NovelToon NovelToon
MAFIA’S REBIRTH: CINTA & DENDAM SI CUPU

MAFIA’S REBIRTH: CINTA & DENDAM SI CUPU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Vittorio "The Grim Reaper" Genovese adalah puncak rantai makanan di dunia bawah Italia. Dingin, kejam, dan tak tersentuh—sampai sebuah pengkhianatan bom mobil mengakhiri hidupnya. Namun, maut ternyata punya selera humor yang aneh. Vittorio terbangun di tubuh Arjuna, mahasiswa beasiswa tingkat akhir yang hidupnya adalah definisi "kesialan". Tubuh kurus, kacamata tebal yang pecah, dan hobi menjadi samsak tinju geng kampus.
Dendam Vittorio membara, tapi tantangan terbesarnya bukan membalas budi pada para pembully, melainkan menghadapi Karin, gadis "semprul" tetangga kostnya yang tidak punya urat takut. Karin adalah perpaduan antara kekacauan dan keceriaan yang sering membuat Vittorio—sang raja mafia yang biasanya hanya bicara lewat peluru—kehilangan kata-kata dan martabatnya karena tingkah konyol gadis itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Karin Tertangkap Basah

Kehidupan setelah "pembersihan" besar-besaran terhadap aset Hadi Sujatmiko seharusnya menjadi lebih tenang. Namun, bagi Karin, ketenangan adalah konsep yang asing. Setelah mencicipi adrenalin sebagai intelijen dadakan dengan drone dan kode-kode enkripsi, kembali duduk di kelas Hukum Perdata sambil mendengarkan dosen berbicara tentang pasal-pasal warisan terasa seperti hukuman penjara bawah tanah.

​Vittorio, yang kini sepenuhnya merangkul identitas Arjuna, tampak sangat tenang. Ia duduk di kursi depan, mencatat setiap kata dosen dengan rapi. Postur tubuhnya tetap tegak, tatapannya fokus—sangat kontras dengan Karin yang duduk di baris paling belakang, tersembunyi di balik tumpukan buku besar yang sengaja ia susun seperti benteng.

​Di balik benteng buku itu, Karin tidak sedang belajar. Ia sedang melakukan sesuatu yang dilarang keras oleh Vittorio: Operasi Pengintaian Mandiri.

"Juna pikir gue bakal diem aja setelah Bianca kabur?" bisik Karin pada dirinya sendiri. Di bawah meja, ia mengoperasikan tablet kecil yang terhubung dengan kamera pengawas rahasia yang ia pasang di sekitar gedung Fakultas Hukum.

​Karin curiga. Sejak pagi tadi, ia melihat sebuah mobil van hitam terparkir di area yang tidak semestinya. Insting "asisten mafia"-nya berdenyut kencang. Ia yakin itu adalah sisa-sisa anak buah Hadi yang mencoba melakukan balas dendam terakhir, atau mungkin mata-mata Lorenzo yang masih penasaran.

​"Karin... Karin..." suara bisikan memecah konsentrasinya.

​Karin tersentak, hampir menjatuhkan tabletnya. Ia melirik ke samping. Itu adalah Satya, si Ketua BEM yang kini sudah pulih dari luka-lukanya. Satya menatap Karin dengan tatapan penuh selidik.

​"Lu lagi ngapain, Rin? Dari tadi gue liat lu nunduk terus, tangan lu gerak-gerak di bawah meja. Lu main Mobile Legends ya?" tanya Satya curiga.

​"Sst! Diem lu, Sat! Gue lagi kerja penting. Ini urusan keamanan nasional!" jawab Karin ketus sambil kembali fokus ke layarnya.

​Di layar tablet, Karin melihat seseorang keluar dari van hitam tersebut. Orang itu memakai topi baseball dan masker, membawa sebuah tas punggung yang terlihat berat. Karin memperbesar gambar tersebut.

