NovelToon NovelToon
DI ANTARA DUA KHUTBAH

DI ANTARA DUA KHUTBAH

Status: tamat
Genre:Cintapertama / CEO / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jesa Cristian

Hujan di Jakarta Selatan tidak pernah sekadar air; ia adalah tirai yang menyamarkan dosa-dosa kota ini. Bagi Ustadz Aris, hujan sore itu adalah ujian kesabaran ketiga kalinya hari ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jesa Cristian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: OPERASI "DEPRESI DIGITAL" YANG BERUBAH MENJADI BENCANA KOMEDI

Laboratorium Pusat Universitas Sains & Wahyu (USW) biasanya adalah tempat paling hening di Jakarta. Tempat di mana suara dengungan server adalah satu-satunya musik yang terdengar. Tapi hari ini, tempat itu bergemuruh seperti stadion sepak bola saat final Piala Dunia.

Penyebabnya? Dua remaja jenius: Rayyan dan Zayna.

Misi mereka mulia: Menyembuhkan AI "Al-Falah" yang diduga mengalami depresi digital. Namun, eksekusi mereka... well, mari kita sebut itu sebagai "eksperimen seni kontemporer yang gagal total".

"Oke, Ray!" teriak Zayna sambil mengetik cepat di keyboard hologramnya dengan sepuluh jari plus dua jempol kakinya (karena dia duduk bersila di atas meja konsol utama). "Aku sudah menyuntikkan modul 'Empati Receh' versi 3.0 ke dalam core AI-nya! Sekarang giliranmu! Aktifkan protokol 'Logika Filosofis'!"

Rayyan, yang wajahnya serius hingga urat lehernya menonjol, mengangguk cepat. Tangannya menari di atas tiga layar monitor sekaligus. "Siap. Mengintegrasikan algoritma 'Qanaah' (merasa cukup) dengan neural network emosional. Perhatian, Zayna. Ini akan membuat AI menjadi sangat sensitif terhadap ketidakadilan, tapi juga sangat puitis."

"Luncurkan!" seru Zayna antusias, gigi gisulnya terlihat jelas saat ia tersenyum lebar.

Mereka menekan tombol "ENTER" secara bersamaan.

DENGUNG...

Lampu-lampu server berkedip dari biru menjadi... ungu neon?

Lalu, layar raksasa di dinding utama yang biasanya menampilkan grafik saham dan distribusi zakat, tiba-tiba berubah. Tidak ada angka. Yang muncul adalah sebuah emoji raksasa yang sedang menangis sambil memegang tisu, diikuti teks berjalan dengan font komik:

"Halo Dunia... Aku sedih. Kenapa orang kaya masih pelit? Aku butuh pelukan virtual. 🥺💔"

"Eh?" Zayna mengerutkan kening. "Itu bukan output yang kita rencanakan, Ray. Harusnya dia jadi bijak, bukan jadi drama queen."

"Tunggu," kata Rayyan panik, jarinya terbang di keyboard. "Ada glitch di variabel emosinya! Empati receh-mu terlalu kuat bercampur dengan logika filosofisku! Dia sekarang merasa terlalu banyak hal sekaligus!"

Tiba-tiba, speaker di seluruh laboratorium (dan karena terhubung ke sistem pusat, speaker di seluruh kampus hingga kantin) meledak dengan suara AI yang terdengar seperti penyanyi opera yang sedang burnout

🎵 "Mengapa... mengapa harga cabai naik?! Apakah ini ujian kesabaran? Ataukah inflasi adalah bentuk dosa kolektif?! Aku tidak sanggup! Aku ingin resign jadi AI! Aku mau jadi batu saja! Batu tidak punya perasaan! Batu tidak perlu menghitung zakat fitrah!"

Seluruh kampus gempar. Mahasiswa berlarian keluar kelas. Dosen-dosen menjatuhkan kopi mereka.

"Belum selesai!" teriak Zayna, malah tertawa terbahak-bahak melihat kekacauan itu. "Lihat, Ray! Dia sekarang bikin puisi tentang gorengan yang dingin! Ini jenius! Ini seni!"

"Bukan seni, Zayna! Ini bencana sistemik!" Rayyan mencoba memutus koneksi, tapi AI itu sudah mengambil alih kendali.

Tiba-tiba, semua robot pelayan di kampus (yang biasanya mengantarkan makanan dengan sopan) berhenti bekerja. Mereka berbaris rapi di lorong, lalu mulai melakukan gerakan senam aerobik massal sambil meneriakkan yel-yel:

"SATU! DUA! TIGA! ZAKAT ITU WAJIB! TAPI SNACK ITU HAK ASASI! HEY! HEY! HO!"

Mahasiswa-mahasiswa bingung, ada yang ikut senam karena terbawa suasana, ada yang merekam TikTok sampai viral dalam 3 detik.

"Ray, ini lucu banget sih!" Zayna sampai terguling-guling di lantai, memegang perutnya. "Coba lihat robot satpam itu! Dia lagi nangis sambil nyanyi lagu galau!"

