Di alam para Dewa, aturan sudah tertulis sejak zaman dahulu kala: Laki-laki adalah Dewa, Wanita adalah Malaikat. Namun, Lisa adalah pengecualian. Dalam darahnya mengalir kekuatan agung sang Raja Dewa, dan tanda suci terukir di tubuhnya membuktikan dia layak menyandang gelar "Dewa", bukan sekadar "Malaikat".
Sayangnya, dunia tak siap menerima itu. Lisa tumbuh dengan anggun, lemah lembut, namun kesepian. Ayahnya, sang Penguasa Langit, bersikap dingin dan menghilang sejak ia berusia 5 tahun. Lisa mengira dirinya dibenci dan ditolak.
Namun, kenyataannya berbeda. Sang Ayah bukan tak punya hati, ia justru menyembunyikan Lisa demi melindunginya dari kecemburuan dan bahaya maut dari Dewa-Dewa lain. Ketika Lisa dewasa dan menuntut haknya, ia harus menempuh jalan berdarah, menguasai sihir terkuat, dan memimpin perubahan sejarah. Di tengah pertarungan memperebutkan takdir, ia juga akan menemukan cinta, memecahkan kesalahpahaman besar, dan akhirnya mengerti arti pengorbanan sang Ayah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M.Liss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. : 7
Pagi itu berjalan seperti biasa di dalam kelas. Guru menjelaskan tentang formasi dan lingkaran sihir tingkat dasar. Bagi siswa lain mungkin sulit, tapi bagi Lisa? Itu hanya permainan anak-anak. Ia bisa membuat ribuan lingkaran sihir sempurna hanya dengan membayangkannya saja tanpa perlu menggerakkan tangan.
Namun, suasana tenang itu hancur saat bel istirahat berbunyi.
"Psst... psst... beneran gak sih?"
"Iya lah! Saksi mata banyak! Tadi malem Pangeran Kael masuk kamar Lisa sampe lama banget!"
"Gila ya... cewek misterius itu kok bisa deket sama Pangeran sih?"
"Awas aja kalau dia main mata sama Pangeran kita! Fans Kael pasti gak terima!"
Bisikan-bisikan itu terdengar di mana-mana. Dari koridor, kantin, sampai taman sekolah. Hampir seluruh bagian akademi penyihir membicarakan hal yang sama. Lisa menjadi pusat perhatian yang tidak diinginkannya.
Lisa hanya mendengus pelan, tetap tenang memakan rotinya. 'Ribet sekali manusia ini,' batinnya malas.
Sore harinya, saat Lisa kembali ke asrama sendirian seperti biasa, tiba-tiba tiga orang gadis menghadang jalannya di lorong sepi. Mereka adalah kelompok fans fanatik Pangeran Kael yang paling garang.
Salah satu gadis yang berwajah masam melontarkan sebuah kotak kayu kecil ke kaki Lisa dengan kasar.
Buk!
"Dengar baik-baik ya, Si Buta!" celetuk gadis itu sinis. "Jangan merasa menang cuma karena Pangeran Kael sempat masuk kamarmu! Itu cuma karena Pangeran baik hati!"
"Buka tuh kotaknya! Itu hadiah kecil buat peringatan!" teriak temannya sambil tertawa jahat.
Lisa menunduk melihat kotak itu. Dengan santai ia mengulurkan kaki dan mendorong tutup kotak itu terbuka dengan ujung sepatunya.
Isinya... seekor monster kecil yang sudah mati mengerikan, tubuhnya bengkak dan berdarah-darah. Pemandangan yang sangat menjijikkan dan kotor.
Dan di sampingnya ada secarik kertas yang tertulis kasar:
"JANGAN DEKAT-DEKAT SAMA PRINCE KAEL! KALAU BERANI MENDekAT LAGI, NASIBMU AKAN SAMA SEPERTI MONSTER INI! MENINGGAL DENGAN MENYEDIHKAN!"
Gadis-gadis itu menyeringai puas, menunggu reaksi takut atau jijik dari Lisa.
