sudah jatuh sedalam-dalamnya—to the bone.
“Mas Langit nggak usah repot-repot jaga jarak. Mau sejauh apa pun Mas lari, tujuannya tetep cuma satu: Jadi imam aku.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5

Malam di kediaman Widjaja selalu terasa lebih sunyi dibandingkan riuhnya siang hari. Cahaya lampu taman yang temaram menciptakan bayangan panjang di antara pepohonan palem yang berjajar rapi. Di teras paviliun khusus staf pengamanan, Langit Ardiansyah duduk sendirian di atas kursi kayu panjang.

Kedua tangannya bertumpu pada lutut, jemarinya saling bertautan. Matanya menatap jauh ke arah langit malam yang bertabur bintang. Bintang-bintang itu berkedip banyak, seolah sedang menertawakan kekacauan pikiran pria yang biasanya dikenal sedingin es ini.

Ingatan Langit berputar kembali ke kejadian beberapa jam yang lalu. Ia masih bisa merasakan bagaimana suasana hati Aurora yang berubah drastis dari matahari pagi yang menyilaukan menjadi badai petir yang menyakitkan. Bayangan saat ia masuk ke kamar Aurora—melihat gadis itu meringkuk rapuh, wajahnya yang pucat tanpa riasan, dan bagaimana matanya yang biasanya jenaka kini basah karena menahan nyeri—terus berputar seperti kaset rusak di kepalanya.

Langit menggelengkan kepalanya kuat-kuat, berusaha mengusir bayangan itu. Fokus, Langit. Dia putri majikanmu. Kamu hanya ajudan, batinnya tegas.

Puk!

Sebuah tepukan mantap mendarat di bahunya, membuat Langit hampir saja melakukan gerakan refleks pertahanan diri sebelum ia menyadari siapa pelakunya.

"Jauh sekali melamunnya, Ngit. Sampai saya jalan ke sini saja kamu tidak dengar," suara berat nan tenang milik Pak Bambang memecah keheningan.

Langit langsung membetulkan posisi duduknya menjadi lebih tegap. "Pak Bambang. Maaf, saya hanya sedang... menghirup udara malam."

Pak Bambang terkekeh pelan sembari menarik kursi kayu di sebelah Langit. Ia menyulut sebatang rokok, asapnya mengepul pelan ditiup angin malam. "Menghirup udara malam atau sedang menghitung berapa kali Non Aurora memanggil namamu hari ini?"

Langit terdiam. Ia tidak pandai bersilat lidah, apalagi dengan senior yang sudah menganggapnya seperti adik sendiri. "Non Aurora memang sedikit... unik, Pak."

"Unik?" Pak Bambang tertawa hingga kumis tebalnya bergetar. "Istilah yang sopan untuk menyebut seorang 'cegil', ya? Saya sudah sepuluh tahun ikut Bapak Anggara, Ngit. Saya sudah lihat Non Aurora tumbuh dari remaja yang hobi bolos sekolah sampai jadi model terkenal seperti sekarang. Tapi baru kali ini saya lihat dia se-agresif ini kepada ajudan ayahnya sendiri."

"Itu hanya main-mainnya saja, Pak. Dia bosan dengan lingkungan sekitarnya, jadi dia menjadikan saya sasaran lelucon," balas Langit datar.

Pak Bambang menghisap rokoknya dalam-dalam, lalu menatap Langit dengan pandangan menyelidik. "Kalau dia cuma main-main, kenapa kamu sampai repot-repot menyiapkan botol air panas dan air hangat untuknya tadi sore? Saya ini sudah tua, mata saya belum lamur. Saya lihat kamu panik pas Mbak Mayang bilang Non Aurora kesakitan."

Langit berdehem, sedikit salah tingkah. "Itu bagian dari tugas, Pak. Jika Non Aurora jatuh sakit, jadwal Bapak Anggara juga bisa terganggu karena harus mengurus urusan domestik. Saya hanya melakukan antisipasi."

