NovelToon NovelToon
Istri Kecil Uncle Dom (Kesempatan Kedua)

Istri Kecil Uncle Dom (Kesempatan Kedua)

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Prince Aurora

Sial! .

Lagi-lagi Dom dibuat menangis karena cinta.

Satu kali lagi pria itu berlutut, memohon maaf dan mengemis cinta kepada istri kecilnya. Namun, sebesar apa cinta yang dia tunjukkan, Bella tetap menggeleng dengan linangan air mata. Hukuman telah wanita itu jatuhkan sepenuh cinta.

"Bella, apakah pria brengsek sepertiku tidak layak untuk mendapatkan kesempatan kedua?" Gugu Dominic dengan suara bergetar.

Keduanya saling mencintai, namun Dom kembali terlena dengan masa lalunya, perselingkuhan pria itu dengan Sarah menjadikan boomerang hebat bagi bahtera rumah tangganya bersama Bella.

Bisakah Dom merebut kembali rasa cinta dan percaya istri kecilnya seperti semula?

"Aku begitu mencintaimu, Bella. Dan kau hampir membuat pria seksi ini menjadi gila!" Desis Dominic, saat cintanya kali ini tercampur dengan ambisi amarah dan gairah.


D O N ' T P L A G I A T ! ! !
H A P P Y R E A D I N G, S U G A R R E A D E R S ! !

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prince Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22 — Jangan Datang Karena Anak Ini

Langkah Bella terasa cepat saat meninggalkan toilet lantai kantor itu.

Suara heels-nya memantul di koridor yang lengang, namun detak jantungnya jauh lebih gaduh dari apa pun. Dadanya naik turun, tenggorokannya terasa kering, dan kepalanya penuh oleh satu hal—Dominic tahu.

Atau setidaknya, Dominic sudah tahu cukup banyak untuk mulai menyusun semuanya.

Bella menggenggam tas di bahunya lebih erat. Tangannya yang lain refleks berpindah ke perut, menyentuhnya dengan gerakan yang nyaris naluriah, seolah bayi kecil di dalam sana bisa merasakan kepanikan yang sedang membanjiri dirinya.

“Bella!”

Suara itu kembali terdengar dari belakang.

Dominic.

Bella memejamkan mata sejenak.

Ia tidak berhenti.

Namun beberapa langkah kemudian, sebuah tangan hangat meraih pergelangan tangannya.

Tidak kasar.

Tidak memaksa.

Namun cukup untuk menghentikan langkahnya.

Bella berbalik cepat.

Tatapannya tajam.

“Lepasin.”

Suara itu keluar rendah, tapi penuh amarah yang ditahan.

Dominic langsung melepaskan pegangannya, seolah takut Bella benar-benar pecah jika disentuh terlalu lama.

Mereka berdiri di ujung koridor yang sepi. Hanya ada suara pendingin ruangan dan bunyi samar aktivitas kantor dari kejauhan.

Dominic menatap Bella cukup lama sebelum akhirnya berkata, suaranya lebih pelan dari sebelumnya.

“Itu anakku, kan?”

Kalimat itu akhirnya terucap.

Dan seketika, seluruh tubuh Bella menegang.

Ia tahu pertanyaan ini akan datang.

Cepat atau lambat.

Namun mendengarnya langsung dari bibir Dominic tetap membuat sesuatu di dadanya berdenyut keras.

Bella tertawa kecil.

Tawa yang terdengar getir.

“Sekarang kamu peduli?”

Wajah Dominic berubah.

“Aku selalu peduli.”

“Jangan bohong.”

Tatapan Bella menajam.

“Aku terlalu capek buat dengar kalimat-kalimat yang datang terlambat.”

Dominic menelan ludah.

Ia ingin membantah.

Ingin mengatakan bahwa sejak Bella pergi, hidupnya hancur.

Bahwa rumah terasa kosong.

Bahwa ia bahkan hampir tidak bisa tidur tanpa bayangan Bella.

Namun saat melihat mata wanita itu yang penuh luka, semua pembelaan terasa tidak berarti.

Bella melanjutkan, suaranya semakin dingin.

“Kalau aku bilang iya, lalu apa?”

Dominic membeku.

Tatapannya turun sesaat ke arah perut Bella, lalu kembali naik ke wajahnya.

Ada sesuatu yang runtuh di sorot mata pria itu.

Campuran antara syok, rasa bersalah, dan harapan yang terlalu besar.

“Itu anak kita.”

Kalimat itu keluar hampir seperti bisikan.

