Aira Maharani, 28 tahun, dikenal sebagai gadis mungil dan cantik dengan dedikasi tinggi di bidang keuangan. Kariernya di salah satu anak perusahaan Satria Group berjalan stabil hingga ia dipindahkan ke unit yang lebih besar, sebuah kesempatan yang seharusnya menjadi langkah maju. Namun, harapan itu berubah menjadi kecanggungan ketika ia mengetahui bahwa direktur barunya adalah Bimantara Dwi Cahyo, putra pemilik Satria Group sekaligus mantan kekasihnya di masa SMA.
Dulu, Aira memilih mengakhiri hubungan mereka karena merasa prestasinya menurun sejak berpacaran dengan Bima. Keputusan itu meninggalkan luka yang tampaknya belum sepenuhnya sembuh bagi Bima. Kini, dalam posisi sebagai atasan, Bima kerap memberi tekanan dan tugas berlebihan kepada Aira, seolah membalas masa lalu yang belum selesai.
Meski awalnya dipenuhi ketegangan dan konflik, interaksi mereka mulai berubah seiring berjalannya waktu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 35
Bima duduk santai di sofa ruang tamu, sementara Aira berada di sampingnya dengan posisi sedikit menyamping. Di tangannya, Aira memegang tusuk cumi bakar yang masih mengepulkan aroma khas bumbu manis dan asap arang. Matanya berbinar-binar, jelas sekali dia menikmati makanan itu tanpa beban.
Bima memperhatikan setiap gerakan Aira dengan penuh minat, seolah apa yang dilakukan gadis itu adalah tontonan paling menarik di dunia.
“Apa enak?” tanya Bima, nada suaranya santai namun penuh perhatian.
Aira mengangguk cepat, masih sibuk mengunyah. “Enak banget. Ini yang kemarin, kan?”
Bima tersenyum tipis. “Iya. Kamu kemarin makannya semangat sekali. Jadi aku pikir… kamu pasti mau lagi.”
Aira tidak langsung menjawab. Dia hanya menatap cumi di tangannya sejenak, lalu kembali menggigit dengan lebih pelan. Ada sesuatu dalam caranya menikmati makanan itu, sesuatu yang membuat Bima merasa hangat tanpa alasan yang jelas.
Tanpa berkata apa-apa, Bima meraih bungkusan lain yang ia bawa. Ia membukanya perlahan, memperlihatkan deretan bakso bakar yang masih hangat.
“Aku juga bawa ini,” katanya ringan.
Aira melirik sekilas. “Banyak banget...”
“Biar kamu tidak kehabisan.”
Sebelum Aira sempat bereaksi lebih jauh, Bima sudah mengambil satu tusuk bakso, lalu mengarahkannya ke depan mulut Aira.
“Buka,” ucapnya santai.
Aira langsung mengerutkan kening. “Aku bisa makan sendiri.”
“Aku tahu.” Bima tetap memegang tusuk itu di depan wajah Aira. “Tapi aku ingin menyuapi.”
Aira menatapnya beberapa detik, ragu. “Tidak usah…”
Bima tidak bergerak. Tatapannya justru semakin serius, seolah menunggu tanpa niat menyerah.
Aira mendesah pelan. “Kamu ini…”
Namun pada akhirnya, dia membuka mulutnya sedikit dan menerima suapan itu.
Bima tersenyum, puas. “Nah, begitu kan baik.”
Aira mengunyah dengan ekspresi sedikit kesal, tapi pipinya mulai memerah. Dia berusaha mengabaikan Bima, kembali fokus pada makanannya.
Namun beberapa detik kemudian, dia merasa sesuatu yang aneh.
Tatapan.
Bima masih menatapnya.
Dan bukan sekadar melihat biasa.
Aira berhenti mengunyah, lalu melirik ke samping. Benar saja. Bima masih memperhatikannya tanpa berkedip.
“Kamu kenapa sih?” Aira akhirnya bertanya, nada suaranya sedikit gugup. “Dari tadi lihatin aku terus.”
Bima tersenyum kecil. “Tidak boleh?”
