Maura, seorang gadis yang terpaksa harus menikah dengan seorang pengusaha muda yang ternyata adalah bos tempat dimana dia mencari nafkah.
semua berawal dari minuman, Maura yang saat itu sedang memergoki ke kasihnya sedang berselingkuh dan bercinta dengan sahabatnya sendiri sungguh sangat frustasi dan memutuskan untuk pergi ke club dan meminum alkohol di sana.
tetapi sayangnya itu justru membawa pengaruh buruk untuknya, akibat mabuk dia salah masuk apartemen.
Bukannya melakukan hubungan terlarang, Maura justru menghajar pria tersebut hingga dia berakhir di penjara.
untuk bisa keluar dari sel tahanan tersebut, Jo memberikan syarat, yaitu harus menjadi kekasih sekaligus calon istri penggantinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon na4vR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part. 35. Resepsi
Tepukan riuh dari para tamu undangan pun terdengar, mereka tidak menyangka bahwa kedua orang itu akan bersanding di pelaminan. Namun meskipun demikian, para tamu undangan tidak boleh di ijinkan mengambil gambar selain fotograper.
Rupanya ada dua pasang mata yang memperhatikan sepasang pengantin dengan intens. Berbagai macam perasaan mereka rasakan.
"Kenapa, kamu marah melihat mereka berdua sudah resmi menikah?" tanya Cilla menatap Kevin yang sedari tadi pandangannya tidak beralih dari Maura yang sedang menyalami para tamu undangan.
Bahkan senyuman bahagia menghiasi wajah wanita itu, Kevin menahan geram. Karena wanita yang selalu tersenyum untuknya kini tersenyum untuk pria lain.
Amarah Kevin tak terkendali saat mendapat undangan di kantor, nama Maura dan Joe terpampang jelas di kartu undangan yang baru saja ia terima dua hari yang lalu.
Dengan emosi pria itu menggenggam dengan erat dan membantingnya ke lantai.
"Sialan.."umpat Kevin geram.
Karena tak mendapat sahutan dari kekasihnya, Cilla mendesah pelan. Dia juga sebenarnya marah dengan keadaan ini, ia sangat membenci Maura. Karena setiap apa yang dia mau selalu Maura yang mendapatkan nya sehingga ia sangat iri dengan sahabatnya itu.
Dulu ia sangat menyukai Kevin, namun sayangnya malah Maura yang mendapatkannya. Akhirnya dengan menghalalkan berbagai cara yang ia mau, yaitu dengan memberikan tubuhnya pada Kevin yang ternyata memiliki nafsu seks yang tinggi. Namun hanya dia yang mampu melayani nya karena Maura selalu menolak.
Maura dan Joe masih terus menyalami para tamu undangan yang masih terus berdatangan, senyum bahagia masih terukir di wajah mempelai. Maura yang sedari tadi berdiri mulai merasa lelah.
Apa lagi heels yang ia pakai lumayan tinggi, membuat ia merasa tak nyaman. Pasalnya Maura menggunakan heels hanya tiga sentimeter, tapi kali ini ia harus menggunakan heels tujuh sentimeter.
Joe mendekatkan wajahnya ke telinga Maura dan berbisik.."Kamu lelah,ya?"
"Huum, pegal banget dari tadi berdiri terus.. Berasa kek patung, udah pengen lempar aja ini heels.."gerutu Maura.
Untungnya para tamu undangan yang menyalami mereka sudah mulai berkurang.
"Sabar ya, bentar lagi selesai..kita akan istirahat.."bisik Joe sambil menggenggam lembut tangan Maura.
Dan kini keduanya tengah beristirahat di sebuah ruangan, setelah sebelumnya mereka berganti pakaian. Mereka di minta beristirahat terlebih dahulu untuk persiapan acara resepsi hingga nanti malam.
Karena sepertinya resepsi pernikahan akan berakhir tengah malam. Para tamu undangan yang hadir pun belum semua baru setengahnya saja.
"Maura.."panggil Joe saat mereka sedang duduk di sofa.
Maura terlihat sedang memejamkan matanya, mengantuk. Sepertinya ia sangat kelelahan dan ngantuk juga, karena ia harus bangun lebih pagi untuk di rias serta menyiapkan segalanya.
Melihat pemandangan itu membuat Joe merasa bersalah karena mengadakan pesta yang megah. Sehingga membuat Muara yang sudah resmi jadi istrinya kelelahan.
"Kamu tidur?"
"Ngga cuma mau pejamkan mata sebentar saja, ada apa?"
"Kalau lelah kamu bisa tidur saja sebentar, kita masih punya waktu dua jam lagi.."tawar Joe karena tidak tega melihat istrinya kelelahan.
