NovelToon NovelToon
Jalan Pedang Xiao Chen

Jalan Pedang Xiao Chen

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

Di tengah kehidupan yang penuh hinaan dan kesulitan, Xiao Chen kecil hanya memiliki satu mimpi—menjadi pendekar pedang terhebat di dunia.

Tanpa bakat luar biasa maupun latar belakang kuat, ia menapaki jalan pedang dengan tekad yang tak pernah padam. Bagi Xiao Chen, pedang bukan sekadar senjata, melainkan guru yang mengajarkannya tentang rasa sakit, pengorbanan, dan arti kehidupan.

Namun di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya, mampukah seorang anak dari keluarga buruk mengukir namanya hingga mengguncang langit dan bumi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Niat dan Hati

Langkah Xiao Chen menyusuri jalanan setapak menuju Desa Bambu terasa sangat berbeda dari biasanya.

Tanah yang ia pijak terasa lebih solid, seolah setiap langkahnya berakar pada bumi. Penglihatannya pun berubah; ia bisa melihat serat-serat halus pada daun yang bergoyang ditiup angin oranye senja.

​Namun, di balik kekuatan baru itu, ada rasa nyeri yang berdenyut di bahunya, bukan lagi rasa sakit luka terbuka, melainkan denyutan energi yang hidup.

Di dalam dadanya, setiap detak jantung kini diikuti oleh gema logam yang samar, seolah ada sebilah pedang yang sedang bernapas di dalam aliran darahnya.

​"Kau harus tahu, Nak," suara berat Roh Pedang itu tiba-tiba memecah keheningan di kepalanya, membuat Xiao Chen hampir melompat. "Dunia ini dipenuhi oleh energi spiritual. Energi langit, bumi, dan segala sesuatu yang bernapas. Para pendekar menyebutnya Qi. Mereka menyerapnya, memurnikannya, dan menggunakannya untuk melampaui batas manusia."

​Xiao Chen mengerutkan kening, mencoba mencerna istilah asing itu. "Qi? Jadi, kehangatan yang aku rasakan semalam... itu Qi?"

​"Hmph," Roh Pedang itu mendengus meremehkan. "Itu hanyalah sisa-sisa energi yang kupaksakan masuk ke tubuh payahmu agar kau tidak mati. Saat ini, kau bahkan belum menyentuh tahap pertama kultivasi. Kau belum layak disebut pendekar. Kau hanyalah anak desa dengan sebilah besi terkutuk di jiwamu."

​Suara itu merendah, menjadi lebih serius dan dingin. "Dengarkan baik-baik. Pedang ini bisa menyerap energi negatif, amarah, kebencian, dan darah. Itu akan memberimu kekuatan instan, tapi harganya adalah kewarasanmu. Semakin banyak darah yang kau tumpahkan, semakin kuat kendaliku atas dirimu. Aku tidak akan memberimu kekuatan cuma-cuma. Aku hanya akan membimbingmu; sisanya, kau harus merangkak sendiri di jalan berduri ini."

​Xiao Chen merasa mual mendengar penjelasan itu. "Panjang sekali penjelasannya... aku belum paham sepenuhnya, Kakek Pedang."

​"Eh? Sudah sampai?" Xiao Chen tertegun melihat pintu rumah kayunya yang reyot sudah ada di depan mata. Perjalanan yang biasanya memakan waktu lama kini terasa hanya sekejap mata.

​Xiao Chen ragu sejenak di depan pintu. Rasa takut yang sudah mendarah daging selama bertahun-tahun kembali muncul. Ia menarik napas panjang, lalu perlahan mendorong pintu kayu itu.

​Kriitt...

​Bau arak murah yang menyengat langsung menusuk hidungnya. Di dalam, ruangan tampak lebih berantakan dari kemarin. Xiao Feng, ayahnya, duduk tersandar di kursi kayu yang patah, meracau dengan botol di tangan.

​"Haha... aku kaya! Harusnya aku kaya!" Xiao Feng tertawa getir, matanya merah dan kuyu. "Hidupku hancur karena orang tua bodoh itu... untungnya mereka sudah mati."

