NovelToon NovelToon
Detektif Zaidan Memburu Penjahat Mendapatkan Istri Darurat

Detektif Zaidan Memburu Penjahat Mendapatkan Istri Darurat

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Janda / Tamat
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Zaidan, seorang detektif yang tengah memburu penjahat, tak sengaja terjebak dalam situasi pelik saat pengejarannya masuk ke pemukiman warga. Gara-gara menginjak ekor anjing, ia terperosok masuk ke rumah Sulfi yang baru saja selesai mandi.
Teriakan histeris Sulfi mengundang massa yang langsung salah paham dan menuding Zaidan melakukan perbuatan asusila. Meski Zaidan telah menjelaskan tugasnya dan statusnya yang sudah beristri, warga yang telanjur emosi tetap memaksa keduanya untuk menikah demi "membersihkan" nama kampung. Di bawah tekanan massa, sang detektif terpaksa menjalani pernikahan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Kegelapan malam yang pekat menyelimuti markas kepolisian yang tampak lengang. Amarah yang sedari tadi dipendam Zaidan akhirnya mencapai puncaknya.

Setelah memastikan Sulfi aman dalam penjagaan ketat di rumah, tengah malam Zaidan menuju ke kantor polisi.

Langkah kakinya yang berat dan berwibawa bergema di lorong sunyi yang hanya diterangi lampu temaram.

Dengan otoritasnya sebagai perwira, ia meminta kunci akses khusus kepada petugas jaga yang sedang terkantuk.

Tanpa suara, ia masuk ke dalam sel dan menutup mulut serta mata Bima menggunakan kain hitam tebal.

Bima yang terbangun dalam kondisi bingung dan panik tidak sempat melakukan perlawanan berarti karena cengkeraman Zaidan yang seperti baja.

Ia membawanya ke sel tikus, sebuah ruang isolasi sempit, kedap suara, dan gelap gulita di bagian paling bawah gedung tahanan.

Ruangan yang menjadi mimpi buruk bagi setiap narapidana.

"Mmmmpphh!!" Bima meronta, suaranya teredam kain yang menyumbat mulutnya.

Tubuhnya terbentur dinding beton yang dingin.

Tanpa banyak bicara, Zaidan melayangkan pukulannya ke arah Bima.

Sebuah hantaman keras mendarat tepat di ulu hati, membuat pria itu tersungkur dan megap-megap mencari oksigen.

Zaidan menarik kerah baju Bima, memaksa pria pengecut itu untuk berdiri meski matanya masih tertutup.

"Kamu ingin membunuh istriku!!" desis Zaidan dengan suara yang rendah namun sarat akan ancaman mematikan.

"Kamu pikir dengan menerornya, aku akan melepaskanmu? Kamu salah besar, Bima. Kamu baru saja menggali liang lahatmu sendiri."

Satu pukulan lagi mendarat di rahang Bima, membuat kepala pria itu tersentak hebat.

"MMPPHH!!" Bima mencoba berteriak, air mata ketakutan mulai merembes dari balik penutup matanya.

Keangkuhan yang ia tunjukkan siang tadi menguap tak berbekas, digantikan oleh kengerian luar biasa menghadapi sisi gelap seorang Zaidan.

Zaidan mendekatkan wajahnya ke telinga Bima, napasnya terasa panas dan memburu.

"Setiap tetes air mata yang jatuh dari mata Sulfi karena ketakutan, akan kubayar dengan setiap senti rasa sakit di tubuhmu. Di ruangan ini, tidak ada pengacara, tidak ada uang, dan tidak ada hukum yang bisa menyelamatkanmu dariku."

Cahaya lampu neon yang berkedip di sel isolasi menyinari wajah Bima yang kini pasi dan berlumuran keringat dingin.

Zaidan menarik kain yang menyumbat mulut dan penutup mata pria itu dengan satu sentakan kasar.

Bima terbatuk-batuk, berusaha meraup udara sebanyak mungkin sementara tubuhnya merosot ke lantai beton yang lembap.

"Jangan banyak bicara atau aku akan menghancurkanmu," ucap Zaidan dengan nada dingin yang menusuk tulang.

Matanya menatap tajam, memberikan peringatan bahwa apa yang baru saja terjadi hanyalah peringatan kecil jika Bima berani menyentuh Sulfi lagi.

Bima hanya bisa menatap Zaidan dengan tatapan kosong dan penuh ketakutan; kesombongannya benar-benar telah lumat.

Tanpa membuang waktu, Zaidan menarik paksa lengan Bima dan menyeretnya keluar dari sel tikus.

Dengan langkah tegas yang menggema di lorong sunyi, ia kembali membawa Bima ke dalam sel tahanan aslinya.

Zaidan mendorong pria itu masuk hingga jatuh tersungkur di atas dipan kayu yang keras.

Sebelum melangkah pergi, Zaidan berhenti di depan jeruji besi.

Di sana sudah berdiri dua orang polisi muda yang sedang berjaga malam.

Tatapan Zaidan beralih kepada mereka dengan raut wajah yang tak bisa dibantah.

"Awasi dia," perintah Zaidan kepada bawahannya dengan suara bariton yang berat.

