NovelToon NovelToon
TELAHIR SAKTI

TELAHIR SAKTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi
Popularitas:652
Nilai: 5
Nama Author: Abas Putra

TELAHIR SAKTI: "Pencarian Pusaka Primordial"

Dunia yang damai ternyata hanyalah lembaran kertas di mata para dewa.

Pahlawan legendaris bernama Raka mengorbankan jiwa dan raganya yang merupakan tetesan "Tinta Primordial" untuk membebaskan dunia dari belenggu Naskah Takdir. Pengorbanannya memberikan kehendak bebas bagi seluruh penduduk fana. Namun, di dimensi kosmik yang jauh lebih tinggi, sebuah tempat bernama Ruang Redaksi, kebebasan ini dianggap sebagai "Kecacatan Cerita" yang harus segera dihapus."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abas Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

B 16: Tiga Pilar Kehancuran

Leluhur Tanah, yang tadinya mengendalikan gravitasi, tiba-tiba merasakan tubuhnya sendiri hancur oleh beratnya sendiri. Ia berteriak saat tubuhnya menciut menjadi butiran debu.

Raka melesat menuju Leluhur Api dan Guntur. Kecepatannya kini bukan lagi kecepatan cahaya, melainkan manipulasi ruang. Ia muncul di antara keduanya dan memegang kepala mereka masing-masing.

BOOOMMMM!

Tanpa ada ledakan api, kedua Leluhur itu hancur menjadi partikel cahaya yang langsung terhisap ke dalam dada Raka. Seluruh energi mereka, ribuan tahun kekuatan elemen, kini menjadi milik Raka."

Bisikan Sang Kakek

Setelah pertempuran berakhir, aula istana kini hanya menyisakan keheningan dan puing-puing.

Vanya mendekati Raka, ia mengenakan kembali jubah peraknya dengan gemetar. Raka berdiri di tengah ruangan, matanya kini berwarna putih murni tanpa pupil.

Tiba-tiba, dari dalam batin Raka, sebuah suara yang sangat lembut namun berwibawa terdengar. Bukan suara pemberi warisan yang biasa, tapi suara yang jauh lebih hangat.

"Raka... cucuku... kau telah sampai pada tahap ini."

Raka tertegun. "Kakek? Di mana kau?!"

"Aku berada tepat di bawah kakimu, di Penjara Inti Matahari Asal. Sembilan Leluhur yang tersisa telah bersatu untuk melakukan 'Ritual Pemadaman'.

Jika mereka berhasil, seluruh alam semesta akan kembali ke dalam kegelapan mutlak untuk mereka kuasai selamanya.

Cepatlah, Raka... Waktumu tinggal sedikit."

Raka menatap ke bawah," ia langsung menembus lantai kristal menuju kedalaman istana yang paling gelap.

Ia bisa merasakan aura kakeknya, Sang Leluhur Ke-13, yang sedang disiksa oleh sembilan orang terkuat di alam semesta.

"Vanya, bersiaplah," ucap Raka sambil mengepalkan tinjunya yang kini dikelilingi oleh aura singularitas.

"Kita akan turun ke dasar neraka ini dan menjemput takhta yang sebenarnya."

Raka menghantamkan tinjunya ke lantai.

DUARRRRRR!

Seluruh istana berguncang hebat saat Raka menciptakan lubang besar yang menuju ke inti Wilayah Daulat."

"Penjara Inti dan Amuk Sembilan Bintang"

Tubuh Raka dan Vanya melesat jatuh menembus ribuan meter lapisan kristal dan logam kosmik. Semakin dalam mereka terjun, udara semakin terasa padat dan membara. Suara jeritan energi terdengar seperti ribuan biola yang dipaksa putus."

