Kyai Rasyid adalah pengasuh pesantren yang dikenal bijaksana dan disegani. Bersama istrinya, Hanifah, ia membesarkan dua gadis dengan penuh kasih: putri kandungnya, Zareen Qonitat, dan keponakannya sendiri, Raihana Aleesa, yang telah yatim piatu sejak kecil. Meski tumbuh dalam rumah yang sama, Zareen dan Raihana memiliki kehidupan yang sangat berbeda. Zareen tumbuh menjadi gadis modern, cantik, dan berpendidikan tinggi yang memilih melanjutkan kuliah di luar kota. Sementara Raihana mengabdikan hidupnya di pesantren, membantu Kyai Rasyid mengurus para santri dengan segala kesederhanaan dan kelembutan hatinya. Hingga sebuah amanah lama kembali mengetuk kehidupan mereka. Sebelum meninggal dunia, sahabat Kyai Rasyid, Haidar, pernah berwasiat agar putra semata wayangnya, Reyhan Pradipta, menikahi salah satu putri keluarga Kyai Rasyid. Namun di antara dua gadis yang sama-sama telah dianggap anak sendiri, Kyai Rasyid tak sanggup memilih. Keputusan itu pun mengubah segalanya. Kyai Rasyid meminta Reyhan menikahi kedua putrinya sekaligus. Reyhan menolak. Bukan karena tak menghormati amanah ayahnya, melainkan karena ia takut tak mampu berlaku adil. Namun jauh di lubuk hati, Reyhan diam-diam telah menaruh rasa pada Zareen—gadis cantik dengan pesona modern yang sejak awal memikat matanya. Sedangkan Raihana… hanyalah gadis sederhana yang lebih sering menunduk dalam diam. Tak ada yang tahu, pernikahan yang awalnya hanya dianggap sebagai amanah justru perlahan membuka luka, kecemburuan, pengorbanan, dan cinta yang tumbuh di tempat yang tak pernah diduga. Sebab terkadang, hati tidak jatuh pada mereka yang paling bersinar… melainkan pada mereka yang paling tulus menetap di sisi kita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisi Lain Zareen & Sisi kebaikan Rey
"Rin lo ikhlas kalau malam ini suami lo bermalam dengan kakak lo yang kumuh itu? " tanya Dewi.
Mereka masih ditempat tongkrongan yang sama. Padahal sudah dini hari, tapi Zareen dan teman-temannya masih betah menikmati suasana malam dengan gemerlap cahaya lampu kota yang warna-warni.
Zareen mendelikkan matanya pada Dewi, ia kembali menyesap rokok yang tinggal setengah dijemari lentik nya. "gak bakal, lagian suami gue udah tergila-gila sama gue. Bahkan dia seperti tidak sudi memandang si Hana kucel itu." dengan ekspresi yang meremehkan. Zareen tersenyum sinis membayangkan wajah Hana yang kusam geradakan dan berminyak parah.
Tina mencoba menepis asap rokok yang mengepul dari mulut Zareen." lo lagi hamil Za, bisa gak jangan ngerokok dulu. Kasihan janin lo" tina yang agak lurus pemikirannya diantara mereka bertiga.
"Mungpung lagi diluar gue. Jadi gue mau puas puasin isep rokok. Dirumah kan gue gak bisa isep rokok, suami gue pun bukan perokok." Zareen memang sangat keras kepala.
"Parah lo ya, kalau janin lo kenapana-napa gimana?"
Zareen menggedikkan bahunya tidak peduli. Ia kembali mengambil rokok batangan yang hampir habis setengah bungkus. "gak peduli gue. Yang gue pedulikan hanya ingin menikmati tubuh Rey yang sangat mantap itu. Gue gak bisa bayangin hidup tanpa Rey, dari harta, tampang sampai anu nya Rey idaman gue banget." ungkap Zareen, sambil mengibaskan rambutnya yang pirang.
"Sudah gila lo ya. Gimana kalau suami lo lama kelamaan menyukai si Hana itu?" tanya Tina, sebenarnya dia adalah teman tapi maut. Di depan Zareen ia memang mendukung tapi dibelakang Tina ini lebih respect dengan Hana. Tapi apalah daya, sumber duitnya adalah dari bisnis Zareen mau tidak mau Tina dan Dewi harus kuat dengan sikap menyebalkan Zareen.
"Gak akan. Percaya deh sama gue, yang gue pikirkan sekarang yaitu gimana caranya bawa Rey keluar dari lingkungan yang sering bikin gue gerah itu. Apa iya gue harus nunggu dulu abah gue meninggal. Sumpah gue sudah sumpek banget tinggal disana." Zareen membuka ponsel ipeng nya keluaran terbaru series tujuh belas pro max. Hadiah dari Rey karena Zareen terus merengek meminta dibelikan ponsel itu.
Tina dan Dewi walaupun hidupnya terbilang bebas seperti Zareen, tapi mereka berdua masih memiliki sisi kemanusiaan yang baik. Tini dan Dewi sampai menggelengkan kepalanya ketika mendengar ucapan yang dikeluarkan oleh Zareen.
"Mengucap kau Zareen" logat medan Tina keluar.
"Sebenarnya kakak sepupu lo itu cantik loh Rin, kalau dia pintar merawat diri dan sedikit saja polesan diwajahnya pasti dia sangat cantik." tukas Dewi yang mengetahui wajah Hana, karena Dewi sudah beberapa kali bertemu dengan Hana.
