NovelToon NovelToon
Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Teen
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Widia ayu Amelia

Setelah 17 tahun hidup dalam kemiskinan dan menjadi korban perundungan oleh Clarissa, si "Putri Mahkota" sekolah, sebuah kecelakaan tragis mengungkap rahasia besar: Adel adalah putri kandung keluarga konglomerat Mahendra yang tertukar saat lahir.
Kembali ke rumah mewah ternyata bukan akhir dari penderitaan. Adel harus menghadapi penolakan dari ibu kandungnya sendiri yang lebih menyayangi Clarissa si anak palsu. Namun, Adel bukanlah gadis lemah yang bisa ditindas. Dengan bantuan Devan, tunangan Clarissa yang dingin dan berbahaya, Adel bangkit untuk merebut kembali takhtanya, membalas setiap penghinaan, dan membuktikan siapa pemilik sah dari nama besar Mahendra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1

Lantai marmer lobi SMA Garuda Nusantara tidak pernah berbohong. Baginya, semua orang yang menginjakkan kaki di atasnya memiliki kasta yang berbeda, dan Adelard—atau yang akrab dipanggil Adel—berada di kasta paling dasar. Sambil menggenggam erat gagang pel yang kayunya sudah mulai lapuk, gadis berusia tujuh belas tahun itu menyeka keringat yang menetes di dahi dengan punggung tangan.

Di sekolah internasional ini, Adelard adalah "hantu" yang nyata. Ia ada, ia bernapas, dan ia duduk di kelas yang sama dengan anak-anak pemilik gedung bertingkat di Jakarta. Namun, saat bel istirahat berbunyi dan siswa lain berhamburan ke kantin mewah untuk memesan pasta seharga gaji buruh harian, Adel harus bertransformasi. Ia melepaskan almamater kebanggaan sekolah dan mengenakan celemek biru kusam untuk membersihkan sisa-sisa kesenangan mereka. Itulah harga mati yang harus dibayar demi sebuah beasiswa penuh "Garuda Emas".

"Lihat siapa yang sedang menari dengan pelnya hari ini. Bukankah pemandangan ini sangat estetik untuk konten TikTok kita?"

Sebuah suara melengking yang sangat dikenal Adel memecah keheningan lobi yang biasanya hanya diisi suara langkah kaki. Adel tidak perlu mendongak untuk tahu siapa pemilik suara itu. Aroma parfum *Chanel No. 5* yang menyengat, aroma yang melambangkan kekuasaan tak terbatas, sudah lebih dulu menusuk indra penciumannya.

Clarissa Mahendra. Sang Putri Mahkota sekolah.

Clarissa berjalan mendekat dengan langkah angkuh yang sengaja dihentak-hentakkan. Di belakangnya, dua pengikut setianya, Sarah dan Bella, mengekor bagaikan bayangan hitam yang siap menerkam. Sepatu hak tinggi bermerek *Christian Louboutin* milik Clarissa sengaja menginjak bagian lantai yang baru saja dipel Adel dengan susah payah, meninggalkan jejak tanah cokelat yang kontras di atas marmer putih.

"Maaf, Clarissa. Lantainya baru saja dipel. Tolong lewat jalur sebelah sana agar tidak licin," ucap Adel dengan suara serendah mungkin. Ia berusaha menjaga nada bicaranya tetap datar, meski jemarinya mencengkeram gagang pel hingga memutih.

Clarissa berhenti tepat di depan Adel. Jarak mereka begitu dekat hingga Adel bisa melihat pantulan dirinya yang kusam di mata kecokelatan Clarissa yang tajam. "Kau memerintahku, Adel? Di sekolah yang sayap perpustakaannya dibangun menggunakan uang saku bulananku? Kau lupa siapa yang memberimu makan di sini?"

"Aku hanya menjalankan tugas dari pihak kebersihan sekolah," jawab Adel, tetap menunduk. Pandangannya tak sengaja jatuh pada leher jenjang Clarissa. Di sana melingkar sebuah kalung emas putih yang berkilau di bawah lampu kristal lobi. Sebuah liontin berbentuk matahari kecil dengan ukiran huruf 'A' yang sangat halus di tengahnya.

Dada Adel berdegup kencang, seolah ada genderang yang dipukul bertalu-talu di dalam sana. Kalung itu... sangat mirip, bahkan identik dengan sketsa kasar yang tersimpan di dalam dompet lusuhnya. Sketsa yang digambar oleh ibu panti berdasarkan deskripsi satu-satunya harta yang melekat pada selimut Adel saat ia ditemukan di depan gerbang panti asuhan tujuh belas tahun lalu.

'Mungkin hanya kebetulan,' batin Adel mencoba menenangkan diri. 'Hanya kebetulan orang kaya memiliki barang yang sama.'