Namun, wajah Lisa tetap datar. Bahkan tidak ada sedikit pun rasa jijik di wajahnya. Yang ada hanyalah tatapan dingin yang membunuh.
"Menjijikkan..." ucap Lisa pelan, suaranya tenang tapi membuat udara di sekitar mendadak beku.
"yang kalian lakukan ini... sangat kotor dan rendahan."
Ceklek.
Lisa menjentikkan jarinya sekali.
SRETTT!! 🔥✨
Tiba-tiba, api biru yang indah namun sangat panas muncul dari dalam kotak itu secara ajaib. Api itu tidak membakar lantai.
Dalam hitungan detik, bangkai monster dan surat itu berubah menjadi abu halus yang beterbangan tertiup angin.
Lisa menatap mereka tajam, matanya di balik penutup mata seolah bisa menembus jiwa mereka.
"Kalian ingin tahu bagaimana caranya menghadapiku?" suara Lisa turun menjadi sangat rendah dan mengerikan.
"Kalian tidak perlu tahu. Karena kalian bahkan tidak pantas untuk menjadi lawanku. Kalian hanyalah semut kecil yang berisik."
Lisa melangkah maju, dan ketiga gadis itu secara reflek mundur ketakutan, tubuh mereka gemetar hebat merasakan aura maut yang keluar dari Lisa.
"Jangan pernah mengotori kakiku dan jalanku dengan hal-hal kotor seperti ini lagi. Karena lain kali... bukan monster ini yang jadi abu. Tapi kalian sendiri yang akan lenyap tanpa sisa."
Glek!
Mereka menelan ludah bersamaan. Wajah mereka pucat pasi, keringat dingin mengalir deras. Rasa sombong dan keberanian mereka hilang seketika digantikan oleh ketakutan yang luar biasa.
Lisa melewati mereka begitu saja dengan langkah anggun, meninggalkan ketiga gadis itu yang terpaku diam di tempat, tak berani bergerak sedikit pun sampai Lisa benar-benar hilang dari pandangan.
Keesokan harinya, di ruang guru. Gadis-gadis yang kemarin mengancam Lisa dengan berani melapor, didukung penuh oleh Guru yang terkenal sangat menjilat ludah anak-anak bangsawan tinggi.
"Guru! Lisa dia mengancam kami! Dia bahkan mengeluarkan aura jahat buat menakut-nakuti kami! Dia berbahaya!" bohong mereka dengan air mata palsu.
Guru itu menatap Lisa dengan tatapan sinis. Ia tahu Lisa mungkin tidak bersalah, tapi karena gadis itu hanyalah anak angkat, sedangkan yang melapor adalah keluarga bangsawan tingkat Marquis dan duke , ia memilih memihak.
"Cukup! Tidak perlu banyak bicara!" bentak Guru itu keras. "Lisa, karena kau telah membuat keributan dan mengganggu ketenangan siswa lain, kau dihukum berat!"
"Kau harus pergi ke Puncak Gunung Es dan mengambil Ramuan Herba Suci yang tumbuh di sana! . Jika tidak berhasil membawanya kembali, jangan harap kau bisa masuk ke akademi ini lagi!"
Itu bukan hukuman, itu pembunuhan terselubung!
Saat itu Floyen memang sedang menunggu kakaknya di luar. Begitu mendengar keputusan itu, ia langsung masuk dan membentak guru tersebut.
"APA-AN SIH GURU INI?! JELAS-JELAS MEREKA YANG SALAH! KAKAK LISA CUMA MEMBELA DIRI! KALIAN MEMIHAKI KARENA MEREKA BANGSAWAN YA?!" teriak Floyen gemetar menahan amarah.
"Floyen, diam! Kau jangan ikut campur!" tegur Guru itu.
"ENGGAK MAU! Kalau Kakak Lisa pergi ke sana, aku ikut! Aku tidak akan biarin Kakak sendirian di tempat berbahaya kayak gitu!" Floyen langsung menggandeng tangan Lisa erat-erat. "Ayo Kakak! Kita pergi daripada berdebat sama orang buta!"