"Pastikan dia tidak berkomunikasi dengan siapa pun, termasuk pengacaranya, sampai jam kantor dimulai besok. Jika ada gerakan mencurigakan, langsung lapor saya."

"Siap, Komandan!" jawab kedua petugas itu dengan sikap hormat.

Zaidan memutar tubuhnya, meninggalkan blok tahanan tanpa menoleh lagi.

Amarahnya sedikit mereda, namun kewaspadaannya justru berlipat ganda. Ia tahu langkah ini berisiko, namun baginya, keselamatan Sulfi dan calon bayinya adalah hukum tertinggi.

Kini, ia harus segera kembali ke rumah sebelum istrinya terbangun dan menyadari bahwa suaminya baru saja berubah menjadi sosok yang paling ditakuti oleh para penjahat.

Mentari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden, membawa suasana hangat ke dalam kamar yang semalam sempat terasa tegang.

Sulfi membuka matanya dan memeluk tubuh suaminya yang sudah berbaring di sampingnya.

Wangi tubuh Zaidan yang menenangkan menjadi penawar bagi kecemasan yang sempat menghantuinya semalam.

"Selamat pagi, Mas," bisik Sulfi dengan suara serak khas bangun tidur, menyandarkan kepalanya di dada bidang Zaidan.

Zaidan yang sebenarnya sudah terbangun sejak tadi—setelah kembali dari kantor polisi secara diam-diam—langsung mengecup puncak kepala istrinya.

"Pagi, Sayang. Gimana tidurnya? Nyenyak?"

Namun, belum sempat Sulfi menjawab, rasa mual yang hebat tiba-tiba bergejolak di ulu hatinya.

Perutnya terasa diaduk-aduk dengan sensasi yang tak tertahankan.

"Huekkk!"

Wajah Sulfi seketika berubah pucat. Sulfi menutup mulutnya dan menuju ke kamar mandi dengan langkah terburu-buru.

Zaidan yang panik langsung beranjak dari tempat tidur dan menyusul istrinya.

Di depan wastafel, Sulfi terus memuntahkan cairan bening karena perutnya yang masih kosong.

Zaidan berdiri di belakangnya, memijat tengkuk Sulfi dengan lembut dan mengusap punggungnya untuk memberikan rasa nyaman.

"Pagi yang luar biasa, ya? Sepertinya si kecil sedang menyapa ayahnya," ucap Zaidan lembut sambil memberikan segelas air hangat setelah Sulfi selesai.

Sulfi menyandarkan tubuhnya yang lemas ke dada Zaidan, mencoba mengatur napas.

"Rasanya lebih berat dari kemarin, Mas. Tapi tidak apa-apa, ini tanda kalau dia sehat di dalam sana."

Zaidan tersenyum haru.

Di balik kebahagiaan menyambut buah hati, ia teringat kembali pada sosok Bima yang kini sedang meringkuk ketakutan di sel.

Ia bersumpah dalam hati bahwa mual yang dirasakan Sulfi adalah satu-satunya penderitaan yang boleh dialami istrinya mulai hari ini.

Sisanya, biar Zaidan yang membereskannya di luar sana.

Zaidan membantu Sulfi membasuh wajahnya, lalu dengan sigap mengambilkan jaket tebal untuk membungkus tubuh istrinya yang masih terasa sedikit lemas.

Meskipun rasa mual baru saja melanda, binar mata Sulfi saat menyebutkan keinginannya membuat Zaidan tidak bisa menolak.

"Aku mau bubur ayam," ucap Sulfi dengan nada manja, seolah rasa mual tadi hilang seketika digantikan oleh keinginan yang menggebu-gebu.

Zaidan tersenyum lebar, ia merasa lega melihat nafsu makan istrinya kembali pulih dengan cepat.

"Ayo kita beli," ajak Zaidan sambil menggandeng tangan Sulfi dengan hati-hati.

"Tapi jangan yang jauh-jauh ya, Mas. Aku sudah lapar sekali," tambah Sulfi sambil berjalan beriringan keluar kamar.

"Siap, Tuan Putri. Mas tahu tempat bubur ayam paling enak yang tidak jauh dari sini. Kita akan lewat jalur yang dijaga ketat agar aman," balas Zaidan dengan nada menenangkan.

Sebelum keluar rumah, Zaidan memberikan kode lewat tatapan mata kepada para petugas yang berjaga di halaman.

Mereka segera bersiap, memastikan jalur yang akan dilewati komandan mereka aman dari segala kemungkinan gangguan.

Di dalam mobil, suasana terasa jauh lebih ringan dibandingkan kemarin.

Sambil mengemudi, Zaidan terus menggenggam tangan Sulfi, menikmati momen sederhana ini di tengah badai hukum yang sedang mereka hadapi.

Bagi Zaidan, mencari bubur ayam di pagi hari kini menjadi misi yang sama pentingnya dengan menjebloskan Bima ke penjara—karena kebahagiaan Sulfi dan calon bayinya adalah prioritas utamanya sekarang.

1
Hilmiya Kasinji
Luar biasa
Hilmiya Kasinji
ijin baca kak
my name is pho: iya kak, terima kasih 🥰
total 1 replies
falea sezi
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!