"Kenapa kau melihat kalungku? Kau mau mencurinya juga, dasar tangan panjang?" Clarissa tiba-tiba merampas tumpukan kertas dari tangan kiri Adel yang sedang memegang map plastik. "Apa ini? Tugas esai sejarah untuk Mr. Smith?"

"Clarissa, kembalikan! Itu harus dikumpulkan sepuluh menit lagi atau beasiswaku akan ditinjau ulang!" Adel mencoba meraih kertasnya, namun Bella dan Sarah segera menghalanginya dengan dorongan kasar di bahu.

Clarissa menyeringai kejam. Di tangan kanannya, ia memegang gelas plastik berisi *caramel macchiato* yang masih penuh dan mengepulkan uap manis. "Kudengar Mr. Smith sangat menyukai kebersihan. Tapi sepertinya, esaimu ini terlalu... membosankan."

"Clarissa, jangan—"

*Byur!*

Tanpa ragu, Clarissa membuka tutup gelasnya dan menuangkan cairan cokelat lengket itu dengan gerakan lambat di atas tumpukan kertas esai Adel. Cairan itu meresap ke dalam serat kertas, menghapus tinta hitam yang merupakan hasil riset Adel selama berminggu-minggu di perpustakaan kota. Tidak berhenti di situ, Clarissa sengaja mengarahkan sisa kopi panas itu ke seragam putih Adel.

Adel memekik pelan saat rasa panas menjalar di dadanya. Seragamnya yang sudah tipis itu kini berubah warna menjadi cokelat kotor dan menempel di kulitnya.

Suara tawa pecah di lobi. Beberapa siswa yang lewat mulai berkerumun, membentuk lingkaran setan. Di zaman ini, empati adalah barang langka yang lebih mahal daripada berlian. Mereka justru mengeluarkan ponsel, mengarahkan kamera ke arah Adel yang gemetar, dan mulai merekam momen memilukan itu untuk dijadikan bahan lelucon di grup pesan singkat.

"Kasihan sekali si beasiswa itu. Sekarang dia benar-benar terlihat seperti lap pel yang ia pegang," ejek seorang siswa figuran dari barisan belakang.

"Lihat wajahnya, dia ingin menangis tapi tidak berani. Benar-benar hiburan yang bagus sebelum kelas dimulai," timpal yang lain.

Adel terpaku di tempatnya. Rasa panas dari kopi itu sebenarnya tak seberapa, namun rasa malu dan amarah yang membakar di dalam dadanya terasa ribuan kali lebih menyakitkan. Ia melihat hasil kerja kerasnya hancur menjadi bubur kertas yang menjijikkan di bawah kaki Clarissa.

"Kenapa, Adel? Kau mau menangis dan mengadu pada kepala sekolah?" Clarissa tertawa renyah, sebuah suara yang terdengar seperti musik bagi para pengikutnya namun seperti racun mematikan bagi Adel. "Ingat satu hal: di sekolah ini, suaramu tidak lebih keras dari suara debu. Tempatmu itu di bawah, di lantai ini, membersihkan kotoranku. Jangan pernah bermimpi untuk sejajar denganku."

Clarissa melempar gelas plastik kosongnya tepat ke arah kaki Adel. "Bersihkan itu. Sekarang. Sebelum aku melaporkan pada bagian administrasi kalau kau bekerja dengan tidak becus dan membuat lobi kotor."

Adel mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri. Ia ingin sekali berteriak, ingin sekali menyiramkan air pel yang kotor itu ke wajah cantik Clarissa. Namun, bayangan wajah ibu panti yang sudah tua dan harapan untuk kuliah di universitas negeri menahan kakinya. Jika ia melawan, satu telepon dari keluarga Mahendra akan membuat hidupnya hancur dalam semalam.

Dengan tubuh gemetar dan mata yang mulai memanas karena air mata yang dipaksa tidak jatuh, Adel perlahan berlutut. Di depan ratusan pasang mata yang menghina, ia mulai memunguti gelas kosong dan kertas-kertasnya yang hancur.

"Bagus. Anjing yang penurut akan selalu mendapatkan tempatnya," bisik Clarissa tepat di telinga Adel sebelum ia melangkah pergi, sengaja menendang ember air pel Adel hingga isinya tumpah ruah membasahi sepatu kain Adel yang sudah robek di bagian samping.

Tepat saat Clarissa dan gengnya berjalan menjauh dengan tawa kemenangan, sebuah mobil hitam mewah—Rolls Royce Phantom—berhenti tepat di depan lobi transparan sekolah. Seorang pria paruh baya dengan setelan jas *custom-made* yang memancarkan aura wibawa luar biasa turun dari mobil. Itu adalah Tuan Mahendra, pemilik kerajaan bisnis Mahendra Group sekaligus ayah Clarissa.

