NovelToon NovelToon
ISTRI JAMINAN CEO

ISTRI JAMINAN CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Balas Dendam
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Gendis Pitaloka

Demi membebaskan Ayahnya yang dijebak ke penjara, Kanaya terpaksa setuju dijadikan jaminan perusahaan dan menikah dengan Arkananta, CEO angkuh dari kalangan terpandang.

​Hidup Kanaya hancur seketika. Di saat ia harus menghadapi pernikahan kontrak yang dingin, ia justru mendapati kekasihnya berselingkuh. Penderitaannya memuncak saat ia dinyatakan hamil, namun di saat yang sama ia mengetahui fakta pahit. Arkan-lah pria yang telah menjebak ayahnya demi bisa memilikinya.

​"Kita cerai! Aku bukan barang yang bisa kamu beli!"

​Kanaya memilih pergi membawa kandungannya. Namun, sang CEO tidak tinggal diam. Ia akan melakukan apa pun untuk menyeret kembali wanita yang dianggap sebagai miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gendis Pitaloka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Permainan Di Balik Bayangan

​"Mbak, cepat! Mobil Ibu Sofia baru saja keluar dari basement."

​Janu membisikkan instruksi itu sambil menarik lengan Kanaya menuju pintu kecil di balik area dapur yang jarang dilewati pelayan. Naya hanya mengenakan jaket bertudung gelap, berusaha menyembunyikan wajahnya dari setiap sudut kamera yang mungkin terlewat.

​"Jalur pembuangan limbah ini aman, kan, Janu? Kamu yakin sensornya tidak akan berbunyi?" tanya Naya dengan suara tertahan.

​"Saya sudah mematikan sirkuitnya selama lima belas menit. Setelah Mbak lewat, saya harus menyalakannya lagi agar pusat kendali tidak curiga. Mbak harus lari begitu sampai di pintu keluar darurat," Janu menyerahkan sebuah kunci akses cadangan yang sudah usang.

​"Terima kasih, Janu. Aku tidak akan melupakan ini."

​"Jangan berterima kasih sekarang, Mbak. Kalau Mbak tidak kembali dalam tiga jam, saya yang akan melaporkan diri saya sendiri ke polisi sebelum Arkan membunuh saya. Sekarang Mbak jalan!"

​Naya melangkah masuk ke lorong yang sempit dan pengap. Udara di sana berbau bahan kimia dan debu, jauh dari kemewahan lantai atas apartemen Arkan. Ia menuruni tangga besi dengan terburu-buru, jantungnya berdegup kencang setiap kali mendengar suara mesin lift di kejauhan. Begitu sampai di area bongkar muat, ia melihat sebuah taksi tua sudah menunggu di dekat tumpukan kardus bekas.

​"Ke gedung tua di Jalan Veteran, Pak. Cepat," perintah Naya begitu masuk ke taksi.

​Gedung tua peninggalan kakek Arkan berdiri angkuh namun terbengkalai. Di belakangnya, sebuah kafe kecil yang hampir tutup tampak sangat sepi. Naya masuk dan langsung melihat seorang pria tua duduk di sudut paling gelap, menatap keluar jendela. Pak Baskoro.

​"Kamu terlambat tiga menit, Kanaya," ucap Pak Baskoro tanpa menoleh.

​"Maaf, Pak. Keluar dari penjara Arkan tidak semudah yang saya bayangkan," Naya duduk di hadapannya tanpa memesan minuman.

​Pak Baskoro menoleh, menatap Naya dengan mata yang tajam namun penuh rasa iba. "Arkan mewarisi sifat ayahnya yang paling buruk. Dia tidak hanya ingin menang, dia ingin menghancurkan lawan hingga tidak tersisa satu sel pun."

​"Anda bilang punya bukti bahwa Arkan menjebak Ayah saya. Di mana bukti itu?"

​Pak Baskoro mengeluarkan sebuah amplop cokelat besar dari bawah meja. "Di dalam sini ada audit tandingan. Arkan menyuap akuntan internal perusahaan ayahmu, seorang pria bernama Hendra. Hendra memalsukan tanda tangan ayahmu dalam surat pengakuan hutang fiktif senilai lima miliar."

​Naya gemetar saat membuka isi amplop itu. Matanya menyisir angka-angka yang tertera. "Jadi... hutang itu tidak pernah ada? Ayah saya tidak pernah meminjam uang itu?"

​"Ayahmu meminjam uang untuk ekspansi, tapi jumlahnya tidak sampai lima miliar. Arkan menambahkan angka nol dan mengubah bunga pinjamannya lewat dokumen palsu. Dia ingin ayahmu bangkrut agar dia bisa mengambil alih lahan di Jakarta Pusat itu untuk proyek residensial mewahnya."