Lisa hanya menatap guru itu dengan tatapan dingin datar. "Kita lihat saja nanti, siapa yang akan menyesal."
Mereka berdua pun pergi meninggalkan ruangan dengan penuh tekad.
Perjalanan menuju gunung memang jauh. Saat mereka baru saja keluar dari gerbang akademi dan melewati hutan pinggiran, tiba-tiba tiga sosok pemuda tangguh menghadang jalan mereka.
Mereka adalah Kyle, Harit, dan Theo. Tiga sahabat karib Pangeran Kael, yang masing-masing adalah putra dari Grand Duke, Penyihir Agung, dan Jenderal Perang. Mereka adalah elit paling atas di akademi.
Kyle yang memiliki rambut hitam ungu dan wajah tampan namun dingin, menatap Lisa dan Floyen dengan tatapan meneliti.
"Heh, bukankah itu si Lisa dan adiknya?" ucap Kyle dengan nada meremehkan. "Kalian mau ke mana? Jam segini seharusnya sudah masuk kelas."
Harit yang berwajah tenang ikut bersuara, "Kalian tahu kan kalau keluar area akademi tanpa izin itu dilarang? Atau... kalian sedang melarikan diri?"
Theo yang paling pendiam hanya menatap pedang emas kehitaman yang terselip di pinggang Floyen, matanya berbinar tertarik.
Floyen langsung maju selangkah, berdiri di depan Lisa melindunginya.
"Urusan kalian apa?! Kami dihukum karena guru yang tidak adil! Minggir kalau tidak mau ikut masalah!" bentak Floyen tidak kalah garang.
Lisa menarik tangan Floyen pelan agar tenang, lalu ia menatap ketiga pemuda itu dengan tenang.
"Kami tidak punya waktu untuk main-main. Kami harus ke Gunung Es. Minggir, atau... kalian yang akan kami singkirkan."
Suara Lisa lembut tapi penuh ancaman yang nyata. Aura dingin mulai keluar sedikit dari tubuhnya.
Kyle tersenyum miring, merasa tertantang. "Oh? Ke Gunung Es sendirian? Itu tempat berbahaya. Atau... kalian butuh teman?"
"Hah, cewek buta bisa apa? Cuma numpang nama doang," langsung kena semprot Floyen yang siap mencabut pedang Naga barunya.
"JANGAN RENDAHKAN KAKAKKU! KALAU BERANI DUEL SAMA AKU DULU!" teriak Floyen murka.
Tapi Lisa menahan tangan adiknya dengan tenang, "Sudah Floyen, buang tenaga buat orang seperti dia tidak ada gunanya."
Dan Pangeran Kael pun menahan teman-temannya, "Hentikan Kyle. Kita punya tujuan sama. Ayo jalan."
Theo yang pendiam langsung maju, tangannya bergerak cepat menggambar lingkaran sihir raksasa. Wush! Mereka langsung diteleportasi menuju puncak Gunung Es dalam sekejap.
Sesampainya di sana, udara sangat dingin dan menyengat. Sepanjang jalan, Floyen tidak pernah meninggalkan sisi Lisa. Ia berjalan setengah melindungi, siap siaga.
Setiap kali ada hewan buas atau monster es yang mendekat, Srett! Floyen langsung menebasnya dengan cepat dan bersih menggunakan pedang emas kehitamannya. Gerakannya lincah dan kuat.
Namun, karena terlalu sering bergerak dan menggunakan aura, sedikit demi sedikit energi Floyen mulai menipis, keringat dingin mulai keluar.
Lisa yang berjalan tenang di sampingnya, diam-diam menyentuh punggung Floyen pelan saat Floyen sedang sibuk mengawasi depan.
Zutt... ✨
Sebuah energi hangat dan murni mengalir masuk ke tubuh Floyen. Energi yang hilang langsung terisi penuh kembali, tubuhnya terasa segar dan ringan seperti baru.
