NovelToon NovelToon
Kaisar Pedang Penelan Surga

Kaisar Pedang Penelan Surga

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Balas Dendam
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Di Sekte Langit Biru, Xiao Fan hanyalah murid sampah yang terdampar di Alam Kondensasi Qi lapis pertama. Dicemooh, dihina, dan nyaris diusir ke dapur luar—ia dianggap sebagai aib terbesar sekte. Namun, tak seorang pun tahu bahwa di balik tubuh lemahnya, tersimpan jiwa Kaisar Pedang yang pernah mengguncang sembilan langit. Selama tiga tahun, pedang kuno bernama Penelan Surga menggerogoti seluruh kultivasinya. Kini, pedang itu telah terbangun. Dengan teknik terlarang yang membalikkan hukum Surga dan Bumi, Xiao Fan memulai jalan sunyinya sebagai Kaisar Pedang Iblis. Misi pertamanya: menghancurkan sekte yang merendahkannya... hanya dalam seratus hari. Namun bagi Xiao Fan, tiga hari sudah lebih dari cukup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Jalan Selatan yang Sunyi

Jalan setapak di luar gerbang Kota Giok berkelok-kelok menembus hutan lebat.

Bulan purnama menggantung rendah, cahayanya cukup untuk menerangi jalan tanpa perlu obor. Xiao Fan berjalan di depan, langkahnya tenang namun waspada. Liu Ruyan mengikuti di belakang, pedang kayunya kini diganti dengan sebilah pedang besi biasa yang dibeli Xiao Fan diam-diam di pasar—bukan senjata pusaka, tapi cukup untuk latihan dan pertahanan dasar.

Mereka sudah berjalan sekitar dua jam. Kota Giok telah lenyap di balik perbukitan. Yang tersisa hanyalah suara jangkrik, desau angin di dedaunan, dan langkah kaki mereka sendiri.

"Guru," suara Liu Ruyan memecah keheningan. "Siapa yang ingin membunuhku?"

Xiao Fan tidak langsung menjawab. Ia mendongak, menatap bulan sejenak. "Faksi kuno. Mereka menyebut diri para Penyegel. Merekalah yang menyegel Putri Kegelapan 25.000 tahun lalu. Dan sekarang mereka tahu kau telah bangkit sebagian."

"Kenapa mereka begitu membenciku? Apa yang pernah kulakukan pada mereka?"

"Itu pertanyaan yang jawabannya mungkin bahkan mereka sendiri tidak ingat." Xiao Fan menghindari akar pohon yang mencuat di jalan. "Kebencian yang diwariskan turun-temurun sering kali kehilangan alasan aslinya. Mereka hanya tahu bahwa Putri Kegelapan adalah musuh yang harus dikurung. Tidak peduli apakah dia bersalah atau tidak."

Liu Ruyan terdiam. Ia merenungkan kata-kata itu.

"Mereka mengirim seorang pemburu," lanjut Xiao Fan. "Namanya Xue Lang. Alam Inti Emas Puncak. Dia akan tiba di Kota Giok dalam tiga hari. Saat dia tahu kita sudah pergi, dia akan mengikuti jejak kita."

"Inti Emas Puncak." Liu Ruyan mengulangi dengan suara pelan. "Guru... apa kau bisa mengalahkannya?"

"Tidak dengan kekuatanku sekarang."

Kejujuran itu membuat Liu Ruyan tersentak. Xiao Fan selalu terlihat tak terkalahkan di matanya. Mendengar gurunya mengakui keterbatasan adalah hal baru.

"Tapi itu akan berubah," Xiao Fan menambahkan. "Di Pegunungan Tulang Putih, ada fragmen kedua Pedang Penelan Surga. Jika aku mendapatkannya, kekuatanku akan meningkat drastis. Cukup untuk menghadapi Xue Lang."

"Lalu kenapa kita tidak langsung terbang ke sana? Bukankah Guru bisa terbang?"

Xiao Fan tersenyum tipis. "Pertanyaan bagus. Terbang memang lebih cepat. Tapi juga lebih mencolok. Xue Lang mungkin punya mata-mata di sepanjang jalur selatan. Lebih aman berjalan kaki, menyatu dengan para pelancong biasa."

Ia berhenti sejenak, menunjuk ke depan. "Lagipula, perjalanan ini bukan hanya tentang mencapai tujuan. Ini juga tentang melatihmu."

Liu Ruyan mengikuti arah tunjukannya. Di depan, jalan menurun menuju lembah kecil. Di tengah lembah, samar-samar terlihat cahaya api unggun.