​"Tunggu... itu kan tas buat bawa bahan peledak atau minimal alat peretas!" jantung Karin berdegup kencang. "Gue harus lapor Juna. Eh, tapi Juna lagi fokus banget dengerin Pak Kusuma. Kalau gue ganggu sekarang, ntar dia malah marah dan bilang gue terlalu paranoid."

​Karin memutuskan untuk beraksi sendiri. Ia merayap turun dari kursinya, bergerak seperti komodo yang sedang mengintai mangsa, mencoba keluar dari pintu belakang ruang kelas tanpa terlihat oleh dosen.

​"Karin! Mau ke mana kau?!" suara menggelegar Pak Kusuma tiba-tiba menghentikan langkahnya tepat di depan pintu.

​Seluruh kelas menoleh. Termasuk Vittorio.

​Vittorio menatap Karin dengan satu alis terangkat. Ia tahu persis wajah itu—wajah Karin yang sedang merencanakan sesuatu yang konyol.

​"Anu... Pak... perut saya... saya rasa martabak semalam sedang melakukan demonstrasi di dalam usus saya. Saya harus ke toilet secepat kilat!" alasan klasik Karin keluar begitu saja.

​Pak Kusuma menghela napas. "Ya sudah, cepat pergi! Jangan sampai kau meninggalkan 'jejak' di koridor kampus!"

​Karin langsung melesat keluar. Vittorio menyipitkan mata. Ia melihat tablet yang menyembul dari saku jaket Karin. Sial, batin Vittorio. Gadis itu tidak bisa diam.

​Vittorio segera berdiri, membereskan bukunya dalam satu gerakan cepat. "Pak, maaf, saya rasa saya harus membantu Karin. Dia punya riwayat pingsan jika sakit perutnya kambuh."

​Tanpa menunggu jawaban Pak Kusuma, Vittorio keluar menyusul Karin.

​Sementara itu, Karin sudah berada di parkiran belakang. Ia bersembunyi di balik pilar beton, mengamati pria bermasker tadi yang kini sedang berdiri di depan panel listrik utama gedung fakultas. Pria itu tampak sedang mengutak-atik kabel-kabel besar.

​"Ketangkap basah lu ya!" gumam Karin. Ia menyiapkan ponselnya untuk memotret sebagai bukti. "Gue bakal jadi pahlawan hari ini. Juna pasti bakal bangga banget punya asisten sejenius gue."

​Karin merangkak semakin dekat, mencoba mencari sudut foto yang lebih baik. Namun, ia lupa satu hal: ia masih memakai sepatu sneakers yang solnya berdecit jika terkena lantai semen yang licin.

​CIT!

​Pria bermasker itu tersentak. Ia berbalik dengan sangat cepat, tangannya meraba sesuatu di balik pinggangnya.

​Karin membeku. "Eh... halo Mas... Mas lagi benerin lampu ya? Wah, rajin banget ya petugas PLN zaman sekarang, pake masker keren segala."

​Pria itu tidak bicara. Ia justru mengeluarkan sebuah pisau lipat taktis. Matanya menatap Karin dengan kebencian murni.

​"Lu bukan petugas PLN ya?" suara Karin menciut. "Oke, gue rasa gue salah alamat. Saya permisi dulu ya Mas, martabak saya manggil-manggil..."

​Karin berbalik untuk lari, namun pria itu lebih cepat. Ia menyergap kerah jaket Karin dan menariknya ke arah bayangan gedung yang gelap. Karin mencoba berteriak, namun tangan kasar pria itu segera membekap mulutnya.

​"Diam kau, Gadis Berisik! Kau yang selalu bersama Arjuna, kan? Kau akan menjadi tiketku untuk keluar dari kota ini dengan selamat!" ancam pria itu. Suaranya serak—Karin mengenalinya. Itu adalah salah satu mantan pengawal pribadi Hadi yang berhasil kabur saat penggerebekan.

​Karin meronta, ia mencoba menggunakan jurus andalannya: menendang tulang kering. Namun pria itu sudah waspada dan menahan kaki Karin dengan lututnya.

​"Lepaskan dia."

