Alena datang ke London untuk mengejar gelar dan masa depan baru di Kingston University. Ia berniat fokus belajar, menjauh dari drama, dan menata hidupnya kembali.
Namun semuanya berubah ketika ia bertemu Dr. Adrian Vale—dosen muda yang terkenal dingin, pendiam, dan nyaris mustahil didekati.
Di depan semua orang, Adrian adalah pria profesional dengan kendali sempurna. Tetapi di balik tatapan tajam dan sikap tenangnya, tersimpan hasrat gelap yang perlahan hanya muncul saat bersama Alena.
Dimulai dari pertemuan-pertemuan singkat, diskusi malam yang terlalu lama, hingga ciuman terlarang di tempat yang tak seharusnya—hubungan mereka tumbuh menjadi rahasia yang berbahaya.
Semakin dekat, semakin sulit berhenti.
Di antara aturan kampus, reputasi yang dipertaruhkan, dan perasaan yang makin dalam, Alena harus memilih:
Menjaga masa depannya...
atau menyerah pada pria yang mampu membuatnya kehilangan kendali hanya dengan satu tatapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wanita Pirang Kembali
BAB 24 — Wanita Pirang Kembali
Angin musim gugur mulai bertiup lebih dingin, seolah menjadi pertanda bahwa sesuatu yang tidak menyenangkan sedang mengintai dari balik bayang-bayang.
Setelah insiden hampir ketahuan di ruang dosen, Adrian berusaha ekstra hati-hati. Tapi justru saat mereka berusaha menjaga jarak demi keamanan, masalah datang dari arah yang tak terduga.
Sophia. Wanita pirang itu kembali, dan kali ini dia tidak main-main.
🍽️ Makan Malam Penuh Makna
Malam itu, di sebuah restoran mewah dengan pencahayaan remang dan musik piano yang lembut, Adrian duduk berhadapan dengan Sophia.
Wanita itu tampil sempurna seperti biasa. Gaun malam berwarna merah anggur, riasan wajah yang menonjolkan kecantikannya yang elegan, dan senyum yang selalu terlihat percaya diri.
"Terima kasih sudah mau datang, Adrian," ucap Sophia lembut sambil mengaduk anggur di gelasnya perlahan. "Aku tahu kau sibuk, tapi aku benar-benar ingin bicara berdua saja."
Adrian tersenyum sopan namun menjaga jarak. "Ada apa, Sophia? Kau bilang ada hal penting."
Sophia menatapnya lekat-lekat, matanya yang berwarna biru muda memancarkan ketulusan yang dipoles dengan manis.
"Kita sudah lama kenal, Adrian. Bertahun-tahun. Kita pernah berbagi segalanya. Mimpi, masa depan, bahkan rencana pernikahan..." Sophia berhenti sejenak, menatap pria itu dalam. "Dan jujur saja... sampai sekarang aku tidak pernah bisa melupakanmu. Aku merasa kita putus bukan karena cinta kita habis, tapi karena waktu dan keadaan yang sedang tidak baik."
Adrian diam, mendengarkan tanpa ekspresi.
"Aku rindu masa-masa itu, Adrian. Aku rindu kita yang dulu." Sophia mengulurkan tangannya di atas meja, mencoba menyentuh tangan pria itu. "Bagaimana kalau kita mulai lagi dari awal? Aku sudah berubah. Aku lebih dewasa sekarang. Kita bisa perbaiki semuanya. Kita cocok sekali, Adrian. Dunia kita sama, pemikiran kita sama, dan kita saling mengerti."
Suasana hening sejenak. Sophia menunggu jawaban dengan penuh harap.
Adrian menarik tangannya perlahan, lalu menghela napas panjang. "Sophia, masa lalu sudah berlalu. Kita sudah jalan masing-masing..."
"Belum!" potong Sophia cepat. "Aku tahu kau masih sendiri. Aku tahu kau belum punya siapa-siapa yang serius. Dan aku yakin... di hatimu masih ada ruang untukku. Beri aku kesempatan, Adrian. Mari kita kembali ke tempat asal kita. Bersama."
⚠️ Pertemuan yang Tidak Diundang
Beberapa hari kemudian, saat Alena sedang duduk sendirian di perpustakaan mencoba fokus membaca buku, bayangan seseorang berdiri di hadapannya membuat gadis itu mendongak.
Wajah Alena langsung pucat.
"Selamat siang, Alena kan?" sapa wanita itu dengan nada manis yang terdengar menusuk. Sophia.