Bella menatapnya lurus.

“Dan?”

Dominic mengernyit.

Bella tertawa lagi, kali ini dengan air mata yang mulai menggenang.

“Dan tiba-tiba kamu merasa punya hak?”

Suasana di koridor mendadak terasa lebih dingin.

Dominic melangkah satu langkah mendekat.

“Bella, dengar aku dulu.”

Bella mundur satu langkah.

“Jangan.”

Suaranya bergetar.

Namun bukan karena takut.

Karena marah.

Karena sakit.

Karena terlalu banyak yang belum sembuh.

“Aku nggak mau kamu datang ke hidup aku cuma karena tahu ada bayi.”

Kalimat itu keluar tegas.

Begitu tegas sampai Dominic terdiam.

Bella menatap pria itu tanpa berkedip.

“Aku nggak mau kamu pulang dan bilang mau memperbaiki semuanya hanya karena merasa bertanggung jawab.”

Dominic menggeleng cepat.

“Bukan itu.”

“Lalu apa?”

Pertanyaan itu menghantam.

Dominic membuka mulut, namun tidak ada kata yang langsung keluar.

Karena untuk pertama kalinya, ia sadar Bella memang berhak berpikir seperti itu.

Bahwa semua yang ia lakukan sekarang bisa terlihat seperti penyesalan yang datang karena bayi ini.

Bella menarik napas panjang.

“Aku pergi karena aku hancur, Dom.”

Suaranya mulai melemah.

Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh.

“Aku pergi karena aku nggak sanggup tinggal di rumah yang mengingatkan aku pada pengkhianatan kamu setiap hari.”

Setiap kata terasa seperti pisau yang ditancapkan perlahan.

Dominic memejamkan mata.

Rasa bersalah itu kembali menghantamnya.

Lebih keras.

Bella melanjutkan, kali ini dengan nada yang jauh lebih emosional.

“Aku tahu aku hamil saat aku masih berusaha bangun dari rasa sakit.”

Tangannya menyentuh perut.

Sentuhan yang penuh perlindungan.

“Aku nangis sendirian, Dom.”

Suara Bella pecah.

“Aku dengar detak jantung anak ini sendirian.”

Kalimat itu membuat Dominic membeku.

Dunia di sekelilingnya seperti berhenti.

Detak jantung bayi.

Bella sudah melewati semua itu.

Sendirian.

Tanpa dirinya.

Tanpa ayah dari anak itu.

Untuk pertama kalinya, rasa sakit yang dirasakan Dominic benar-benar menelusup sampai ke tulang.

Ia menatap Bella dengan mata yang mulai memerah.

“Maafin aku.”

Bella menggeleng.

“Aku nggak butuh maaf.”

Suara itu pelan.

Nyaris lelah.

“Aku butuh waktu.”

Dominic menatapnya.

“Berapa lama?”

Bella tertawa kecil sambil menghapus air mata.

“Aku juga nggak tahu.”

Sunyi.

Hanya napas mereka yang terdengar.

Untuk beberapa detik, Dominic hanya menatap Bella, lalu perlahan pandangannya turun ke arah perut wanita itu lagi.

Di sanalah ada anak mereka.

Darah dagingnya.

Sesuatu yang lahir dari cinta mereka sebelum semuanya rusak.

Sebuah perasaan asing namun kuat tiba-tiba muncul dalam dirinya.

Keinginan untuk melindungi.

Keinginan untuk memperbaiki.

Namun Bella lebih dulu bicara.

“Jangan pakai anak ini buat membuat aku kembali.”

Dominic langsung mengangkat wajah.

Tatapannya terluka.

“Aku nggak akan pernah pakai dia buat memaksamu.”

Bella memandangnya cukup lama.

Mencari kebohongan.

Namun kali ini, untuk pertama kalinya, tatapan Dominic terasa begitu mentah.

Begitu telanjang.

Penuh penyesalan.

“Aku cuma pengin kamu tahu,” suara Dominic melemah, “aku akan bertanggung jawab.”

Bella tertawa pendek.

“Lihat?”

Dominic terdiam.

“Itu yang aku takutkan.”

Bella menatapnya lurus.

“Kamu datang karena tanggung jawab.”

Pria itu membeku.

Bella menggeleng pelan.

“Aku nggak butuh pria yang kembali karena merasa wajib.”

Suaranya lembut.

Namun justru itu yang membuat Dominic merasa semakin hancur.

“Aku pernah punya suami yang aku cintai sepenuh hati.”

Bella menarik napas.

