Bagaimana kalau istri kedua yang diracun… justru mendapat sistem yang membuatnya mustahil diinjak lagi?
Sumarni seharusnya mati sebagai istri kedua yang bodoh, penurut, dan tak pernah dianggap ada.
Namun, setelah Ratna Dewi, seorang editor dari tahun 2026 bereinkarnasi ke tubuhnya, semuanya berubah.
Dengan bantuan Sistem Istri Ideal, Sumarni bisa mendapatkan poin dari setiap penghinaan yang berhasil ia balas dengan elegan.
Poin itu bisa ditukar dengan skill, informasi masa depan, bahkan antidot racun.
Sedikit demi sedikit, Sumarni merebut perhatian, uang, koneksi, bahkan hati pria yang dulu tak pernah melihatnya.
Tapi semakin ia bersinar, semakin berbahaya permainan yang harus ia hadapi.
Karena di rumah itu… hanya ada satu perempuan yang boleh menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Darah Panas
Sinar terik matahari pukul sepuluh pagi menembus celah kisi-kisi kayu jendela paviliun. Udara terasa gerah, membawa serta aroma malam cair yang mulai mendidih di atas wajan tembaga kecil. Sumarni mengusap peluh di dahinya dengan saputangan katun, berusaha mengusir sisa pening di kepalanya.
Ketegangan sisa semalam masih membuat otot bahunya kaku. Namun, ia tidak punya waktu untuk beristirahat.
Suara derak kerikil yang tergilas ban mobil sedan Volvo memecah keheningan halaman depan. Tak lama berselang, ketukan sopan terdengar dari pintu kayu jati. Raden Mas Bramantyo berdiri di sana dengan senyum hangat, membawa dua gulungan besar kain berbalut kertas cokelat.
Pria keturunan bangsawan itu mengenakan kemeja batik tulis bernuansa sogan yang rapi. Aroma parfum kologn klasik bercampur dengan bau khas kapas baru langsung memenuhi ruangan.
Sumarni menyambutnya dengan ramah. Ia mempersilakan tamunya duduk di kursi rotan ruang tamu paviliun.
"Sesuai janji saya, Nyonya Sumarni. Ini sutra kualitas nomor satu langsung dari Lasem," ucap Bramantyo.
Ia meletakkan gulungan itu di atas meja dan membukanya perlahan. Permukaan kain sutra merah marun itu berkilau menantang cahaya. Teksturnya selembut aliran air saat jari-jemari Sumarni menyentuhnya.
Sumarni memeriksa kerapatan benang dengan sangat teliti. Insting editornya dari masa depan terpadu sempurna dengan pengetahuan tekstil dari memori sistem.
"Seratnya padat dan warna celupnya merata. Anda memang tidak pernah mengecewakan, Raden," puji Sumarni tulus.
Bramantyo tertawa renyah mendengar pujian lugas itu. Pria itu mulai menceritakan kelakar tentang persaingan para tengkulak di Pasar Beringharjo. Ia meniru gaya bicara para pedagang kain yang saling sikut demi mendapatkan pasokan sutra tersebut.
Sumarni tidak bisa menahan rasa gelinya. Ia ikut tertawa lepas hingga sudut matanya menyipit.
Tawa renyah Sumarni menggema lembut di udara, menciptakan suasana hangat yang sangat natural. Ia terlihat sangat hidup, cantik, dan penuh pesona. Namun, tawa itu menjadi racun mematikan bagi pria yang sedang menguping dari balik tirai koridor.
Harjono berdiri mematung dalam bayangan gelap. Napasnya memburu cepat, menarik paksa asap rokok kretek dari isapan terakhirnya. Jantung pria itu berdegup keras menghantam tulang rusuk.
Aliran darah panas mendidihkan ubun-ubunnya seketika. Pengusaha pabrik rokok kretek terbesar di kota itu mengepalkan tangan kanannya kuat-kuat. Buku-buku jarinya memutih pasi.
Selama ini, Sumarni hanya menunduk bisu dan ketakutan di hadapannya. Ia tidak pernah melihat istrinya tertawa seindah itu.
Kini, wanita itu tertawa lepas untuk pria lain di dalam rumahnya sendiri. Rasa cemburu yang buta mencekik leher Harjono tanpa ampun. Otot rahangnya menonjol keras akibat gemeretak gigi yang tertahan.
Ia melangkah keluar dari tempat persembunyiannya. Ia menghentakkan sol sepatu kulitnya dengan kasar ke lantai tegel.
Suara langkah berat itu sontak menghentikan tawa di ruang tamu paviliun. Sumarni dan Bramantyo menoleh secara bersamaan. Harjono berjalan mendekat dengan tatapan mata setajam pisau belati.
Fokus matanya langsung mengunci sosok Bramantyo. Bau tajam tembakau cengkeh yang terbakar mendominasi ruangan, menekan aroma parfum dan kain sutra.
Harjono sama sekali tidak repot-repot tersenyum. Ia langsung duduk di lengan kursi rotan yang diduduki Sumarni. Gestur tubuhnya sangat posesif dan intimidatif.
"Sepertinya pembicaraan bisnis kalian sangat menyenangkan," tegur Harjono dengan suara bariton yang berat dan dingin.
Ia melirik gulungan kain sutra di atas meja dengan tatapan menilai. "Sampai-sampai istri saya lupa batas waktu untuk segera menjahit pesanan pelanggan."
