Guntur, pemuda Sidoarjo dengan rambut gondrong dan jurus silat warisan kakek, harus menerima kenyataan pahit saat cintanya dikandas oleh Amanda. Dengan bekal uang saku hasil menjual mesin pompa air dan sekeranjang perbekalan sederhana, Guntur berangkat ke Jakarta untuk mengubah nasib.
Di hari pertamanya, Guntur hampir ditabrak oleh Vaneshaseorang CEO galak yang ia juluki "Mak Lampir"yang ternyata adalah sepupu mantan kekasihnya! Takdir kemudian membawanya menyelamatkan Bang Soni, bos penguasa dunia malam yang anti-narkoba namun gemar minum keras, dari serangan preman.
Kini, Guntur terjebak di antara tugas menjaga Sekar putri Bang Soni yang tak kalah galak dan intrik keluarga kaya yang dulu meremehkannya. Dengan sifatnya yang sulit ditebak dan jurus silat yang mematikan, Guntur siap menggoncang Jakarta dan membuktikan bahwa jagoan sejati tidak butuh jas mewah untuk berkuasa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Transformasi Naga Sarungan
Setelah satu jam guling-guling di kasur empuk hotel, pintu kamar Guntur digedor kasar sama Vanesha. Guntur bangun sambil ngulet, sarungnya sudah melintir sampai ke dada.
"Guntur! Bangun! Kita harus ke butik sekarang! Desainer paling mahal di Jakarta sudah nunggu!" teriak Vanesha dari luar.
Guntur buka pintu sambil garuk-garuk rambut. "Walah, Mbak V... kaget saya. Saya kira tadi ada razia kos-kosan."
Vanesha cuma bisa geleng-geleng kepala melihat penampilan partner bisnisnya itu. "Cepetan ganti celana! Jangan pakai sarung ke butik itu, nanti dikira mau minta sumbangan!"
Setelah debat panjang, mereka akhirnya sampai di sebuah butik mewah di kawasan Jakarta Selatan. Begitu masuk, aromanya harum bunga mahal, bukan aroma kretek kesukaan Guntur.
Seorang desainer pria dengan gaya gemulai menyapa mereka. "Oh, Darling Vanesha! Ini ya calon klien kita hari ini?" tanya desainer itu sambil melirik Guntur dari atas sampai bawah.
Guntur langsung pasang muka waspada. "Loh, Mbak V, ini kok mas-masnya panggil 'Darling'? Terus kok lihat saya kayak lihat barang antik di pasar loak?" bisik Guntur.
Vanesha mencoba tenang. "Guntur, ini Steven. Dia yang bakal bikin kamu kelihatan kayak manusia berkelas. Steven, tolong buatkan dia jas paling mahal, tapi yang bikin auranya keluar."
Steven mendekat ke Guntur sambil membawa pita meteran. "Ayo Man, berdiri tegak ya. Saya ukur dulu lingkar dadanya."
Guntur langsung melompat mundur. "Eits! Sabar dulu Mas Steven! Jangan pegang-pegang, saya ini barang pecah belah. Nanti kalau lecet, harganya turun!"
Vanesha menepuk jidatnya. "Guntur! Dia cuma mau ukur baju, bukan mau ngajak berantem! Diem atau saya suruh kamu balik ke Sidoarjo jalan kaki!"
Guntur akhirnya pasrah. Steven mulai melilitkan pita meteran ke perut Guntur.
"Wah, perutnya firm juga ya. Sering olahraga apa masnya?" tanya Steven ramah.
Guntur bangga. "Olahraga tarik gas motor matic, Mas. Sama olahraga angkat karung beras kalau lagi bantuin tetangga."
Steven cuma tertawa kecil. "Oke, sekarang lingkar pinggang ya. Tolong sarungnya dilepas dulu, mau saya ukur pakai celana kain ini."
Guntur langsung memegang erat ikatan sarungnya. "Waduh! Nggak bisa Mas! Sarung ini adalah pelindung kehormatan saya. Kalau dilepas, nanti kekuatan naga saya hilang!"
Vanesha sudah mulai kehilangan kesabaran. "Steven, langsung kasih dia jas yang sudah jadi saja! Ukuran Large. Guntur, masuk ke kamar ganti sekarang, ganti baju kamu atau saya tinggal!"
Guntur masuk ke kamar ganti dengan wajah cemberut. Lima menit kemudian, dia belum keluar juga.
"Guntur! Lama banget sih! Lagi ngapain di dalam?!" teriak Vanesha dari luar.
"Sabar Mbak V! Ini jasnya kok banyak banget kancingnya? Terus ini kain yang panjang buat leher ini cara pakainya gimana? Apa ditalikan ke hidung?" sahut Guntur bingung.
Vanesha akhirnya minta izin Steven buat masuk ke ruang ganti. Begitu pintu dibuka, Vanesha hampir pingsan. Guntur pakai jas, tapi dasinya malah diikatkan di pinggang kayak sabuk silat, dan kemejanya salah kancing.
"Sini saya benerin! Kamu itu benar-benar bikin darah tinggi ya," ucap Vanesha sambil mulai membetulkan kancing kemeja Guntur satu per satu.
Jarak mereka jadi dekat banget. Guntur bisa mencium parfum mahal Vanesha, dan Vanesha bisa merasakan napas Guntur yang tenang. Suasana tiba-tiba jadi hening dan sedikit canggung.