​Saat pintu tertutup, Xiao Feng tersentak dan menoleh. "Xiao Chen? Kau... kau pulang juga! Dari mana saja kau, hah?!"

​Pria mabuk itu berdiri dengan sempoyongan, wajahnya diselimuti amarah yang tidak masuk akal. Ia mendekat, tangannya terangkat siap untuk menghajar. "Jangan-jangan kau mencuri uang taruhanku, ya?! Beraninya kau!"

​Xiao Chen menggeleng cepat, "Tidak, Ayah! Aku tidak mengambil apa pun!"

​Xiao Feng tidak peduli. Ia melayangkan pukulan keras ke arah wajah Xiao Chen. Secara refleks, Xiao Chen memejamkan mata. Namun, sesuatu yang aneh terjadi. Tubuhnya bergerak sendiri.

​Plak!

​Xiao Chen membuka mata dan tertegun. Tangannya telah terangkat, mencengkeram pergelangan tangan ayahnya dengan posisi yang sempurna.

Tangan ayahnya yang besar itu tertahan di udara, tak bergerak seinci pun. Xiao Feng pun terpaku, rasa kaget sesaat mengalahkan mabuknya.

​Tepat saat ketegangan memuncak, pintu rumah kembali terbuka. Lin Ya, ibunya, melangkah masuk.

Riasan wajahnya tebal, menutupi wajahnya yang lelah, namun pakaiannya yang agak terbuka memperlihatkan bekas-bekas merah yang menyakitkan di leher dan lengannya.

​"Xiao? Apa yang kau lakukan?" suara Lin Ya datar, namun ada keterkejutan di matanya melihat anaknya berani menahan tangan ayahnya.

​Xiao Chen segera melepaskan genggamannya. Xiao Feng terkekeh sinis, "Lihat... istriku sudah mengajarinya untuk melawan. Kau memang wanita sialan!"

​Lin Ya tidak membalas. Ia tampak sangat hancur. Ia melemparkan dua koin perak ke atas meja. "Diamlah. Aku ingin istirahat."

​"Haha, bagus! Begitu baru benar!" Xiao Feng menyambar koin itu dan segera pergi keluar, kemungkinan besar menuju meja judi lagi.

​Lin Ya menatap Xiao Chen sejenak. Ada sesuatu yang berbeda pada anaknya, sorot matanya terlalu tajam, terlalu tenang.

Ia merasa tidak nyaman berada di dekat anaknya sendiri. Saat ia hendak masuk ke kamar, ia berhenti di ambang pintu dan berbisik tanpa menoleh.

​"Jangan menjadi seperti ayahmu."

​Xiao Chen terpaku. Kata-kata itu terasa lebih berat daripada pukulan apa pun. "Baik... Ibu."

​Malam-malam berikutnya menjadi saksi bisu transformasi Xiao Chen. Saat orang tuanya pergi mencari pelarian masing-masing, ibunya mencari uang sebagai pelacur, ayahnya mencari judi. Xiao Chen berdiri sendirian di halaman belakang yang sunyi.

​"Aku harus masuk ke Sekte Pedang Langit," bisiknya pada rembulan.

​Ia mencoba memanggil pedangnya. Zring! Pedang hitam legam itu muncul seketika di genggamannya, memancarkan aura dingin yang menenangkan.

​Selama berpekan-pekan, Xiao Chen berlatih Teknik Tebasan Tanpa Bentuk. Ia mengulang satu gerakan tebasan ribuan kali. Gagal. Jatuh. Napasnya sesak. Wajahnya pucat pasi karena energinya terkuras habis.

​"Sulit... sekali..."

​"Jangan gunakan ototmu saja, bocah bodoh!" suara Roh Pedang mengejek. "Gunakan niatmu. Pedang adalah perpanjangan dari keinginanmu. Tenangkan hatimu."

​Xiao Chen memejamkan mata. Ia berhenti mencoba memaksakan kekuatan. Ia menarik napas dalam, membiarkan energi dingin di tubuhnya mengalir selaras dengan niatnya. Saat sehelai daun gugur melintas di depannya, ia bergerak.

​Wush!

