Hidup Bang Jack berubah drastis setelah memasang aplikasi asing. Ia mendadak memiliki kekuatan fisik luar biasa dan akses misi rahasia negara.
Jack harus melawan jaringan mafia yang berkolusi dengan penguasa. Bukti dikumpulkan, kejahatan diungkap, dan pelaku diamankan.
Mampukah ia mengantarkan keadilan agar selamat sampai di tujuan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seruan Boikot Nasional
Keesokan harinya, kabar penangkapan Jack disiarkan secara besar-besaran. Namun berita itu tidak menenangkan situasi. Justru api amarah masa makin membara.
Media massa terus memutar rekaman yang sudah diedit dan dipotong-potong. Mereka menampilkan Jack sebagai penjahat berbahaya yang mengancam nyawa rakyat.
"Dengar baik-baik seluruh rakyat negeri ini. Pria bernama Jack sudah kami tangkap. Dia agen asing yang dibayar untuk hancurkan ekonomi kita. Karena ulahnya, program Motor Listrik tertunda. Karena dia, bantuan sosial dikurangi. Siapa pun yang mendukung dia, berarti mendukung kehancuran dan kemiskinan."
Berita itu disiarkan nonstop di televisi, radio, dan media sosial daring. Rakyat yang awam dan buta informasi pun langsung termakan hasutan itu sepenuhnya.
Mereka tidak peduli bukti. Mereka percaya apa yang keluar dari layar kaca. Mereka bersatu padu membenci sosok yang dulu mereka sebut DEWA OJOL.
Tagar #HukumMatiJack dan #BakarPengkhianat menduduki peringkat teratas.
Wajah Jack dicoret-coret di poster dan ditempel di setiap sudut jalan kota.
"Jangan beri dia makan! Jangan beri dia minum! Jangan beri tempat tinggal!"
"Siapa yang membantu bajingan ini, kami anggap musuh negara!"
Seruan boikot nasional itu dilaksanakan dengan sangat ketat dan kejam. Dimana pun Jack berada, bayangan kebencian itu selalu mengintai dan mengancam.
Bahkan di dalam sel tahanan pun, ia tidak bisa tenang dari teriakan massa di luar. Mereka berkumpul di depan kantor polisi menuntut Jack diserahkan untuk dihabisi.
"KELUARKAN DIA! SERAHKAN PENGKHIANAT ITU PADA KAMI! BUNUH DIA SEKARANG!"
"KAMI TIDAK MAU DIA DIADILI! KAMI MAU LIHAT DIA MATI DI DEPAN MATA KAMI!"
Jack terduduk lemas di lantai yang dingin dan lembap. Hatinya hancur berkeping-keping mendengar teriakan orang-orang yang ia cintai.
"Apa salahku sebenarnya? Aku cuma mau tunjukkan siapa pencuri uang makan kalian. Aku cuma mau kalian tidak ditipu oleh orang-orang berjas yang duduk di kursi empuk. Kenapa kalian malah mau bunuh aku? Kenapa kalian lindungi perampok itu?"
Tidak ada jawaban. Hanya teriakan kebencian yang makin keras terdengar.
Jack sadar musuhnya berhasil memutarbalikkan fakta dengan sangat sempurna. Mereka membuat rakyat membenci penyelamat dan menyayangi perampok. Jack kini benar-benar sendirian tanpa teman dan tanpa harapan sedikitpun.
Tiba-tiba, di dalam kepala dan dadanya, terasa ada sesuatu yang tidak beres. Sistem yang selama ini menjadi teman setianya mulai merespons keputusasaan itu.
[DETEKSI TINGKAT STRES HOST: KRITIS. EMOSI TIDAK STABIL.]
[PERINGATAN! INTEGRITAS SISTEM TERGANGGU. SHUTDOWN SEMENTARA DIAJUKAN.]
Jack merasakan getaran aneh dan rasa sakit yang menusuk sampai ke ulu hati. Ia tahu ada bagian dari dirinya yang mulai retak dan hendak pergi meninggalkannya.
***
Keesokan harinya, Jack dipindahkan dari sel tahanan menuju mobil tahanan terbuka. Rencananya ia akan diarak keliling kota untuk menunjukkan wajah sang "penjahat".
Tangan dan kakinya dibelenggu rantai besi berat yang mengikat kuat pergerakannya. Wajahnya tidak ditutup sama sekali agar semua orang bisa melihat dan mengenalinya.
"Lihat baik-baik! Ini dia orangnya! Ini dia musuh kalian yang sebenarnya! Orang yang mau hancurkan masa depan anak cucu dan kesejahteraan kalian semua!"
Petugas berteriak keras memberi isyarat kepada massa yang sudah menunggu lama.
Kerumunan orang ramai langsung berteriak histeris dengan mata penuh api kebencian.
"MATIKAN DIA! GANTUNG DIA! JANGAN KASIH AMPUN PENGKHIANAT INI!"
"KAMI MAU MOTOR LISTRIK! KAMI MAU KEMAJUAN! BUNUH SI JACK SEKARANG!"
Jack terduduk lemas di dalam jeruji besi mobil yang berjalan sangat pelan itu. Ia menatap wajah-wajah orang yang berteriak itu satu per satu dengan hati yang pedih.
Di antara kerumunan itu, ia mengenali beberapa wajah yang sangat familiar. Mereka adalah orang-orang yang dulu pernah ia tolong dan selamatkan dari bahaya.
"Hei Tante! Tante lupa? Aku yang pernah tolong ambilkan dompet Tante yang jatuh? Aku juga yang tolong angkat barang berat Tante waktu hujan deras beberapa bulan lalu?"
Wanita itu menatap Jack dengan tatapan dingin dan penuh rasa jijik. Ia tidak ingat kebaikan itu lagi. Otaknya sudah tercuci bersih oleh propaganda.
"Jangan panggil aku Tante! Aku tidak kenal bajingan sepertimu! Bapak Menteri bilang kamu musuh kami! Maka kamu memang musuh kami!"
Tiba-tiba sebuah batu keras melayang cepat dan tepat menghantam dahi Jack. Darah segar langsung mengalir keluar membasahi wajahnya yang pucat dan lelah.
"Ambil ini balasannya! Karena kamu, anakku makan nasi tanpa lauk pauk sekarang. Karena kamu, kami menderita! Terima itu semua rasa sakit yang pantas kamu dapat!"
Batu-batu lain, botol plastik, dan bahkan sisa makanan melayang deras. Hujan benda-benda itu menghujani tubuh Jack tanpa ada satu orang pun yang melarang.
"Kenapa kalian lakukan ini padaku? Aku berjuang demi hak dan perut kalian! Aku lawan orang yang curi uang makan kalian! Kenapa kalian malah lindungi pencuri itu?"
"Diam kamu pembohong! Kami tidak percaya omong kosongmu lagi! Bapak Rudi Hartono yang baik hati yang bilang kamu jahat! Kami percaya dia!"
Jack menundukkan wajah dalam-dalam. Ia tidak lagi berusaha melindungi diri. Ia biarkan tubuhnya dipukul dan dihina karena hatinya sudah lebih hancur dari fisiknya.
Air mata jatuh bercampur darah dan keringat yang bercucuran deras di wajah. Ia tidak mengerti kenapa kebenaran harus dibayar dengan rasa sakit yang sedemikian rupa.
Di dalam dadanya, getaran aneh yang muncul sejak kemarin makin terasa jelas. Sistem yang menjadi kekuatan utamanya mulai merespons keputusasaan ini.