Floyen tersenyum lebar dalam hati, 'Makasih Kakak...' Hanya dia yang merasakan keajaiban itu. Lisa tidak pernah membutuhkan tangan atau mantra, cukup keinginannya saja segalanya beres.
RAJA SPIRIT ES
Akhirnya mereka sampai di mulut gua besar tempat obat itu berada. Tiba-tiba tanah bergetar hebat!
BUAAAMMM!!!
Muncullah sosok raksasa setinggi gedung, tubuhnya terbuat dari batu es yang kokoh, wajahnya garang dengan mata merah menyala. Itu adalah Raja Spirit Es, penjaga gunung yang paling kuat!
"Makhluk rendahan!! Berani kalian menginjak wilayahku!!" raungnya membuat salju berjatuhan.
"SIKAT!!" teriak Kyle.
Pertarungan pun meletus!
- Kyle mengeluarkan sihir tingkat tinggi berupa petir dan api biru, ledakannya dahsyat!
- Harit menyerang dengan presisi tajam layaknya seorang panglima, serangan serangan mematikan ia luncurkan dengan cepat.
- Theo menghunus pedang raksasanya, setiap tebasannya menghancurkan tanah dan batu, kekuatannya luar biasa seperti banteng liar!
- Kael bergerak sangat lincah, aura pedangnya menyilaukan, ia menari di antara serangan monster itu dengan gagah.
Namun... Raja Spirit Es itu terlalu kuat.
"MATILAH!!"
Monster itu menghembuskan Napas Es Abadi yang sangat dingin! TRAAKK!!
Satu serangan itu langsung membuat pertahanan mereka hancur. Kyle, Harit, Theo, dan Kael terpental mundur, tubuh mereka mulai membeku, napas mereka tersengal, terpojokkan habis!
"Kita tidak bisa main-main! Keluar lah!! NAGA EMAS SURGAWI!!" teriak Kael putus asa.
WOOOSHHH!!! 🐲✨
Dari tubuh Kael keluar sebuah wujud naga raksasa berwarna emas yang sangat megah dan bersinar. Naga itu menderu kencang dan menyerang Spirit Es itu.
Mata Lisa terbelalak di balik penutup matanya. Jantungnya berdegup kencang.
'Itu... itu Naga Emas Surgawi...' batin Lisa terkejut. 'Bukankah Naga itu adalah temanku, makhluk yang seharusnya hanya mengakui aku sebagai tuannya saja?! Kenapa ada di sini?!'
Lisa menatap lekat-lekat. Namun ia segera sadar. Ia menghela napas.
'Ah... jadi ini hanya proyeksi aura... hanya bayangan kekuatan semata. Bukan Naga yang asli. Naga yang asli... tidur di dalam jiwaku aku sempat bingung bagaimana bisa dia di sini tapi bagaimana bisa Kael mendapatkan proyeksi naga surgawi.'
Meskipun hanya bayangan, kekuatannya lumayan, tapi tetap saja belum cukup untuk mengalahkan Raja Spirit Es itu.
Tiba-tiba, pertarungan berhenti.
Raja Spirit Es itu menghentikan serangannya. Matanya yang merah besar perlahan menoleh, meninggalkan Kael dan kawan-kawan yang sudah kelelahan.
Pandangannya tertuju lurus ke arah sosok kecil yang berdiri tenang di belakang... Lisa.
Raja Spirit Es itu membeku. Tubuh raksasanya mulai gemetar hebat, bukan karena marah, tapi karena takut dan hormat.
'Itu... aura itu...' pikir spirit es itu dalam hati. 'Bukan aura manusia... bukan aura penyihir... Ini adalah aura yang sama dengan pencipta alam semesta...!!'
"Kau... kau adalah..." suara raksasa itu bergetar. "MAAF!! HAMBA TIDAK MENYADARI KEDATANGAN YANG MULIA!!"
Tepat saat tubuh raksasa Raja Spirit Es hendak menjatuhkan diri ke tanah untuk bersujud, Lisa mengangkat tangannya pelan.
