"Dulu aku hanyalah pemuda biasa tanpa bakat, tanpa kekuatan, dan tanpa tujuan. Dunia terasa abu-abu sampai akhirnya aku bertemu dengannya—cahaya yang menerangi hidupku dan mengajarkanku arti cinta."
Namaku Li Yao. Aku tidak memiliki bakat kultivasi, namun cintaku padanya membuatku rela membelah langit dan bumi demi menjadi kuat. Bersamanya, aku merasakan kebahagiaan yang tak terlukiskan, hingga sebuah malam kelam mengubah segalanya.
Mata keparat merenggut nyawanya di hadapanku. Aku tak berdaya. Aku hanya bisa menangis melihat darahnya menetes. Saat napas terakhirnya berhembus, sebuah sumpah setan terucap:
"Aku akan membasmi mereka semua. Walau harus menjadi iblis, walau harus menyeberangi lautan darah, dendam ini akan kubayar lunas!"
Kini, dunia tidak lagi memiliki Li Yao yang lembut. Yang tersisa hanyalah Pendekar Berhati Es, seorang pembunuh dingin yang pedangnya selalu basah oleh darah musuh. Setiap tebasan adalah doa dendam, setiap nyawa yang melayang adalah persembahan unt
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichsan Ramadhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 Kekuatan Meningkat, Hati Semakin Membeku
Di tengah lorong sempit yang dipenuhi tumpukan mayat, Li Yao berdiri tegak membiarkan darah menetes dari ujung pedangnya. Tubuhnya dipenuhi luka-luka ringan akibat perlawanan terakhir para pengawal, namun tidak ada satu pun luka yang terlihat serius.
Sebaliknya... ia justru terlihat semakin hidup.
Setiap kali ia membunuh musuh, setiap kali ia menumpahkan darah, energi di dalam tubuhnya terasa semakin mendidih. Teknik Terlarang "Pembakar Jiwa" yang ia latih ternyata memiliki efek samping yang mengerikan namun mematikan: Semakin banyak nyawa yang melayang, semakin kuat ia menjadi.
"Ha... ha... ha..." Li Yao tertawa pelan, napasnya berat namun penuh dengan aura dominasi yang menekan.
"Rasanya... sungguh luar biasa. Tubuh ini... seolah tidak ada batasnya."
Ia menggerakkan tangannya. Wush!
Hembusan angin yang dihasilkan saja sudah mampu membelah udara dan memotong tiang kayu di belakangnya menjadi dua. Kekuatannya meningkat drastis sejak memasuki markas ini. Levelnya kini sudah melampaui level Master Bela Rakyat biasa, ia kini setara dengan penguasa wilayah!
Namun, seiring dengan meningkatnya kekuatan fisik dan energinya itu, ada sesuatu yang lain yang ikut berubah di dalam dirinya.
Suasana hati.
Dulu, saat pertama kali membunuh, tangannya gemetar, perutnya mual, dan pikirannya kacau.
Sekarang?
Li Yao menatap tumpukan mayat di hadapannya. Wajah-wajah kaku itu, mata yang melotot ketakutan, darah yang menggenang...
Ia tidak merasa apa-apa. Tidak ada rasa kasihan, tidak ada rasa bersalah, bahkan rasa puas pun sudah mulai tumpul. Yang ada hanyalah kekosongan yang dingin.
'Mereka mati. Itu saja. Mereka lemah, jadi mereka mati. Logika sederhana.'
Pikirannya berjalan sedingin logika mesin pembunuh.
"HEI MONSTER!! BERANI KAU MENYERANG MARKAS KAMI!!"
Tiba-tiba, tiga orang ahli seni bela diri tingkat menengah menerjang masuk dari tiga sisi berbeda. Mereka adalah pengawal elit yang baru dipanggil. Wajah mereka dipenuhi amarah dan keberanian yang dipaksakan.
"Kami akan mencincangmu menjadi daging cincang! Untuk membalas kematian saudara-saudara kami!"
Li Yao menatap mereka satu per satu. Matanya tanpa emosi.
"Kalian datang tepat waktu. Aku butuh batu loncatan untuk naik level lagi," ucapnya datar, seolah sedang berbicara soal cuaca.
"MATI!!"
Mereka bertiga menyerang serentak. Aura mereka ganas, teknik mereka indah dan mematikan. Namun di mata Li Yao, gerakan mereka lambat. Sangat lambat.
Wush! Byur! Sret!
Hanya dalam sekejap mata.
Tiga kilatan cahaya pedang melintas bersamaan.
Darah memuncrat ke dinding. Tiga tubuh itu rubuh bersamaan tanpa sempat berteriak.
Li Yao bahkan tidak menoleh ke belakang setelah membunuh mereka. Ia terus berjalan maju menuju aula utama, langkahnya mantap dan dingin.
Di sepanjang jalan, setiap kali ia melewati pintu atau jendela, orang-orang yang melihatnya langsung ketakutan setengah mati.
"Monster! Itu Iblis! Dia datang!"
"Lari! Selamatkan diri kalian sendiri!"
Li Yao mendengar teriakan itu, tapi telinganya seakan disaring. Suara-suara itu tidak lagi terdengar seperti rintihan manusia, melainkan hanya suara bising yang mengganggu.
"Qingyu... kau lihat? Kekuatanku terus bertambah..." bisiknya dalam hati. "Tapi aneh... semakin kuat aku, semakin dingin rasanya di sini."
Ia menepuk dadanya sendiri.
"Dulu, hati ini terasa perih dan panas karena dendam. Sekarang... rasanya seperti balok es yang membeku abadi. Tidak ada rasa sakit, tidak ada air mata, tidak ada apa-apa."
Apakah ini efek dari teknik iblis yang ia gunakan? Atau memang inilah harga yang harus dibayar untuk menjadi yang terkuat?
Membuang semua emosi yang melemahkan. Membuang belas kasihan, membuang rasa takut, membuang kasih sayang... hingga yang tersisa hanyalah murni kekuatan dan keinginan untuk membunuh.
"Bagus. Semakin beku, semakin tidak mudah goyah," pikirnya meyakinkan diri. "Hati yang beku tidak akan pernah bisa terluka lagi. Hati yang beku tidak akan pernah ragu untuk menebas leher musuh."
Ia tiba di depan pintu gerbang besar yang terbuat dari besi hitam tebal. Itu adalah pintu masuk Aula Utama.
Di balik pintu itu, pasti ada bos-bos besar yang menunggu.
Li Yao mengepalkan tangannya. Urat-urat hitam di pergelangan tangannya bersinar samar.
"Mari kita lihat... seberapa kuat kalian. Dan mari kita lihat... seberapa jauh hati ini bisa membeku sebelum akhirnya hancur menjadi debu."
BRAKK!!
Dengan satu tendangan keras, ia menghancurkan pintu besi itu berkeping-keping, memunculkan dirinya di hadapan seluruh penghuni aula sebagai malaikat maut yang sesungguhnya.