"Perkemahan," kata Xiao Fan. "Mungkin pedagang atau pemburu. Kita akan beristirahat di sana. Dan kau akan mendapat pelajaran berikutnya."

---

Perkemahan itu terdiri dari tiga kereta kayu dan sekitar selusin orang. Mereka adalah rombongan pedagang dari Kota Giok menuju desa-desa di selatan. Barang dagangan mereka: kain, rempah-rempah, dan perkakas besi.

Pemimpin rombongan, seorang pria gemuk bernama Lao Wang, menyambut Xiao Fan dan Liu Ruyan dengan ramah. "Mau ikut beristirahat, anak muda? Malam masih panjang. Api unggun masih hangat."

Xiao Fan mengangguk. Mereka duduk di dekat api, diterima dengan senyum oleh para pedagang yang memang sudah terbiasa berbagi tempat dengan pelancong lain.

Liu Ruyan duduk di samping Xiao Fan, menikmati kehangatan api. Seseorang menawarinya semangkuk bubur hangat. Ia menerimanya dengan senyum kecil—sesuatu yang jarang ia lakukan.

"Guru," bisiknya sambil menyendok bubur. "Apa pelajaran berikutnya?"

Xiao Fan menatap api unggun. "Kau sudah belajar menyerap Qi Kematian. Kau sudah belajar Langkah Bayangan. Sekarang kau perlu belajar membaca niat orang."

"Membaca niat?"

"Lihat sekelilingmu." Xiao Fan menunjuk dengan dagunya. "Para pedagang ini. Menurutmu, apa yang mereka pikirkan tentang kita?"

Liu Ruyan mengamati. Lao Wang sedang tertawa bersama rekannya, tapi sesekali matanya melirik ke arah mereka. Seorang wanita muda yang sedang menyusun kain menatap Liu Ruyan dengan rasa ingin tahu. Dua pria di sudut berbisik-bisik, sesekali mencuri pandang.

"Mereka penasaran," kata Liu Ruyan pelan. "Tapi juga waspada. Dua orang asing muncul di malam hari, salah satunya membawa pedang. Mereka tidak tahu apakah kita ancaman atau bukan."

"Bagus." Xiao Fan mengangguk puas. "Sekarang, menurutmu siapa di antara mereka yang paling berbahaya?"

Liu Ruyan mengamati lagi. Ia menatap Lao Wang—ramah, tapi ada sesuatu di matanya yang terlalu waspada untuk sekadar pedagang. Ia menatap dua pria di sudut—pembawaan mereka terlalu kaku, postur terlalu siap.

"Dua pria di sudut," bisiknya. "Mereka bukan pedagang. Cara mereka duduk... mereka siap melompat kapan saja. Dan tangan mereka selalu dekat dengan pinggang."

"Tepat." Xiao Fan tersenyum tipis. "Mereka mungkin penjaga bayaran. Atau mungkin bandit yang menyamar. Tapi selama kita tidak menunjukkan niat buruk, mereka tidak akan bergerak."

Liu Ruyan mengangguk, menyimpan pelajaran itu dalam hati.

Malam semakin larut. Para pedagang mulai tertidur di sekitar api unggun. Xiao Fan tetap duduk, punggungnya bersandar pada roda kereta, mata setengah terpejam.

Liu Ruyan merebahkan diri di sampingnya, menggunakan buntalan kain sebagai bantal. Sebelum memejamkan mata, ia berbisik, "Guru."

"Hm."

"Kita akan selamat, kan?"

Xiao Fan membuka mata, menatap langit berbintang. "Ya. Kita akan selamat. Dan kau akan menjadi lebih kuat dari yang bisa kau bayangkan."

Gadis itu tersenyum kecil, lalu memejamkan mata.

Xiao Fan tetap terjaga. Di kejauhan, di balik perbukitan, ia merasakan sesuatu. Bukan Xue Lang—masih terlalu jauh. Tapi sesuatu yang lain. Sesuatu yang mengamati dari kegelapan.

[Mendeteksi entitas tidak dikenal mengawasi perkemahan dari jarak 200 meter.]

[Identitas: Tidak teridentifikasi. Tingkat ancaman: Rendah untuk saat ini.]

Xiao Fan tidak bergerak. Ia hanya mengalirkan Qi Kematian tipis ke sekeliling, menciptakan penghalang tak terlihat di sekitar perkemahan. Jika sesuatu mendekat, ia akan tahu.

Malam terus berjalan. Fajar masih beberapa jam lagi. Dan perjalanan ke Pegunungan Tulang Putih baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!