​Tebasan itu begitu cepat hingga nyaris tak terlihat. Angin terbelah, daun itu terpotong rapi menjadi dua bagian simetris, dan batu kecil di bawahnya retak halus.

​"Aku... berhasil?" Sebuah senyum bangga merekah di wajahnya. "Kakek Pedang, aku berhasil, kan?"

​Hening. Roh Pedang tidak menjawab, namun Xiao Chen bisa merasakan sedikit kepuasan yang mengalir dari pedang itu.

​Tiga bulan berlalu. Xiao Chen kini berusia sebelas tahun. Tubuhnya tumbuh lebih tinggi, otot-ototnya kencang, dan matanya memancarkan kedewasaan yang melampaui usianya. Ia kini sering berdiri di pinggir desa, mendengarkan percakapan para penyair dan pedagang yang lewat.

​"Ujian Sekte Pedang Langit sebentar lagi," kata seorang pedagang. "Tapi kudengar tahun ini jalurnya sangat sulit bagi warga biasa. Anak-anak kaya bisa menyuap penatua, sementara anak miskin harus memiliki bakat atau potensi untuk dilirik."

​Xiao Chen mengepalkan tangannya. Ia tahu ia tidak memiliki uang, tidak memiliki latar belakang. Ia hanya memiliki pedang hitam ini dan tekad yang sudah membatu.

​Di sudut desa, Feng Lin memperhatikannya dengan tatapan benci. Ia baru saja kembali dari kota dan melihat perubahan drastis pada Xiao Chen. "Cih, dia terlihat sombong sekarang. Hanya dalam tiga bulan, dia seolah menjadi orang lain. Aku akan menghancurkannya sebelum dia sempat bermimpi pergi ke Sekte."

​Malam itu, Xiao Chen berlatih jauh di dalam hutan agar tidak terlihat oleh siapa pun. Ia berdiri di depan sebuah pohon besar yang kokoh.

​"Ketenangan, niat, hati yang tenang. Luruskan tangan, lebarkan kaki," gumamnya, memantapkan kuda-kuda.

​"TEKNIK TEBASAN TANPA BENTUK: TAHAP PERTAMA!"

​Kali ini, Xiao Chen mengerahkan sedikit Qi yang telah ia kumpulkan selama tiga bulan. Namun, pedang hitam itu tiba-tiba bereaksi secara liar. Pedang itu seolah haus akan kehancuran dan menarik energi Xiao Chen lebih banyak dari yang ia izinkan.

​SHIIIING!

​Kilatan cahaya hitam kemerahan membelah kegelapan hutan. Xiao Chen terhuyung mundur, napasnya tersengal-sengal saat pedang itu kembali menghilang ke dalam tubuhnya.

​Di depannya, pohon raksasa itu terdiam sejenak... lalu perlahan bagian atasnya bergeser dan jatuh dengan suara dentuman yang menggetarkan tanah. Pohon itu terbelah miring dengan permukaan potongan yang sehalus cermin.

​Xiao Chen menatap tangannya yang gemetar. Kekuatan ini... terlalu besar. Ia menyadari satu hal: jalan di depannya bukan lagi soal menjadi pendekar, tapi soal bertahan agar tidak ditelan oleh pedangnya sendiri.

​Tinggal beberapa hari lagi menuju ujian Sekte Pedang Langit. Dan dunia tidak tahu, jalan pedang anak ini akan sangat menarik.

1
Maul
👍👍
Maul
latihan keras 😢
Maul
/Panic//Panic/
Maul
/Scare//Scare/
Maul
kenapa nih🤔
Maul
Benar-benar membingungkan Patriark itu🤭
Maul
/Smile/
Maul
Sepertinya Patriark baik🤔
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Jlebz 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Iyeeeees 🌽🔥
Agen One
Bab 37 sabar guys/Sleep/
Agen One
Kakek roh/Whimper/
Agen One
jadi juga murid dalam/Frown/
Agen One
🤕🤔
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Iyeeeees boos 🌽🔥
Maul
keputusan apa ituh
Maul
takut itu wajar Qianer
Maul
/Frown/
Agen One
selamat Idul Adha ya semuanya/Smile//Pray/
Agen One
Bab 35 sabar ya/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!