NovelToon NovelToon
Bidadari Bar-bar: Pangeran Bisu Ini Milikku!

Bidadari Bar-bar: Pangeran Bisu Ini Milikku!

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / CEO / Pendamping Sakti / Cinta Beda Dunia / Cinta pada Pandangan Pertama / Fantasi Wanita
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

​"Turun dari langit bukan untuk jadi Dewi, tapi untuk jadi istrimu!"
​Demi kabur dari perjodohan Dewa Matahari, Alurra—bidadari cantik yang sedikit "gesrek"—nekat terjun ke bumi. Bukannya mendarat di istana, ia malah menemukan Nael Gianluca Ryker, pewaris tunggal yang sekarat dan kehilangan suaranya akibat trauma masa lalu.
​Bagi Alurra, Nael adalah mangsa sempurna. Tampan, kaya, dan yang paling penting: tidak bisa protes saat dipaksa jadi pangerannya!
​Nael yang dingin dan bisu mendadak pusing tujuh keliling. Bagaimana bisa bidadari penyelamatnya justru lebih agresif dari pembunuh bayaran? Ditolak malah makin menempel, diusir malah makin cinta.
​Dapatkah sihir bidadari bar-bar ini menyembuhkan luka bisu di hati Nael? Atau justru Nael yang akan menyerah pada "teror" cinta dari langit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: SIMFONI LANGIT DI MENARA KACA

Di dalam ruang kerja CEO yang kedap suara, Alurra sudah mulai bosan. Ia sudah mencoba berguling di sofa kulit, memutar-mutar kursi kebesaran Nael hingga pusing, bahkan mencoba memakan tanaman hias di pojok ruangan yang ternyata rasanya seperti plastik hambar.

"Nael lama sekali! Apa dia sedang menghitung bulu ketiak bapak-bapak berkumis itu?" gerutu Alurra sembari melompat ke atas meja kerja Nael.

Matanya yang ungu berbinar menatap sebuah kotak perak kecil dengan banyak tombol dan sebuah gagang plastik. Di atasnya tertulis: PENGUMUMAN SELURUH GEDUNG (ALL-STATION INTERCOM).

"Wah! Kotak apa ini? Tombolnya warna-warni seperti permen!" Alurra menekan tombol merah besar yang paling mencolok.

BEEP!

Lampu merah kecil di atas kotak itu berkedip. Tanpa Alurra sadari, setiap suara yang ia keluarkan kini sedang disiarkan ke seluruh 50 lantai gedung Ryker Group—mulai dari lobi, kafetaria, hingga ruang rapat direksi tempat Nael sedang duduk kaku.

"Tes, tes! Satu... dua... tiga bidadari cantik!" suara Alurra menggelegar di speaker setiap ruangan.

Di ruang rapat, puluhan direktur tua yang sedang serius membahas saham mendadak terlonjak. Nael, yang sedang memegang pena, langsung membeku. Ia mengenali suara cempreng itu.

"Nael! Kau dengar aku tidak? Di sini membosankan!" suara Alurra kembali terdengar, membuat para direktur saling berpandangan bingung. "Daripada aku mati gaya, lebih baik aku bernyanyi saja ya? Ini lagu favoritku saat mandi di sungai surga."

Nael memejamkan mata, tangannya gemetar. Ia ingin lari keluar, tapi ia terjebak di tengah presentasi penting.

Alurra mulai bersenandung. Awalnya hanya nada rendah yang lembut, namun perlahan suaranya naik menjadi melodi yang belum pernah didengar telinga manusia. Suaranya bukan lagi cempreng, melainkan murni, jernih, dan mengandung getaran mistis yang membuat siapa pun yang mendengarnya merasa jiwanya terbang.

Seluruh karyawan Ryker Group berhenti bekerja. Para staf yang sedang mengetik, para pelayan yang sedang membawa kopi, bahkan petugas keamanan yang sedang berpatroli—semuanya mematung. Keindahan suara Alurra begitu menghipnotis, seolah-olah waktu berhenti berdetak.

"Apa... apa ini suara bidadari?" bisik Cindy di meja sekretaris, air mata tanpa sadar menetes di pipinya.

Namun, keindahan itu membawa dampak besar bagi alam. Saat Alurra mencapai nada tinggi yang melengking indah, langit Jakarta yang tadinya terik mendadak berubah gelap gulita dalam hitungan detik. Awan hitam pekat bergulung-gulung tepat di atas gedung Ryker Group.

CRAAAKKKK!

Kilatan petir emas menyambar ujung penangkal petir gedung, membuat seluruh kaca jendela bergetar hebat. Angin kencang mulai melolong di luar, menabrak dinding kaca menara.