Guntur menatap wajah Vanesha yang sedang serius membetulkan dasinya. "Mbak V... kalau lagi diam begini, sampeyan ternyata nggak mirip Mak Lampir ya. Malah mirip... bidadari yang lagi khilaf."
Vanesha langsung mematung. Pipinya merona merah. Dia segera menarik dasi Guntur agak kencang sampai Guntur tersedak. "Udah! Jangan ngaco! Sekarang keluar, lihat di cermin!"
Guntur keluar dan berdiri di depan cermin besar. Dia terdiam. Di cermin itu, nggak ada lagi ojek sarungan. Yang ada adalah seorang pria gagah dengan jas hitam slim fit yang membuatnya kelihatan sangat berwibawa dan mahal.
Steven bertepuk tangan. "Oemji! Look at you! Kamu benar-benar punya aura 'Old Money' ya. Ganteng banget!"
Guntur memutar badannya, lalu berpose ala model gagal. "Wah... ini beneran saya ya? Kok jadi mirip artis film laga yang di TV-TV itu ya? Mbak V, gimana? Sudah pantes belum jadi calon... eh, maksudnya jadi mitra bisnis sampeyan?"
Vanesha terpesona sebentar, tapi langsung membuang muka. "Biasa aja. Yang penting kamu nggak bikin malu pas rapat besok. Ayo bayar, terus kita balik. Saya capek!"
Guntur cuma nyengir. Dia merasa percaya diri sekarang. Sang Naga sudah ganti kulit, tapi jiwanya tetap jiwa ojek yang siap mengobrak-abrik Jakarta dengan cara yang paling sengklek.
"Nggeh pun, Bos. Tapi jas mahal begini kalau dipakai makan bubur ayam di pinggir jalan, kira-kira dilarang nggak ya?" celetuk Guntur sambil jalan keluar butik dengan gaya sok elit
Guntur berjalan keluar dari butik dengan langkah yang dibuat-buat tegap, tapi tangannya sesekali masih narik-narik bagian bawah jasnya yang terasa ketat. Di belakangnya, Vanesha berjalan sambil menenteng tas belanjaan berisi baju-baju Guntur yang lain.
"Mbak V, jujur ya... ini celananya kok ngepres banget di bagian paha? Saya ngeri pas jongkok nanti suaranya kretek kayak krupuk kegencet," keluh Guntur sambil mencoba melangkah lebar di parkiran.
Vanesha tertawa kecil, kali ini tawanya terdengar tulus. "Itu namanya model slim fit, Guntur! Bukan celana kompor yang biasa kamu pakai buat narik ojek. Sudah, diam dan nikmati saja jadi orang ganteng sehari."
Begitu mereka sampai kembali di hotel, Guntur sengaja lewat di depan resepsionis yang tadi pagi sempat dia kerjain. Guntur sengaja benerin kerah jasnya sambil pasang muka sok dingin ala aktor Korea.
Resepsionis cantik itu sampai melongo, nggak percaya kalau pria yang tadi pagi pakai sarung melintir sekarang berubah jadi pria elit yang auranya sangat mahal. "Selamat sore... Bapak... ada yang bisa dibantu?" tanya resepsionis itu dengan nada bicara yang jadi sangat sopan.
Guntur berhenti sejenak, lalu sedikit membungkuk. "Nggak ada Mbak, cuma mau kasih tahu... AC-nya sudah pas buat jas mahal saya. Terima kasih ya," ucap Guntur sambil mengedipkan satu mata dengan gaya tengilnya.
Vanesha langsung menarik lengan Guntur menuju lift. "Guntur! Berhenti menggoda staf hotel! Ingat jadwal kita malam ini, kamu harus baca berkas profil investor yang sudah saya kirim ke email kamu."
Sampai di depan pintu kamar, Guntur berbalik menatap Vanesha. "Mbak V, terima kasih ya buat jasnya. Tapi satu hal yang perlu sampeyan tahu... mau saya pakai jas harga seratus juta atau sarung harga tiga puluh ribu, Guntur tetaplah Guntur. Sang Naga dari Sidoarjo nggak akan berubah jadi kucing persia Jakarta cuma gara-gara kain mahal ini."
Vanesha terdiam, menatap mata Guntur yang berkilat penuh percaya diri. "Saya tahu, Guntur. Justru itu alasan saya bawa kamu ke sini. Saya butuh 'Naga' itu, bukan cuma sekadar pria berjas. Sekarang istirahat, besok pagi jam delapan saya jemput di depan kamar!"
Guntur masuk ke kamarnya, melepas jasnya perlahan dan menggantungnya dengan rapi—hal yang jarang dia lakukan pada bajunya sendiri. Dia kemudian duduk di pinggir kasur, mengambil rokok kretek dari saku celana kain mahalnya, dan menyulutnya pelan.
Puffff... Asap kretek kembali memenuhi ruangan mewah itu. Guntur menatap gemerlap lampu Jakarta dari balik jendela kaca yang besar. "Besok adalah harinya. Kita lihat, apa orang-orang kaya di sana siap nerima kejutan dari ojek sengklek ini," gumam Guntur sambil tersenyum misterius.
Malam itu, di bawah langit Jakarta yang tak pernah tidur, Sang Naga sudah siap dengan kulit barunya. Transformasi fisik mungkin sudah selesai, tapi jiwa petarungnya baru saja mulai bangkit. Besok, pertemuan besar menanti, dan Guntur sudah menyiapkan strategi paling konyol namun mematikan untuk membungkam siapa pun yang meremehkannya.