Ketika kepercayaan sudah ternodai, akankah hati masih bisa bertahan?
Sebuah perjalanan cinta dan pernikahan antara Maira dan Agam yang diwarnai kehadiran orang ketiga yang sama sekali tak diharapkan oleh keduanya.
Diantara Maira dan Agam maupun Sita yang merupakan orang ketiga disini, tidak ada yang menghendaki hubungan ini sama sekali.
Lalu bagaimanakah akhirnya hubungan ini bisa terjadi?
Bagaimana Agam berjuang meyakinkan Maira dan merebut kembali hatinya yang terluka? Namun selain itu, mampukah Agam menjaga hatinya setelah menikahi Sita?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sujie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berangkat lebih awal
"Oooii ... ngelamun aja sih, kenapa?" Nisa yang baru saja tiba di kantin kantor menepuk bahu sahabatnya yang terlihat menatap minuman dihadapannya dengan tatapan kosong.
Saat ini mereka tengah beristirahat untuk makan siang. Mengisi amunisi di kantin bukanlah sebuah pilihan, tapi karena waktu yang mereka punya cukup terbatas saat ini. Hal itu mengingat banyaknya pekerjaan mereka minggu-minggu ini.
Proyek luar kota dan juga beberapa proyek baru di dalam kota membuat banyak waktu mereka lebih banyak tersita untuk memikirkannya. Hingga kadang membuat otak para pegawai kantor ikut memanas karenanya, terlebih lagi Maira. Karena itulah siang ini ia memilih untuk kabur sejenak dari pekerjaannya selagi bosnya sedang menemui seseorang di luar kantor.
Maira mendongakkan kepalanya melihat siapa yang baru saja menepuk bahunya dengan cukup kencang. Ia hanya mencebik saat mendapati wajah Nisa. Sang perusuh namun juga seorang sahabat terbaik bagi Maira.
"Ada apa lagi sih?" tanya Nisa lagi, penasaran melihat raut wajah Maira terlihat begitu stress. Ia lalu dengan seenaknya menyambar gelas minuman Maira yang isinya masih utuh dan meminumnya tanpa rasa sungkan.
"Ck ... kebiasaan deh!" protes Maira dengan ekspresi datar.
"Ih ... gemes, sumpah. Ada apaan sih, Ra? Kamu marah karena minuman ini aku minum? Iya udah aku ganti nih. Pak minumannya satu lagi ya!" Nisa menengok dan berseru pada salah satu penjaga stand minuman.
"Apaan sih, Nisa? Lebay deh." Maira membuang pandangannya menghindari tatapan Nisa yang terlihat menyelidik.
"Lagian dari tadi bengong, ngelamun, entar kesurupan loh, Ra. Ada masalah lagi sama suami kamu?" tembak Nisa secara langsung, ia tahu betul masalah Maira kalau bukan suami pasti orang tuanya.
Maira mengangguk tak bersemangat, ia lalu menghela nafas dan mulai menatap sahabatnya dengan tatapan yang datar.
"Nggak tahu kenapa perasaan aku kok nggak enak banget, Nis. Kayak ada yang ganjal gitu." Maira mulai bercerita. Ia melipat kedua tangannya di atas meja.
"Tentang apa lagi sih? Bukannya urusan rumah kamu udah beres? Pembantu sama tukang kebun kamu nggak kabur, kan?"
"Bukan itu masalahnya. Nggak tahu kenapa tiba-tiba aku takut banget kalau mas Agam berubah." Maira menundukkan kepalanya.
"Atas dasar apa emangnya kamu ngomong gitu? Melihat dia segitu cintanya sama kamu, aku rasa nggak akan mungkin dia bisa berubah," ungkap Nisa dengan yakin.
"Aku juga nggak punya dasar sih. Tapi akhir-akhir ini memang kayaknya kita tuh kayak jauh gitu. Aku sama dia bahkan udah satu minggu lebih nggak melakukan hal itu."
"Hhh ... berfikir positif aja deh, Ra. Selama satu minggu ini kita semua di kantor tuh pulang telat terus. Jadi ya mungkin karena kamu pulangnya malam terus, mungkin suami kamu kasian kalau harus meminta dilayani. Bukannya Agam itu orangnya pengertian banget, ya? Menurutku kalian tuh nggak ada masalah apa-apa, cuma butuh liburan deh kayaknya. Terutama kamu, kalau urusan udah selesai ambil cuti kenapa sih? Liburan kek, kemana kek, quality time gitu biar nggak stress terus. Bahaya tau kalau terlalu stres tuh, kamu jadi mikir yang nggak-nggak kan jadinya."
