NovelToon NovelToon
The End Of Before

The End Of Before

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di usia 27 tahun, Vivian Wheeler mengira hidupnya sempurna—hingga ia mendapati dirinya menjadi "pelakor" tanpa sengaja dalam satu hari yang sama.

Setelah memergoki pengkhianatan George, Kekasihnya, yang ternyata telah beristri, Vivian kembali dihantam badai saat dituduh sebagai selingkuhan oleh seorang remaja histeris yang mengamuk hingga merusak mobil Porsche-nya.

Penyebabnya? Logan Enver-Valerio, pemuda 20 tahun yang angkuh, menggunakan foto Acak Vivian sebagai alasan palsu untuk memutuskan Moana.

Tak terima dihina "wanita tua" dan dijadikan tameng, Vivian mendatangi kampus Logan dengan penampilan yang menipu usia, siap memberi pelajaran pada bocah ingusan tersebut.

Pertarungan ego antara sang pewaris tegas dan brondong ini pun dimulai. Siapakah yang akan menyerah saat mulai mencampuradukkan dendam dan obsesi?

🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#6

Pagi itu, Los Angeles tidak memberikan kehangatan yang biasanya. Vivian Wheeler duduk di ruang kerjanya yang berdinding kaca, menatap cek senilai lima puluh dua ribu dolar dari Logan yang tergeletak di atas meja. Namun, bukan angka itu yang mengusik pikirannya, melainkan sebuah undangan makan siang dari satu-satunya orang yang paling ingin ia hapus dari sejarah hidupnya: George.

George mengirimkan pesan singkat yang terdengar seperti perintah daripada ajakan: "The Ivy, jam 1 siang. Kita perlu bicara soal skandal yang kau ciptakan dengan istriku."

Vivian meremas ponselnya. Skandal yang dia ciptakan? Pria itu yang berbohong, pria itu yang berselingkuh, dan sekarang dia bersikap seolah Vivian adalah pengganggu dalam rumah tangganya yang suci.

"Kau ingin bermain peran sebagai korban, George? Baiklah," bisik Vivian dingin.

The Ivy selalu penuh dengan paparazzi dan sosialita. Saat Vivian tiba, George sudah duduk di sana, tampak maskulin dengan kemeja tailored biru muda yang selalu Vivian puji dulu. Namun kini, melihat wajah itu hanya membuat perut Vivian mual.

"Kau terlambat lima menit," ucap George tanpa mendongak, sibuk memotong steaknya.

Vivian duduk dengan anggun, tidak menyentuh menu. "Buat apa kau mencariku, George? Bukankah kau seharusnya sibuk meminta maaf pada 'istri sah' yang kau sembunyikan selama setahun ini?"

George meletakkan pisaunya, lalu menatap Vivian dengan tatapan meremehkan yang sangat tajam. "Dengar, Vivian. Aku menemui mu untuk memastikan kau tutup mulut. Istriku sangat marah, dan dia punya kekuatan untuk menghancurkan reputasi desain interior mu jika kau terus bersikap dramatis seperti di kafetaria itu."

Vivian tertawa getir. "Reputasiku? Kau yang menghancurkan hatiku, dan sekarang kau mengancam karierku?"

"Hati?" George terkekeh sinis, menyandarkan tubuhnya. "Jangan naif. Kita hanya bersenang-senang. Aku memilihmu karena kau tampak... mudah dikendalikan. Tapi ternyata kau hanyalah wanita yang haus perhatian."

George mencondongkan tubuhnya, suaranya merendah namun penuh penghinaan. "Lagi pula, siapa yang akan percaya padamu? Di usia dua puluh tujuh tahun, kau sudah menjadi barang lama yang pahit, Vivian. Siapa lagi pria yang mau berurusan dengan wanita pemarah sepertimu setelah aku pergi? Kau akan sendirian, membusuk dengan ambisimu."

