NovelToon NovelToon
PENGANTIN ARWAH

PENGANTIN ARWAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lilack Sunrise

Seorang mahasiswi magang asal Indonesia bernama Kirana, yang tinggal di Taipei, tanpa sengaja menemukan sebuah amplop merah berisi uang di taman sepi saat Bulan Hantu. Ia mengambilnya karena mengira rezeki biasa. Namun, amplop itu ternyata adalah mahar dari seorang pengantin arwah laki-laki dari zaman Dinasti Ming yang telah meninggal sebelum sempat menikah. Dengan mengambil amplop tersebut, Kirana secara tidak sadar telah menerima lamaran gaib. Ia kini terikat benang merah takdir dengan arwah pengantin tersebut, yang datang menagih janji di bulan ketika pintu alam roh terbuka lebar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilack Sunrise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MEI_ INGATAN SEMAKIN JELAS.

. LORONG ICU, RUMAH SAKIT.

Li Wei masih berdiri di depan pintu ICU.

Tangannya yang kurus dan pucat masih menempel di kaca buram. Amplop merah di genggamannya tidak bergerak,seolah-olah amplop itu adalah bagian dari tangannya, tumbuh dari daging yang sudah mati lebih dari seratus tahun.

Wei dan Risa tidak bergerak.

Mereka tidak bisa.

Bukan karena takut lagi meskipun ketakutan masih mencengkeram perut mereka seperti tangan dingin. Tapi karena sesuatu yang lain. Sesuatu dalam suara Li Wei tadi. Nada yang getir. Nada yang sedih. Nada yang membuat Wei merasa bahwa apa pun yang dia ketahui selama ini tentang Li Wei, tentang amplop merah, tentang ritual itu semuanya salah.

Atau setidaknya, tidak sepenuhnya benar.

"…Mei," bisik Risa, memecah keheningan. Suaranya serak. "Siapa Mei?"

Li Wei tidak menjawab.

Tapi kepalanya yang masih miring ke kiri dengan sudut yang mustahil bergerak sedikit. Bukan ke arah Risa. Tapi ke arah pintu ICU. Seolah-olah dia bisa melihat menembus kaca buram, menembus dinding, menembus jarak antara hidup dan mati.

Ke arah Kirana.

Wei memberanikan diri. "Lo… lu bilang Kirana bukan keturunan penjaga. Terus dia siapa? Kenapa lu nyariin dia? Kenapa amplop merah itu?

"Amplop ini…"

Suara Li Wei memotong. Masih dalam bahasa Mandarin kuno yang entah bagaimana bisa dimengerti Wei dan Risa. Masih tanpa menggerakkan bibirnya yang hitam dan mengelupas.

"…bukan undangan untuk menggantikan."

Wei menahan napas.

"Ini… surat."

Li Wei akhirnya menoleh. Perlahan. Lehernya bergerak dengan suara retakan halus, seperti ranting kering yang dipatahkan. Rongga matanya yang kosong menatap Wei dan Risa bergantian.

"Surat yang kutulis untuknya. Malam sebelum aku mati. Aku menyuruh seseorang mengantarkannya padanya. Tapi surat ini tidak pernah sampai."

Risa mengerutkan kening. "Nggak pernah sampai? Tapi amplop ini"

"Disimpan. Oleh keluarga yang membunuhku. Dijadikan alat. Umpan. Untuk memancingnya kembali."

Wei dan Risa saling pandang. Otak mereka berpacu, mencoba menyusun potongan-potongan informasi yang tidak lengkap.

"Setiap kali jiwanya lahir kembali ke dunia… amplop ini akan muncul. Menemukannya. Memanggilnya. Tapi bukan aku yang mengirimnya."

Suara Li Wei berubah. Lebih berat. Lebih gelap. Seperti ada sesuatu di balik kata-katanya yang selama ini ditahan dan sekarang mulai merembes keluar.

"Yang mengirimnya… adalah mereka."

Wei merasakan hawa dingin menjalari tulang punggungnya. "Mereka? Siapa mereka?"

Li Wei tidak menjawab.

Tapi matanya rongga kosong itu beralih ke arah jendela di ujung lorong. Jendela yang menghadap ke timur, ke arah pegunungan di kejauhan. Ke arah sesuatu yang tidak bisa dilihat Wei dan Risa.

