"Salah klik jurusan saat kuliah adalah bencana, tapi bangun dari koma dan bisa melihat hantu adalah petaka!"
Arini, dokter forensik yang aslinya clumsy dan penakut, harus menerima kenyataan pahit: ia terbangun dari koma dengan "bonus" mata batin terbuka. Kini, ruang otopsinya jadi ramai! Ia harus membedah mayat sambil mendengarkan curhat para arwah yang menuntut keadilan (dan permintaan konyol lainnya).
Untungnya, ada Mika—hantu gadis Tionghoa yang centil dan bar-bar—yang setia membantu Arini mengungkap fakta medis lewat "jalur gaib".
Masalahnya satu: Tunangan Arini, Baskara, adalah Jaksa kaku yang skeptis dan hanya percaya logika. Baskara memang bucin parah, tapi bagaimana jadinya jika sang Jaksa tahu bahwa bukti-bukti kemenangan kasusnya berasal dari bisikan makhluk halus?
Di tengah konspirasi maut yang mengancam nyawa, Arini harus memilih: Tetap waras di antara para hantu, atau terjebak dalam pelukan posesif sang Jaksa yang benci takhayul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: Galeri Jiwa yang Terpasung
Malam di Jakarta Pusat terasa lebih gerah dari biasanya, namun bagi Satria dan Mika yang sedang melayang di depan The Art-Void Museum, udara justru terasa membeku. Gedung yang dulunya merupakan gudang kumuh itu kini bersinar dengan lampu-lampu sorot yang estetis, mengundang decak kagum bagi siapa pun yang melintas.
"Mas Satria, ini beneran tempatnya?" Mika mengucek matanya yang transparan. "Gedungnya cantik banget, Arin pasti suka kalau diajak ke sini. Tapi kok... baunya kayak bangkai yang ditutup parfum mahal ya?"
Satria mendarat dengan kaki yang tidak menyentuh aspal. Matanya yang tajam menatap dinding kaca museum. "Keindahan ini hanya topeng, Mika. Kamu lihat garis-garis merah di setiap sudut pondasi itu? Itu bukan dekorasi lampu. Itu segel darah."
Mika mendekat, mencoba menyentuh tembok gedung, namun tangannya terpental oleh percikan energi hitam yang panas. "Aduh! Sakit! Mas, ini beneran dipagari! Bukan pager besi biasa, ini pager dukun tingkat dewa!"
Tiba-tiba, dari balik bayangan pohon besar di trotoar, muncul sesosok kakek tua dengan pakaian mandor gudang yang lusuh. Tubuhnya bungkuk dan auranya tampak sangat lemah.
"Jangan dipaksa, Tuan Muda..." suara kakek itu parau, penuh ketakutan.
Satria berbalik, memasang posisi waspada. "Siapa kamu? Kamu penunggu asli tempat ini?"
"Nama saya Wiryo, Tuan," kakek itu menunduk dalam, bahkan ia tampak segan menatap Satria yang memancarkan aura pejuang. "Dulu saya mandor di gudang ini. Sudah lima puluh tahun saya menjaga tempat ini dengan tenang. Tapi tiga bulan lalu... kami semua diusir paksa."
"Diusir?" Mika mendekat dengan wajah penasaran. "Emang hantu bisa di-PHK juga?"
"Mereka membawa sosok-sosok hitam yang sangat besar, Nduk," Wiryo gemetar hebat. "Mereka bukan dari golongan kami. Mereka kejam. Teman-teman saya yang mencoba bertahan... mereka ditelan bulat-bulat untuk dijadikan penambah kekuatan pagar gaib itu. Kami sekarang terlunta-lunta di jalanan, tidak punya rumah lagi."
Satria mengepalkan tangannya. "Siapa yang memerintah mereka? Manusia atau bangsa jin?"
"Manusia yang memiliki hati lebih hitam dari iblis, Tuan," jawab Wiryo. "Mereka membawa jiwa-jiwa wanita cantik ke dalam sana. Saya sering mendengar jeritan dari balik tembok itu, tapi tidak ada satu pun manusia di luar yang bisa mendengarnya karena teredam oleh musik-musik indah di dalam museum itu."
Mika menoleh ke arah Satria, wajah centilnya kini berubah menjadi sangat cemas. "Mas Satria, kita harus gimana? Kita nggak bisa masuk, Arini juga belum tahu soal tempat ini. Kalau jiwa Bella Luna benar-benar dihancurkan di dalam sana, Arini nggak akan pernah bisa menuntaskan kasusnya!"
"Kita tidak bisa menyerang secara frontal," Satria menatap museum itu dengan benci. "Mika, kamu harus kembali ke rumah. Cari cara agar Arini melihat brosur atau berita tentang museum ini. Dia harus datang ke sini bersama Baskara. Hanya energi manusia yang 'bersih' yang bisa melemahkan pagar ini sedikit demi sedikit."
"Terus Mas Satria gimana?"
"Aku akan tetap di sini," Satria mencabut keris gaib dari pinggangnya, auranya membara. "Aku akan mencoba mencari celah di pagar belakang. Jika ada kesempatan, aku akan masuk. Pergilah! Sampaikan pada Arini, musuh kita kali ini bukan lagi sekadar penjahat berdasi, tapi juga pemuja kegelapan."
...****************...
Sementara itu, di meja makan rumah mereka, Arini sedang mengaduk tehnya dengan pandangan kosong. Baskara yang baru saja menutup laptopnya, menyadari kegelisahan istrinya.
"Arini? Kamu melamun lagi," suara Baskara membuyarkan lamunan Arini.
"Bas... tadi aku melihat iklan di media sosial," Arini menunjukkan layar ponselnya. "Ada museum seni baru yang lagi viral, The Art-Void Museum. Entah kenapa, sejak melihat fotonya, dadaku terasa sesak."
Baskara mengambil ponsel Arini, matanya menyipit melihat foto gedung itu. "Gedung ini... aku tahu lokasi ini. Dulunya gudang tua milik seorang pengusaha yang namanya sering muncul dalam daftar hitam kejaksaan, tapi tidak pernah bisa disentuh karena datanya selalu 'bersih'."
"Firasatku tidak enak, Bas. Rasanya ada sesuatu yang menarikku untuk ke sana," bisik Arini.
Baskara menggenggam tangan Arini, tatapannya berubah menjadi protektif dan penuh otoritas. "Kalau begitu, besok kita ke sana. Bukan sebagai turis, tapi sebagai penyelidik. Aku juga baru saja mendapat info bahwa pemilik museum itu adalah sepupu dari Jaksa yang menangani kasus Maya Sari tahun lalu. Kebetulan yang terlalu sempurna, bukan?"
Arini menatap Baskara, merasakan keberanian suaminya mengalir ke tubuhnya. "Hati-hati, Bas. Tempat itu... rasanya tidak hanya menyimpan karya seni."
"Aku tahu," desis Baskara. "Dan jika benar Bella Luna ada di sana, aku akan meratakan tempat itu dengan tanah."
Di pojok ruangan, Mika yang baru saja kembali hanya bisa menarik napas lega. "Bagus, Mas Jaksa! Gas pol! Aku nggak sabar mau lihat kalian berdua ngacak-ngacak tempat angker bin mewah itu!"
...****************...
lanjut thorr
lagian botol parfum taro diluar dulu deh rin kalo mau bikin anak. hantu lu resek🤭🤣🤣🤣