Seorang Kaisar Abadi yang berkuasa dan ditakuti di seluruh alam semesta dikhianati dan dibunuh oleh orang-orang terdekatnya. Namun, alih-alih jiwanya hancur, ia terbangun kembali sebagai seorang pemuda tak berguna di sebuah klan kecil yang hampir punah, ribuan tahun di masa depan. Dengan semua ingatan dan pengetahuannya yang luas dari kehidupan sebelumnya, ia memulai kembali perjalanan kultivasinya. Kali ini, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Taring di Tepi Sungai
Suara air sungai yang mengalir tiba-tiba terdengar sangat keras di telinga Arga. Atau mungkin itu hanya detak jantungnya sendiri yang berdebar kencang, memompa darah ke seluruh tubuh yang masih terasa sakit. Di depannya, pemimpin pemburu berdiri dengan tongkat kristal merah terangkat, matanya dingin dan penuh tekad.
"Aku akan memberimu satu kesempatan terakhir," kata pemburu itu. "Serahkan intinya, dan aku biarkan kau pergi dengan tangan kosong. Itu lebih baik daripada mati di sini."
Arga tidak menjawab. Ia menghitung. Jarak antara mereka sekitar tujuh langkah. Tongkat kristal itu membutuhkan waktu sekejap untuk diaktifkan. Jika ia bergerak sekarang, dengan sisa energi Benang Perak yang ada, ia mungkin bisa menghindari satu serangan. Tapi serangan berikutnya?
Tidak ada pilihan.
"Baiklah." Pemburu itu menghela napas. "Kau yang memilih."
Kristal merah di ujung tongkatnya menyala. Sinar energi melesat ke arah Arga—cepat, mematikan, meninggalkan jejak kemerahan di udara.
Langkah Bayangan Bulan.
Arga bergerak ke samping. Sinar itu meleset, mengenai pohon di belakangnya dan meledakkannya menjadi serpihan kayu. Tapi sebelum ia sempat mengatur keseimbangan, sinar kedua sudah datang. Kali ini mengenai bahunya.
Braakk!
Arga terpental. Bahunya terasa seperti disambar petir. Kulitnya melepuh, darah mulai mengalir. Tapi ia tidak jatuh. Ia memaksakan diri untuk tetap berdiri, menatap pemburu yang kini tersenyum tipis.
"Cepat. Tapi tidak cukup cepat."
Pemburu itu berjalan mendekat, tongkatnya masih menyala. "Kau tahu, aku sebenarnya kagum. Bocah sepertimu bisa mencuri inti Naga Bumi sendirian. Itu bukan prestasi biasa. Sayangnya, kau terlalu serakah. Inti itu di atas levelmu."
Arga mengatur napas. Benang Perak di Dantian-nya berdenyut liar, seolah merespons bahaya. Delapan tiga perempat ruas jari. Hampir sembilan. Tapi hampir tidak cukup.
"Kau bekerja untuk siapa?" tanyanya tiba-tiba.
Pemburu itu berhenti. "Apa?"
"Pemburu inti profesional sepertimu tidak mungkin beroperasi di hutan terpencil ini tanpa pesanan. Seseorang menyuruhmu mengambil inti Naga Bumi. Siapa?"
Wajah pemburu itu berubah. Bukan marah—melainkan sesuatu yang lebih menarik. Kehati-hatian.
"Kau cukup pintar untuk ukuran bocah." Ia memiringkan kepala. "Tapi informasi itu tidak akan berguna bagimu. Karena kau akan mati di sini."
Ia mengangkat tongkatnya lagi.
Tapi kali ini, Arga sudah siap. Bukan untuk menghindar—melainkan untuk menyerang.
Teknik Cakaran Naga Penghancur.
Lima garis perak menyambar ke arah pemburu. Pria itu terkejut—ia tidak menyangka lawannya yang terluka masih bisa melancarkan serangan balik. Ia mengangkat tongkatnya untuk menangkis.
Krakk!
Tongkat kristal itu terbelah menjadi dua. Sinar merahnya meredup, lalu mati.
"Apa?!" Pemburu itu menatap tongkatnya yang hancur dengan mata terbelalak.
Arga tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia melesat maju, menutup jarak, dan melayangkan tinju ke arah wajah pemburu. Bukan tinju yang diperkuat Qi—hanya tinju biasa, tapi diarahkan ke titik lemah: pelipis.
Dukk!
Pemburu itu terhuyung. Ia adalah pemburu inti, terbiasa bertarung dari jarak jauh dengan alat-alatnya. Pertarungan jarak dekat bukan keahliannya. Arga memanfaatkan itu. Ia terus menyerang—tinju, siku, lutut—setiap serangan diarahkan ke titik-titik vital.
Tapi pemburu itu tidak lemah. Ia menangkap satu tinju Arga, lalu membalikkan posisi, membanting Arga ke tanah. Tubuh Arga menghantam batu sungai, rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya yang sudah terluka.