"Mereka yang mengurungku di pohon itu. Mereka yang mengikatku sebagai penjaga. Mereka yang takut pada apa yang kuketahui. Pada apa yang kulihat. Pada apa yang Mei lihat."

Lampu darurat merah di lorong berkedip.

Sekali.

Dan dalam jeda gelap itu, Wei melihatnya.

Bukan Li Wei.

Tapi sesuatu di belakang Li Wei.

Di ujung lorong. Di depan pintu darurat.

Bayangan lain.

Lebih dari satu.

Bergelantungan di langit-langit. Menempel di dinding. Berdesakan seperti kelelawar di dalam gua. Bentuknya tidak jelas, tapi Wei bisa melihat anggota tubuh yang terlalu banyak. Terlalu panjang. Terlalu bengkok.

Dan mereka semua

Menatap ke arah sini.

Ke arah pintu ICU.

Ke arah Kirana.

Lampu darurat menyala kembali.

Bayangan-bayangan itu hilang.

Tapi Li Wei masih di sana. Dan sekarang Wei mengerti.

Li Wei bukan ancaman.

Li Wei adalah penghalang.

Penghalang antara Kirana dan mereka.

"…lu jagain kirana" bisik Wei. Bukan pertanyaan.

Li Wei tidak menjawab. Tapi kepalanya bergerak. Satu anggukan kecil. Hampir tidak terlihat.

"Sudah seratus dua puluh tiga tahun. Aku menjaganya. Menunggunya. Memastikan mereka tidak menyentuhnya."

"Kenapa?" Suara Risa kali ini. Lebih mantap. "Kenapa lu lakuin semua ini? Cuma karena cinta? Cuma karena dia pacar lu?"

Li Wei diam.

Lama.

Begitu lama sampai Wei pikir dia tidak akan menjawab.

Lalu suara itu datang lagi. Tapi kali ini… berbeda. Lebih lembut. Lebih manusia. Seperti seseorang yang akhirnya mengingat sesuatu yang sudah lama terkubur.

"Bukan hanya karena cinta."

Li Wei menoleh ke pintu ICU lagi.

"Tapi karena dia… adalah satu-satunya yang bisa menghentikan apa yang ada di bawah pohon itu. Apa yang kulihat malam sebelum aku mati. Apa yang membuat keluarga mempelai wanita membunuhku bukan karena aku menolak pernikahan… tapi karena aku tahu. Aku tahu apa yang mereka sembunyikan di bawah akar beringin itu."

Risa menegang. "Apa? Apa yang mereka sembunyikan?"

Li Wei tidak menjawab.

Karena di detik itu

Pintu ICU terbuka.

Dokter Lin keluar. Wajahnya pucat. Matanya melebar. Di tangannya, sebuah tablet yang menampilkan rekaman CCTV.

Dia tidak melihat Li Wei.

Dia berjalan melewati Li Wei seolah-olah sosok itu tidak ada. Melewati udara dingin yang seharusnya membuatnya menggigil. Melewati amplop merah di tangan mayat hidup yang sudah mati lebih dari seratus tahun.

Dokter Lin hanya melihat Wei dan Risa.

"Kalian," suaranya tegang. "Teman pasien Kirana?"

Wei mengangguk. "Ada apa, Dok?"

Dokter Lin mengangkat tabletnya. Menunjukkan layar.

"Rekaman CCTV ruang ICU. Sepuluh menit yang lalu."

Wei dan Risa menatap layar.

Dan apa yang mereka lihat membuat darah mereka berhenti mengalir.

Rekaman itu menunjukkan Kirana terbaring di tempat tidur. Monitor EKG di sampingnya. Suster duduk di sudut, setengah tertidur.

Tapi di samping tempat tidur Kirana

Berdiri dua sosok.

Satu adalah Li Wei. Jubah merahnya jelas terlihat meskipun kualitas CCTV buram. Kepalanya miring ke kiri. Tangannya memegang amplop merah.

Tapi sosok kedua

Sosok kedua adalah perempuan.

Muda. Rambut hitam panjang. Pakaian putih sederhana. Berdiri di sisi lain tempat tidur, berseberangan dengan Li Wei. Wajahnya tidak terlihat jelas. Tapi posturnya, cara berdirinya, cara kepalanya sedikit menunduk

Dan bibir Kirana di tempat tidur bergerak.

