NovelToon NovelToon
TELAHIR SAKTI

TELAHIR SAKTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi
Popularitas:652
Nilai: 5
Nama Author: Abas Putra

TELAHIR SAKTI: "Pencarian Pusaka Primordial"

Dunia yang damai ternyata hanyalah lembaran kertas di mata para dewa.

Pahlawan legendaris bernama Raka mengorbankan jiwa dan raganya yang merupakan tetesan "Tinta Primordial" untuk membebaskan dunia dari belenggu Naskah Takdir. Pengorbanannya memberikan kehendak bebas bagi seluruh penduduk fana. Namun, di dimensi kosmik yang jauh lebih tinggi, sebuah tempat bernama Ruang Redaksi, kebebasan ini dianggap sebagai "Kecacatan Cerita" yang harus segera dihapus."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abas Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

B 7: Kota Dewa Terbuang

Menara Hitam dan Gerbang Dimensi

Perjalanan keluar dari Lembah Dwipantara membawa Raka dan Ki Ageng Selo melintasi "Padang Debu Berbisik". Angin di sini membawa suara-suara masa lalu yang bisa membuat orang biasa gila.

Namun, dengan empat matahari yang bersemayam di dalam sukmanya, Raka berjalan dengan tenang. Setiap langkah kakinya meninggalkan bekas hangus di tanah gersang.

Wussss... Wussss...

Di ufuk cakrawala, berdirilah sebuah kota raksasa yang dibangun dari batuan meteorit hitam: Kota Astina Pura, yang kini lebih dikenal sebagai Kota Dewa Terbuang.

Kota ini dulunya adalah pintu gerbang menuju langit, namun setelah Dewa Barata berkuasa, kota ini diubah menjadi tempat pembuangan bagi para dewa dan pendekar yang tidak mau tunduk padanya.

"Hati-hati, Raka," bisik Ki Ageng sambil menutupi wajahnya dengan tudung. "Di kota ini, dinding pun punya telinga. Dan nyawa di sini lebih murah daripada segelas arak."

Mereka melangkah melewati gerbang kota yang dijaga oleh patung naga raksasa yang kepalanya sudah hancur. Bau amis darah, asap dupa, dan aroma parfum murah menyatu di udara yang pengap. Raka bisa merasakan ribuan pasang mata menatapnya dari balik jendela-jendela tinggi.

Kedai "Lembah Dosa"

Ki Ageng membawa Raka ke sebuah tempat yang paling aman sekaligus paling berbahaya, sebuah rumah bordil dan kedai minum milik seorang wanita bernama Dara."

Dara bukan wanita sembarangan, ia adalah mantan penari surgawi yang diusir dari istana langit karena menolak menjadi selir Dewa Barata.

Tring... tring...

Suara musik petik menyambut mereka saat memasuki kedai yang remang-remang itu. Di tengah ruangan, seorang wanita berpakaian merah menyala sedang duduk di atas meja kayu, mengisap pipa tembakau perak. Gaunnya terbelah hingga ke pinggang, memperlihatkan paha putih yang mulus dan tato burung phoenix yang seolah hidup di kulitnya.

"Ki Ageng... kau masih hidup?" suara Dara rendah dan serak, namun sangat menggoda.

Dara melompat turun dari meja. Gerakannya sangat ringan, seolah ia tidak menginjak lantai. Ia mendekati Raka, mengitari tubuh pemuda itu layaknya seekor ular yang sedang menilai mangsanya.

"Dan siapa ini? Baunya... bau matahari yang terbakar," bisik Dara. Ia berdiri tepat di depan Raka."

Dara sangat tinggi, hampir setara dengan Raka. Ia menyentuh dagu Raka dengan ujung jarinya yang dingin.

"Kau punya mata yang berbahaya, Pendekar. Mata yang bisa membuat wanita menyerahkan jiwanya... atau nyawanya."

Rahasia di Balik Tirai

Kau Ikut dengan saya?"

Dara membawa Raka ke sebuah kamar rahasia di lantai paling atas. Kamar itu dipenuhi dengan kain sutra yang menjuntai dan aroma dupa yang memabukkan.

Ki Ageng tetap di bawah untuk berjaga-jaga.

"Jika kau ingin mencari jalan menuju Penjara Tanpa Ruang, kau butuh Kunci Langit," ujar Dara.

Tiba-tiba Dara mulai melepas selendang merahnya, membiarkannya jatuh ke lantai.

Dara mendekati Raka dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia menempelkan tubuhnya yang harum ke dada Raka yang keras. Raka bisa merasakan detak jantung Dara yang cepat.

"Tapi Kunci itu ada di tangan Jenderal Karsa, penguasa kota ini yang sangat kejam. Aku bisa membantumu masuk ke kediamannya, tapi..."

Dara menarik tengkuk Raka, membungkam bibir pemuda itu dengan sebuah ciuman yang liar dan penuh rasa lapar.

Raka terkejut, hanya bisa diam tanpa penolakan, namun insting lelakinya segera bangkit. Raka tanpa sadar berkerak merangkul pinggang Dara yang ramping, mengangkatnya dan memojokkannya ke dinding batu.

Dara saat tangan Raka yang besar mulai menjelajahi lekuk tubuhnya yang indah. Di bawah pengaruh dupa yang wangi, Raka sejenak melupakan beban di pundaknya. Ia mencium leher Dara dengan kasar, menghisap aroma kulitnya yang seperti madu.