"Alasan yang bagus," puji Pak Bambang sarkastik. "Sangat profesional. Tapi Langit, seragam hitam yang kamu pakai itu tidak menutupi fakta bahwa kamu juga manusia. Kamu punya hati, punya rasa iba, dan mungkin... punya rasa tertarik?"

"Pak Bambang, tolong jangan bercanda," potong Langit cepat. "Status kami berbeda jauh. Beliau adalah putri seorang pejabat negara, seorang tokoh publik. Sedangkan saya? Saya hanya prajurit yang ditugaskan menjaga keselamatannya. Ada garis yang tidak boleh saya lewati."

Pak Bambang menghembuskan asap rokoknya ke udara, menatap bintang-bintang yang tadi diperhatikan Langit. "Kamu benar. Garis itu ada. Tapi tahukah kamu? Garis itu dibuat oleh manusia, tapi perasaan... perasaan itu datangnya bukan dari aturan protokol."

Pak Bambang menjeda kalimatnya, suaranya merendah. "Non Aurora itu kesepian, Ngit. Di rumah ini, Bapak sibuk dengan politik. Ibu Melati sibuk dengan yayasan sosialnya. Mas Elang kaku, Haura masih terlalu muda. Aurora itu ceria karena dia butuh perhatian. Dan entah kenapa, sejak kamu datang enam bulan lalu, dia merasa kamu adalah orang yang paling nyata di rumah ini."

"Saya hanya melakukan pekerjaan saya dengan benar, Pak. Tidak lebih," jawab Langit tetap pada pendiriannya.

"Ya, dan itulah yang dia suka," sahut Pak Bambang. "Kamu tidak menjilat seperti staf lain yang takut pada Bapak. Kamu tidak mencoba merayunya karena dia cantik atau kaya. Kamu memperlakukannya seperti tanggung jawab yang berat, dan bagi Aurora yang selalu mendapatkan apa pun dengan mudah, kamu adalah 'tantangan' yang paling jujur."

Langit terdiam, meresapi kata-kata seniornya. Ia teringat kembali ucapan Aurora di balkon studio tadi: "Mas itu nyata. Mas nggak peduli sama status aku..."

"Hati-hati, Langit," lanjut Pak Bambang sambil menepuk lutut Langit. "Jangan terlalu keras membentengi diri. Beton yang terlalu kaku malah lebih mudah retak saat terkena guncangan. Kalau kamu memang tidak punya rasa, ya sudah, abaikan saja. Tapi kalau kamu mulai merasa 'sesuatu', sebaiknya kamu bersiap. Karena Non Aurora kalau sudah mau satu hal, dia tidak akan berhenti sampai dia mendapatkannya. Dia itu persis Bapak, tapi versi lebih keras kepala."

"Saya tahu risiko saya, Pak. Jika hal ini mulai mengganggu profesionalisme, saya sendiri yang akan meminta mutasi kepada Bapak Anggara," ucap Langit tegas.

Pak Bambang tertawa kecil, kali ini ada nada prihatin dalam tawanya. "Mutasi? Kamu pikir kamu bisa lari dari Aurora Widjaja? Dia akan mengejarmu sampai ke ujung dunia kalau perlu. Lebih baik kamu belajar cara 'menjinakkan' badainya daripada mencoba lari."

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar mendekat ke arah paviliun. Bintang, si ajudan baru, muncul dengan wajah sumringah namun tampak sedikit lelah.

"Masih belum tidur, Pak? Bang Langit?" sapa Bintang sambil menyeka keringat di dahinya.

"Baru saja mau bubar. Gimana tugasmu, Bin? Aman?" tanya Pak Bambang.

"Aman, Pak. Tapi tadi saya dipanggil Non Aurora sebentar ke depan kamarnya," jawab Bintang.

Langit seketika menajamkan pendengarannya, meski matanya tetap menatap lurus ke depan.

"Ngapain?" tanya Pak Bambang penasaran.