Mengucapkan satu kata.

"Wei…"

Bukan Wei yang di lorong.

Tapi Li Wei.

 

PUKUL 00:22. DALAM MIMPI KIRANA – DI BAWAH POHON BERINGIN.

Kirana atau Mei, atau keduanya sekarang berdiri di bawah pohon beringin raksasa.

Tapi kali ini dia tidak sendiri.

Di depannya, berlutut di atas akar pohon yang menjalar seperti ular, adalah Li Wei.

Bukan Li Wei yang mayat hidup dengan rongga mata kosong dan leher berbekas jeratan. Tapi Li Wei yang masih hidup. Muda. Tampan dengan cara yang sederhana. Rambutnya hitam, disisir rapi ke belakang. Dia mengenakan pakaian pengantin merah yang masih baru belum lusuh, belum kotor, belum berlumuran darah dan tanah kuburan.

Dia menatap Kirana. Matanya tidak kosong. Matanya penuh. Penuh cinta. Penuh takut. Penuh harapan yang sudah tahu akan sia-sia.

"Mei."

Suaranya asli. Keluar dari mulutnya. Bukan bisikan di dalam kepala.

"Kau datang."

Kirana ingin menjawab. Ingin bilang bahwa dia tidak tahu kenapa dia di sini. Tapi suaranya tidak keluar. Tubuhnya bergerak sendiri bukan tubuhnya, tapi tubuh Mei. Dia merasakan dirinya melangkah mendekat, berlutut di depan Li Wei, menyentuh wajahnya dengan tangan yang gemetar.

"Aku datang," suara itu keluar dari mulutnya. Tapi bukan Kirana yang bicara. Itu Mei. "Aku dapat suratmu. Aku datang secepat yang kubisa."

Li Wei menggeleng. Matanya berkaca-kaca.

"Surat? Aku tidak mengirim surat apapun itu padamu."

Mei mengerutkan kening. "Tapi… amplop merah di bawah bantalku. Tulisannya… kau menyuruhku datang ke sini. Ke pohon beringin. Malam ini."

Wajah Li Wei berubah. Ketakutan merayap masuk, menggantikan kelembutan yang tadi ada di sana.

"Mei… aku tidak mengirim surat apa pun. Aku di sini karena aku lari. Aku lari dari pernikahan itu. Aku mau pergi denganmu. Malam ini. Jauh dari sini. Jauh dari mereka."

Mei menatapnya, bingung. "Tapi… amplop itu…"

Dan kemudian,

Suara langkah kaki.

Banyak.

Mendekat dari segala arah.

Li Wei berdiri cepat. Menarik Mei ke belakangnya. Melindunginya.

Dari balik pepohonan, dari balik semak-semak, dari balik kegelapan malam muncul mereka. Laki-laki dewasa dengan wajah keras. Membawa obor. Membawa tambang. Membawa pedang .

Dan di depan mereka semua, seorang laki-laki tua dengan jubah mahal dan wajah yang dingin seperti batu nisan.

Ayah dari mempelai wanita.

"Li Wei." Suaranya datar. Tanpa emosi. "Kau mempermalukan keluargaku. Kau menolak putriku. Dan sekarang… kau mencoba melarikan diri dengan perempuan ini?"

Li Wei tidak mundur. "Aku tidak mencintai putrimu. Aku tidak akan pernah mencintainya. Kalian yang memaksaku. Kalian yang menjodohkanku tanpa bertanya. Aku tidak mau"

"Kau tidak punya pilihan."

Laki-laki tua itu mengangkat tangannya.

Dan orang-orang di belakangnya bergerak.

Li Wei melawan. Dia bukan petarung, tapi dia melawan. Demi Mei. Demi dirinya sendiri. Tapi jumlah mereka terlalu banyak. Dalam hitungan detik, dia sudah jatuh. Ditahan. Dipukuli. Tangannya diikat ke belakang.

Mei berteriak. Mencoba berlari ke arahnya. Tapi seseorang menangkapnya. Menahannya. Memaksanya menonton.