​Sebuah suara dingin dan tenang terdengar dari arah belakang mereka.

​Vittorio berdiri di sana. Ia tidak tampak panik. Ia justru terlihat sangat, sangat marah—jenis kemarahan yang tenang namun mematikan. Ia berdiri dengan tangan di saku celana, namun auranya membuat udara di parkiran itu terasa membeku.

​"Arjuna!" teriak pria itu sambil menodongkan pisau ke leher Karin. "Jangan mendekat! Satu langkah lagi, dan leher asisten kesayanganmu ini akan robek!"

​Karin menatap Vittorio dengan mata yang berkaca-kaca. "Juna... sori... gue tadi cuma mau—"

​"Aku tahu apa yang kau lakukan, Karin," potong Vittorio lembut. Matanya kembali menatap si penjahat. "Kau membuat kesalahan besar dengan menyentuhnya. Aku sudah memberikan kesempatan bagi kalian untuk lari, tapi kau memilih untuk kembali dan menggali kuburanmu sendiri."

​"Cukup omong kosongnya! Berikan aku akses ke rekening rahasia Hadi yang kau ambil, atau gadis ini mati!"

​Vittorio tersenyum—sebuah senyuman yang membuat si penjahat gemetar. "Kau mengancamku menggunakan nyawa seseorang yang paling berharga bagiku? Itu adalah strategi bisnis paling buruk yang pernah kudengar."

​Dalam sekejap mata, Vittorio bergerak. Ia tidak berlari lurus. Ia menendang sebuah kaleng bekas di lantai ke arah wajah pria itu sebagai pengalih perhatian. Saat pria itu refleks berkedip, Vittorio meluncur maju.

​Ia memegang pergelangan tangan pria yang memegang pisau, memutarnya dengan sudut yang tidak alami hingga terdengar bunyi KRAK! yang mengerikan. Pisau itu jatuh ke lantai. Vittorio kemudian memberikan satu pukulan uppercut yang telak ke rahang pria itu, membuatnya melayang beberapa senti ke belakang sebelum jatuh pingsan tak sadarkan diri.

​Vittorio segera menangkap Karin sebelum gadis itu jatuh lemas.

​"Kau tidak apa-apa?" tanya Vittorio, suaranya kini kembali menjadi suara Arjuna yang penuh perhatian.

​Karin terengah-engah, ia langsung memeluk Vittorio erat-erat. "Juna! Gue takut banget! Tadi pisaunya dingin banget di leher gue! Gue kira gue nggak bakal bisa makan seblak lagi!"

​Vittorio menghela napas, ia membalas pelukan Karin sejenak sebelum melepaskannya. "Karin, lihat aku."

​Vittorio memegang kedua bahu Karin. Wajahnya kini menjadi sangat serius. "Kau tertangkap basah sedang melakukan operasi amatir tanpa seizinku. Kau tahu betapa bahayanya ini? Jika aku telat lima detik saja, kau sudah tidak ada di sini."

​Karin menunduk, wajahnya merah padam karena malu dan menyesal. "Gue... gue cuma mau ngebuktiin kalau gue asisten yang berguna, Jun. Gue liat van hitam itu mencurigakan... gue nggak mau lu kenapa-kenapa."

​"Karin," Vittorio mengangkat dagu Karin agar menatap matanya. "Kau berguna bagiku hanya dengan tetap hidup dan tetap berisik. Aku tidak butuh pahlawan. Aku butuh Karin yang menungguku pulang dengan martabak. Mengerti?"

​Karin mengangguk pelan, air matanya mulai menetes. "Sori ya, Bos. Gue emang semprul."

​"Ya, kau memang semprul. Sangat semprul," Vittorio menyeka air mata Karin dengan ibu jarinya. "Sekarang, berikan tablet itu padaku."

​Karin menyerahkan tabletnya. Vittorio melihat hasil rekaman Karin. "Hmm, kau benar tentang van hitam itu. Ternyata ada dua orang lagi di dalamnya."