Aira mengerutkan kening. “Ganggu.”
Bima tidak menjawab. Ia hanya bersandar lebih santai di sofa, tapi tatapannya tidak berubah sedikit pun.
Aira semakin tidak nyaman. Dia lalu mengangkat tusuk cumi di tangannya, mengarahkannya ke Bima.
“Nih, makan,” katanya cepat. “Asal kamu berhenti lihatin aku.”
Bima terkekeh pelan. “Tawaran yang menarik…”
Dia mendekat sedikit, menerima cumi itu dari tangan Aira, tapi setelah menggigitnya, dia tetap menatap Aira seperti sebelumnya.
Aira langsung memalingkan wajah. “Kamu bohong.”
“Aku tidak bilang akan berhenti,” jawab Bima santai.
Aira menatapnya lagi dengan kesal. “Terus kenapa kamu lihatin aku?”
Bima menatapnya lebih dalam, senyumnya perlahan berubah menjadi lebih lembut.
“Karena aku ke sini memang mau lihat kamu.”
Jawaban itu membuat Aira terdiam.
Bima lalu mengulurkan tangan, menyentuh pipi Aira dengan jari-jarinya. Sentuhannya ringan, seperti sengaja dibuat pelan.
Aira langsung menepis tangannya. “Jangan pegang-pegang!”
Bima tertawa kecil. “Kenapa? Dulu kucingku senang kalau pipinya dielus.”
Aira langsung membelalak. “Aku bukan kucing!”
“Mirip,” jawab Bima tanpa ragu.
Aira semakin kesal. “Apa yang mirip?!”
Bima berpikir sejenak, lalu menunjuk wajah Aira. “Kecil. Lucu. Kalau kesal, makin kelihatan imut.”
Aira mendengus. “Kamu sengaja bikin aku marah, ya?”
“Tidak,” jawab Bima santai. “Aku cuma jujur.”
Aira melipat tangannya. “Aku tidak mau disamain sama kucing kamu.”
Bima tertawa pelan. “Tenang saja. Kucingku sekarang sudah besar.”
Aira mengangkat dagu sedikit, merasa menang. “Nah, tuh.”
“Tapi kamu…” Bima berhenti sejenak, menatap Aira dari atas ke bawah. “Masih segitu-segitu saja.”
Aira langsung melotot. “Maksud kamu apa?!”
“Tinggi kamu tidak berubah,” jawab Bima ringan.
Aira langsung membela diri. “Itu bukan salah aku! Memang dari sananya begini.”
“Pertumbuhannya lambat?” goda Bima.
Aira mengangguk cepat. “Iya! Jadi kalau kamu tidak suka, kamu bisa pergi.”
Bima terdiam sejenak, lalu tersenyum lebih dalam.
“Siapa bilang aku tidak suka?”
Aira sedikit terkejut. “Hah?”
Bima menyandarkan punggungnya, lalu berkata pelan, “Dulu aku pernah berharap kucingku tidak cepat besar.”
Aira mengerutkan kening. “Kenapa?”
“Karena anak kucing lebih lucu.”
Aira terdiam.
Bima menatapnya lagi, kali ini lebih lembut.
“Dan kamu…” lanjutnya, “tetap kecil dari dulu sampai sekarang.”
Aira menunduk sedikit, merasa wajahnya mulai panas.
“Aku suka itu.”
Kalimat itu membuat Aira benar-benar tidak bisa menatapnya lagi. Dia memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan ekspresinya.
“Kamu aneh,” gumamnya pelan.
Bima hanya tersenyum.
Beberapa saat mereka diam. Hanya suara kecil dari gigitan makanan yang terdengar.
Lalu Aira berbicara lagi, suaranya lebih pelan.
“Kamu juga berubah…”
Bima mengangkat alis. “Berubah bagaimana?”
Aira melirik sekilas. “Dulu… waktu SMA… tinggi aku masih setinggi leher kamu.”
Bima mengangguk. “Aku ingat.”
“Sekarang…” Aira menatap dadanya sendiri, lalu ke arah Bima. “Aku cuma sampai sini.”