"Kau ingin tahu kenapa kau di sini, perempuan?" suara laki-laki tua itu dingin. "Kau di sini karena kami yang mengirim surat itu. Kami ingin kau melihat lelaki yang kau cintai mati. Kami ingin kau menyaksikan apa yang terjadi pada laki-laki yang berani menolak keluarga kami."

Dia berbalik ke arah Li Wei.

"Kau pikir kau tahu segalanya, Li Wei? Kau pikir kau melihat sesuatu di bawah pohon ini? Sesuatu yang bisa kau gunakan untuk mengancam kami?"

Laki-laki tua itu tersenyum. Senyum yang tidak mencapai matanya.

"Kau tidak tahu apa-apa. Kau hanya melihat permukaannya. Tapi perempuan ini…" Dia menunjuk Mei. "…dia yang tahu. Dia yang melihat. Dia yang menjadi kunci. Dan kami akan memastikan dia tidak pernah membuka apa yang terkunci di bawah pohon ini."

Dia memberi isyarat.

Mereka menyeret Li Wei ke bawah pohon beringin.

Mei menjerit dengan sekuat tenaga,meronta. Tapi orang yang menahannya terlalu kuat.

"JANGAN! LEPASKAN DIA! AKU YANG KALIAN MAU! AKU YANG MELIHAT! BUKAN DIA!"

Tapi tidak ada yang mendengarkan.

Mereka mengikat tali di cabang pohon beringin. Yang terbesar. Yang terkuat.

Mereka memasang jerat di leher Li Wei.

Dan Li Wei meskipun dipukuli, meskipun berdarah, meskipun tahu dia akan mati menatap Mei.

Matanya tidak takut.

Matanya menatap Mei dengan cinta yang begitu besar, begitu dalam, begitu abadi, sehingga Kirana yang terjebak dalam tubuh Mei, menyaksikan semua ini sebagai penonton merasakan dadanya sesak. Matanya panas. Air matanya jatuh.

"Mei," bisik Li Wei. "Jangan lupa. Kau adalah kuncinya. Kau yang bisa menguncinya kembali. Aku akan menjaganya sampai kau kembali. Aku berjanji. Sampai kau kembali… aku akan menjaganya."

Laki-laki tua itu tertawa. "Kau akan mati, anak muda. Kau tidak akan menjaga apa-apa."

Tapi Li Wei tidak mendengarkannya.

Matanya tetap pada Mei.

"Aku mencintaimu..... Di kehidupan ini. Di kehidupan berikutnya. Di semua kehidupan yang akan kau jalani. Aku akan mencarimu. Aku akan menunggumu.......Sampai kau ingat. Sampai kau kembali. Sampai kita bisa mengunci pintu itu… bersama."

Laki-laki tua itu mengangguk.

Dan seseorang mendorong Li Wei dari dahan.

Tubuhnya jatuh.

Tali menegang.

Suara retakan.

Bukan retakan dahan.

Tapi retakan leher.

Mei menjerit.

"Tidakkkkkk!!!!!!!!!!!!!!!!!

Jeritan yang tidak berhenti. Jeritan yang bergema di seluruh hutan. Jeritan yang menembus malam, menembus waktu, menembus kematian itu sendiri.

Dan dalam jeritan itu,

Kirana terbangun.

 

PUKUL 00:29. DALAM ICU, RUMAH SAKIT.

Kirana membuka matanya.

Tubuhnya tersentak. Napasnya memburu. Monitor EKG menjerit BIP-BIP-BIP-BIP—cepat, tidak beraturan, seperti jantung yang baru saja dirobek dari mimpi buruk.

Tapi dia tidak berteriak.

Dia hanya menatap langit-langit.

Retakan itu masih di sana. Lebih lebar sekarang. Tepinya bergerak-gerak seperti mulut yang bernapas. Dan di dalamnya. kegelapan. Kegelapan yang tidak kosong. Kegelapan yang penuh dengan sesuatu yang bergerak, berdesakan, menunggu.

Tapi Kirana tidak takut.

Karena dia ingat.

Dia ingat semuanya sekarang.

Amplop merah. Pohon beringin. Li Wei. Mei.

Dan apa yang dilihat Mei malam itu sebelum surat undangan palsu itu tiba, sebelum dia berlari ke pohon beringin, sebelum dia menyaksikan Li Wei mati di depan matanya.

Apa yang dilihat Mei di bawah pohon beringin, tiga hari sebelum semua ini terjadi.

