NovelToon NovelToon
Preman Sengklek Dan CEO Cantik

Preman Sengklek Dan CEO Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Apa jadinya kalau mantan preman pasar yang paling ditakuti justru berakhir jadi pengawal pribadi seorang CEO cantik yang super dingin? Alih-alih merasa aman, sang CEO malah dibuat naik darah sekaligus baper tiap hari karena tingkah bodyguard-nya yang sengklek dan nggak masuk akal. Ikuti kisah komedi romantis penuh aksi antara si garang dan si cantik!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Bonus Spesial dan Bianglala Sidoarjo

​.. Pagi ini suasana di kantor Wijaya Tower terasa jauh lebih tenang. Tidak ada truk bunga, tidak ada mobil sport merah yang parkir sembarangan, dan yang paling penting, tidak ada lagi gangguan dari Adrian. Sepertinya lalat merah itu benar-benar kapok setelah aku beri "pelajaran" bela diri ala pasar Sidoarjo kemarin sore.

​.. Aku sedang asyik membersihkan dasbor mobil saat Clarissa mengetuk kaca jendela dengan pelan. Wajahnya pagi ini terlihat sangat cerah, senyumnya lebih manis daripada teh botol yang biasa kubeli di kantin. "Genta, ikut saya ke ruangan sebentar. Ada sesuatu yang ingin saya berikan," ucapnya singkat lalu berjalan mendahuluiku.

​.. Aku mengekor di belakangnya dengan perasaan was-was. Waduh, ada apa lagi ini? Apa aku mau dipecat karena kemarin merusak kap mobil sport orang? Atau jangan-jangan aku mau disuruh ganti rugi bunga mawar yang aku bagikan gratis itu? Duh, bisa-bisa gajiku dipotong sampai tahun depan.

​.. Begitu sampai di ruangannya, Clarissa duduk di kursi kebesarannya dan menyodorkan sebuah amplop cokelat yang cukup tebal. "Ini untuk kamu, Genta. Bonus karena sudah melindungi saya kemarin. Saya tahu tugas kamu berat, dan kamu sudah melakukannya lebih dari sekadar bodyguard."

​.. Aku menerima amplop itu dengan tangan gemetar. Begitu aku intip isinya... BUSYET! Isinya uang tunai pecahan seratus ribuan yang tebalnya hampir sama dengan kamus bahasa Inggris. "Waduh, Mbak Bos! Ini serius buat saya? Ini kalau saya belikan kerupuk di Sidoarjo, bisa buat nutupin satu kecamatan, Mbak!"

​.. Clarissa tertawa renyah. "Gunakan untuk apa saja yang kamu mau, Genta. Kamu pantas mendapatkannya. Oh ya, sebagai tambahan, malam ini saya bebaskan kamu dari tugas pengawalan formal. Kamu mau minta hadiah apa lagi? Mumpung saya lagi senang."

​.. Aku terdiam sejenak. Uang ini memang banyak, tapi ada satu hal yang lebih berharga daripada uang. Aku ingin melihat Mbak Bos cantik ini merasakan kesenangan rakyat jelata yang sebenarnya, bukan cuma makan di restoran bintang lima yang suasananya kaku seperti rapat pleno.

​.. "Kalau boleh jujur, Mbak Bos... saya nggak butuh barang mewah. Gimana kalau malam ini Mbak Bos ikut saya jalan-jalan? Saya mau ajak Mbak Bos ke tempat yang bener-bener merakyat. Kita ke Pasar Malam di pinggiran Jakarta, gimana? Mbak Bos berani nggak?" tantangku sambil nyengir lebar.

​.. Clarissa tampak ragu sejenak. "Pasar Malam? Yang banyak debu dan suara bising itu? Hmm... baiklah. Jam tujuh malam jemput saya. Tapi awas ya kalau kamu macam-macam!" ancamnya, tapi aku tahu dia sebenarnya penasaran.