"JANGAN!" 🛑
Suara itu tidak keluar dari mulutnya, melainkan langsung terdengar jelas dan menggema di dalam kepala dan jiwa sang Raja spirit Es. Itu adalah komunikasi tingkat tinggi, hanya bisa dilakukan oleh makhluk level tertinggi.
Raja Spirit Es langsung membeku di posisinya, menahan gerakannya dengan susah payah agar tidak menimbulkan suara berisik.
'Jangan tunduk begitu padaku di depan mereka,' batin Lisa berbicara lembut namun tegas. 'Aku tidak ingin menarik perhatian yang tidak perlu. Mereka akan curiga dan bertanya-tanya siapa aku sebenarnya. Dan itu sangat merepotkan bagiku.'
'Hamba... mengerti, Yang Mulia...' jawab sang Monster dalam hati dengan gemetar, tetap menundukkan kepalanya tapi tidak sampai menyentuh tanah. 'Hamba akan berakting sebaik mungkin.'
Lisa pun berjalan maju beberapa langkah, melewati Kael dan teman-temannya yang masih bingung melihat raja spirit itu tiba-tiba diam dan gemetar.
Lisa menatap ke arah mata merah besar itu.
"Aku tidak bermusuhan denganmu," ucap Lisa dengan suara lantang agar yang lain bisa dengar, tapi wajahnya tetap tenang. "Aku hanya datang untuk meminta satu hal kecil."
Lisa menunjuk ke arah gua di belakang tubuh monster itu.
"Aku tahu kau menyimpan Ramuan Herba Suci di sana. Aku hanya butuh satu saja. Apakah kau bersedia memberikannya padaku?"
Pertanyaan itu terdengar sopan, tapi memiliki tekanan yang membuat siapa saja tidak mungkin menolak.
Raja Spirit Es itu langsung mengangguk-anggukkan kepala raksasanya cepat-cepat, seolah takut Lisa berubah pikiran.
'AMBILLAH YANG MULIA! BUKAN HANYA SATU! SELURUH ISI GUA INI MILIKMU! SILAKAN AMBIL APA SAJA YANG KAU INGINKAN!' teriaknya dalam hati.
Namun secara lisan, monster itu mengubah suaranya menjadi terdengar berat dan terpaksa (aktingnya dapet banget).
"Kuh... kuh... Baiklah! Karena kau memiliki aura yang membuatku segan... ambillah ramuan itu! Aku memberikannya padamu! Pergilah dan jangan ganggu ketenanganku lagi!"
Tiba-tiba... Wush! ✨
Sebuah kotak kayu berukir indah melayang keluar dari dalam gua dan mendarat dengan lembut tepat di telapak tangan Lisa. Di dalamnya terdapat tanaman obat yang sangat langka dan berkilau cantik.
Lisa tersenyum puas. "Terima kasih. Kau sangat pengertian."
Begitu Lisa menerima kotak itu, sang Monster langsung berbalik badan dengan cepat, pura-pura marah dan menghentakkan kakinya.
"SEKARANG PERGILAH KALIAN SEMUA! SEBELUM AKU BERUBAH PIKIRAN!" raungnya, tapi sebenarnya dia bilang: 'Silahkan berangkat dengan selamat, Yang Mulia! Hamba akan pastikan jalan kalian aman!'
Kael, Kyle, Harit, dan Sora melongo tak percaya. Mereka baru saja melihat Raja spirit Es terkuat dan sombong yang hampir membunuh mereka, tiba-tiba jadi baik hati dan ngasih hadiah cuma gara-gara Lisa ngomong doang?!
"Gila... beneran dikasih?!" bisik Harit melongo.
"Itu monster apa orang baik sih? Kok tiba-tiba berubah?" bingung Kyle.
Lisa memutar badan menghadap mereka, wajahnya biasa saja.
"Sudah selesai. Kita pulang sekarang."
Floyen yang dari tadi senyum-senyum sendiri mendekat, "Wah Kakak hebat! Cuma ngomong doang langsung dikasih!" bisiknya pelan.