Sebuah pintu.

Bukan pintu kayu. Bukan pintu besi.

Tapi pintu yang terbuat dari… akar. Akar pohon beringin yang tumbuh membentuk lengkungan. Dan di balik lengkungan itu bukan tanah. Bukan batu.

Tapi sesuatu yang lain.

Sesuatu yang gelap. Sesuatu yang hidup. Sesuatu yang berbisik dalam bahasa yang tidak dikenali Mei, tapi entah bagaimana bisa dia mengerti.

"Kau adalah kuncinya."

"Kau yang bisa membuka. Kau yang bisa menutup."

"Dan suatu hari… kau akan kembali."

Mei tidak pernah menceritakan ini ke siapa pun. Tidak ke Li Wei. Tidak ke keluarganya. Tidak ke siapa pun.

Tapi keluarga mempelai wanita keluarga yang sudah menjaga rahasia pohon beringin selama bergenerasi tahu. Mereka tahu Mei melihat. Mereka tahu Mei adalah kuncinya. Dan mereka tidak bisa membiarkan kunci itu berkeliaran bebas.

Mereka tidak membunuh Mei.

Mereka membiarkannya hidup. Menikah. Punya anak. Punya cucu.

Karena mereka tahu: kunci tidak bisa dihancurkan. Kunci hanya bisa diwariskan. Dari jiwa ke jiwa. Dari kehidupan ke kehidupan.

Sampai suatu hari, kunci itu lahir dalam tubuh yang cukup kuat untuk membuka pintu itu.

Atau menutupnya.

Untuk selamanya.

Dan sekarang, di ranjang ICU rumah sakit Taichung, dua puluh dua tahun setelah jiwa itu lahir kembali dengan nama Kirana

Pintu itu mulai terbuka.

Kirana menoleh ke samping tempat tidurnya.

Li Wei berdiri di sana. Bukan di sudut ruangan lagi. Tepat di sampingnya. Dekat. Sangat dekat. Tangannya yang memegang amplop merah terulur ke arahnya.

Dan di balik Li Wei, di sudut ruangan, berdiri perempuan lain.

Bukan bayangan. Bukan hantu. Tapi jiwa. Jiwanya sendiri. Jiwa yang sudah menunggu selama lebih dari seratus tahun untuk bersatu kembali dengan tubuh yang bisa mengingat.

Kirana mengangkat tangannya. Perlahan. Lemah.

Menyentuh amplop merah di tangan Li Wei.

Dan amplop itu

Terbuka sendiri.

Di dalamnya, bukan rambut hitam panjang. Bukan kertas dengan tulisan Mandarin kuno.

Tapi selembar kain merah. Kain pengantin. Sobekan dari jubah Li Wei yang dia robek malam sebelum dia mati, dan dia tulis dengan darahnya sendiri.

Satu kalimat.

"Sampai kita bertemu lagi, Mei."

Air mata Kirana jatuh.

"…Wei…" bisiknya. Bukan ke Wei di lorong. Tapi ke Li Wei. Ke laki-laki yang sudah mencarinya selama seratus dua puluh tiga tahun.

Li Wei tidak bisa tersenyum. Wajahnya yang mati tidak bisa lagi membentuk ekspresi.

Tapi rongga matanya yang kosong dan gelap entah bagaimana terlihat lebih hangat.

"Kau sudah kembali," suaranya berbisik di kepala Kirana. "Kau sudah ingat."

Kirana mengangguk. Lemah. Tapi pasti.

"…aku ingat. Aku ingat semuanya",

Dia menatap Li Wei. Matanya basah, tapi tegas.

"Aku juga ingat… apa yang harus kulakukan."

Li Wei tidak menjawab.

Tapi tangannya yang dingin tangan mayat yang sudah mati lebih dari seratus tahun menggenggam tangan Kirana.

Dan untuk pertama kalinya sejak malam dia digantung di pohon beringin,

Li Wei tidak sendiri lagi.

1
no more dreams
bagus thor
no more dreams
lanjut thor
Dania
semangat tor
byyyycaaaa
keren,lanjutkan thorr
no more dreams
bagusssssss
Na Er
bagus
byyyycaaaa
lanjut dong thor
CInga@🦁: siap kak😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!