NovelToon NovelToon
Dihina Tanpa Bakat, Ternyata Aku Pewaris Teknik Dewa Kuno

Dihina Tanpa Bakat, Ternyata Aku Pewaris Teknik Dewa Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Fantasi Isekai / Akademi Sihir
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: naramas_

Aku mati karena terlalu percaya pada cinta dan persahabatan. Kini, aku terlahir kembali di dunia baru sebagai anak yang dibenci kerajaan. Mereka menyebutku sampah tanpa bakat? Silakan. Saat kalian memohon pada Dewa, aku melatih tinjuku untuk menghancurkan takhta kalian. Aku Arlan, dan kali ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun hidup setelah mengkhianatiku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naramas_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PROLOG

HARGA SEBUAH KEPERCAYAAN -

Langit di atas gedung pencakar langit itu tampak kelabu, seolah sedang ikut berduka atas apa yang menimpa seorang pria bernama Adit. Di dalam ruang kantornya yang luas dan mewah, Adit duduk terpaku menatap meja jati yang selama ini menjadi saksi bisu kesuksesannya. Namun, hari ini meja itu hanya dipenuhi oleh tumpukan dokumen penyitaan dan surat gugatan hukum. Adit tidak pernah membayangkan bahwa hidupnya yang sempurna akan hancur hanya dalam hitungan hari.

Adit adalah gambaran nyata dari kesuksesan yang diimpikan banyak orang. Dia memulai segalanya dari bawah, membangun jaringan bisnis logistik yang menghubungkan ribuan kota. Dia dikenal sebagai atasan yang baik, sahabat yang setia, dan suami yang sangat memanjakan istrinya. Namun, semua sifat baik itu justru menjadi lubang kubur bagi dirinya sendiri. Kebaikan yang selama ini dia banggakan ternyata hanyalah celah bagi orang lain untuk menghancurkannya.

Pintu kantornya terbuka tanpa diketuk. Seorang pria dengan setelan jas rapi masuk dengan wajah angkuh. Dia adalah Rendra, orang yang selama lima belas tahun ini disebut Adit sebagai sahabat terbaiknya. Rendra adalah orang yang dia bantu saat jatuh miskin, orang yang dia beri jabatan tinggi di perusahaannya, dan orang yang paling dia percayai untuk mengelola keuangan bisnisnya.

"Kenapa kamu melakukan ini, Rendra?" suara Adit terdengar sangat parau. Dia bahkan tidak memiliki energi lagi untuk marah.

Rendra menarik kursi di depan Adit dan duduk dengan santai. Dia menyalakan sebatang rok*k dan menghembuskan asapnya ke arah Adit. "Dunia bisnis bukan tempat untuk orang yang terlalu memakai perasaan, Adit. Kamu terlalu percaya padaku. Kamu memberikan semua akses keuangan tanpa memeriksa detailnya. Kamu memberiku wewenang tanda tangan karena kamu pikir persahabatan kita lebih penting daripada hukum. Itu adalah kesalahan terbesarmu."

Adit mengepalkan tangannya sampai kuku-kukunya memutih. "Aku membantumu saat kamu tidak punya apa-apa. Aku menganggapmu saudaraku sendiri!"

"Dan itu adalah kebodohanmu yang paling lucu," jawab Rendra sambil tersenyum tipis. "Sekarang, perusahaan ini sudah secara sah menjadi milikku. Kamu hanya tinggal menunggu surat penangkapan atas kasus penggelapan pajak yang sudah aku siapkan atas namamu. Selamat tinggal, sahabat."

Rendra melangkah pergi meninggalkan Adit yang masih mematung. Hati Adit hancur, namun dia masih memiliki sedikit harapan. Dia masih memiliki Siska, istrinya, dan Arlan, anak laki-laki mereka yang masih kecil. Adit bangkit, mengambil kunci mobilnya yang belum sempat disita, dan berkendara pulang secepat mungkin. Dia butuh pelukan dari keluarganya untuk bisa bertahan melalui badai ini.

Namun, kenyataan pahit kembali menyambutnya saat dia sampai di depan rumah mewahnya. Sebuah truk besar sedang memuat barang-barang bermerek milik Siska. Di sana, Siska berdiri mengenakan pakaian mahal sambil memegang tangan anak mereka. Wajahnya tidak menunjukkan rasa sedih atau simpati sedikit pun saat melihat suaminya datang dengan penampilan berantakan.