​"Hah?! Mana?!" Karin langsung waspada lagi.

​"Sudah diurus oleh Tiger. Aku sudah meneleponnya saat aku keluar kelas tadi," Vittorio menyimpan tablet itu ke dalam tasnya. "Sekarang, kita harus kembali ke kelas sebelum Pak Kusuma curiga kita melakukan sesuatu yang tidak senonoh di parkiran."

​Mereka berjalan kembali ke kelas. Karin berjalan sedikit tertinggal di belakang Vittorio, merasa seperti anak kecil yang baru saja dimarahi ayahnya. Namun, di dalam hatinya, ada rasa hangat yang menjalar. Meskipun Vittorio marah, ia tahu pria itu melakukannya karena sangat peduli.

​Saat mereka sampai di depan pintu kelas, Vittorio berhenti sejenak. Ia menoleh ke arah Karin.

​"Karin?"

​"Ya, Jun?"

​"Lain kali, kalau kau melihat van hitam lagi... jangan merangkak seperti komodo. Sepatumu terlalu berisik. Gunakan jalur ventilasi atau cukup telepon aku. Kita akan melakukannya bersama-sama."

​Mata Karin berbinar. "Jadi... gue masih boleh jadi asisten?"

​Vittorio tersenyum tipis, lalu mengacak-acak rambut Karin. "Siapa lagi yang mau jadi asisten bos mafia yang hobinya makan nasi goreng gila kalau bukan kau?"

​Karin nyengir lebar, kepercayaan dirinya kembali seketika. "Betul juga! Lagian gue kan udah punya sertifikat asisten kelas dunia dari pengalaman di pelabuhan!"

​Mereka masuk ke kelas tepat saat Pak Kusuma sedang menutup kuliahnya. Satya menatap mereka dengan tatapan penuh tanya, namun Vittorio hanya memberikan anggukan kecil yang berarti 'semua terkendali'.

​Sore itu, saat mereka pulang dari kampus, Vittorio tidak membawa Karin ke markas ruko. Ia membawanya ke sebuah taman kota yang sepi.

​"Kita mau ngapain di sini, Jun? Mau transaksi gelap lagi?" tanya Karin.

​"Bukan. Aku ingin mengajarimu sesuatu," Vittorio mengeluarkan sebuah alat kecil dari sakunya. "Ini adalah alat pelacak GPS dan tombol darurat. Jika kau dalam bahaya dan aku tidak ada, tekan ini. Sinyalnya akan langsung masuk ke ponselku dan Tiger."

​Karin menerima alat itu dengan rasa takjub. "Wah... kayak di film James Bond!"

​"Dan satu lagi," Vittorio memberikan sebuah botol semprotan yang lebih kecil dan elegan dari yang biasa dibawa Karin. "Ini semprotan merica militer. Isinya sepuluh kali lebih pedas dari cabai rawitmu. Gunakan ini hanya untuk keadaan darurat."

​Karin memeluk botol semprotan itu seperti harta karun. "Makasih, Juna! Gue bakal namain ini 'Si Pedas Pemusnah Mafia'!"

​Vittorio tertawa. "Terserah kau saja."

​Malam itu, di bawah sinar lampu taman, mereka duduk berdua sambil melihat anak-anak bermain. Meskipun ancaman masih mungkin datang dari sudut-sudut gelap masa lalu, Vittorio menyadari bahwa ia tidak bisa terus-menerus mengurung Karin di dalam "sangkar emas". Ia harus melatih asistennya agar bisa bertahan hidup, karena duni bawah tidak pernah benar-benar membiarkan mangsanya pergi.

​"Jun," panggil Karin saat mereka hendak pulang.

​"Apa?"

​"Besok gue mau pasang kamera di kantin. Gue curiga Ibu kantin sering ngurangin porsi ayam gue..."

​Vittorio menghela napas panjang, menepuk dahinya. "Karin... itu bukan urusan keamanan nasional."

​"Bagi perut gue, itu prioritas utama!"

