Lupakan apa yang kalian ketahui tentang Zhang Yuze yang lama. Di Jilid 2 ini, panggung kehidupan akan menjadi jauh lebih luas dan berbahaya.
Bukan lagi sekadar urusan asmara di bangku sekolah, Zhang Yuze akan mulai melangkah ke dunia bisnis yang penuh intrik, berhadapan dengan tokoh dunia bawah tanah yang kuat, hingga terjebak di antara pesona selebritas papan atas yang memabukkan. Akankah Kitab Santo Cinta cukup untuk melindunginya saat kekuatan rahasia mulai mengincar dirinya? Ataukah godaan dari para wanita menawan di sekelilingnya justru akan menjadi bumerang bagi takdirnya?
Persiapkan diri kalian. Ambisi yang lebih besar, romansa yang lebih membara, dan rahasia pusaka yang lebih dalam akan segera dimulai.
Pastikan kalian berada di barisan terdepan saat langkah baru ini dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Ditatap seperti itu oleh seorang gadis manis membuat harga diri Yudha melambung tinggi. Namun, melihat kulit wajah Mina yang kini sudah mulus, Yudha berkata lagi, "Aku juga baru saja menghilangkan jerawatmu, coba periksa..."
"Hah? Serius?!" Mina memekik kegirangan. Masalah jerawat adalah sumber rasa tidak percaya dirinya selama ini.
Yang membuat Yudha terperangah, Mina secara ajaib mengeluarkan sebuah cermin kecil dari saku belakang celananya. Saat melihat bayangan wajahnya sendiri yang kini bersih dan semakin cantik, kegembiraan Mina tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.
"Terima kasih, Kak Yudha...!" Tanpa sadar, Mina berjinjit dan mendaratkan sebuah kecupan manis di pipi Yudha, lalu segera menundukkan kepala karena malu dengan keberaniannya sendiri.
"Sebenarnya, aku masih punya satu cara lagi untuk membuat kulitmu jauh lebih cantik dan bercahaya, tapi itu membutuhkan perawatan di seluruh tubuh... hehe!" Yudha menatap Mina dengan senyum nakal yang maknanya sangat jelas bagi pria dewasa.
"Ah...! Memangnya bagaimana kalau seluruh tubuh...?" tanya Mina polos. Ia sama sekali tidak menangkap maksud terselubung Yudha. Namun, membayangkan kulitnya bisa menjadi lebih indah di seluruh bagian tubuh, ia tidak bisa menahan rasa tertarik yang mulai muncul di hatinya.
"Maksud Kakak... semuanya?" Wajah Mina merona tipis. Ia mulai bisa menangkap arah pembicaraan Yudha yang sedikit menyerempet bahaya.
"Ya, mungkin akan melibatkan kontak fisik yang cukup intim," bisik Yudha lembut sambil menatap matanya dalam-dalam.
Yudha tahu betul betapa menggiurkannya impian memiliki kulit putih bersih bagi kaum hawa. Banyak wanita yang rela melakukan apa saja, bahkan sampai menguras tabungan demi perawatan kecantikan. Itulah alasan mengapa klinik bedah plastik tak pernah sepi, meski risikonya bisa sangat fatal.
"Aku... aku pikir-pikir dulu ya, Kak..." Meskipun sangat tergoda, Mina yang memiliki kepribadian agak konservatif memutuskan untuk tidak terburu-buru mengambil keputusan.
Saat Yudha mengantar Mina kembali ke asrama putri, ia baru tersadar bahwa ia sudah pergi terlalu lama. Ia hampir melupakan Luna yang masih menunggunya di asrama putra. Kalau sampai kekasihnya itu merajuk, tamatlah riwayatnya.
Yudha segera merogoh ponsel dan terkejut mendapati beberapa panggilan tak terjawab. Semuanya dari Luna. Sepertinya tadi ia terlalu asyik dengan dunianya sendiri sampai-sampai tidak mendengar nada dering ponselnya.
Ia berlari kencang kembali ke asrama. Beruntung, sesampainya di sana, ia melihat Luna tengah asyik mengobrol dan tertawa bersama teman-teman sekamarnya sambil ngemil kuaci. Melihat keceriaan di wajah Luna, Yudha menarik napas lega; gadis itu sepertinya tidak menyadari ada yang janggal.
"Yud, kok tadi tiba-tiba menghilang pas lagi makan? Aku sama Jihan sampai capek menunggumu," tegur Luna dengan nada manja yang sedikit menyalahkan.
Yudha hanya bisa nyengir canggung tanpa berani memberi alasan yang jujur.
"Hei! Bau apa ini? Kok ada aroma parfum cewek?" Kurnia tiba-tiba mendekat dan menatap Yudha dengan senyum penuh arti. "Yud, barusan main-main di luar ya?"