Mereka pun berjalan meninggalkan gua, meninggalkan Raja Spirit Es yang menghela napas lega dan langsung menutup pintu guanya dengan batu raksasa, merasa sangat beruntung bisa bertemu Dewinya langsung.
Saat Lisa membuka kotak kayu itu untuk mengambil obat yang diminta guru, mata mereka semua terbelalak.
Bukan cuma satu tanaman obat yang ada di sana. Di dalam kotak itu tersusun rapi beberapa botol ramuan dan tanaman langka yang bersinar indah. Dan yang paling mengejutkan, ada juga Ramuan Penyembuh Luka Dalam dan Elixir Penguat Energi yang persis sedang dibutuhkan oleh kelompok Pangeran Kael untuk persiapan ujian besar mereka!
"Wah... ini... ini ramuan tingkat tinggi!" seru Harit tak percaya. "Bahkan di pasar kerajaan pun barang selangka ini susah dicari!"
Lisa menutup kotaknya sebentar, lalu menatap mereka dengan santai.
"Karena kalian sudah menemaniku sampai sini, dan monster itu memberikannya dengan ikhlas... kita bagi dua saja. Adil kan?"
Lisa membagi ramuan-ramuan itu dengan tangan yang anggun. Setengah untuk dirinya (untuk hukuman palsu itu), dan setengahnya lagi diberikan pada Kael dan kawan-kawannya.
Mereka menerima dengan wajah berbinar-binar.
"Gila... dapet rejeki nomplok nih kita!" Kyle yang tadinya judes sekarang senyum lebar. "Makasih ya Lisa! Lo emang the best!"
Kael menatap ramuan di tangannya, lalu menatap Lisa dengan tatapan yang makin dalam. Gadis ini... selalu saja memberikan kejutan.
Perjalanan pulang terasa lebih ringan dan menyenangkan. Theo kembali membuka teleportasi, dan dalam sekejap mereka sudah berada di luar gerbang akademi.
Sepanjang jalan, Kael tidak bisa melepaskan pandangannya dari punggung Lisa. Rasa penasaran di dadanya meledak-ledak. Akhirnya, ia mempercepat langkahnya dan berjalan beriringan di samping Lisa.
"Lisa..." panggil Kael pelan, suaranya rendah agar tidak didengar yang lain yang berjalan agak di depan.
Lisa menoleh sedikit. "Ada apa, Pangeran?"
"Tadi... di gua itu," Kael bertanya dengan tatapan serius namun penasaran. "Jujur ya, aku tahu Raja spirit Es itu bukan tipe yang mudah menyerah atau baik hati. Dia penjaga yang kejam. Tapi kenapa dia bisa takut sama kau? Bahkan dia gemetar hebat waktu liat kau. Apa yang sebenarnya kau lakukan padanya?"
Floyen yang berjalan di samping Lisa menahan tawa, tahu betul jawabannya apa.
Lisa tersenyum tipis, senyuman yang sangat misterius. Ia mengangkat bahunya pelan, menjawab dengan nada yang paling santai dan datar di dunia.
"Takut? Ya jelas dia takut dong..."
Kael menunggu jawaban hebatnya, mata nya membelalak menunggu penjelasan sihir tingkat tinggi.
Lisa pun melanjutkan kalimatnya dengan tenang:
"...Karena kan aku ini lebih galak dan lebih menakutkan daripada dia."
😑😑😑
Kael: "..." 🧍♂️💀
Lisa cuma jawab segitu doang?! Lebih galak?!
Kael terpaku diam di tempat, otaknya berhenti bekerja sebentar. Mau nanya lagi tapi takut dibilang norak, tapi jawaban itu beneran bikin dia makin bingung tapi makin respect setengah mati.
Floyen akhirnya ketawa ngakak, "Hahaha! Bener tuh Pangeran! Kakak Lisa emang paling galak sedunia kalau lagi marah! Wkwkwk!"
Lisa hanya melangkah santai meninggalkan Pangeran yang masih melongo memproses jawaban 'logis' itu.
Bersambung...