"Cukup!" Pemburu itu menindih Arga dengan lututnya, tangannya meraih leher Arga. "Kau hanya bocah! Tidak mungkin kau mengalahkanku!"
Cengkeramannya kuat. Arga merasakan napasnya terputus. Pandangannya mulai mengabur.
Tapi di saat itulah, ia merasakannya.
Inti Monster Tingkat Raja di balik bajunya—bola emas itu—tiba-tiba memancarkan panas yang luar biasa. Bukan panas yang menyakitkan, melainkan panas yang membangkitkan. Energi dari inti itu mengalir deras ke dalam tubuhnya, membanjiri Dantian-nya.
Benang Perak berdenyut kencang. Sekali. Dua kali. Tiga kali.
Dan dalam sekejap, ia tumbuh.
Delapan tiga perempat... delapan sembilan per sepuluh... sembilan.
Sembilan ruas jari.
Seluruh tubuh Arga bergetar. Energi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya membanjiri setiap sel, setiap otot, setiap tulang. Rasa sakitnya menghilang. Pandangannya yang mengabur kembali tajam. Dan di dalam Dantian-nya, Benang Perak sepanjang sembilan ruas jari itu mulai bersinar terang.
Pemburu itu merasakan perubahan. "Apa... apa yang terjadi?!"
Arga menatapnya. Matanya kini berkilat perak.
Ia mendorong tangan pemburu itu dari lehernya—dengan mudah, seolah tangan itu hanya ranting kering. Pemburu itu terpental, jatuh terduduk di tepi sungai.
Arga bangkit. Tubuhnya masih terasa sakit, luka-lukanya masih ada. Tapi ada sesuatu yang berbeda. Kekuatan. Kekuatan yang tidak ia miliki beberapa detik lalu.
"Kau..." Pemburu itu menatapnya dengan mata penuh ketakutan. "Kau menyerap inti itu? Tidak mungkin! Itu inti tingkat raja! Tubuhmu seharusnya hancur!"
Arga tidak menjawab. Ia melangkah mendekat.
Pemburu itu merangkak mundur. "Tunggu! Tunggu! Aku akan memberitahumu! Yang menyuruhku adalah—"
Ia tidak sempat menyelesaikan kalimatnya.
Sebuah bayangan besar jatuh dari atas. Cakar raksasa menghantam pemburu itu, menghancurkannya ke dalam tanah. Darah menyembur, membasahi batu-batu sungai.
Arga menengadah.
Di atasnya, di antara pepohonan, sepasang mata emas menatapnya. Mata yang ia kenali. Naga Bumi Bersayap Empat. Monster itu belum mati. Ia telah mengikuti jejak intinya—jejak Arga.
Naga itu membuka mulutnya, memperlihatkan taring-taring sepanjang lengan manusia. Cahaya oranye mulai berkumpul di tenggorokannya.
Napas api. Lagi.
Arga tidak punya waktu untuk berpikir. Ia mengaktifkan Perisai Langit Kesepuluh. Perisai perak keunguan muncul di sekujur tubuhnya.
Dan saat api menyembur, membakar segala sesuatu di sekitarnya, Arga berdiri di balik perisainya.
Tapi kali ini, perisai itu bertahan lebih lama. Bukan tiga detik. Lima detik. Enam detik.
Energi Benang Perak yang baru mencapai sembilan ruas jari mengalir deras, mempertahankan perisai.
Saat api mereda, Naga Bumi menatapnya. Ada sesuatu di mata monster itu—bukan kemarahan. Melainkan... pengakuan.
Naga itu mengaum pelan, lalu berbalik. Dengan empat sayapnya yang mengembang, ia terbang ke udara, menghilang di balik kanopi hutan.
Arga menurunkan perisainya. Tubuhnya gemetar, tapi ia masih berdiri. Di sekelilingnya, tepian sungai berubah menjadi neraka hangus. Pohon-pohon terbakar, batu-batu meleleh. Tapi ia selamat.
Kenapa Naga itu pergi? pikirnya. Kenapa ia tidak membunuhku?
Ia menatap dadanya sendiri. Inti Monster Tingkat Raja masih di sana, tersembunyi di balik bajunya. Tapi kini, bola emas itu meredup. Hampir separuh energinya telah terserap ke dalam tubuh Arga.
Mungkin... mungkin Naga itu merasakan bahwa intinya sudah menjadi bagian dariku. Membunuhku berarti menghancurkan intinya sendiri.
Atau mungkin ada alasan lain. Tapi Arga tidak punya waktu untuk memikirkannya sekarang. Ia harus pergi dari sini. Api hutan akan menarik perhatian. Monster-monster lain akan datang. Dan ia masih terlalu lemah untuk menghadapi mereka.
Ia berbalik dan mulai berjalan, meninggalkan tepian sungai yang hangus, meninggalkan tubuh pemburu yang hancur.
Sembilan ruas jari, pikirnya sambil berjalan terseok-seok. Aku telah mencapai sembilan ruas jari.
Sekarang... saatnya transformasi ke Benang Emas.
kenangan pertama
hancurkan dia Arga