​"Bajingan... jadi selama ini aku menikah dengan orang yang menciptakan neraka bagi keluargaku sendiri?" Naya meremas kertas di tangannya hingga koyak.

​"Bukan hanya itu, Kanaya. Lihat lembar terakhir. Arkan yang mematikan alat komunikasi ayahmu saat malam serangan jantung itu terjadi. Dia tahu ayahmu sedang kritis di kantor, tapi dia menyuruh pengawal untuk memutus jaringan telepon agar bantuan datang terlambat. Dia ingin ayahmu tidak berdaya, atau mati, agar posisi pemimpin kosong."

​Naya menutup mulutnya, air matanya jatuh tanpa suara. "Dia mencoba membunuh Ayah... demi sebidang tanah?"

​"Demi kekuasaan, Nak. Baginya, manusia hanya angka dalam neraca. Sekarang, apa yang akan kamu lakukan dengan bukti ini? Jika kamu membawanya ke polisi sekarang, Arkan punya pengacara yang bisa membalikkan keadaan dalam satu jam."

​"Lalu saya harus apa, Pak?"

​"Tetaplah di sana. Jadilah istri yang patuh. Tunggu sampai rapat pemegang saham bulan depan. Di sana, aku akan mendukungmu. Kita butuh saksi kunci ia adalah Hendra. Masalahnya, Hendra sekarang disembunyikan oleh Arkan di sebuah villa di Bogor."

​"Saya tahu di mana itu! Arkan pernah menyebut soal 'aset di Bogor' saat dia mengancamku," Naya teringat percakapan tempo lalu.

​"Jangan gegabah. Kamu tidak bisa ke sana sendiri. Simpan dokumen ini di tempat yang paling aman. Jika Arkan tahu kamu memegangnya, dia tidak akan segan-segan melenyapkanmu."

​Naya kembali ke apartemen lewat jalur yang sama. Janu sudah menunggunya dengan wajah yang hampir menangis karena ketakutan.

​"Mbak! Mbak dari mana saja? Ibu Sofia sudah kembali dari spa lebih awal karena perutnya tidak enak!"

​"Apa dia mencariku?" Naya menyembunyikan amplop cokelat itu di dalam jaketnya.

​"Beliau tanya kenapa kamar Mbak dikunci. Saya bilang Mbak sedang tidur karena sakit kepala. Tapi beliau sekarang sedang berdiri di depan pintu kamar Mbak! Cepat masuk lewat jendela balkon luar!"

​Naya memanjat pagar balkon servis dengan susah payah, dibantu oleh Janu. Begitu ia mendarat di balkon kamarnya, ia segera melepas jaket dan melompat ke bawah selimut.

​Tok! Tok! Tok!

​"Naya! Keluar! Jangan pura-pura mati di dalam sana!" suara Sofia menggelegar dari balik pintu.

​Naya membuka kunci pintu dengan wajah yang dibuat-buat mengantuk dan kuyu. "Ada apa, Ibu Mertua? Kepalaku sangat pening."

​Sofia masuk dengan langkah kasar, matanya menyapu seluruh ruangan. "Sakit kepala atau sengaja menghindariku? Kamu tidak masak makan siang!"

​"Aku tidak nafsu makan. Silakan panggil pelayan saja," jawab Naya datar.

​Sofia mendekati tempat tidur Naya, hidungnya mengendus udara. "Kenapa bau asap knalpot dan debu di ruangan ini? Kamu membuka jendela balkon?"

​"Aku butuh udara segar. Apartemen ini terasa seperti peti mati," sahut Naya tanpa berkedip.

​"Lancang sekali bicaramu! Masuk ke kamar mandi, cuci wajahmu, dan temui aku di ruang makan dalam sepuluh menit. Ada tamu dari keluarga Arkan yang ingin melihat kondisimu," Sofia mendengus lalu keluar.

​Begitu Sofia pergi, Naya segera mengunci pintu kembali. Ia mengeluarkan amplop itu dan menyelipkannya di balik album foto ibunya—satu-satunya benda yang Sofia tidak akan sudi untuk menyentuhnya.

​"Hendra di Bogor," bisik Naya. "Aku harus menemukan pria itu."

​Malam harinya, Arkan menelepon lagi. Kali ini suaranya terdengar lebih curiga.

​"Naya, Janu bilang kamu tidur sepanjang hari. Apa itu benar?"

​"Kenapa? Kamu tidak percaya pada asisten kesayanganmu?" Naya menatap kamera ponsel dengan tatapan menantang.

​"Aku percaya pada data, Naya. Dan sensor di lift menunjukkan ada aktivitas di jalur servis tadi pagi. Kamu tahu sesuatu tentang itu?"