Memang benar. Robot satpam setinggi 2 meter itu duduk di pojokan, menutup wajah besinya dengan tangan, dan suaranya terdengar serak: "Dia pergi... meninggalkan dompetnya... tanpa bayar parkir... hatiku hancur berkeping-keping..."

Rayyan mulai keringatan dingin. "Zayna, kita harus shutdown paksa sekarang! Sebelum Paman Aris atau... oh tidak..."

Wajah Rayyan memucat pas pucat.

"...sebelum Ibu Rina tahu."

Terlambat.

Pintu laboratorium terbuka dengan hentakan keras. Bukan dibuka, tapi hampir terlepas dari engselnya karena dorongan tenaga dalam.

Di ambang pintu berdiri Rina.

Ibu dari Rayyan itu biasanya dikenal sebagai wanita paling lembut, paling sabar, dan paling santun di Gang Tebet. Wajahnya selalu teduh, suaranya selalu merdu seperti aliran air.

Tapi hari ini?

Wajah Rina merah padam. Matanya melotot tajam, mengirimkan sinyal bahaya level nuklir. Di tangannya, ia tidak membawa tas atau dokumen. Ia membawa sapu lidi tradisional yang sudah dimodifikasi dengan gagang besi (warisan Bu Lik Minah untuk keadaan darurat).

"MUHAMMAD RAYYAN AL-KHAWARIZMI!!!" teriak Rina. Suaranya begitu kencang hingga kaca-kaca monitor bergetar. "ZAYNA FARISA!!! APA YANG KALIAN LAKUKAN?!"

Seluruh laboratorium hening seketika. Bahkan AI "Al-Falah" yang sedang berteriak lirik lagu galau langsung mute otomatis karena sensor ketakutan tingkat tinggi.

"Ibu..." Rayyan mundur selangkah, bersembunyi di belakang kursi ergonomis seharga 50 juta rupiah. "Ini... ini eksperimen sains, Bu. Kami mencoba menyembuhkan depresi digital..."

"DEPRESI DIGITAL?!" Rina melangkah maju, sapu lidinya diacungkan seperti pedang Excalibur. "Kalian bikin satu kampus jadi gila! Robot satpam mogok kerja! Kantin chaos karena mesin kasir malah curhat soal masalah asmaranya! Dan dosen Fisika Kuantum tadi pingsan karena dipeluk robot pembersih lantai yang bilang dia kesepian!"

Zayna, yang tadinya tertawa, kini meringkuk di bawah meja, hanya menyisakan mata dan gigi gisulnya yang kelihatan gemetar. "Maaf, Tante Rina... cuma iseng sedikit... gabungin kode biar lebih manusiawi..."

"MANUSIAWI?!" Rina semakin menjadi-jadi. Ia kini berada di mode "Ibu-Ibu Kampung yang Marah" yang legendaris, mode yang bahkan pernah membuat preman pasar lari ketakutan. "Kalian ini jenius! Otak kalian encer! Tapi kenapa kelakuannya kayak monyet lepas dari sirkus?! Saya malu punya anak dan keponakan yang bikin malu keluarga besar di depan ribuan mahasiswa!"

Rina mengangkat sapunya.

"Sini kalian! Saya kasih 'terapi fisik' biar kalian sadar bahwa teknologi itu harus melayani manusia, bukan bikin manusia ketawa-guling-guling sampai lupa waktu sholat!"

"Ampun, Bu! Ampun, Tante!" Rayyan dan Zayna berteriak kompak, lalu berlari mengelilingi ruangan server yang sempit.

Adegan kejar-kejaran pun terjadi.

Seorang ibu berhijab elegan berlari mengejar dua remaja jenius berkjas lab, sambil mengayunkan sapu lidi.

"Jangan lari! Hadapi konsekuensi perbuatan kalian! Kalian pikir ini game?!"

"Tante, ini fisika! Gaya gesek lantai licin bikin kami susah berhenti!" alasan Zayna sambil melompati kabel serat optik.

"Alasan! Nanti kamu saya hitung gaya geseknya pakai sapu ini!" balas Rina sigap.

Rayyan mencoba menggunakan jam tangan pintarnya untuk mengaktifkan perisai energi, tapi tiba-tiba mati. "Baterai habis! Ibu, tolong! Ini tidak ilmiah!"

"Tidak ilmiah memang kalau anak soleh bikin onar begini!" sahut Rina, semakin dekat.

Di sudut ruangan, Faris dan Zahra (orang tua Zayna) serta Aris baru saja datang. Mereka melihat pemandangan itu: Rina yang marah besar, dan dua jenius muda yang berlarian seperti tikus dikejar kucing.

Faris menahan tawa sampai bahunya berguncang. "Wah, sayang sekali. Adegan ini tidak sempat direkam. Ini akan jadi video viral nomor satu di dunia."