"Siska, apa yang terjadi? Ke mana kamu akan pergi?" tanya Adit dengan napas terengah engah.

Siska menatap Adit dengan pandangan dingin yang belum pernah Adit lihat sebelumnya. "Aku pergi, Adit. Aku sudah membawa semua tabungan atas namaku dan perhiasan yang kamu berikan dulu. Aku tidak bisa membiarkan diriku dan anakku hidup melarat hanya karena kamu gagal mengelola bisnismu."

"Tapi kita bisa mulai dari awal lagi, Siska. Aku masih punya kemampuan. Kita punya satu sama lain!" teriak Adit penuh keputusasaan.

Siska tertawa sinis. "Mulai dari awal? Dengan beban hutang miliaran dan kemungkinan kamu masuk penjara? Jangan konyol. Aku mencintaimu saat kamu sukses, Adit. Sekarang kamu bukan siapa-siapa lagi. Kamu hanya pria bangkrut yang tidak punya masa depan. Arlan tidak butuh ayah yang memalukan seperti kamu."

Siska masuk ke dalam mobil mewah yang sudah menunggu di pinggir jalan. Mobil itu melaju pergi tanpa menoleh ke belakang. Adit berdiri sendirian di tengah jalan, di depan rumahnya yang kini telah dipasangi garis penyitaan oleh pihak bank. Anak yang dia sayangi, istri yang dia puja, dan sahabat yang dia bela, semuanya pergi meninggalkannya dalam sekejap.

Hujan mulai turun dengan deras, seolah ingin menghapus jejak air mata di wajah Adit. Pria itu berjalan tanpa arah, mengabaikan klakson kendaraan yang melintas. Dia terus berjalan hingga mencapai sebuah jembatan besar yang melintasi sungai yang sangat dalam dan deras arusnya. Di atas jembatan itu, Adit berdiri di tepi pagar pembatas.

Pikirannya melayang pada semua momen hidupnya. Dia menyadari satu hal yang menyakitkan. Dia hancur bukan karena dia bodoh dalam berbisnis, melainkan karena dia terlalu percaya pada ketulusan manusia. Dia terlalu naif dengan berpikir bahwa jika dia baik pada orang lain, maka orang lain akan baik padanya. Dia salah besar. Dunia ini adalah hutan rimba, dan dia baru saja dimakan hidup-hidup oleh orang-orang yang dia beri makan.

"Aku sangat membenci diriku yang dulu," bisik Adit. Suaranya hilang ditelan suara gemuruh air sungai di bawahnya. "Jika aku diberikan kesempatan untuk mengulang semuanya, aku bersumpah tidak akan pernah menjadi orang yang lemah lagi. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh hatiku. Aku tidak akan percaya pada janji, aku hanya akan percaya pada kekuatan."

Adit menarik napas panjang untuk terakhir kalinya. Paru-parunya dipenuhi udara malam yang dingin dan basah. Dia memejamkan mata, membiarkan tubuhnya condong ke depan, dan akhirnya gravitasi menariknya jatuh. Kecepatan jatuh itu membuat jantungnya seolah berhenti berdetak sebelum tubuhnya menyentuh air.

Keheningan total menyelimuti segalanya.

Seketika, kesadaran Adit tidak hilang sepenuhnya. Dia merasa seperti sedang mengambang di ruang yang hampa dan gelap. Tidak ada rasa sakit, tidak ada rasa dingin, hanya ada suara detak jantung yang bergema dengan sangat pelan. Tiba-tiba, sebuah suara yang sangat tenang dan dalam terdengar dari segala arah.

"Keinginanmu cukup kuat, jiwa yang tersiksa. Kamu ingin hidup tanpa kelemahan? Kamu ingin kekuatan yang tidak bisa dikhianati oleh siapa pun?"

Adit tidak bisa menjawab dengan kata-kata, tapi batinnya berteriak dengan sangat kencang. "Ya! Aku ingin kekuatan! Aku tidak ingin menjadi korban lagi!"

"Maka bangunlah di dunia yang baru. Di sana, kekuatan adalah hukum yang mutlak. Namun ingat, kekuatan yang sesungguhnya bukan berasal dari apa yang diberikan orang lain padamu, melainkan apa yang kamu bangun dengan tangan dan keringatmu sendiri."