Nisa ini memang ceplas-ceplos kalau berbicara, tapi apa yang dia katakan kadang memang benar.
Maira merasa apa yang dikatakan oleh sahabatnya memang tepat sekali. Tapi tidak tahu kenapa, rasanya perasaan mengganjal di dalam hatinya tidak bisa berkurang juga.
"Nis, aku usulin kamu buat ikut ke Surabaya, ya?" usul Maira.
"Buat apa? Aku nggak ada tugas disana. Lagian kan aku cuma resepsionis, mau ngapain kalau ikut kesana? Yang ada nanti aku di pecat langsung sama pak Hardi," bisik Nisa di akhir kalimat. Menyebut nama bos yang paling terhormat adalah hal tabu di kantor ini. Jadi Nisa tidak berani menyebutnya dengan suara lantang.
"Aku butuh temen, Nis. Kalau ada kamu kan aku jadi bisa curhat." Maira nampak lesu.
"Kan masih bisa lewat panggilan video," jawab Nisa dengan semangat. Yang disaat bersamaan ada seseorang dari belakang Maira yang sedang mencari dirinya.
"Bu Maira, pak Hardi sudah kembali," ujar asistennya, Desi.
"Oh ... iya, makasih ya, Des." Maira segera bangkit dari tempatnya. Ia lalu membayar minumannya dan sahabatnya di kasir.
"Nis, aku duluan, ya!" serunya yang dibalas anggukan kepala oleh Nisa.
Dan hari itu benar-benar hari yang sangat sibuk bagi Maira. Bosnya memberikan beberapa tugas padanya. Lelaki itu juga mengatakan jika tim harus berangkat malam ini juga karena meeting akan dimajukan jadwalnya.
Maira jelas terkejut dan sedikit tidak siap jika harus berangkat malam ini. Ia belum menyiapkan apapun untuk dibawa.
Rasanya menyesal sekali kenapa tadi ia tidak ikut saja saat bosnya menemui tamunya.
Maira benar-benar bimbang hari itu. Ia terus memikirkan suaminya, rasanya tidak tega jika membayangkan ia akan meninggalkan Agam secara mendadak seperti ini.
"Maira!" seru Nisa saat mendapati sahabatnya berjalan buru-buru.
"Sorry, Nis. Aku buru-buru." Maira hanya menoleh sebentar kearah meja resepsionis tempat sahabatnya berada lalu kembali berjalan dengan cepat keluar gedung.
Hari ini ia pulang tepat waktu. Ia berharap Agam juga sudah pulang sehingga ia bisa punya waktu untuk mengobrol sebentar.
Sesaat setelah memasuki taksi langganannya, ia merogoh ponselnya yang ada di dalam tas. Mencari nomor suaminya dan mendialnya. Namun sayangnya Agam tidak mengangkatnya.
Maira menghela nafasnya, ia nampak sedikit stres saat ini.
Sepanjang perjalanan pulang ia hanya menatap kosong kearah jendela mobil. Tidak ada satu patah kata pun yang terucap dari bibirnya, bahkan sampai taxi itu berhenti di depan rumahnya.
Ia menyerahkan selembar uang dan langsung keluar begitu saja saat melihat mobil suaminya sudah terparkir di tempatnya.
Pak Didin yang melihat hal itu pun hanya menggelengkan kepalanya karena tidak mengerti, apa gerangan yang terjadi pada Maira.
Syukurlah mas Agam sudah pulang.
Maira bergegas membuka pintu pagar sebelum pak Kasim datang membukanya. Ia langsung ke kamar untuk menemui suaminya.
"Mas," panggilnya.
"Sayang ... ada apa? Kau terlihat kusut sekali, kenapa?" Agam meraih wajah istrinya yang baru saja duduk di sampingnya.
"Aku harus berangkat ke Surabaya malam ini, Mas." Maira menatap sendu suaminya.
"Apa? Kenapa mendadak sekali, Sayang? Bukannya kau bilang berangkat besok pagi?"
"Harusnya seperti itu, tapi tadi pak Hardi bilang ada perubahan jadwal meeting besok pagi. Meetingnya dimajukan, jadi mau tidak mau tim harus berangkat malam ini juga."
"Ya sudah, aku akan mengantarmu nanti. Tetap semangat ya, Sayang. Semoga urusanmu cepat selesai. Jaga dirimu baik-baik, aku pasti sangat merindukanmu." Agam meraih tubuh istrinya ke dalam pelukannya.
gw intip koq gk ad🙃