"Clarissa! Kenapa kau masih di sini? Ayah bilang akan menjemputmu untuk makan siang dengan kolega Ayah," suara Tuan Mahendra terdengar tegas namun ada nada kasih sayang di sana.

Namun, langkah pria itu terhenti. Matanya tak sengaja beralih pada sosok gadis yang tengah berlutut di lantai, sibuk menyeka air yang tumpah dengan tangan kosong karena kain pelnya sudah terlalu basah.

Untuk sesaat, dunia seolah berhenti berputar bagi Tuan Mahendra. Ia menatap gadis itu. Bukan karena rasa kasihan yang biasa ia berikan pada orang miskin, tapi karena ia melihat sesuatu yang sangat familiar. Mata gadis itu... bentuk hidungnya yang tegas namun kecil... dan cara gadis itu menggigit bibir bawahnya saat menahan tangis.

"Ayah! Gadis ceroboh ini baru saja membuat keributan di lobi. Dia menabrakku dan hampir membuat bajuku kotor," adu Clarissa dengan wajah yang tiba-tiba berubah menjadi manis dan manja. Ia memeluk lengan ayahnya, berakting seolah-olah dialah korbannya di sini.

Tuan Mahendra tidak langsung merespons keluhan putrinya. Ia melangkah satu langkah lebih dekat ke arah Adel. "Nak, kau tidak apa-apa?"

Adel mendongak singkat. Pandangan mereka bertemu. Mata Adel yang jernih namun penuh luka itu menatap langsung ke dalam mata Tuan Mahendra. "Saya tidak apa-apa, Tuan. Saya mohon maaf atas kekacauan di lobi Anda. Saya akan segera menyelesaikannya."

Adel segera berdiri, memeluk sisa kertas esainya yang hancur di dada, dan berlari menuju toilet dengan tergesa-gesa. Ia tidak sanggup lagi berada di sana. Ia tidak sanggup melihat kemesraan ayah dan anak yang begitu sempurna, sementara ia bahkan tidak tahu siapa pria yang seharusnya memanggilnya "putri".

Tuan Mahendra tetap terpaku di tempatnya, bahkan setelah Adel menghilang di balik koridor. Jantung pria itu berdegup dengan ritme yang tidak beraturan. Ada getaran aneh yang menjalar di tulang belakangnya—getaran yang identik dengan apa yang ia rasakan belasan tahun lalu saat pertama kali menggendong bayi di rumah sakit.

"Ayah? Ayah kenapa? Kenapa Ayah melihat pelayan itu seperti melihat hantu?" tanya Clarissa dengan nada tidak suka, mulai merasa cemburu pada perhatian ayahnya.

Tuan Mahendra menarik napas panjang, mencoba menjernihkan pikirannya. "Siapa nama gadis itu, Clarissa?"

"Hanya sampah beasiswa, Yah. Namanya Adelard atau siapa lah, tidak penting. Dia hanya anak yatim piatu dari panti asuhan pinggiran kota. Ayo, Yah, kita bisa terlambat!" Clarissa menarik lengan ayahnya menuju mobil.

Tuan Mahendra masuk ke dalam mobil, namun pikirannya tertinggal di lobi itu. Dalam benaknya, sebuah memori lama yang terkunci rapat mendadak terbuka—memori tentang mendiang ibunya yang memiliki bentuk mata yang persis sama dengan gadis pelayan tadi. Sebuah kemiripan genetik yang tidak mungkin dimiliki oleh orang asing.

Sementara itu, di dalam bilik toilet yang sempit dan berbau karbol, Adel menyalakan keran air sekuat mungkin. Ia membiarkan suara air yang mengucur deras menyamarkan suara isak tangisnya yang pecah. Ia menggosok seragamnya dengan sabun batang murah yang ia bawa, namun noda kopi itu tetap membekas, seolah menjadi noda permanen dalam hidupnya.

"Suatu hari nanti..." bisik Adel dengan suara parau di sela napasnya yang sesak. "Suatu hari nanti, aku akan berdiri di tempat yang sangat tinggi sehingga kalian tidak akan bisa mencapaiku, meski kalian mendongak sampai leher kalian patah."

Adel tidak tahu, bahwa di hari yang sama, di sebuah kantor pengacara tua di sudut kota, seorang mantan suster rumah sakit yang sedang sekarat baru saja menandatangani sebuah surat pengakuan. Surat yang akan meledakkan dunia keluarga Mahendra dan mengembalikan "Putri yang Tertukar" ke takhta yang seharusnya.

Takdir baru saja melempar dadu, dan kali ini, Adelard adalah pemenangnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!