Jantung Yudha serasa mau copot. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Ia menatap sang ketua asrama dengan ngeri, bertanya-tanya bagaimana pria itu bisa tahu. Apa aku dibuntuti? pikirnya panik. Kalau sampai ketahuan, urusannya bisa panjang.
Namun detik berikutnya, Yudha bisa bernapas lega. Kurnia menepuk bahunya dan tertawa, "Kenapa tegang begitu? Aku cuma bercanda, tahu!"
Kesal karena hampir jantungan, Yudha melayangkan tinju ringan ke bahu temannya itu. "Bercandamu tidak lucu! Kamu tahu sendiri kan 'Ibu Negara' ada di sini. Kalau dia sampai dengar dan salah paham, bisa kiamat duniaku!"
"Hehe, bukankah ada pepatah kalau tidak merasa bersalah kenapa harus takut? Jangan-jangan kau memang merasa berdosa ya?" Kurnia terus menggoda dengan tatapan jenaka.
"Hehe! Itu... anu..." Yudha merasa dirinya memang bertingkah seperti pencuri yang ketakutan. Ia melirik Luna, namun gadis itu masih asyik mengobrol dengan Jihan dan lainnya.
Yudha akhirnya bisa benar-benar tenang.
......................
Keesokan harinya, agenda latihan militer memasuki tahap yang paling dinanti: praktik menembak. Seluruh mahasiswa tampak sangat antusias. Meskipun Yudha bukan orang yang mudah kegirangan, membayangkan memegang senapan laras panjang tetap membuatnya merasa sedikit bersemangat.
Ribuan mahasiswa dikerahkan secara bertahap menuju sebuah basis militer di pinggiran kota. Area latihan itu sangat luas, dengan deretan papan sasaran yang tersebar di kejauhan. Di bawah bimbingan para instruktur, mereka mengantre untuk praktik menembak. Karena menggunakan peluru tajam, prosedur keamanannya sangat ketat. Yudha memegang sebuah senapan semi-otomatis tua—mungkin jenis yang sudah digunakan sejak zaman kakeknya—dan sedikit merasa kecewa dengan kualitas senjatanya.
Meski begitu, sebagai orang yang menyukai hal-hal berbau militer, ini adalah kali pertama Yudha benar-benar memegang senjata api asli didepan umum. Ia segera mengambil posisi berdasarkan teknik yang pernah ia baca di buku-buku militer. Postur tubuhnya saat memegang senapan tampak sangat kokoh, lalu ia merebahkan diri dan mulai membidik.
Instruktur Cahyo awalnya berniat mengoreksi posisi Yudha, namun ia terperangah. Posisi menembak Yudha sangat standar, bahkan terlihat sempurna tanpa celah.
Yudha mengatur napas, memfokuskan seluruh konsentrasinya pada satu titik merah di tengah sasaran.
Dor! Dor!
"Delapan poin, sepuluh poin, sepuluh poin!" Suara petugas penghitung skor terdengar dari kejauhan.
Bukan hanya Cahyo, para perwira lain di lokasi tersebut pun menoleh dengan terkejut. Mereka mengira itu adalah hasil tembakan seorang prajurit elite. Menghantam titik tengah sasaran beberapa kali berturut-turut bukanlah hal yang bisa dilakukan sembarang orang.
"Wah! Kak Yudha hebat sekali!" sorak beberapa mahasiswi. Setelah instruktur menjelaskan sistem penilaian, mereka sadar betapa sulitnya mendapatkan skor sepuluh poin.
"Kamu pernah latihan sebelumnya?" tanya Cahyo penasaran sambil menghampiri Yudha.
"Tidak, Pak! Saya cuma belajar tekniknya dari buku, ternyata membantu meningkatkan rasa percaya diri," jawab Yudha sambil menggeleng santai, seolah hal itu bukan masalah besar.
Cahyo tersentuh sekaligus heran. Menembak adalah keahlian yang sangat kompleks; bahkan orang yang sudah berlatih keras pun belum tentu bisa seakurat itu. Dan anak ini mengklaim belajar hanya dari buku? Entah bagaimana perasaan para penembak jitu profesional jika mendengar ini.
"Sayang sekali kamu tidak masuk TNI!" ujar Cahyo sambil menepuk bahu Yudha dengan nada menyesal.
Yudha langsung berkeringat dingin mendengarnya. Jika pemuda sepertinya masuk asrama tentara, ia bisa-bisa jadi jomlo seumur hidup! Baginya, asrama tentara adalah tempat di mana melihat lawan jenis saja sudah merupakan kemewahan langka.
Setelah berhari-hari menjalani latihan militer yang melelahkan, akhirnya tersisa satu hari lagi. Mungkin karena sudah mulai merasa dekat dengan instruktur mereka, semua siswi menjalani latihan terakhir ini dengan sangat serius.