NovelToon NovelToon
MAHAR LUKA: Menikahi Janda Sang Kakak

MAHAR LUKA: Menikahi Janda Sang Kakak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:13.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Maheer Arasyid terjebak dalam wasiat yang terasa seperti kutukan. Kepergian Muzammil, sang kakak yang tewas demi melindunginya dari maut di parkiran rumah sakit, meninggalkan duka sekaligus beban berat: Assel Salsabila.

Bagi Maheer, Assel bukanlah sekadar janda kakaknya, melainkan musuh bebuyutan sejak masa sekolah yang sangat ia benci. Alasan Maheer melarikan diri ke luar negeri bertahun-tahun hanyalah satu: menghindari fakta bahwa wanita "berbisa" itu telah menjadi bagian dari keluarganya.
Kini, demi menunaikan janji terakhir Muzammil dan menjaga senyum kecil Razka Arasyid, Maheer terpaksa mengikat janji suci dengan wanita yang paling ia hindari. Di balik benci yang membara, tersimpan rahasia masa lalu dan luka yang belum sembuh. Bisakah pernikahan yang dibangun di atas rasa bersalah ini berubah menjadi cinta, ataukah dendam lama justru akan menghancurkan segalanya?

Temukan jawabannya dalam kisah pengabdian dan benci yang berujung cinta ini. Dan jangan lupa berikan dukungannya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENGHADIAHKAN DOA.

Mansion peninggalan Muzammil tampak lebih sibuk dari biasanya. Aroma harum masakan rempah menguar dari dapur, memenuhi setiap sudut ruangan. Hari ini adalah peringatan 40 hari kepergian Muzammil. Assel, sebagai nyonya rumah, tidak membiarkan dirinya beristirahat sedetik pun. Ia harus memantau para tukang masak di belakang sekaligus menangani "bayi besar" di kamar tamu yang semakin hari semakin manja.

Sebenarnya, kondisi tulang belakang Maheer sudah membaik secara signifikan. Ia sudah bisa duduk tegak tanpa meringis, namun pria itu tetap memilih bersandiwara. Baginya, rasa nyeri yang tersisa adalah tiket emas untuk mendapatkan perhatian penuh dari istri galaknya.

"Assel, suapi aku. Tanganku masih terasa lemas kalau harus memegang sendok sendiri," rengek Maheer saat Assel masuk membawa nampan makan siang.

Assel berkacak pinggang, napasnya memburu karena lelah. "Maheer, kau ini benar-benar keterlaluan. Razka saja sudah bisa makan sendiri tanpa berantakan, kenapa kau yang lebih besar darinya malah bertingkah seperti anak kecil?"

"Razka kan sehat, aku ini pasienmu, Assel," bela Maheer dengan wajah memelas yang dibuat-buat.

"Pasien atau bayi kolot?" semprot Assel ketus, namun tangannya tetap bergerak mengambil sendok dan mulai menyuapi Maheer. "Kalau bukan karena hari ini ada acara doa, sudah aku biarkan kau kelaparan."

Maheer tersenyum puas di sela kunyahannya. Ia tidak peduli disebut bayi kolot atau pria manja, selama Assel ada di dekatnya dan memberikan perhatian, ia rela dihina apa saja.

Di sisi lain rumah, Santi yang sudah pulih sepenuhnya dari koma berjalan perlahan mengitari ruangan. Ini adalah kali pertama ia menginjakkan kaki di mansion milik putra sulungnya sejak Muzammil menikah. Dulu, ia pernah bersumpah tidak akan sudi menginjakkan kaki di rumah ini selama Assel masih ada di dalamnya. Namun hari ini, permohonan Maheer melalui telepon dan bujukan Ridwan serta Maryani meluluhkan hatinya.

Santi melangkah ke ruang keluarga. Matanya tertuju pada dinding yang penuh dengan bingkai foto. Ada foto Muzammil yang tertawa lebar sambil menggendong Razka yang masih bayi, sementara tangannya merangkul bahu Assel dengan penuh kasih. Ada pula foto Razka yang berdiri di atas meja sambil berkacak pinggang dengan gaya pahlawan, sementara Muzammil dan Assel merentangkan tangan di belakangnya seolah sedang memamerkan harta paling berharga dalam hidup mereka.

