Berlatar di sebuah desa bernama Desa Suka Makmur. Anggap saja salah satu desa di Jawa Barat. Desa dengan beberapa fasilitas yang tersedia, seperti bangunan sekolah dasar, balas desa, puskemas pembantu, posyandu , lapangan sepak bola dan lainnya. Namun dibalik itu desa tersebut menyimpan kisah misteri dan terkenal dengan kemistisan nya. Desa pocong sebutan lain dari nama desa itu. Terdapat pantangan untuk tidak membuka pintu dan jendela di malam hari. Lebih-lebih keluar di waktu malam , apapun alasan nya. Jika melanggar maka siapapun akan terkena musibah. Sebuah teror, celaka , jatuh sakit , bahkan hingga kematian. Namun tak hanya itu , teror lain turut membayangi warga desa. Hingga seorang gadis pendatang baru yang tinggal di salah satu rumah yang terkenal angker berusaha mencari tahu tentang desa itu. Fitri namanya, gadis dengan kemampuan spiritual yang akan membantu warga desa terbebas dari ketakutan nyata teror pocong yang sudah berjalan berpuluh-puluh tahun lamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon qsk sri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ridho dalam bahaya
Jamilah yang tengah duduk di atas pintu kamar belakang yang terbuka seketika terjatuh. Maria, Jefry , dan Berliana yang sedang bermain ular tangga terperanjat, Edward yang tengah menonton televisi pun ikut terkejut hingga menjatuhkan remote tv. Mereka terkejut mendengar teriakan Fitri di dalam kamar.
Buru-buru mereka pergi ke kamar Fitri, khawatir sesuatu kembali terjadi pada gadis itu. Begitu pintu dibuka, mereka mendapati Fitri yang seperti tengah menahan sesuatu akan tetapi kedua matanya tertutup.
"Sepertinya dia mimpi buruk " Bisik Berliana.
Maria segera mendekat dan membangun kan Fitri.
"Fit,... bangun ! Fitri !" Ucap Maria seraya menepuk pipi dan mengguncang tubuh Fitri.
Seketika Fitri membuka matanya, nafasnya tersengal, keringat sudah membasahi wajah nya,dia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamarnya.
"Huuuufff... untunglah cuman mimpi " Lirih nya bernafas lega.
"Memangnya kamu mimpi apa ? Sampai segitunya?" Tanya Jamilah penasaran.
"Tadi..." Fitri terdiam lalu segera meraih buku catatan nya yang dia letakkan di meja samping tempat tidur. Sebelum menceritakan mimpinya, gadis itu lebih dulu mencatat nya.Tulisan Fitri begitu rapih dan mudah dibaca.
"Perkebunan pisang yang berbuah,...pocong di bawah pohon pisang yang tumbang dan pria paruh baya tampan dan gagah menyabetkan parang" Kening Maria berkerut membacanya.
"Apa maksudnya?" Tanya Berliana.
"Gue juga gak tahu. Tapi itu yang ada di mimpi gue barusan. Rasanya jelas banget kaya gue beneran ada di tempat itu" Lirih Fitri.
"Sepertinya apa yang ada di mimpi gue, ada hubungan nya dengan kejadian di desa ini. Mungkinkah... "
"Sudah lah, jangan terlalu dipikirkan! Kamu hanya mimpi, lebih baik kamu tidur lagi ! Malam masih panjang , biar kita yang jagain kamu selagi kamu tidur" Ucap Maria tak ingin mendengarkan ucapan Fitri.
"Ya udah... " Gadis itu sedang tak ingin berdebat, dia segera merebahkan tubuhnya kembali.
"Kalian berjaga di setiap sudut rumah ! Biar aku di sini jagain Fitri" Ucap Maria yang entah kenapa dia merasa sesuatu akan tejadi.
"Baik " Jamilah pergi ke area dapur dan berjaga di sana, Berliana berjaga di depan pintu kamar,Jefry berjaga di dekat pintu ruang tamu sedangkan Edward diam di depan TV yang menyala, tetapi kedua matanya tetap awas memperhatikan setiap jendela yang tertutup.
Ketika jam sudah menunjukan pukul 24:15,sayup suara gamelan terdengar diantara hembusan angin. Maria mulai waspada, begitupun dengan Jamilah dan yang lainnya. mengingat sesuatu pernah terjadi dan hampir membahayakan nyawa Fitri, kelima hantu itu tak ingin lagi hal serupa terjadi menimpa Fitri. Namun tanpa sepengetahuan mereka,di luar George si pocong juga ikut berjaga di depan jendela kamar.