Barang lama. Kata-kata itu menghantam Vivian lebih keras dari tamparan mana pun. George tahu betul bagaimana cara menusuk titik terlemahnya.

"Kau pikir aku akan meratapimu?" suara Vivian bergetar karena amarah yang ditahan. "Kau pikir duniaku berhenti karena seorang pria pengecut seperti kau?"

"Kenyataannya begitu, bukan?" George tersenyum sombong. "Aku tahu kau belum menemukan penggantiku. Pria sekelasku tidak tumbuh di pohon, Vivian."

Vivian menarik napas panjang. Egonya yang terluka bertemu dengan kilas balik ciuman panas Logan di parkiran kemarin. Sebuah ide gila, impulsif, dan berbahaya melintas di benaknya. Jika George ingin menganggapnya "barang lama" yang tidak laku, maka dia akan menunjukkan betapa salahnya pria itu.

"Kata siapa aku tidak memiliki pengganti, George?" Vivian membalas tatapan George dengan keberanian yang baru saja ia kumpulkan.

George menaikkan sebelah alisnya, tidak percaya.

"Bahkan," lanjut Vivian, suaranya kini terdengar tenang dan sangat provokatif, "aku bisa mendapatkan yang jauh lebih muda, lebih bertenaga, dan lebih ahli untuk memuaskan ku daripada pria paruh baya yang membosankan sepertimu."

George tertegun sejenak, lalu tawa keras meledak dari mulutnya. "Lebih muda? Memuaskan mu? Vivian, aku tahu kau. Kau wanita kaku yang bahkan sulit diajak ke tempat tidur. Jangan membual hanya karena kau merasa malu."

"Kau ingin bukti?" Vivian meraih ponselnya. Dia mencari nomor Logan—yang sudah dikirimkan oleh asistennya tadi pagi.

Tanpa ragu, Vivian menekan tombol panggil dan menyalakan loudspeaker.

Hanya butuh dua kali nada sambung sebelum suara serak dan berat yang sangat familiar menjawab di seberang sana.

"Baru satu hari dan kau sudah merindukan ciumanku, Kak?" suara Logan terdengar begitu percaya diri, memenuhi meja makan mereka.

Wajah George seketika berubah kaku. Dia mengenali nada suara itu—nada suara pria yang sangat muda dan penuh gairah.

"Logan," ucap Vivian dengan nada semanis madu yang dipaksakan. "Jemput aku di The Ivy sekarang?"

Ada jeda sejenak di seberang sana, sebelum Logan tertawa kecil yang terdengar sangat seksi. "Sepuluh menit, Vivian. Jangan berkedip, karena aku akan datang seperti badai."

Klik. Sambungan terputus.

Vivian menatap George yang kini tampak sangat gelisah. "Dia berusia dua puluh tahun, George. Tinggi, tampan, dan kau benar... dia sangat memuaskan ku. Sesuatu yang bahkan tidak pernah kau coba berikan selama setahun ini karena kau terlalu sibuk dengan istrimu."

George mengepalkan tangannya di atas meja. "Kau... kau berkencan dengan brondong? Kau benar-benar sudah gila dan tidak punya malu!"

"Aku hanya mengambil apa yang layak kudapatkan," sahut Vivian dingin.

Tepat sepuluh menit kemudian, suara raungan mesin Ducati yang memekakkan telinga berhenti tepat di depan pintu masuk The Ivy. Logan turun dari motornya, tidak melepaskan helmnya hingga dia berada di dalam restoran, menarik perhatian setiap pasang mata.

Saat dia melepas helm dan menyugar rambutnya yang sedikit berantakan, beberapa wanita di sana terang-terangan menahan napas. Logan berjalan menuju meja Vivian dengan langkah predator.

Dia tidak melihat ke arah George. Matanya hanya tertuju pada Vivian. Logan langsung berdiri di samping Vivian, meletakkan tangannya di bahu wanita itu dengan gerakan posesif yang sangat natural.