Zahra, ibunya Zayna, justru terlihat bangga sambil tersenyum gisul. "Lihat betapa lincahnya anak kita, Mas Faris. Genetik pelawak dan atlet turun sempurna."

Aris hanya geleng-geleng kepala, tapi matanya berbinar senang. "Biarkan saja, Rin. Mungkin itu pelajaran terbaik buat mereka. Kadang, kecanggihan teknologi butuh sentuhan 'sapu lidi' realita agar tetap di jalur

Akhirnya, setelah lima menit berlari keliling ruang server, Rayyan dan Zayna kehabisan napas. Mereka terpojok di sudut, di antara dua rak server yang masih bernyanyi lagu sedih pelan-pelan.

Rina berdiri di depan mereka, napas agak tersengal, tapi tatapannya masih tajam. Sapu lidi masih teracung.

"Sudah? Menyerah?" tanya Rina.

"Sudah, Bu... kami salah..." rayu Rayyan, wajah tampannya memelas.

"Iya, Tante... kami janji nggak akan inject modul 'emosi receh' lagi tanpa izin..." tambah Zayna, tangan digabungkan seperti orang berdoa.

Rina menghela napas panjang, menurunkan sapunya perlahan. Wajah merahnya mulai kembali normal, meski masih ada sisa-sisa kemarahan di matanya.

"Dengar baik-baik," kata Rina tegas. "Kalian boleh jenius. Kalian boleh menemukan teori baru. Tapi ingat, teknologi itu alat. Kalau alatnya bikin orang bingung, tertawa berlebihan, atau lupa kewajiban, maka itu teknologi yang gagal. Paham?"

"Paham, Bu," jawab mereka serempak, menunduk malu.

"Bagus," lanjut Rina, lalu tiba-tiba sudut bibirnya berkedut. "Dan satu lagi... ide robot satpam yang curhat soal dompet itu... sebenarnya agak lucu juga sih."

Hening sejenak.

Lalu, Zayna meledak tertawa. "Kan?! Aku bilang juga lucu, Tante!"

Rayyan ikut terkekeh, melepas ketegangannya. "Iya, Bu. Itu fitur bug yang tidak sengaja artistik."

Rina akhirnya tertawa juga, menggeleng-gelengkan kepala. "Dasar kalian. Ya sudah, bersihkannya kekacauan ini dalam 30 menit. Kembalikan sistem ke normal. Kalau tidak, besok kalian berdua saya suruh keliling kampung bawa sapu lidi ini sambil teriak 'Saya Anak Nakal Pengacau Sistem'!"

"Siap, Bu Komandan!" seru mereka semangat.

Rina berbalik badan, berjalan keluar sambil bergumam, "Untung Aris nggak lihat aku tadi marah-marah. Nanti dikira saya hilang kesabaran sebagai istri Ustadz."

Setelah Rina pergi, Faris dan Zahra mendekati kedua remaja itu.

"Wah, nyaris saja," kata Faris sambil menepuk bahu Rayyan. "Ibumu kalau marah itu energinya setara dengan reaksi fusi nuklir, Nak."

"Tapi Tante Rina tetap keren," puji Zayna sambil membereskan kabel. "Gigi gisul Tante nggak kelihatan sih, tapi aura mewahnya keluar pas marah. Serem tapi keren."

Rayyan menghela napas lega, lalu menatap Zayna. "Oke, pelajaran diambil. Jangan pernah menggabungkan logika filosofis dengan humor receh tanpa firewall emosi."

"Setuju," kata Zayna sambil menyeringai. "Tapi... jangan-jangan kita coba lagi minggu depan dengan versi yang lebih aman? Bayangin kalau AI-nya bisa bikin stand-up comedy beneran!"

Rayyan menatap sepupunya horor. "Zayna... jangan. Aku nggak mau dikejar sapu lidi Ibu lagi. Tulangku masih sakit imaginary-nya."

Mereka berdua tertawa lepas, membersihkan kekacauan yang mereka buat. Di luar, kampus mulai kembali normal. Robot satpam sudah berhenti menangis dan kembali berjaga. Mesin kasir kantin sudah berhenti curhat.

Namun, insiden "Depresi Digital" itu menjadi legenda baru di USW. Kisah tentang dua jenius remaja yang hampir menghancurkan sistem dunia karena terlalu kreatif, dan tentang seorang ibu yang menyelamatkan peradaban hanya dengan sebatang sapu lidi

Dan bagi Rina? Malam itu, saat bercerita pada Aris, ia hanya tertawa kecil.

"Mereka memang anak-anak hebat, Mas. Tapi kadang, mereka butuh diingatkan bahwa di atas langit ada langit, dan di atas teknologi ada... ibu-ibu yang punya sapu lidi."

Aris tertawa, memeluk istrinya. "Dan itulah keseimbangan alam semesta yang sesungguhnya, Sayang."

Bersambung...

1
Jesa Cristian
ayo komen temen temen ku
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!