Araya Lin dipaksa menjadi pengantin
pengganti bagi kakak tirinya. la dinikahkan dengan Arkanza Aditama, seorang CEO miliarder yang dirumorkan kejam, dingin, dan cacat akibat sebuah kecelakaan tragis. Keluarga Araya tertawa, mengira mereka telah membuang anak tak berguna ke dalam 'neraka'.
Namun, di malam pertama pernikahan mereka, Araya terkejut saat melihat pria jangkung dengan tatapan setajam elang berdiri sempurna di hadapannya-tidak cacat sedikit pun. Di sisi lain, Arkanza mengira ia hanya menikahi gadis udik yang bisa ia kendalikan. la tidak tahu bahwa istri kecilnya yang terlihat lugu ini adalah "Z", seorang peretas jenius misterius yang selama ini dicari-cari oleh perusahaannya sendiri.
Ketika dua pembohong ulung terjebak dalam satu atap, akankah pernikahan kontrak ini berakhir dengan pertumpahan darah, atau justru memicu romansa yang tak terhentikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orang_Cuman_Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23: Serangan Balik Sang Bayangan
Hening menyelimuti bungker "Titik Nol" selama beberapa saat. Cahaya biru dari monitor raksasa memantul di wajah Araya yang pucat. Data di depannya bukan hanya sekadar angka, itu adalah peta kekuatan yang bisa memicu kiamat digital.
"Jika Keluarga Lin mendapatkan kunci ini, mereka tidak hanya akan menguasai ekonomi, mereka akan memegang leher setiap negara di wilayah ini," suara Araya memecah keheningan, terdengar dingin dan bertekad.
Arkanza berdiri di sampingnya, tangan kanannya masih memegang bahu Araya, memberikan kehangatan yang kontras dengan udara dingin bungker. "Lalu, apa yang harus kita lakukan? Menghancurkannya?"
Araya menggeleng cepat. "Menghancurkannya akan memicu protokol dead-man switch. Seluruh sistem pertahanan yang terhubung akan mengalami malfunction massal. Kita harus menguncinya secara permanen dengan enkripsi baru yang hanya bisa dibuka dengan biometrik kita berdua."
Arkanza menaikkan sebelah alisnya. "Kita berdua?"
"Ya," Araya menatap Arkanza mantap. "Kau adalah Aditama, aku adalah Lin. Jika ayah kita memulai ini sebagai aliansi rahasia, maka kita akan mengakhirinya sebagai pemegang kendali mutlak. Tanpa kesepakatan kita berdua, kunci ini tidak akan pernah bisa digunakan siapa pun."
Baru saja Araya hendak menyentuh papan ketik, sebuah peringatan merah berkedip di layar.
[DETEKSI PENYUSUPAN NIRKABEL: JARAK 500 METER]
Arkanza langsung siaga, meraih senapan taktis yang tadi ia letakkan di meja. "Bagaimana mungkin? Tempat ini tidak terdaftar di peta mana pun!"
"Mereka tidak menggunakan GPS, Arkanza," Araya dengan cepat mengetik baris perintah. "Mereka melacak jejak panas dari mesin SUV-mu saat masuk ke sini. Sial, mereka menggunakan drone militer!"
Layar CCTV menampilkan area gudang di atas. Tiga helikopter tanpa lampu navigasi melayang rendah, menurunkan pasukan dengan tali fast-rope. Mereka bukan lagi sekadar tentara bayaran biasa; mereka adalah unit elit "Gagak Hitam" milik Keluarga Lin.
"Araya, dengarkan aku," Arkanza menarik Araya agar menatap matanya. "Aku akan naik ke atas untuk menghambat mereka. Berikan aku waktu sepuluh menit untuk mengalihkan perhatian."
"Sepuluh menit?" Araya memegang tangan Arkanza. "Itu bunuh diri! Mereka punya pasukan lengkap!"
Arkanza mengecup singkat dahi Araya, sebuah tindakan yang membuat jantung Araya berhenti berdetak sesaat. "Aku adalah Arkanza Aditama. Aku tidak mati semudah itu. Selesaikan enkripsinya, lalu aktifkan sistem pembersihan otomatis bungker ini. Kita akan keluar lewat jalur pembuangan air."
Tanpa menunggu jawaban, Arkanza berlari menuju lift kecil, meninggalkan Araya dalam pacuan adrenalin yang luar biasa.
Araya kembali ke monitor. Jarinya menari dengan kecepatan yang belum pernah ia capai sebelumnya. Air mata menggenang, namun ia tidak membiarkannya jatuh.
"Jangan mati, Arkanza... kumohon jangan mati," bisiknya dalam doa.
Di layar monitor kecil, Araya melihat Arkanza keluar dari pintu gudang di atas. Pria itu menggunakan kegelapan dan tumpukan kontainer sebagai perisai. Suara tembakan mulai meletus, bersahutan dengan dentuman granat asap. Arkanza bergerak seperti hantu, menjatuhkan musuh satu per satu dengan efisiensi yang mematikan.
[PROSES ENKRIPSI: 65%... 80%...]
Tiba-tiba, suara ledakan besar terdengar tepat di atas bungker. Getarannya membuat beberapa monitor terjatuh. Araya tahu, pasukan elit itu mulai menggunakan peledak untuk menjebol lantai beton.
[PROSES ENKRIPSI: 100%. KUNCI BIOMETRIK DIPERLUKAN.]
Araya menempelkan telapak tangannya ke pemindai. "Otorisasi Araya Lin diterima."
"Arkanza! Aku butuh kau di sini!" teriak Araya ke arah interkom.
Dari pengeras suara, terdengar suara napas Arkanza yang terengah dan suara hantaman keras. "Gunakan... otorisasi jarak jauh dari jam tanganku yang terhubung ke server... lakukan sekarang, Araya!"
Araya menangkap sinyal dari jam tangan Arkanza.
[OTORISASI GANDA DITERIMA. PROJECT PHOENIX TERKUNCI PERMANEN.]
"Sudah selesai!" teriak Araya. "Arkanza, turun sekarang!"
Namun, tidak ada jawaban. Di monitor CCTV yang tersisa, Araya melihat Arkanza dikepung oleh lima orang bersenjata laras panjang di tengah kepulan asap. Seorang pria paruh baya melangkah keluar dari bayangan helikopter.
Paman Araya. Pemimpin Keluarga Lin yang selama ini bersembunyi.
"Bawa pemuda Aditama itu," suara paman Araya terdengar melalui mikrofon drone yang disadap Araya. "Dan katakan pada keponakanku... jika dia ingin suaminya tetap bernapas, serahkan ponsel hitam itu dalam satu jam di Dermaga 9."
Araya membeku. Dunianya gelap seketika. Senjata paling berbahaya di dunia sudah ia kunci, tapi pria yang ia cintai kini berada di tangan iblis.