"Maaf membuatmu menunggu, Sayang," ucap Logan. Dia membungkuk dan mengecup pipi Vivian—sebuah gestur yang membuat Vivian tersentak pelan namun ia mencoba tetap tenang.

George berdiri, wajahnya merah padam. "Jadi ini 'penggantiku'? Anak ingusan ini?"

Logan akhirnya menoleh ke arah George. Dia menatap George dari atas ke bawah dengan pandangan menghina yang sangat kentara. "Dan kau pasti George? Pria yang cukup bodoh untuk melepaskan wanita seperti Vivian demi kehidupan ganda yang menyedihkan?"

"Kau tidak tahu apa-apa, Bocah!" bentak George.

Logan tersenyum, senyum yang sangat berbahaya. Dia menarik Vivian untuk berdiri dan merangkul pinggangnya dengan erat. "Aku tahu satu hal yang tidak kau tahu, George. Aku tahu bagaimana cara memperlakukan Vivian agar dia tidak perlu mencari 'kepuasan' di tempat lain."

Logan menatap Vivian, matanya berkilat penuh kemenangan. "Ayo pergi, Vivian. Tempat ini terlalu penuh dengan aroma pria tua yang putus asa."

Vivian tidak memprotes saat Logan membimbingnya keluar. Saat mereka melewati pintu restoran, Vivian sempat menoleh dan melihat George yang masih berdiri terpaku, tampak sangat terhina di depan publik.

Namun, begitu mereka sampai di dekat motor Logan, Vivian segera melepaskan rangkulan Logan.

"Terima kasih," ucap Vivian dengan napas yang masih memburu. "Kau datang tepat waktu."

Logan menyeringai, menyandarkan tubuhnya di motor. "Oh, jadi aku hanya dijadikan alat untuk membuat mantan kekasihmu cemburu? Itu sangat klise, Vivian."

"Aku hanya ingin dia diam," bela Vivian.

"Tapi kau tadi bilang aku 'memuaskan mu'," Logan melangkah mendekat, mengurung Vivian di antara tubuhnya dan motor. "Padahal kita berdua tahu, kita bahkan belum sampai ke tahap itu. Kau baru saja berbohong besar padanya, Kak."

Vivian memalingkan wajah. "Itu hanya untuk harga diri."

Logan menarik dagu Vivian agar menatapnya kembali. "Aku tidak suka menjadi alat secara gratis. Kau sudah menggunakan namaku, menggunakan auraku, dan sekarang... aku menagih bayarannya."

"Berapa yang kau mau? Akan ku tulis cek sekarang," ucap Vivian tegas.

Logan tertawa, suara tawanya terdengar sangat maskulin. "Aku sudah bilang, aku tidak butuh uangmu. Aku ingin apa yang kau katakan pada George menjadi kenyataan."

"Apa maksudmu?"

"Jadilah milikku. Secara nyata. Bukan hanya di depan mantanmu yang menyedihkan itu," bisik Logan, matanya menatap tajam ke dalam mata Vivian. "Biarkan aku membuktikan bahwa kau bukan 'barang lama', melainkan mahakarya yang pria seperti George tidak akan pernah mampu miliki."

Vivian membeku. Keputusannya menggunakan Logan sebagai senjata mungkin adalah kesalahan terbesar—atau keputusan terbaik—dalam hidupnya. Karena kini, senjata itu telah berbalik arah, mengincarnya dengan gairah yang tidak bisa ia hindari lagi.

"Besok malam, makan malam di rumahku. Hanya kita berdua," tuntut Logan. "Jika kau tidak datang, aku akan memastikan George tahu bahwa pembicaraan telepon tadi hanya sandiwara."

Logan memakai helmnya, menghidupkan mesin, dan melesat pergi, meninggalkan Vivian yang sekali lagi tertinggal dengan jantung yang berdetak tak karuan. Drama murahan ini baru saja berubah menjadi permainan yang sangat nyata.