Mereka mendarat di sebuah ruang sferis raksasa yang dikenal sebagai Penjara Inti Matahari Asal. "Di tengah ruangan itu, sebuah bola energi berwarna hitam putih berdenyut seperti jantung yang sekarat. Di dalam bola itu, seorang pria tua dengan jubah emas yang compang-camping dirantai oleh ribuan benang energi perak. Itulah Sang Leluhur Ke-13, kakek Raka.

Di sekelilingnya itu, sembilan sosok berjubah putih berdiri melingkar. Mereka adalah Leluhur terakhir, dipimpin oleh Primus, Leluhur Tertinggi yang memiliki mata tiga.

"Jadi, serangga kecil ini benar-benar sampai di sini," suara Primus bergema, sangat tenang namun bergetar dengan kekuatan yang bisa menghancurkan atom.

"Ritual Pemadaman tinggal satu tahap lagi. Kehadiranmu hanya akan menjadi tumbal terakhir yang sempurna, Raka."

Zinggg!

Sembilan Leluhur itu mengangkat tangan mereka secara bersamaan. Sebuah jaring energi berwarna pelangi menyapu ruangan, menekan Raka dan Vanya hingga mereka terhimpit ke dinding penjara.

"Argh!"

Raka mengerang. Kekuatan kolektif sembilan Leluhur jauh melampaui apa pun yang pernah ia hadapi. Matahari Asal Tahap Ketiganya mulai meredup di bawah tekanan tersebut.

Hanya satu yang bisa menolongnya, ialah penyatuan dengan Vanya." Vanya merangkak menuju Raka, tubuhnya memar oleh tekanan gravitasi Primus. Ia tahu, ini adalah pertaruhan terakhir.

Tanpa "Loncatan Sukma", Raka akan mati di sini.

"Raka... tidak ada waktu lagi," bisik Vanya, suaranya parau.

"Kau harus membuka gerbang keempat... Matahari Penciptaan.

Tapi tubuhmu tidak akan kuat menahannya sendirian. Kau harus menyerap seluruh keberadaanku... bukan hanya energi, tapi seluruh sel hidupku."

Vanya! Apa maksudmu," Ucap Raka.

Tetapi Vanya tak banyak bicara," ia menarik Raka ke sebuah celah di balik kristal inti yang masih gelap. Di tengah ancaman kematian yang mendesak, Vanya melepaskan seluruh pelindung energinya. Ia menarik Raka masuk ke dalam pelukannya yang gemetar namun penuh keberanian.

Vanya menempelkan seluruh tubuhnya yang tanpa pelindung pakaian ke tubuh Raka yang membara. Di bawah tekanan jutaan ton gravitasi penjara inti, mereka melakukan penyatuan yang paling Panas dan sakral.

Raka mulai menyatukan, karana sudah terdesak, dan Langsung mencium Vanya, merasakan setiap sel tubuh Vanya mulai meluruh menjadi partikel cahaya yang masuk ke dalam pori-pori kulitnya."

Suara desahan Vanya perlahan menyatu dengan dengungan energi inti. Kenikmatan Sensasi yang luar biasa bercampur dengan rasa sakit yang hebat saat jiwa mereka benar-benar melebur menjadi satu.

Tangan kekar Raka merengkuh punggung Vanya untuk terakhir kalinya, merasakan kehangatan wanita itu sebelum ia benar-benar menjadi bagian dari dirinya."

"Terima kasih... cintaku," bisik Vanya tepat sebelum tubuhnya lenyap menjadi cahaya murni yang menyatu dengan simbol naga di dada Raka."

BOOOMMMM!

Ledakan energi dari penyatuan itu begitu kuat hingga jaring energi sembilan Leluhur hancur berkeping-keping. "Matahari Asal Tahap Keempat: Matahari Penciptaan."

Raka berdiri perlahan. Ia tidak lagi tampak seperti manusia. Tubuhnya kini terbuat dari jalinan cahaya bintang yang solid.