Seketika, kaki Santi terasa lemas. Ia terduduk di lantai, tepat di depan deretan foto kebahagiaan yang selama ini ia abaikan. Air matanya luruh tanpa bisa dibendung.

"Apa yang kau tangisi sekarang, Santi?" suara Ridwan terdengar dari arah belakang. Sang suami menghampiri dan duduk di sampingnya. "Apakah kau sekarang menyesal? Di saat Muzammil masih ada, kau selalu menghina sumber kebahagiaannya ini."

"Iya Aku menyesal, Pah... aku sangat menyesal," isak Santi sambil menutup wajahnya. "Kenapa aku begitu keras kepala? Kenapa aku menutup mata dari kebahagiaan putraku sendiri? Aku bahkan tidak pernah mau datang ke rumah ini hanya karena keegoisanku."

"Muzammil selalu berharap kau datang, Mah," ucap Ridwan lirih. "Setiap kali dia menelepon, dia selalu bertanya apakah Mama sudah mau memaafkannya. Dia hanya ingin kau melihat betapa beruntungnya dia memiliki Assel dan Razka."

Santi menangis sejadi-jadinya. Penyesalan itu datang terlambat, di saat sang pemilik rumah sudah beristirahat dalam pelukan bumi. Setelah puas meluapkan sesak di dadanya, Ridwan mengajak Santi menuju ruang makan. Namun, saat melewati kamar tamu, langkah Santi terhenti. Pintu kamar itu terbuka setengah, memperlihatkan Maheer yang sedang merengek pada Assel.

"Assel, cukurkan kumis dan janggutku. Sudah mulai gatal, aku tidak mau nanti malam para tamu melihat suamimu ini tampak seperti orang tidak terurus," rengek Maheer.

Assel yang sedang memegang nampan kosong mendengus. "Minta bantuan Hans saja, Maheer. Aku sedang repot di dapur."

"Tidak mau! Biarkan saja panjang, nanti kalau orang-orang bertanya kenapa suamimu berantakan, kau jawab saja sendiri," ancam Maheer jahil.

Assel langsung menutup mulut Maheer dengan telapak tangannya. "Iya, iya! Aku cukurkan! Diamlah, jangan cerewet lagi dasar anak manja!"

Santi yang melihat dari balik celah pintu tersenyum lembut. Ia melihat bagaimana Assel, meski mulutnya mengomel, tetap mengambil baskom air hangat dan alat cukur dengan penuh kesabaran. Assel mulai mencukur janggut Maheer dengan gerakan tangan yang sangat hati-hati agar tidak melukai kulit pria itu.

Santi melanjutkan langkahnya ke ruang makan. Di sana, ia melihat para pembantu sedang sibuk menyusun piring. "Kenapa repot-repot masak sebanyak ini? Bukankah lebih praktis jika memesan katering saja?" tanya Santi pada Mbok Darmi.

"Ini keinginan Nyonya Muda sendiri, Nyonya Besar," jawab Mbok Darmi tulus. "Beliau berkata, ini adalah hidangan terakhir untuk memperingati 40 hari almarhum suaminya. Beliau ingin memasaknya sendiri dengan tangan sendiri agar para tamu yang mendoakan ikut merasakan ketulusannya. Beliau berharap doa-doa mereka sampai kepada Tuan Muzammil."

Santi terdiam. Sekali lagi, ia menemukan mutiara ketulusan dari sosok menantu yang selama ini ia anggap sebagai kerikil tajam.

Malam tiba, suasana mansion berubah menjadi khusyuk. Ruang tamu dipenuhi oleh para bapak yang akan membacakan tahlilan, sementara ruang tengah dipenuhi oleh puluhan anak yatim piatu. Cahaya lilin dan aroma wewangian kayu gaharu membuat suasana terasa begitu sakral.

