Hati Naomi hancur saat suaminya Zayn, tega menceraikannya karena dirinya melahirkan bayi sumbing. Padahal Zayn dan keluarganya adalah keluarga dokter, mereka harusnya lebih mengerti dari orang lain.
Setelah pulih dari pasca persalinan, Naomi diusir dari keluarga Hartanto. Ia mengurus bayinya yang sumbing sendirian. Naomi bekerja banting tulang demi kebutuhan anaknya. Seiring berjalannya waktu, bayi Naomi yang diberi nama Davin itu terus tumbuh, ia bahkan mendapatkan operasi yang membuatnya bisa tumbuh seperti anak normal lain. Bibir Davin tak lagi sumbing, dia bahkan terbilang punya wajah tampan. Selain itu Davin juga menjadi anak yang sangat jenius! Mendapat banyak prestasi dan selalu membuat Naomi bangga. Saat itulah Zayn tiba-tiba kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20 - Perawatan
Di ruang pemulihan, suasana masih dipenuhi bau antiseptik yang khas. Naomi duduk di samping ranjang kecil Davin, matanya tak pernah lepas dari wajah bayi itu. Setiap gerakan kecil, setiap suara lirih, membuat jantungnya ikut berdebar.
Tak lama kemudian, pintu terbuka pelan. Junie masuk. Masih dengan ekspresi lelah, tapi lebih santai dibanding sebelumnya. Ia berjalan mendekat, melihat kondisi Davin, lalu menatap Naomi. “Gimana?” tanyanya.
Naomi mengangguk. “Masih nangis sedikit… tapi sudah lebih tenang.”
Junie ikut mengangguk. “Itu normal.”
Ia kemudian menarik kursi, duduk di dekat Naomi. Nada suaranya berubah lebih serius, menandakan ada hal penting yang akan disampaikan.
“Sekarang justru bagian pentingnya dimulai,” ucap Junie.
Naomi langsung fokus. “Perawatannya ya, Dok?”
Junie mengangguk.
“Kamu harus benar-benar hati-hati,” lanjutnya. “Hal pertama… usahakan Davin tidak terlalu sering menangis.”
Naomi langsung mengerutkan kening. “Kenapa, Dok?”
“Karena tekanan saat menangis itu bisa memengaruhi jahitan,” jelas Junie. “Kalau terlalu sering atau terlalu kuat, ada risiko jahitannya terbuka.”
Jantung Naomi langsung berdegup lebih cepat. “Oh…”
“Makanya kamu harus cepat respon kalau dia mulai rewel,” tambah Junie. “Tenangkan secepat mungkin.”
Naomi mengangguk cepat.
“Lalu soal feeding,” lanjut Junie. “Ini juga harus hati-hati. Jangan sampai posisi menyusui memberi tekanan ke area luka.”
Naomi menelan ludah. “Berarti… harus posisi tertentu ya, Dok?”
“Iya,” jawab Junie. Ia kemudian menjelaskan dengan detail. Posisi yang aman. Cara menopang kepala bayi. Bahkan cara memastikan cairan tidak mengenai luka terlalu sering.
Naomi mendengarkan dengan sangat serius. Seolah setiap kata adalah petunjuk hidup.
“Dan satu lagi,” kata Junie. “Kebersihan luka.”
Naomi langsung menatapnya.
“Kamu harus rutin membersihkan area itu. Minimal dua kali sehari. Pakai cairan yang nanti kita resepkan,” jelasnya. “Kalau ada tanda kemerahan berlebih, bengkak, atau keluar cairan aneh… langsung datang ke sini.”
“Iya, Dok,” jawab Naomi mantap.
Junie menatapnya beberapa detik. Lalu suaranya sedikit melunak. “Kamu nggak sendirian,” katanya. “Saya akan kontrol Davin secara rutin.”
Naomi terdiam. “Aku…” suaranya sedikit bergetar. “Terima kasih, Dok…”
Junie hanya mengangguk kecil. “Itu memang tugas saya.”
Namun keduanya tahu itu lebih dari sekadar tugas.
“Dan nanti,” lanjut Junie, “sekitar dua minggu lagi, kita akan lepas jahitannya.”
Naomi langsung menegang sedikit. “Sakit nggak, Dok?”
Junie tersenyum tipis. “Nggak akan sesakit yang kamu bayangkan.”
Naomi menghela napas lega. Hari-hari setelah itu kembali menjadi perjuangan baru. Namun kali ini, bukan lagi tentang mengejar berat badan. Melainkan menjaga hasil yang sudah didapat.
Naomi menjadi jauh lebih waspada. Setiap tangisan kecil Davin langsung membuatnya bergerak cepat.
“Ssst… iya… iya…” bisiknya lembut sambil menggendong. Ia belajar mengenali setiap jenis tangisan. Mana yang lapar, mana yang tidak nyaman, mana yang hanya butuh pelukan.