Namun, di tengah kemesraan itu, Raka merasakan getaran aneh dari Gelang Penahan Sukma-nya. Gelang itu mendingin secara mendadak, sebuah peringatan.

Zinggg!

Raka tiba-tiba menangkap pergelangan tangan Dara yang secara diam-diam hendak menancapkan sebuah jarum perak kecil ke tengkuknya.

"Kenapa, Dara?" tanya Raka dengan suara dingin yang mematikan. Matanya berkilat emas.

Dara gemetar, air mata mulai mengalir di pipinya yang cantik.

"Maafkan aku... Karsa menyandera adikku. Jika aku tidak membunuhmu malam ini, dia akan membunuh adikku!"

Serangan Para Pembunuh Bayaran

Tiba-tiba ada serangan, di balik Jendela, Jendela kamar pecah berkeping-keping. Empat sosok berpakaian hitam dengan topeng perak melompat masuk.

Mereka adalah "Para Penjemput Nyawa", pembunuh elit kiriman Jenderal Karsa.

Sring! Sring!

Mereka menghunuskan rantai-rantai berduri yang mengeluarkan aura ungu beracun.

"Dara, menyingkir!" teriak Raka.

Raka melepaskan energi Matahari Keempatnya. Cahaya putih yang menyilaukan meledak dari tubuhnya, menghancurkan tirai-tirai sutra di ruangan itu.

Boom!

Salah satu pembunuh menyerang dengan rantainya.

Wusss! Raka menangkap rantai itu dengan santai, tangan kosong."

Cesss... Kulitnya berasap karena racun, namun energi matahari langsung membakar racun tersebut. Raka menarik rantai itu dengan satu sentakan kuat, membuat si pembunuh terbang ke arahnya.

Bugh!

Satu pukulan telak ke arah dada menghancurkan baju zirah pembunuh itu beserta jantungnya.

Dua pembunuh lainnya menyerang secara bersamaan dari arah belakang. Raka melakukan putaran 360 derajat sambil melepaskan tebasan energi dari tangannya.

Syuuuuutttt!

Garis cahaya putih membelah udara, dan kedua pembunuh itu terpotong menjadi dua sebelum sempat berteriak.

Pembunuh terakhir, melihat rekan-rekannya tewas dalam hitungan detik, mencoba melarikan diri lewat jendela.

"Kau tidak akan pergi kemana pun," gumam Raka.

Raka menjentikkan jarinya. Sebuah bola api putih kecil melesat dan menghantam punggung si pembunuh.

Duar!

Pembunuh itu meledak di udara menjadi butiran api yang indah namun mengerikan.

Raka berbalik menatap Dara yang terduduk lemas di lantai, pakaiannya acak-acakan dan wajahnya penuh ketakutan. Raka mendekat, namun tidak untuk menyakitinya. Ia merobek kain bajunya sendiri untuk membalut luka gores di bahu Dara.

"Katakan di mana Jenderal Karsa berada," ucap Raka dengan nada yang tidak terbantah. "Aku akan menyelamatkan adikmu, dan aku akan mengambil Kunci itu dari tangannya yang sudah mati."

Dara menatap Raka dengan tatapan memuja sekaligus ngeri.

"Dia ada di Menara Hitam, di pusat kota.

Tapi kau harus berhati-hati, Raka... dia memiliki separuh kekuatan dewa perang."

Raka berdiri tegak, auranya kini memenuhi seluruh ruangan, membuat udara terasa berat.

"Dia hanya memiliki separuh kekuatan dewa. Sedangkan aku... aku memiliki seluruh amarah Sang Hyang Jagat."

Raka melangkah keluar dari kamar, meninggalkan Dara yang terpaku."

Di bawah, Ki Ageng Selo sudah menunggu dengan pedang terhunus di tengah tumpukan mayat penjaga kedai.

Pertempuran di Kota Dewa Terbuang dimulai, dan malam ini, darah akan mengalir di setiap gang hitam Astina Pura."

Menara Hitam berdiri menjulang seperti pedang raksasa yang menusuk langit kelam Astina Pura. Di sekelilingnya, petir hitam menyambar-nyambar tanpa henti, menciptakan suara statis yang menyakitkan telinga.

Raka berdiri di depan pintu gerbang utama yang terbuat dari baja meteorit. Di sampingnya, Dara menatap menara itu dengan tubuh gemetar. Ia telah memilih untuk berkhianat pada Jenderal Karsa demi membantu pria yang baru saja hampir ia bunuh.

"Raka, di atas sana... Karsa tidak sendirian. Ia memiliki Pasukan Arwah tak Bertuan," bisik Dara. Ia mendekat, memeluk lengan kekar Raka. "Jika kau tidak kembali, aku akan memastikan kota ini terbakar bersamaku."

Raka menoleh, menatap Dara yang tampak rapuh namun berani. Sebelum melangkah masuk, Raka menarik Dara ke dalam pelukan singkat yang sangat posesif.

Ia mencium bibir Dara dengan penuh, sebuah ciuman yang terasa seperti janji sekaligus perpisahan.

Tangan Raka memegang lembut pinggul Dara, merasakan kehangatan wanita itu untuk terakhir kalinya sebelum badai darah dimulai.

"Tunggu aku di bawah," ucap Raka singkat.

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!