Di lain tempat sebuah acara sedang berlangsung. Suara iringan musik gamelan mengalun di tengah kesunyian malam. Begitu banyak yang hadir di acara tersebut,namun tak satupun dari mereka yang terlihat larut dalam pesta. Semua yang hadir nampak berdiri,berjajar dengan rapih di depan panggung sederhana yang terbuat dari bambu. Perlahan barisan terbuka,kepala mereka menunduk hormat ketika seorang pemimpin datang memecah barisan. Sosok pocong bertubuh tinggi dan besar melayang ke arah kursi kebesarannya. Dia lah pemimpin dari para pocong itu. Dan ketika sang pemimpin duduk di singgasana nya,aura di tempat itu menjadi kian mencekam. Suara lolongan anjing terdengar saling bersahutan di kejauhan. Pocong raksasa itu diam dengan tatapan tajam dan seringai nya nya menyeramkan. Di samping nya berdiri sosok pria tua berkumis tebal dengan ekspresi penuh kepuasan.
Sementara itu di tempat lain...
Seorang kakek tua tengah duduk bersila dengan tasbih kecil ditangan nya, tiba-tiba membuka mata menatap dinding dengan tajam seolah dapat menembus sesuatu dibalik nya, dengan tatapan awas nya dia bergumam pelan,"Sepertinya akan ada korban lagi......".
"Duh Gusti.... lindungilah desa ini dari gangguan mereka,jangan ada lagi korban ..." Lirih pria tua itu. Wajah keriput nya nampak basah oleh keringat dan air mata. Dia lah saksi kunci satu-satunya yang tahu apa yang terjadi di desa itu. Tetapi tak ada satupun orang yang tahu,pria tua itu begitu rapat menyembunyikan kenyataan.
Sementara itu,di rumah lain seorang pemuda belum bisa memejamkan kedua matanya. Padahal ia sudah mencoba membuatnya untuk tidur tetapi usahanya sia-sia. Dan entah kenapa perasaan tak nyaman dihatinya membuat nya gelisah hingga tak bisa tidur.
Pria itu terdiam, menajamkan telinga ketika suara gamelan terdengar di kejauhan. Namun semakin berusaha di dengarkan suara gamelan itu justru menghilang. Dan kembali terdengar ketika pria itu tak berusaha lagi mendengar nya.
"Jangan-jangan suara gamelan yang sering diceritakan orang-orang...atau bisa saja suara dari kampung lain yang sedang hajatan" Batin pria itu mencoba menepis prasangka nya.
Pria itu lalu menegakkan tubuhnya saat sesuatu terdengar dari arah jendela.
Duk....Duk ...Duk....
"Mereka ngapain sih, berisik saja dari tadi.Padahal aku gak ngapa-ngapain" Gumam pria itu yang merasa tidak membuka tirai maupun jendela kamar nya malam ini.
Namun suara berisik dari luar semakin keras dan tak terkendali. Kaca jendela sampai bergetar dibuat nya. Pria itu mendecakkan lidah. Lalu beranjak, ke arah lemari,mengambil sajadah dan pecinya. Dia masih punya wudhu karena belum membatalkan nya. Jujur saja rasa takut mulai menyergapi nya, hingga dia memilih untuk melakukan solat malam dan berdzikir.
Akan tetapi, lampu di kamar itu tiba-tiba padam lalu menyala berkedip beberapa kali hingga kemudian padam kembali.
Pria itu mencari senter di atas meja,namun setelah senter berhasil ditemukan,lampu kamar kembali menyala. Di saat bersamaan,sesosok pocong dengan wajah buruk rupa berdiri tepat di depan matanya. Jaraknya hanya beberapa senti saja,sontak pria itu terkejut. Dia mundur satu langkah namun kakinya tiba-tiba kaku. Dan seolah ada yang menarik kakinya dari belakang pria itu pun jatuh tertelungkup,tasbih dan senter ditangan nya jatuh terlempar entah kemana. Saat itu seutas tali tiba-tiba muncul dan langsung melilit lehernya.
"Kkhhhhkkkhh...." Pria itu meronta dengan wajah yang memerah. Aliran darah dan nafas nya terasa terhenti kala itu. Kedua kakinya meronta menendang-nendang udara. Sementara tangan nya memegangi tali yang menjerat lehernya semakin kuat. Sebelah tangannya berpegangan pada ujung tempat tidur saat tali yang menjerat lehernya mulai menariknya.