1
ren_iren
pokoknya dar der dorrr🤭😂
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💃🆂🅾🅿🅰🅴⓪④
Aduh, Daddy udh tau ini 🙈🙈🙈
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💃🆂🅾🅿🅰🅴⓪④: Efek msh darah muda juga itu ya, De 🤦🤦🤦
total 4 replies
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💃🆂🅾🅿🅰🅴⓪④
Biar cinta segi4 mreka mnemukan jalan keluar terbaik wlau hrs mlewati neraka 🙈🙈🙈
Ros 🍂: ngakak ya tuhan 🤣🤣
total 5 replies
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💃🆂🅾🅿🅰🅴⓪④
Dad, Mom, itu Kedua Putra Putri kalian udh mlakuan ksalahn & mnyebabkn Flo hancur 🤦🤦🤦
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💃🆂🅾🅿🅰🅴⓪④: Ok, Ade ❤️🤗😘
total 9 replies
Nasya Sifa Aura
sdh lu tebak apa elowen tau y klau itu bkn kk kandung ny
Ros 🍂: ayo main tebak-tebakan kak😭🤣🤣🙏
total 1 replies
Ros 🍂
Nah Benar.🥰🤣
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💃🆂🅾🅿🅰🅴⓪④
Tnyata oh tnyata, Elowen ...
Ros 🍂: Huhuhu terharu 🥹😭🤣
total 5 replies
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💃🆂🅾🅿🅰🅴⓪④
Jd inget Kartun, Flo & Al sperti Tom & Jerry 🤦🤦🤦
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💃🆂🅾🅿🅰🅴⓪④: Bener, Ade 🤣🤣🤣
total 2 replies
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💃🆂🅾🅿🅰🅴⓪④
Moveee, Felix, klo gk mau, cwe yg kau cintai direbut Ade mu 🤦🤦🤦
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💃🆂🅾🅿🅰🅴⓪④
Blummm... msh otw jd kekasih 🤣🤣🤣
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💃🆂🅾🅿🅰🅴⓪④: Hi hi 🤣🤣🤣
total 2 replies
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💃🆂🅾🅿🅰🅴⓪④
Wkwkwkw siapa yg pernah ke neraka 🤭🤭🤭
ren_iren
nah loh bau bau huru hara akan terjadi.... 🤭
Ros 🍂: Wkwkw siapkan diri kak 🤣🙏🥰
total 1 replies
Dev..
Vivian keterlaluan banget, dia dominan di hubungkan pernikahan, padahal harusnya ada proses diskusi utk ambil keputusan..😌
Ros 🍂: Nah benar kak🥰
total 1 replies
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💃🆂🅾🅿🅰🅴⓪④
Logan gk mau Putra ny mngalami hal yg sama sperti diri ny dulu 👍👍👍
Ros 🍂: Benar kak🥰
total 1 replies
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💃🆂🅾🅿🅰🅴⓪④
Aduh, Logan, ini Putra mu, bikin 'mual' 🤣🤣🤣
Ros 🍂: besar dimulut kak😭🥰
total 3 replies
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💃🆂🅾🅿🅰🅴⓪④
Auuu auuu suka hewan purba ternyata 🤭🤭🤭
Ros 🍂: cap Dino nggak tuh 🫶🤣
total 1 replies
Nasya Sifa Aura
thor aku blm, ngantuk msh di tggu up selanjut ny
Ros 🍂: kak🫶🥰
total 1 replies
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💃🆂🅾🅿🅰🅴⓪④
Jd kacian liat nasib Flo 😔😔😔
Ros 🍂: huhu 🥹
total 1 replies
Nasya Sifa Aura
thor buat donk cerita ank2 ny logan and vivian
Ros 🍂: udah ya kak 🤭🫶
total 1 replies
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💃🆂🅾🅿🅰🅴⓪④
hi hi kadal, aduh hewan imut itu 🤣🤭🤦
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💃🆂🅾🅿🅰🅴⓪④: Asyiiiaaappp, Ade 🤣🤭👍
total 8 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!