"Tapi sayangnya si Hana itu dengan mudahnya gue bodohi. Dia pernah minta rekomendasi skin care buat wajah. Terus gue kasih di rekomendasi produk yang tinggi merkuri. Pada akhirnya wajah si bodoh Hana itu rusak parah. Dan sampai sekarang dia trauma dengan yang namanya skin care." ungkap Zareen sampai terkikik geli.
Tina dan Dewi ikut tertawa dengan hambar. Tapi dalam hatinya mereka sangat kasihan dengan Hana yang memiliki hati yang tulus itu.
"Sayang....." pria hidung belang. Berusia sekitar empat puluh tahunan, dengan langkah ringan tiba-tiba mengecup puncak kepala Zareen.
***
Rey baru saja memejamkan matanya sudah terbangun kembali. Dengan mata yang masih berat ia melihat ponselnya. Jam menunjukkan pukul empat dini hari.
Rey melirik perempuan disebelah nya, Hana yang masih tertidur pulas. Hidung mancung kecil yang dipenuhi oleh kemedo itu terlihat mancung dilihat dari samping Rey. Rambut panjang bergelombang itu dibiarkan tergerai oleh Hana. Matanya menutup sempurna, bibir kecil itu tidak sepenuhnya terkatup rapat. Hana tertidur masih dengan posisi bersandar pada kepala ranjang.
Rey menyadarkan tubuhnya pada kepala ranjang, sorot matanya tertuju pada perut Hana yang kembang kempis kerana bernafas.
"Darah daging gue tumbuh dirahimnya. Apakah itu nyata? Apa gue mampu menjadi ayah yang baik untuk anakku kelak? sementara mencintai ibunya pun tidak." gumam Rey pelan, ia menggusar rambutnya. Rasa takut menjadi orang tua yang tidak baik untuk anaknya kelak itu kini menghimpit dadanya perlahan.
Untuk malam ini Rey menurunkan egonya sedikit. Lengan kokoh itu membetulkan posisi tidur Hana yang masih bersandar. Karena beban yang terus bertumpu didepan, tidak sengaja dada Rey menekan dada Hana. Rey merasakan ada benda kenyal dan padat yang menekan dadanya. Seketika tubuhnya meremang, sisi kelaki lakiannya sedang diuji. Bersentuhan sedikit saja dengan Hana membuat tubuh Rey menegang. Rey menatap dua benda didepannya, dengan susah payah Rey meneguk ludahnya. Rey mendongak, seketika matanya langsung disuguhi bibir Hana yang ranum.
Penyesalan malam itu, Rey belum menyicipinya.
"Shit...." desis nya pelan. Didepannya bibir Hana bagaikan magnet yang terus menariknya.
"Gila apa wanita ini punya magnet dalam tubuhnya, kenapa badan gue sering meremang saat bersentuhan sedikit saja dengannya." gumam Rey pelan. Kini bibirnya tinggal beberapa senti lagi menyentuh bibir Hana.
Pluk. Rasanya kenyal dan manis, Rey terpejam menikmati bibir Hana yang baru pertama kali menerima ciuman dari seorang pria.
Tok tok
Kenikmatan itu tertunda dengan sebuah ketukan halus dari luar. Rey terpaksa menghentikan aksinya. Ia melangkah untuk membuka pintu kamar Hana.
"Hana... Rey...." teriak pelan umi Hanifah, seperti orang yang sedang panik.
Rey mempercepat langkahnya setelah mendengar isak tangis dari umi Hanifah.
"Rey.... maaf umi ganggu waktu kalian. Abah Rey.... abah pingsan tadi setelah shalat tahajud, abah mengeluh sakit di bagian dadanya." umi Hanifah yang masih mengenakan mukena, matanya sudah memerah karena tangis.
Tubuh Rey sontak menegang. Tangannya sontak menarik pelan ibu mertuanya itu, menuntunnya menuruni tangga rumah.
"Hana?"
"Hana sedang kurang sehat umi, jangan diberitahu dulu soal abah. Nanti saja biar Rey yang jelaskan. Sekarang kondisinya darurat, harus cepat membawa abah kerumah sakit, umi." Rey sudah memasuki kamar Abah dan umi Hanifah, Rey cepat memeriksa kondisi bapak mertuanya itu. Mengecek nadinya yang ternyata sangat lemah dengan denyut yang tidak beraturan.
Rey memanggil beberapa santri putra untuk membantu membopong kyai Rasyid kedalam mobil. Tiada tanding Rey mengendarai mobilnya bagai orang yang sedang dikejar oleh begal. Sampai umi Hanifah berpegangan erat dan jok kursi.
Disisi lain Zareen yang mengharapkan kyai Rasyid cepat tiada. Di sisi lain lagi Rey sebagai suami Zareen yang sangat menyayangi kyai Rasyid yang sudah ia anggap sebagai ayahnya sendiri.
"Dokter cepat... Ayah saya tidak sadarkan diri." setelah mendengar teriakan tegas dari Rey. Beberapa perawat di susul oleh dokter mendorong ranjang pasien.
Kondisi kyai Rasyid sungguh sangat memprihatinkan. Badannya kian kaku dan membiru, umi Hanifah tidak kuat lagi menahan isak tangisnya saat melihat kondisi suaminya parah seperti itu.
Bersambung
Jangan lupa like ya readers. Author mohon dukungannya dari para readers.
jalang aja habis digarap masih di kasih uang lah ini istri sendiri digarap pertama kali masih disuruh jd babu