Bima tertawa ringan. “Aku juga tidak tahu kenapa bisa begitu.”
Aira mendengus. “Enak saja kamu bilang begitu.”
“Memang kenyataannya begitu.”
“Berapa tinggi kamu sekarang?” tanya Aira.
“Seratus tujuh puluh enam.”
Aira langsung menghela napas panjang. “Jauh sekali…”
“Dan kamu?”
“Seratus lima puluh tiga,” jawab Aira cepat.
Bima mengangguk pelan. “Pas.”
Aira langsung menoleh. “Apa yang pas?!”
Bima tersenyum santai. “Pas untuk aku.”
Aira memutar mata. “Aku serius.”
“Aku juga serius.”
Aira mengerucutkan bibirnya. “Aku ingin lebih tinggi.”
“Kenapa?”
“Biar tidak dikira anak sekolah terus,” jawab Aira jujur. “Umurku sudah dua puluh tujuh.”
Bima tertawa kecil. “Itu justru bagus.”
Aira menatapnya tidak percaya. “Bagus dari mana?”
“Punya istri yang terlihat muda itu impian banyak orang.”
Aira langsung membeku beberapa detik, lalu wajahnya memerah.
“Kamu… berhenti bicara yang aneh-aneh,” katanya cepat.
“Yang mana yang aneh?” tanya Bima santai.
“Kita bahkan belum balikan,” jawab Aira tegas. “Dan kamu sudah bicara sejauh itu.”
Bima tidak terlihat terganggu sama sekali. “Itu cuma soal waktu.”
Aira menghela napas. “Dan kamu yakin sekali orang tuaku akan setuju?”
“Tentu saja.”
Aira mengangkat alis. “Kenapa kamu bisa se-pede itu?”
Bima tersenyum tipis. “Tidak mungkin ada yang menolak calon menantu seperti aku.”
Aira langsung mendengus kesal. “Sombong.”
“Mungkin,” jawab Bima ringan. “Tapi aku memang dididik seperti itu.”
Aira menatapnya, sedikit penasaran. “Dididik bagaimana?”
“Untuk selalu yakin dengan apa yang aku inginkan.”
Aira terdiam.
Bima lalu mencondongkan tubuhnya sedikit mendekat.
“Dan sekarang…” suaranya merendah, “aku tidak hanya yakin.”
Aira tidak bergerak. Tatapan mereka bertemu.
“Aku sangat menginginkan kamu.”
Detak jantung Aira terasa semakin cepat.
Bima semakin mendekat. Jarak mereka kini hanya beberapa senti.
“Aira…” ucapnya pelan.
Aira tidak menjawab. Napasnya terasa tertahan.
“Aku akan membuat kamu jadi milikku.”
Kalimat itu terdengar begitu yakin, begitu tegas, seolah tidak memberi ruang untuk kemungkinan lain.
Tanpa sadar, Aira ikut mendekat.
Tatapan mereka saling terkunci.
Dan perlahan, keduanya mulai menutup jarak.
Namun—
“Ehem.”
Suara batuk kecil terdengar dari arah pintu.
Aira langsung tersentak, menjauh dengan cepat. Wajahnya memerah hebat.
Bima juga segera mundur, meski ekspresinya masih tenang.
Di ambang pintu, paman Aira berdiri dengan wajah datar, namun tatapannya jelas tidak menyenangkan.
“Baru pulang, Om?” sapa Bima cepat, berdiri dari sofa.
Dia langsung menghampiri dan menyalami paman Aira dengan sopan.
Pamannya menerima salaman itu, tapi tidak ada senyum di wajahnya.
“Kerjaan om sudah selesai?” tanya Bima mencoba mencairkan suasana.
“Sudah,” jawab pamannya singkat.
Lalu ia melirik ke arah Aira, kemudian kembali ke Bima.
“Jangan macam-macam dengan keponakan saya.”
Kalimat itu diucapkan datar, tapi sarat tekanan.
Bima tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum tipis, tetap tenang.
Sementara Aira di belakangnya hanya bisa menunduk, berharap lantai bisa menelannya saat itu juga.