Tidurnya makin berkurang. Bahkan lebih dari sebelumnya. Karena kini, dia tidak hanya lelah tapi juga takut. Takut kalau dirinya terlambat. Takut kalau dia salah. Takut kalau jahitan itu terbuka. Namun di balik semua itu, ada perkembangan kecil yang membuatnya bertahan.
Hari ke-3, Davin mulai lebih tenang. Hari ke-5, pembengkakan mulai berkurang. Hari ke-7, luka mulai terlihat lebih rapi. Setiap perubahan kecil itu seperti hadiah bagi Naomi.
“Bagus… bagus…” bisiknya setiap kali melihat wajah anaknya.
Junie juga rutin mengecek. Kadang Naomi datang ke klinik. Kadang hanya konsultasi lewat telepon.
“Perkembangannya bagus,” tutur Junie suatu hari. “Kamu rawat dengan baik.”
Naomi tersenyum kecil. “Saya cuma mengikuti arahan Dokter.”
“Dan kamu melakukannya dengan benar,” balas Junie.
Dua minggu berlalu. Hari pelepasan jahitan tiba. Naomi kembali duduk di ruang yang sama. Jantungnya tetap berdebar. Meski kali ini bukan karena takut kehilangan tapi takut melihat.
“Tenang saja,” imbuh Junie.
Prosesnya berlangsung cepat. Naomi menahan napas saat melihat satu per satu jahitan dilepas. Davin sedikit merengek. Tapi tidak sampai menangis keras.
Ketika semuanya selesai, Naomi menatap wajah anaknya. Ia terdiam. Benar-benar diam. Bibir itu sudah menyatu. Garisnya halus. Hampir tidak terlihat bekasnya. Air mata langsung jatuh.
“Ya Tuhan…” Naomi terisak. Tangannya gemetar saat menyentuh pipi Davin. “Ini… ini anakku…” suaranya pecah.
Junie berdiri di samping, memperhatikan reaksinya. “Operasinya berhasil dengan sangat baik,” imbuhnya pelan.
Naomi menatapnya. “Bukan cuma berhasil, Dok…” ia menggeleng pelan. “Ini… sempurna.”
Junie tersenyum kecil.
Beberapa minggu berikutnya, wajah Davin semakin membaik. Bekas luka memudar. Garisnya semakin halus. Bahkan orang yang baru melihat tidak akan menyangka bahwa bayi itu pernah terlahir dengan kondisi sumbing.
Naomi sering menatap wajah itu lama-lama. Seolah tidak percaya.
“Sekarang kamu… sama seperti anak lain,” bisiknya.
Namun baginya, Davin selalu istimewa. Dari awal.
...***...
Langit biru, laut yang tenang, dan sebuah resort mewah yang disulap menjadi lokasi pernikahan.
Zayn berdiri di depan cermin besar. Mengenakan setelan jas putih yang elegan. Rambutnya ditata rapi. Penampilannya sempurna.
Tapi matanya masih menyimpan sesuatu. Pintu terbuka. Ratna masuk. “Kamu sudah siap?” tanyanya.
Zayn mengangguk pelan.
“Ini hari penting kamu,” ucap Ratna. “Jangan kelihatan murung.”
Zayn menarik napas panjang. “Iya, Mah.”
Di luar, tamu mulai berdatangan. Semua kalangan atas. Semua tersenyum, berbicara, menikmati suasana.
Anggun muncul dengan gaun pengantin yang mewah. Cantik dan anggun. Sesuai namanya. Semua mata tertuju padanya.
Zayn melihatnya. Untuk sesaat, ia mencoba mengosongkan pikirannya. Tidak ada masa lalu. Tidak ada bayangan Naomi. Tidak ada tangisan Davin. Hanya sekarang.
Pernikahan dimulai. Janji diucapkan. Cincin dipasang. Tepuk tangan terdengar.
Zayn tersenyum. Kini senyum itu terasa tidak sepenuhnya dipaksakan.
Mungkin ini jalannya. Mungkin ini takdirnya. Saat malam tiba, pesta berlangsung lebih santai. Musik mengalun. Lampu-lampu menghiasi suasana.
Zayn berdiri di balkon, melihat laut.
Anggun mendekat. “Kamu kenapa di sini?”
Zayn menoleh. Lalu tersenyum kecil. “Cuma… nikmatin suasana.”
Anggun menggenggam tangannya. “Mulai sekarang… kita berdua ya.”
Zayn menatapnya. Beberapa detik. Lalu mengangguk.
“Iya.”
"Oh nggak. Maksudku bertiga," ralat Anggun sambil mengusap perutnya.
"Kau benar." Zayn tersenyum seraya melirik perut Anggun yang masih rata.
bahkan aq baca dri awal sampai sekarang sering nangesss,
😭😭 soalnya gak gampang ngurus bayi seperti Davin..
semngatt kak dan sukses selalu novelmu 🥰🥰😘😘