“Jangan paksa aku menerima seseorang yang datang cuma karena status ayah.”

Kalimat itu benar-benar membuat Dominic kehilangan kata-kata.

Karena Bella sedang tidak sekadar marah.

Ia sedang melindungi hatinya.

Dan anak mereka.

Bella berbalik perlahan.

“Aku pulang.”

Dominic refleks ingin menahan.

Namun tubuhnya berhenti.

Ia tidak ingin membuat Bella semakin jauh.

Sebelum melangkah, Bella berhenti sejenak.

Tanpa menoleh, ia berkata pelan,

“Kalau kamu memang ingin kesempatan kedua…”

Suaranya nyaris berbisik.

“Buktikan kamu mengejar aku, bukan anak ini.”

Lalu Bella pergi.

Meninggalkan Dominic yang berdiri sendiri di ujung koridor.

Tatapannya kosong.

Namun satu kalimat Bella terus berputar di kepalanya.

Buktikan kamu mengejar aku, bukan anak ini.

Dan untuk pertama kalinya, Dominic tahu.

Kesempatan kedua itu ada.

Tapi ia harus memperjuangkannya dari nol.

---

END BAB 22 😭🔥

1
mimief
ini orang ga kerja kerja apa yaaa🙄
dulu aja alesannya sibuk Mulu
Ampe kita di abaikan
dasar...kalau ada maunya aja,so soan semua ditinggal demi kita
nanti kalau udah dapet lagi juga lupa🙄
mimief
jadi...luluh kah?.
tapi siapa yg ga yaaa🫣
mimief
aku juga kalau jadi dia... bakalan goyah
kasih kesempatan ga ya?🙄🥹
Soraya
lanjut
mimief
kadang ga ngerti ya
.di otak para pelakor itu
dia cantik
dia sukses
tapi malah terobsesi sama milik orang lain
dan bodohnya para pria itu membuka pintu hati nya lebar"
mimief
🥹🥹🥹🥹🥹🥹🥹
aku bacanya ga nafas thor
mimief
jangan lemah...
ayo semangat bella
mimief
aku juga setuju lah Thor
cape sama orang yg belum selesai sama masa lalunya
kita akan selalu sendirian
terabaikan
dan...bukan sesuatu yg jadi prioritas
dia datang hanya kewajiban 🥹
mimief
hami yaa🥹🥹🥹
mimief
itu dia..
sebenarnya air mata bukan lah tanda kita lemah
tapi memberikan ijin buat tubuh kita mengeluarkan semua rasa
nangis aja..
yg kenceng.
tapi.....untuk saat ini aja
setelah nya kita bergerak maju ke masa depan
mimief
yah begitulah semua lelaki
mereka kan selalu merasa di zona nyamannya
merasa kita akan ditempat dan rasa yg sama
walaupun apapun yg terjadi
tapi mereka lupa semua asalnya dr mereka 🥹🥹
mimief
hiks....hiks.
kok aku yg emosi ya Thor
liat Diana yg ga tau malu
eh..mang lupa ya
pelakor mang semuanya ga tau malu🥹🥹
mimief
kau berharap apa dom...
lelah itu sesuatu yg nyata tapi tida berasa🥹🥹
mimief
🥹🥹🥹🥹🥹🥹🥹
mimief
ya...tidak perlu mempertahankan yg ga mau bertahan buat kita🥹🥹
mimief: jujurly,aku si mau nya pisah
kita liat aja si dom ini
bener bener mau berubah atau tidak.
tapi Thor.... perselingkuhan itu seperti sakit kangker yg diam diam menyakiti kita dr dalam.
tak terlihat tapi sakitnya nyata.
walaupun mereka kembali lagi.
rasa itu ga akan sama...
ketidakpercayaan , curiga akan memberikan rasa sakit yg lebih🥹
total 2 replies
mimief
nyesek nya Ampe nembus layar Thor 🥹🥹
mimief
ya ampun aku Ampe ga nafas bacanya thor
ini...memang dr awal seperti ada yg salah bukan?🥹🥹🥹
mimief: 🥹🥹🥹🥹🥹
total 2 replies
Soraya
lanjut thor
Isn't Aurora!!💫: tetep stay yaaa🤭😍
total 1 replies
Soraya
knp dobel thor
Isn't Aurora!!💫: iyaa maaf aku salah upload, makasi udah diingetin 😊
total 1 replies
Soraya
lebih baik kmu pergi Bella
Isn't Aurora!!💫: setuju bella pergi? 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!