Cahaya putih yang sangat menyilaukan tiba-tiba muncul di tengah kegelapan itu. Cahaya itu menarik jiwa Adit dengan sangat kuat, seolah-olah dia sedang ditarik melalui sebuah terowongan yang sangat sempit. Rasa sesak kembali menyerangnya. Dia merasa paru-parunya seperti terbakar dan jantungnya berdegup dengan sangat kencang.

Hingga akhirnya, dia merasakan sesuatu yang sangat nyata. Dia bisa merasakan suhu udara yang hangat, dia bisa mendengar suara orang-orang yang sedang berbicara dengan nada cemas, dan dia merasakan tubuhnya sangat lemah dan kecil.

"Bayinya tidak menangis! Apa dia lahir dalam keadaan mati?" suara seorang wanita terdengar sangat dekat di telinganya.

"Berikan padaku!" sahut suara wanita lain yang terdengar lebih lembut namun penuh kelelahan.

Adit merasakan tangan yang hangat mengangkat tubuhnya. Dia mencoba membuka matanya, namun segalanya masih sangat kabur. Dia mencium aroma keringat dan darah yang bercampur dengan bau kayu yang terbakar. Dia merasakan sebuah sentuhan lembut di pipinya.

"Anakku. Tolong, jangan tinggalkan ibu," bisik wanita itu sambil menangis.

Adit merasakan dorongan alami dari tubuh barunya. Dia menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkan suara tangisan yang sangat kencang. Tangisan itu bukan hanya tangisan bayi yang baru lahir, melainkan teriakan dari jiwa seorang pria yang telah kehilangan segalanya dan kini diberikan jalan untuk kembali.

"Dia hidup! Dia hidup!"

Adit perlahan bisa melihat lingkungan sekitarnya. Dia berada di sebuah ruangan kayu yang sangat sederhana, jauh dari kemewahan kantor atau rumahnya dulu. Dia melihat seorang wanita cantik dengan rambut perak panjang sedang menatapnya dengan air mata bahagia. Wanita itu adalah ibunya yang baru.

Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Dari luar ruangan, terdengar suara langkah kaki kuda yang sangat banyak dan suara teriakan orang-orang yang marah.

"Serahkan keturunan pengkhianat itu! Jangan biarkan darah Vandermir tetap mengalir!" teriak sebuah suara dari luar.

Adit, yang kini berada di tubuh bayi bernama Arlan, menyipitkan matanya. Dia bisa merasakan aura kebencian yang sama dengan yang dia rasakan di kehidupan sebelumnya. Dia menyadari bahwa meskipun tempatnya berbeda, sifat jahat manusia tetaplah sama. Dia terlahir sebagai musuh dunia, anak dari keluarga yang dicap sebagai pengkhianat kerajaan.

Dia menatap tangannya yang kecil dan mungil. Di dalam hatinya, sebuah api tekad mulai menyala. Dia tidak peduli jika seluruh dunia membencinya. Dia tidak peduli jika dia dicap sebagai sampah atau pengkhianat. Di kehidupan ini, dia akan membangun kekuatannya sendiri. Dia tidak akan lagi menjadi orang naif yang menunggu bantuan dewa atau manusia.

Satu per satu, kepingan ingatan tentang dunia baru ini mulai mengalir ke otaknya melalui insting. Dia tahu bahwa di dunia ini, kekuatan dewa adalah segalanya. Namun dia juga tahu bahwa ada satu kekuatan yang jauh lebih jujur daripada sihir mana pun, yaitu kekuatan fisik yang dilatih sampai ke batas tertinggi.

"Kalian menyebutku pengkhianat? Kalian menyebutku sampah tanpa kekuatan?" batin Arlan sambil menatap langit-langit kayu yang rapuh. "Tunggu saja. Suatu hari nanti, dunia ini akan berlutut di bawah kakiku, bukan karena aku memohon pada dewa, tapi karena aku memiliki tangan yang mampu menghancurkan gunung."

1
Nanda 123
trus ga bls dendam ama shabat ny tu??
M Agus Salim II: oke siap, masih dalam proses 😅
total 1 replies
Aqil Septian
UDAHLAH KEBANYAKAN NOVEL KAYAK GINI BUATAN CHATGPT, HALAH TAIK AUTHOR TAIK
Jerry K-el: gass keun💪💪💪💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!