Maheer, meski belum bisa berjalan sempurna, bersikeras ikut berada di tengah-tengah jamaah. Ia duduk di kursi roda, memakai baju koko putih dan peci hitam. Wajahnya tampak bersih setelah dicukur oleh Assel tadi siang. Di sampingnya, Razka duduk dengan tenang, meniru gaya orang dewasa saat memegang buku Yasin.

Seorang Ustadz mulai memimpin doa. Lantunan ayat suci Al-Quran menggema, menggetarkan sanubari setiap orang yang hadir. Santi duduk di pojok ruangan wanita, matanya tak lepas dari Assel yang menunduk dalam sambil memegang tasbih. Bahu Assel bergetar pelan, ia menangis dalam diam, mengirimkan setiap bait doa untuk suaminya yang telah mendahului.

"Ya Allah, muliakanlah hamba-Mu, Muzammil bin Ridwan..." suara Ustadz terdengar berat.

Santi ikut memejamkan mata. Dalam hati, ia berbisik lirih meminta maaf kepada putra sulungnya yang sudah tenang di alam sana. Ia berjanji, mulai malam ini, ia tidak akan lagi menjadi duri dalam kehidupan Assel. Jika Muzammil mencintai wanita ini lebih dari nyawanya sendiri, maka sudah sepatutnya Santi juga belajar untuk menyayanginya sebagai putrinya sendiri.

Acara doa berlangsung khidmat. Maheer melirik ke arah pintu ruang tengah, mencari sosok Assel di antara kerumunan. Saat mata mereka bertemu sekejap, Maheer memberikan senyum penguatan. Ia tahu, peringatan 40 hari ini bukan hanya soal mengenang kematian, tapi soal bagaimana mereka yang ditinggalkan mulai belajar untuk melangkah maju tanpa melupakan cinta yang pernah ada. Kebencian Maheer telah lama mati, dan malam ini, di bawah lantunan doa, penyesalan Santi pun mulai terkubur bersama masa lalu yang kelam.

1
Nana Biella
rasa percaya hilang setelah melihatmu her
Nur Halida
bukannya masih nikah siri??
Lia siti marlia
hehehe itu kan jurang yang kau ciptakan sendiri maher jadi nikmatilah 🤭🤭🤭
partini
hemmm see muncul jalangkung wkwkkk
bagus minta cerai aja males punya suami ada demit masa lalu apa lagi hidup di luar kebanyakan jadi teh celup suka keluar masuk lobang lendir
Radya Arynda
semangaaat up up up💪💪💪💪
Rarik Srihastuty
ceritanya bagus
Radya Arynda
ceritqnya bagus👍👍👍👍
Radya Arynda
semangaat up
Lia siti marlia
swmoga saja 💪selamat berjuang maherr💪😍
Silvia
cerita nya bagus
partini
💯bayang masa lalu lah apa lagi nanti yg 7 tahun di luar negri ga mungkin ga punya something apa lagi pergi pas hati kesal ,,siap" aja si jaelnagkung datang minta pertanggungjawaban
Irni Yusnita
ceritanya menarik 👍 sekaligus enak dibaca, lanjut Thor 👍
Daulat Pasaribu
seru juga novelnya thor...lanjut dong thor😍
Radya Arynda
semangaaat💪💪💪💪
Lia siti marlia
sedikit sedikit mulai mencair mulai saling menerima 😍😍🤭
Nur Halida
berarti maheer amat sangat bodoh banget sekali😁
Nur Halida
kok bisa langsung menikah ya bukannya nunggu masa iddah dulu baru boleh menikah??walau selama masa iddah gak akan di sentuh ..
apa aku yg kurang paham agama atau gimana ini??
karena setauku gitu nunggu massa iddah dulu baru menikah
Nana Biella
semangat untuk semuanya
Radya Arynda
semangaaat💪💪💪
Lia siti marlia
mudah mudahan kedepannya baik santi mertua assel berubah mau menerima assel dengan tangqn terbukq begitu jugq si bayi kolot pasti bentar lagi bakalan bucin tuh bayi kolot🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!