Alena buru-buru berdiri membungkuk sopan. "Oh... iya, Selamat siang, Kak Sophia."
Sophia tersenyum tipis, lalu dengan santai menarik kursi di hadapan Alena dan duduk bersila anggun. Dia menatap Alena dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan tatapan menilai yang membuat Alena merasa sangat kecil dan tidak nyaman.
"Jangan tegang begitu dong. Aku cuma mau ngobrol sebentar," kata Sophia lembut, tapi matanya tajam. "Kau tahu kan, aku dan Adrian itu sudah sangat lama kenal. Kami pernah bertunangan, . Keluarga kami bahkan sudah sangat akrab."
Alena menggigit bibir bawahnya, tangannya terkepal di bawah meja. "Saya... saya tahu."
"Bagus kalau kau tahu." Sophia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, suaranya merendah jadi bisikan halus tapi penuh ancaman. "Dengar ya, Alena. Adrian itu pria yang sangat istimewa. Dia terbiasa dengan hal-hal yang berkualitas tinggi, terbiasa dengan lingkungan yang eksklusif, dan terbiasa dengan wanita-wanita yang setara dengannya."
Sophia tersenyum sinis tipis.
"Aku perhatikan kau ini gadis yang baik, rajin, dan polos. Tapi kau harus sadar diri ya. Dunia Adrian itu keras, mahal, dan penuh aturan. Apakah kau yakin kau cocok berada di sana? Apakah kau yakin kau bisa bertahan mengimbangi dia dalam segala hal?"
Jantung Alena terasa diremas sakit. Kata-kata itu tepat sasaran, menusuk tepat di rasa tidak amannya selama ini.
"Maksud Kakak apa?" tanya Alena pelan, suaranya bergetar.
"Maksudku..." Sophia kembali bersandar santai, menata rambut pirangnya yang indah. "Jangan terlalu terbawa perasaan ya sama sikap Adrian. Pria itu kan kadang memang suka bersikap manis atau perhatian sama mahasiswinya, itu cuma sifat profesinya saja. Jangan diartikan lain, nanti malah sakit hati sendiri."
📉 Rasa Tidak Setara
Setelah Sophia pergi meninggalkan perpustakaan dengan anggunnya, Alena jatuh terduduk di kursi. Tubuhnya lemas seolah habis dikeroyok.
Kata-kata Sophia terus berputar di kepalanya.
'Dunia kita sama...'
'Kau yakin kau cocok?'
'Hanya sifat profesional...'
Benarkah apa yang dikatakan Sophia itu benar?
Alena menatap pantulan dirinya di kaca jendela. Gadis sederhana, berpakaian biasa, berasal dari keluarga biasa saja. Lalu di sisi lain ada Adrian Vale—pintar, kaya, tampan, terpandang, dan dikelilingi oleh wanita-wanita cantik dan setara sepert Sophia.
Apa yang dia punya selain cinta? Apakah cinta saja cukup untuk menjembatani jurang pemisah yang begitu lebar itu?
Perasaan tidak aman, perasaan rendah diri, dan perasaan takut kehilangan menyerang Alena secara bersamaan. Dia mulai merasa bahwa dia hanyalah pengganggu kecil yang masuk ke dalam kehidupan Adrian yang sempurna.
Dia merasa seperti orang asing yang tidak sengaja masuk ke dalam pesta mewah, dan sebentar lagi akan diusir oleh pemilik rumah.
👑 Kalimat Pamungkas
Sore harinya, di halaman parkir kampus, Alena tidak sengaja melihat Adrian dan Sophia berdiri berbicara di dekat mobil mewah pria itu.
Mereka terlihat begitu serasi. Sangat serasi sampai rasanya menyakitkan untuk dilihat. Sophia tertawa lepas, Adrian tersenyum tipis—senyum yang jarang dia berikan pada orang lain.
Saat Sophia hendak masuk ke dalam mobilnya, dia seolah menyadari keberadaan Alena yang bersembunyi di balik tiang.
Wanita itu tersenyum lebar, bukan ke arah Adrian, tapi tepat menatap mata Alena yang memandang dari jauh.
Dengan gerakan lambat dan penuh kemenangan, Sophia mendekatkan mulutnya ke telinga Adrian, seolah berbisik sesuatu yang manis.
Dan meski tidak bisa mendengar suaranya, Alena bisa membaca gerakan bibir wanita itu dengan sangat jelas.
Sophia berkata:
“Dia akan kembali ke tempat asalnya.”
Kalimat itu seperti duri yang tertancap dalam di hati Alena.
Tempat asalnya... Bersamamu.