"Ya Allah.... Apa ajalku telah tiba...." Lirih pria itu membatin.
"Tokkhhh...klhoo..nnggg....!" Jeritnya dengan susah payah. Namun tentu tak ada siapapun yang dapat mendengar nya. Orangtuanya pun nampak tengah terlelap di kamar, tak tahu jika putra mereka dalam bahaya.
Sementara itu, Fitri terbangun dengan nafas tersengal-sengal. Matanya mengedar menatap seisi kamar lalu dia melompat dari tempat tidur nya. Maria yang sedari tadi terus berjaga terkejut.
"Fitri ...!" Kejutnya.
"Gawat, Maria ....gawat..." Seru Fitri sambil hendak membuka jendela kamar.
"Apanya yang gawat ?" Tanya Maria bingung.
"Bang Ridho... Tadi gue lihat dia.... "
"Kamu mimpi lagi, Fit ?" Tanya Maria menahan lengan Fitri.
Fitri seketika terdiam, namun jantungnya berdetak tak karuan.
"Enggak, gue rasa itu bukan mimpi. Awas ...!" Seru Fitri menepis tangan Maria.
Dengan cepat namun dengan lengan bergetar Fitri membuka jendela kamar nya. George yang berdiri di depan jendela ikut tersentak kaget.
"Mengapa kamu buka jendela ?" Tanya pocong itu sambil menatap penuh waspada ke sekelilingnya.
"Minggir !" Teriak Fitri.
Dari jauh dan gelap, mata gadis itu menangkap bayangan sesuatu yang bergerak . Matanya menyipit dengan kedua alis yang hampir bersatu.
"Astaga.... Ya Tuhan..... "Lirih nya sambil membekap mulutnya.
"Ada apa Fit ?" Tanya Maria.
Tanpa menjawab, Fitri lekas berlari membuka pintu kamar. Berliana yang berdiri di depan pintu kamar terjungkal setelah tertabrak Fitri. Jefry menoleh mendengar suara gedebuk dari arah kamar.
"Fitri ...." Ucap nya terkejut.
"Duh.... aku loh yang jatuh terjungkal kenapa malah Fitri yang disebut ...." Lirih Berliana sambil mengusap-usap bokong nya.
Edward ikut menoleh,dia dan Jefry terkesiap saat Fitri menerobos pertahanan Jefry dalam menjaga pintu.
"Kak...jangan pergi keluar !" Seru Edward.
"Fitri jangan....!" Teriak Jefry.
Namun Fitri nampaknya tidak memperdulikan larangan mereka,dia pergi ke luar,berlari diantara pocong-pocong. Mencari seseorang yang dia kenal sedang dalam bahaya.
"Gue yakin tadi gue gak cuman mimpi" gumam gadis itu sambil terus mengedarkan pandangannya. Fitri mengabaikan tatapan tajam para pocong. Dia terus mencari Ridho. Ya,dia yakin pria itu kini dalam bahaya.
Sampai saat nya dia melihat sosok pocong tengah berjalan terseok-seok,bukan melompat seperti pocong lainnya. Di belakangnya terdapat tali yang menarik tubuh seseorang. Fitri terbelalak.
"Bang Ridho....." Gumam nya pelan.
Tanpa memikirkan apapun,Fitri segera berlari mengejarnya.
"Bang Ridho....!" Seru Fitri ketika dia sudah sampai di sana. Cepat-cepat gadis itu melepaskan jeratan di leher pemuda itu. Pocong yang menariknya nampak tak merasa terganggu sama sekali,dia terus berjalan menarik tubuh Ridho.
"Sialan...gak bisa kebuka " Umpat Fitri kesal. Nafas nya memburu, keringat sudah membasahi sekujur tubuhnya. Melihat semua pocong kini tengah menuju ke arahnya membuat nya semakin panik.
Namun kemudian gadis itu teringat sesuatu," Bismillahirrahmanirrahim......" Fitri merapalkan sebuah doa,dan dalam waktu beberapa detik tali itu berhasil terlepas. Sosok pocong yang dari tadi menarik Ridho lenyap, begitupun dengan pocong-pocong lain nya. Mereka semua lenyap tak bersisa.
"Huuuuuhhh.....,hampir saja" Lirih gadis itu tersengal-sengal.
"Sekarang bagaimana membawanya ...."
.......