​Vittorio hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum. Karin tetaplah Karin, gadis yang bisa membuat situasi paling berbahaya sekalipun berakhir dengan perdebatan tentang porsi ayam kantin. Dan bagi Vittorio Genovese, itulah alasan mengapa hidup sebagai Arjuna di Jakarta terasa jauh lebih berharga daripada tahta mana pun di Italia.

1
Riska Baelah
emg sih seharus ny vittrio sebagai cwok harus ny jelas nyatakan cinta ke karin biar hubungan kalian jelas pacaran, bukn hany bos sama asisten doang🤭
Riska Baelah
sumpah kk sepanjang aq baca eps ini
aq ngakak 😄🤣😄🤣😄🤭
lucu bnget cemburu ny si vittrio🤣😄🤣😄🤭 lanjut kk👍
Riska Baelah
karin ini ya ad aja tingkah ny, segala ibu kantin d curigai,,, ngurangin porsi ayam ny😄🤣😄🤣😄🤭
kocak bnget,,,,👍
Riska Baelah
ikut dong liburan ke bali /CoolGuy/
Riska Baelah
harus berakhir bhagia ya kk,, minimal vittrio nikah sama karin, puny ank satu cwek yg muka ny mirip vittrio sifat ny karin, biar hidup ny vittrio berwarn kya pelangi😄🤣😄🤣🤣😄🤭👍
Riska Baelah
lagian jg si vittrio udh tau modelan karin kya gitu ,semprul sok2 an, mau d ajk kencan romantis, yaaa mna ngaruh😄🤣😄🤣🤣🤭
laen x cukup sederhana tp berkesan saja🤭
Riska Baelah
kk kok adegan romantis ny tipis bnget kya tisu d bagi 10 😄🤣🤭, kan udh jelas vittrio suka sama karin gitu jg karin, gak bisa ap ad momen yg lebih manisss gitu🤭
Riska Baelah
karin takut , klu2 vittrio berubah, mka ny d tany trus msih mau tinggal d kost ap engga, tenang karin klu pun vittrio pindah kmu past d ajak🤭
Riska Baelah
uhhhhh so sweet ny😍🤭
karin udh gak malu lg yaa peluk2 vittrio depan orng🤭
mna manja lg
🤣😄🤭
Riska Baelah
kpan sih vittrio nyatain cint ke karin, gemes deh, masa sebagai teman trus, naek jd asisten,, jd pacar lah👍🤭
Riska Baelah
🤣😄🤣😄🤣🤭
Riska Baelah
mau jg dong ditraktir martabak ny 🤭
Riska Baelah
😄🤣😄🤣😄🤭 karin ad2 tingkah ny🤭
Riska Baelah
/Chuckle//Chuckle//Chuckle//Chuckle//Chuckle//Chuckle/
Riska Baelah
karin2 d kira lg maen mafia mafia ap, segala mau ikut,, jng dong entr vittrio gak konsen, harus ny vittrio mint cwek rambut pendek buat lindungi karin👍
Riska Baelah
semangat vittrio💪💪💪💪💪
Riska Baelah
😄🤣😄🤣🤭 karin2 mau daster sutra , jng lupa vittrio d beliin yaa,
dri pda karin pke daster kuning bikin syilau mata mu😄🤣😄🤣🤭
Riska Baelah
😄🤣😄🤣🤭 agen rahasia, si karin,malh d ladeni lg sama Vittoria🤭
Riska Baelah
coba juna minta uang buat perbaiki kost an ny,, sama beliin karin bju bgus , jng pke daster truss🤭
Riska Baelah
kya ny aq komen sendri dech, ini pembaca yg laen kya ny blum tau, klu ad cerita baru yg seru👍
tp gak ap lah, klu vittrio penguasa italia, aq penguasa komen d cerita kk ini🤭👍
Farida 18: xixi jangan lupa mampir disebelah judulnya the Don & the distater, sama hari ini aku up novel baru judulnya Love, Bullets, and Bakwan: Mahkota sang Cassanova & Ratu Typo
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!