"Ngga usah, cukup begini aja!! Kalau aku tidur nanti riasaan nya rusak.."
Entah dari mana mulutnya dan tanpa menyadari Maura memanggil Joe dengan sebutan aku dan kamu. Tidak bos lagi, tentu membuat Joe sangat senang sekali.
Joe tidak tega melihat posisi tidur istrinya, ia pun menyederkan kepala Maura ke bahunya. Agar istrinya merasa nyaman.
"Kamu bisa bersandar di bahuku saja!! Bahu ku sekarang bisa jadi sandaran mu.."
Ucapan Joe membuat istrinya terkekeh geli, lalu kembali memejamkan matanya sejenak. Hanya untuk mengusir rasa kantuk yang menyerangnya, memejamkan mata sambil menikmati sandaran di bahu pria yang sekarang menjadi suaminya.
"Ternyata begini rasanya bersandar di bahu suami, nyaman."
Maura kembali terkekeh dan entah perasaan apa yang menghampiri hatinya.
Kekehan geli Maura menular pada Joe, sejenak kedua nya melupakan jika pernikahan yang mereka laksanakan hanya formalitas saja. Mereka kompak merasakan perasaan bahagia, namun enggan memeberitahunya.
"Kamu lucu tau ngga?"
Cupp..
Joe yang merasa gemas, malah menghujani pipi Maura dengan kecupan-kecupan singkat.
Tubuh Maura bagai di sengat listrik, merasakan benda kenyal itu mendarat di salah satu pipinya. Perlahan ia membuka matanya dan netranya pun bersitatap dengan Joe, yang tengah menatapnya juga.
Ia ingin menanyakan mengapa dan kenapa? namun tenggorokannya seolah tercekat.
"I love You.. Istri bohongan ku.."ucap Joe sambil tersenyum manis.
Sempat terkejut beberapa saat, namun Maura pun membalas ucapan Joe.
"Love You too.. Suami boongan ku.."
Keduanya pun kompak tertawa geli, hingga tanpa mereka sadar posisi mereka saling berpelukan sekarang.
Semakin malam ternyata acara semakin meriah, tak henti-hentinya para tamu undangan berdatangan. Memberikan ucapan selamat pada kedua mempelai.
Kini giliran Kevin dan Cilla yang menyalami pasangan suami istri tersebut, padahal mereka sudah datang sejak pagi. Tapi baru sekarang mereka memberikan ucapan selamat pada Maura dan Joe.
Keduanya mengantri di baris paling akhir, tidak ada orang lain lagi selain mereka.
Entah harus bersyukur atau gimana, karena waktunya sangat pas.
Cilla yang lebih dulu memberi ucapan selamat pada Joe, jujur saja jika di lihat lebih dekat ternyata sosok bosnya lebih tampan berkali-kali lipat. Rahang yang tegas, sorot mata yang begitu tajam, membuat Cilla hanya mampu meneguk salivanya.
"ish..jangan lama-lama pegang tangan suami gue!! Dia alergian kalau salaman sama cewek gatel kek lo..!!"ucap Maura sinis.
Dengan cepat Maura menghempaskan tangan Cilla yang sedari tadi menempel di tangan suaminya. Enak banget pegang-pegang tangan suami orang di depan bininya, Maura tidak terima itu semua.
Dia akan menjaga apa yang telah menjadi miliknya dan mempertahankan. Meskipun ini hanya pernikahan kontrak saja. Tapi hanya dengan melihat tangan Joe di pegang wanita lain, ia sudah meradang.
Cilla menunduk malu, ternyata Maura yang dihadapannya bukanlah Maura yang ia kenal dulu. Maura yang ia kenal bukan sosok wanita kasar, hanya sedikit bar-bar. Mungkin keadaan yang membuat ia berubah.
Cilla hanya menyalami Maura tapi hanya sebentar, karena wanita itu langsung menarik tangannya seolah jijik bersalaman dengannya.
"Selamat ya, semoga pernikahan kalian langgeng sampai maut memisahkan."ucap Cilla.
Entah itu ucapan tulus atau tidak tapi Maura sudah ngga peduli lagi. Sekali ia di khianati maka tidak akan ada kesempatan datang kedua kali untuk orang yang sama.
"Hmmm.."hanya gumaman jawaban Maura.
Setelah Cilla turun dari pelaminan, kini giliran Kevin yang memberikan ucapan selamat pada kedua mempelai.
Joe menatap Kevin dengan tenang, seolah ia tidak tahu siapa yang ada di hadapannya ini. Namun, amarah tetap jelas nampak dari sorot mata pria yang menjadi bosnya tersebut.