Bramantyo sedikit memundurkan bahunya, menangkap sinyal permusuhan yang sangat jelas. Sebagai pria dari kalangan priyayi, ia membalasnya dengan senyum tenang.
"Kami sedang membahas kualitas serat sutra, Tuan Harjono. Nyonya Sumarni memiliki ketelitian yang sangat tajam," jawab Bramantyo.
Sumarni menyadari ketegangan udara yang mendadak berubah tebal. Tubuh suaminya memancarkan hawa panas yang membakar kulitnya dari jarak dekat.
"Raden Mas Bramantyo hanya memastikan bahan baku Sekar Malam adalah yang terbaik," balas Sumarni dengan nada datar.
Ia menggeser tubuhnya sedikit menjauh dari suaminya untuk menghindari kontak fisik. "Kita sudah selesai memeriksa kainnya, Raden. Saya akan mengambil semua gulungan ini."
Harjono menatap pergeseran tubuh istrinya dengan kilat mata marah. Penolakan fisik yang halus itu memukul telak egonya. Ia menoleh ke arah Bramantyo dengan dagu terangkat arogan.
"Kirimkan saja tagihannya ke kantor pabrik kretek saya besok pagi. Saya yang akan membayar semua tagihan bahan baku istri saya," potong Harjono cepat.
Ia ingin segera menyingkirkan pria bangsawan itu dari wilayah kekuasaannya. Harjono ingin menunjukkan siapa penguasa sebenarnya.
Bramantyo mengangguk sopan dan berdiri dari duduknya. "Baik, Tuan Harjono. Nyonya Sumarni, saya pamit undur diri dulu. Semoga produksi Sekar Malam berjalan lancar."
Setelah langkah kaki Bramantyo menjauh dan suara mesin Volvo itu menghilang, keheningan mematikan menguasai paviliun. Sumarni mulai menggulung kembali kain sutra merah marun itu dengan gerakan teratur. Ia berpura-pura tidak mempedulikan tatapan membunuh suaminya.
Tiba-tiba, sebuah tangan besar mencengkeram pergelangan tangan Sumarni dengan kuat. Gerakan wanita itu terhenti seketika. Panas dari telapak tangan Harjono menembus kain lengan kebayanya.
"Jangan pernah tertawa seperti itu lagi di depan pria lain," desis Harjono tajam di dekat telinganya.
Napas hangat pria itu beraroma tembakau kental. "Kamu adalah istriku. Jangan lupakan tempatmu."
Sumarni menepis cengkeraman tangan suaminya dengan satu hentakan kasar. Ia berdiri tegak, membalas tatapan gelap Harjono dengan mata berbinar menantang.
"Saya tertawa karena urusan bisnis saya lancar, bukan karena hal lain," jawab Sumarni tajam. "Tempat saya adalah membangun masa depan saya sendiri."
Layar hijau transparan tiba-tiba berkedip terang di sudut pandangan Sumarni.
[Sistem Istri Ideal Era mendeteksi lonjakan ekstrem pada indikator Kecemburuan Target. Hadiah: 200 Poin.]
Sumarni memutar tubuhnya, meninggalkan Harjono yang masih terpaku dengan rahang mengeras di ruang tamu. Ia membawa gulungan kain sutra itu masuk ke dalam kamarnya tanpa menoleh lagi. Poin sistemnya bertambah pesat dari rasa frustrasi pria angkuh itu.
Sepanjang sisa hari itu, hawa dingin permusuhan menyelimuti paviliun. Harjono secara mengejutkan menolak kembali ke rumah utama. Ia duduk di kursi teras samping, menghabiskan berbatang-batang rokok kretek.
Matanya terus mengawasi setiap pergerakan Sumarni dari kejauhan. Rasa penasaran, amarah, dan daya tarik yang aneh kini bercampur aduk menjadi obsesi gelap di kepala Harjono. Ia merasa tidak lagi mengenali wanita yang sedang sibuk mengayuh mesin jahit di dalam kamar itu.
Harjono ingin menaklukkannya kembali, menghancurkan benteng pertahanan dingin wanita itu.
Langit di luar perlahan berubah menjadi gelap gulita. Suara dengungan jangkrik mulai bersahutan menggantikan bisingnya aktivitas sore hari. Hawa malam yang basah dan dingin merayap masuk melalui ventilasi paviliun.
Pukul sebelas malam, Sumarni akhirnya mematikan lampu minyak di atas meja kerjanya. Tubuhnya terasa remuk setelah seharian penuh berkutat dengan jarum, benang, dan kain sutra tebal. Kepalanya kembali berdenyut sakit.
Ia berjalan gontai menuju lemari kayu untuk mengambil baju tidur katun tipis. Sumarni hanya ingin segera merebahkan diri di atas kasur kapuknya dan melupakan dunia. Ia melepaskan peniti kebayanya satu per satu dengan jari yang kebas.
Namun, saat kebayanya baru setengah terbuka, suara derit engsel pintu terdengar memecah kesunyian. Sesosok bayangan besar melangkah masuk. Pria itu langsung memutar kunci logam dari dalam dengan suara klik yang tajam bergema di seluruh ruangan.
Harjono berdiri di sana, menatap Sumarni dengan sepasang mata kelam yang menyala. Hasrat buas dan dominasi absolut terpancar jelas dari raut wajahnya. Dadanya naik turun dengan cepat, mengembuskan aroma tajam alkohol murahan yang bercampur dengan tembakau.
Pria itu melangkah maju memangkas jarak secara agresif, memojokkan punggung Sumarni hingga menabrak tepi keras meja jati.