"Cuma titip pesan buat Bang Langit," Bintang melirik Langit dengan senyum penuh arti. "Katanya, 'Bilang sama Mas Langit, botol air panasnya sangat membantu. Tapi kalau besok pagi Mas Langit nggak senyum pas buka pintu mobil, aku bakal adukan ke Papa kalau Mas Langit nakalin aku.' Gitu katanya, Bang. Galak juga ya Non Aurora kalau lagi sakit."

Pak Bambang tertawa terbahak-bahak sampai terbatuk, sementara Langit hanya bisa menghela napas panjang sambil memijat keningnya.

"Dengar itu?" bisik Pak Bambang di telinga Langit sebelum berdiri untuk masuk ke dalam. "Itu bukan cuma ancaman, itu pengumuman perang cinta. Selamat berjuang, 'Mas Kesayangan'."

Pak Bambang dan Bintang masuk ke dalam paviliun, meninggalkan Langit sendirian lagi di teras. Langit menatap bintang-bintang untuk terakhir kalinya malam itu. Ia membayangkan wajah Aurora yang tadi sore meringkuk lemah, kini pasti sudah punya tenaga lagi untuk merancang rencana "nakal" untuk besok pagi.

Langit berdiri, merapikan kemeja safarinya yang sebenarnya tidak kusut. Ia tahu, mulai besok, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Tugasnya bukan lagi sekadar menjaga keamanan fisik sang putri majikan, tapi menjaga hatinya sendiri agar tidak ikut terjatuh ke dalam pesona "cegil" kelas atas itu.

"Besok jam sembilan kurang lima menit," gumam Langit pelan, mengingat jadwal yang sudah ia janjikan.

Ia masuk ke kamarnya, namun sebuah senyum tipis—sangat tipis hingga hampir tak terlihat—akhirnya muncul di wajah sang ajudan kaku itu. Sebuah senyum yang ia sendiri tidak sadar telah ia lepaskan di tengah kesunyian malam.

1
Rita Rita
sabar ya Ra,,, cinta seorang bapak itu beda, bapak mu mungkin belajar dari kasus si Sahroni dan teman temannya dulu sebagai anggota DPR 🤭🤣
Istrinya _byeonwooseok💃: heh🤣 nanti ditempeleng Anggara loh kak😄
total 1 replies
Lulukdicka Dicka
🤣🤣🤣
aurora gitu dechhhh
Lulukdicka Dicka
🤣🤣🤣🤣🤣
penyelamatttt
apiii
kapan jinaknya ini bapak"🤣
Rita Rita
🤭🤣🤣 Aurora bikin mas ajudan hidup terasa mati tapi mati paling nikmat, AQ aja berasa Jak jek Jak jantung baca aksi nekad Aurora 🤣😍😍
Istrinya _byeonwooseok💃: tungguin gebrakan Aurora selanjutnya ya kak🤣🙏
total 1 replies
Yosi Indah
alur dan penulisannya bagus, lanjut kak 😍
Istrinya _byeonwooseok💃: hehe maaciw😍
total 1 replies
apiii
si cegil makin cegil🤣
Fitri Yama
Mereka ngapain Thor??main kuda2 an kah???
Istrinya _byeonwooseok💃: belom sampe itu padahal 🤣
total 1 replies
Rita Rita
kasihan dengan dua anak manusia yg sama Dimata tuhan tapi sangat berbeda Dimata manusia yg punya pangkat dan jabatan. cinta terhalang kasta dan restu,,
apiii
lebih ganas ternyata dari singa nasution🥲
Istrinya _byeonwooseok💃: no no jangan disamain ya. yang ini diam-diam menghanyutkan 🤭🙏
total 1 replies
apiii
semangat ya cegil dan mas langit💪
apiii
demi apapun kagetttt🤣
Istrinya _byeonwooseok💃: jangan kaget ya sama cegil🤭
total 1 replies
apiii
akhirnya ya
apiii
semangat cegilll🤣
apiii
berhasil gasihh si cegil ini🤣
SuryaDharma S
bagus sich ceritanya...
apiii
kerja bagus kejar terus cegill
English Lesson
😍
English Lesson
bagus👍🏻
falea sezi
lanjut donk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!