​Naya membeku sejenak, tapi ia segera menguasai diri. "Mungkin pelayan yang membuang barang-barangku atas perintah ibumu. Kamu tahu kan, ibumu suka sekali membuang 'sampah' di rumah ini."

​Arkan terdiam di seberang sana. Naya bisa melihat pria itu menyipitkan mata. "Begitu? Baguslah kalau memang begitu. Aku akan pulang besok pagi. Siapkan dirimu, kita ada janji temu dengan dokter spesialis untuk ayahmu."

​"Benarkah? Kamu akan membawaku menemui Ayah?"

​"Tentu. Bukankah aku suami yang baik? Tapi ingat, Naya... jangan sepatah kata pun keluar dari mulutmu soal apa pun yang terjadi di rumah ini. Satu keluhan saja pada ayahmu, dan aku akan memastikan dia tidak bangun lagi dari tidurnya."

​"Aku mengerti, Arkan. Aku akan diam."

​"Bagus. Sampai jumpa besok, Sayang."

​Setelah telepon mati, Naya meremas ponselnya. Ia tahu Arkan sedang menjebaknya. Janji bertemu dokter spesialis itu pasti hanya taktik untuk mengetes kesetiaannya.

​"Kamu ingin aku diam, Arkan?" gumam Naya sambil menatap album foto yang menyembunyikan bukti kejahatan suaminya. "Aku akan diam. Sangat diam sampai saatnya aku meledakkan seluruh duniamu di depan semua orang."

​Naya berdiri dan menatap pintu kamarnya. Ia harus memberitahu Janu. Pria itu harus memilih pihak sekarang, tetap menjadi anjing penjaga Arkan, atau membantunya menemukan Hendra di Bogor.

​"Janu," Naya memanggil asisten itu lewat pesan singkat di ponsel cadangan yang diberikan Janu semalam. "Besok kita ke Bogor. Kamu yang harus menyetir. Jika tidak, aku akan menyerahkan rekaman CCTV saat kamu memberiku kunci akses tempo hari ke Arkan."

​Jawaban masuk semenit kemudian: Mbak, ini bunuh diri.

​Naya membalas: Kita sudah mati, Janu. Sekarang tinggal memilih mau mati sebagai pahlawan atau sebagai pecundang.

​Keheningan melanda apartemen malam itu. Naya tahu, besok saat Arkan pulang, permainan catur ini akan memasuki babak paling berdarah. Dan kali ini, ia tidak akan membiarkan Arkan memakan bidaknya lagi.

1
Fitri Zee
wih galak woy
Fitri Zee
hai aku mampir
Gendis Pitaloka: Hai.. terimakasih ya sudah mampir semoga suka dengan cerita nya ❤️
total 1 replies
sindi
thor, lanjut nulisnya udah gasabar lagi baca kelanjutannya
Gendis Pitaloka: Besok pagi update lagi,masih di ketik ini 😁
total 1 replies
fara sina
Lanjut kak. semangat terus nulisnya 🥰🥰🥰
Gendis Pitaloka: Harus selalu semangat 🤩
total 1 replies
fara sina
sudah kuduga emang Arkan sengaja biarin kamu gitu nay. duhhh mnaa ini kedua kalinya kamu gini nay.
fara sina
malah aku mikir justru Arkan sengaja membiarkan kamu masuk ke kantornya hari itu. pls jangan gegabah lagi nay.
fara sina
waduh, aku pikir bakal bela Kanaya ternyata gini. ibunya Arkan juga perlakuan ke Kanaya terlalu merendahkan. semoga cepet selesai kontraknya nay. pasti gabetah ngadepin kehidupan kaya gini
fara sina
💪💪💪 semangat.btw kamu seyakin ini nay? urusannya sama Arkan. tapi aku masih bingung sama Arkan sebenernya baik apa jahat
fara sina
Arkan emang CEO pria jenius pantes dijuluki. gini ajah gerak Kanaya udah ketebak 🤭
fara sina
belajar dari kesalahan nay
fara sina
hampir ajah Kanaya percaya. bau bau Arkan sebenernya ga jahat
fara sina
kan jadi gini😭 Arkan serem ya kalo marah begini
fara sina
tetep waspada nay.
fara sina
menarik nih. bagus
fara sina
bahaya kalo jebakan jangan kesana sendirian nay. takutnya mata mata komisaris yang jahat
fara sina
aktingnya keren banget ya Arkan
fara sina
waduh ada skenario lengkap nay kamu siap siap jadi aktris lagi yang di sutradara Arkan 😭
fara sina
hati hati Kanaya jangan sendirian bahaya
fara sina
sudah kuduga sepertinya Arkan gak sejahat yang dikira kamu Naya.
fara sina
anggapa ajah kamu sedang kerja untuk Arkan. Harus professional. gausah dimasukin ke hati omongan yang nyakitin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!