"Wah! Dewa Matahari Tua itu marah ya?" Alurra tertawa di tengah nyanyiannya, suaranya tetap tersiar ke seluruh gedung. "Kau dengar itu, Tua Bangka?! Aku sedang bernyanyi untuk Pangeranku! Kau tidak bisa membawaku kembali dengan petir kerupukmu itu!"

Di ruang rapat, lampu mulai berkedip-kedip horor. Para direktur mulai panik, berteriak ketakutan melihat fenomena alam yang tidak masuk akal ini.

Nael tidak tahan lagi. Ia berdiri, mengabaikan semua orang, dan berlari keluar ruangan menuju ruang kerjanya. Jantungnya berdegup kencang. Ia tahu, nyanyian Alurra telah memicu perhatian dari Kerajaan Langit.

Nael menerjang pintu ruang kerjanya dan melihat Alurra sedang berdiri di atas mejanya, menari kecil sembari memegang gagang telepon seolah-olah itu adalah mikrofon konser.

"Nael! Kau datang! Bagus kan suaraku? Sampai-sampai langit ikut bertepuk tangan dengan petir!" seru Alurra riang saat melihat Nael masuk.

Nael segera menyambar gagang telepon itu, mematikan tombol intercom dengan kasar. Keheningan mendadak kembali, menyisakan suara gemuruh guntur yang menjauh di luar.

Nael mencengkeram bahu Alurra, menatapnya dengan tatapan penuh kecemasan yang mendalam. Ia segera mengambil ponselnya, jarinya mengetik dengan sangat cepat hingga hampir salah ketik: "JANGAN PERNAH MELAKUKAN ITU LAGI. MEREKA BISA MENEMUKANMU. ANDA DALAM BAHAYA!"

Alurra tertegun melihat kilatan ketakutan yang nyata di mata Nael. Ia menurunkan tangannya, wajah bar-bar-nya meredup berganti menjadi rasa bersalah yang jarang ia tunjukkan.

"Nael... apa si Dewa Membosankan itu benar-benar bisa menangkapku hanya karena sebuah lagu?" bisik Alurra pelan.

Nael tidak menjawab dengan tulisan. Ia justru menarik Alurra ke dalam pelukannya, mendekap bidadari itu sangat erat seolah-olah ia sedang mencoba menyembunyikan Alurra dari jangkauan langit. Tubuh Nael gemetar, dan Alurra bisa merasakan detak jantung Nael yang liar di dadanya.

"Ih, Pangeranku..." Alurra membalas pelukan Nael, menyandarkan kepalanya di bahu jas Nael yang mahal. "Kenapa kau ketakutan begitu? Aku kan kuat. Aku bisa menghajar mereka kalau mereka datang."

Nael menggeleng di ceruk leher Alurra. Ia tidak takut pada kekuatan Alurra, ia takut pada kehilangan. Ia baru menyadari bahwa tanpa suara bidadari ini—meski terkadang sangat berisik—hidupnya akan kembali menjadi makam yang sunyi.

"Baiklah, baiklah... aku janji tidak akan menyanyi lewat kotak berisik itu lagi," gumam Alurra sembari mengusap punggung Nael. "Tapi sebagai gantinya, nanti malam kau harus memelukku lebih lama ya? Soalnya petir tadi memang agak sedikit... mengerikan."

Nael melepaskan pelukannya, menatap wajah Alurra, lalu mengangguk pelan dengan helaan napas lega. Namun, di luar jendela kaca, awan hitam masih menggantung rendah, seolah-olah sebuah mata raksasa dari langit sedang mengawasi gedung itu, menunggu saat yang tepat untuk menjemput miliknya yang hilang.

...****************...

1
umie chaby_ba
mari kita coba
Ariska Kamisa
semoga kalian bisa menikmati nya juga...
Aldah Karisa
semangat thorr... aku suka gaya bahasamu. 👍
Ariska Kamisa: terimakasih 🙏🙏🙏
total 1 replies
Aldah Karisa
👍👍👍👍
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak sudah mampir 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Aldah Karisa
wow hebat jugaa
Aldah Karisa
termasuk cerita fiksi yang bikin kita membayangkan jauh ga sih... dengan adanya dewa matahari dewa langit... dan ini cinta dua dunia .. berharap happy ending yaaa... suka takut kalo cinta beda dunia... dan semoga Nael ini bisa sembuh dan mau bicara lagi....
aku suka namanya Nael ....
Aldah Karisa
bidadari genit parah
Aldah Karisa
kenapa nael bisa bisu
Aldah Karisa
ini bidadari nya ga pake selendang??? 🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!