Rambutnya panjang melambai seolah tertiup angin galaksi, dan matanya kini memancarkan pemandangan kelahiran bintang-bintang baru. "Inilah Matahari Asal Tahap Keempat: Matahari Penciptaan."

"Mustahil!" Primus berteriak, mata ketiganya terbuka lebar memancarkan sinar kehancuran. "Loncatan Sukma?! Dia menelan Pendeta Kehampaan!"

Sembilan Leluhur melepaskan serangan gabungan terbaik mereka. Ada naga es, badai petir hitam, hingga lubang cacing yang mencoba menelan Raka.

Wusss!

Raka hanya menggerakkan tangannya seperti seorang konduktor musik. Serangan-serangan mematikan itu seketika berubah menjadi ribuan kelopak bunga kosmik yang harum dan menghilang di udara.

"Sekarang, aku adalah hukum alam itu sendiri," ucap Raka dengan suara yang mengguncang seluruh Wilayah Daulat.

Raka melesat. Wusssh!

Ia muncul di depan salah satu Leluhur dan hanya menyentuh keningnya. Leluhur itu seketika berubah menjadi sebatang pohon kristal yang indah, kehilangan seluruh kekuatannya.

Raka melakukan hal yang sama pada empat Leluhur lainnya dalam hitungan detik.

Sret! Sret! Sret!

"Hentikan dia!" Primus mencoba menyerang dengan tombak cahaya tertinggi.

Raka menangkap tombak itu dengan dua jari.

Srekkk!

Tombak itu patah seperti kayu lapuk. Raka kemudian memberikan satu pukulan telak ke dada Primus.

Bugh!

Pukulan itu tidak melempar Primus, tapi mengirimkan gelombang "penciptaan" yang menghapus semua energi "kehancuran" di tubuh Primus.

Primus jatuh berlutut, wajahnya menua dengan cepat, kehilangan keabadiannya.

Raka berjalan menuju bola energi yang mengurung kakeknya. Ia menyentuh bola itu dengan lembut.

Sring!

Rantai-rantai perak itu seketika berubah menjadi aliran air yang sejuk dan membebaskan sang kakek.

Sang Leluhur Ke-13 terjatuh ke pelukan Raka. Ia menatap cucunya dengan air mata yang mengalir di pipinya yang keriput.

"Raka... kau telah melakukannya. Kau telah mencapai tahap yang melampaui kami semua."

"Kakek, kita harus pergi dari sini. Tempat ini akan runtuh," ucap Raka.

Namun, Sang Leluhur menggeleng.

"Tidak, Raka. Penjara ini adalah penyeimbang Wilayah Daulat.

Jika aku pergi, seluruh tempat ini akan meledak dan menghancurkan dunia manusia di bawahnya. Aku harus tetap di sini untuk menjadi inti yang baru."

Raka terdiam. Ia melihat kakeknya yang kini mulai bersinar, menyatu dengan inti Matahari Asal.

"Pergilah, Raka. Bawa Vanya bersamamu... dia tidak mati, dia hidup di dalam sukmamu. Jadilah pelindung yang lebih baik dari kami. Dunia manusia adalah masa depan, bukan tempat ini."

Sang Leluhur memberikan dorongan energi terakhir yang melempar Raka keluar dari Penjara Inti.

Syuuuuuutttt!

Raka melesat menembus lapisan istana, kembali menuju atmosfer dunia manusia. Di belakangnya, Istana Kristal dan Wilayah Daulat perlahan-lahan menghilang ke dimensi lain, meninggalkan langit yang kembali biru dan tenang."

Raka mendarat di puncak Gunung Meru, tempat semuanya dimulai. Ia berdiri sendirian, namun ia bisa merasakan kehadiran Vanya di dalam batinnya, memberinya kehangatan yang tak akan pernah padam. Ia kini adalah Penguasa Jagat yang sesungguhnya, bukan karena ia menguasai takhta, tapi karena ia memiliki kekuatan untuk menciptakan kedamaian."

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!