​.. Malam harinya, aku menjemput Clarissa dengan kaos oblong putih bersih dan celana jeans. Clarissa sendiri tampil sangat sederhana, cuma pakai kaos polo dan celana kain, tapi tetap saja cantiknya nggak masuk akal. Begitu sampai di lokasi Pasar Malam, matanya langsung berbinar melihat lampu-lampu bianglala yang berputar dan suara musik dangdut yang menggelegar dari speaker besar.

​.. "Genta! Lihat itu! Ada kincir ria raksasa!" teriaknya senang seperti anak kecil yang baru pertama kali keluar rumah. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala. Ternyata di balik jabatan CEO-nya, Clarissa tetaplah wanita biasa yang butuh hiburan sederhana.

​.. Kami mulai berkeliling dari satu stan ke stan lainnya. Aku membelikan Clarissa Krupuk Upil (kerupuk goreng pasir) khas Jawa Timur yang sengaja kubawa sebagai stok. "Coba ini Mbak Bos, ini kerupuk legendaris. Digoreng pakai pasir, bukan minyak. Sehat dan bikin nagih!"

​.. Clarissa mencobanya dengan ragu, tapi begitu kerupuk itu masuk ke mulutnya... KRIUK! "Wah! Enak banget, Genta! Gurih dan ada aroma uniknya. Kok bisa ya digoreng pakai pasir tapi nggak ada pasirnya?" tanyanya heran sambil terus mengunyah tanpa henti.

​.. "Itulah teknologi kuno Sidoarjo, Mbak Bos. Lebih canggih dari mesin kopi di kantor Mbak!" jawabku bangga. Kami pun naik bianglala bersama. Saat berada di puncak tertinggi, aku bisa melihat seluruh kerlip lampu Jakarta dari kejauhan. Clarissa duduk di sampingku, wajahnya terkena angin malam yang sejuk, membuatnya terlihat sangat damai.

​.. "Genta... terima kasih ya. Selama ini saya cuma tahu kerja dan kerja. Saya lupa kalau bahagia itu bisa sesederhana makan kerupuk dan naik bianglala di pasar malam," ucapnya pelan sambil menatap mataku.

​.

. Aku merasa jantungku mau copot lagi. Suasananya mendadak jadi romantis, lebih romantis daripada adegan film Korea yang sering kutonton. "Sama-sama, Mbak Bos. Selama Genta masih ada, Mbak Bos nggak akan pernah kekurangan alasan buat senyum. Saya janji."

​.. Kami pun turun dari bianglala dengan perasaan yang lebih dekat dari sebelumnya. Tapi, saat kami mau pulang, aku melihat sesosok pria yang sangat kukenal sedang berdiri di dekat pintu keluar dengan wajah penuh amarah. Itu Adrian! Dan kali ini, dia tidak sendirian. Dia membawa beberapa orang yang kelihatannya bukan preman biasa, melainkan orang-orang profesional.

​.. "Waduh, Mbak Bos. Sepertinya lalat merah itu benar-benar ingin saya buat jadi lalat penyet malam ini. Dia nggak kapok-kapok juga ganggu waktu kencan... eh, maksud saya waktu jalan-jalan kita," kataku sambil memasang posisi siaga. Perang di Pasar Malam sepertinya akan segera pecah!

​.. Adrian melangkah maju dengan wajah yang diterangi lampu warna-warni bianglala, tapi sorot matanya tetap gelap penuh amarah. "Genta, kamu pikir dengan membawa Clarissa ke tempat kumuh seperti ini kamu sudah menang? Lihat diri kamu, kamu cuma sampah yang kebetulan beruntung!" teriaknya sambil menunjuk wajahku.

​.. Aku hanya tertawa kecil, sengaja menunjukkan sisa kerupuk upil yang masih menempel di sudut bibirku. "Wah, Mas Adrian ini kok hobi banget ya mampir di tempat kumuh? Apa jangan-jangan Mas ini kangen suasana rakyat jelata karena bosan makan emas setiap hari?" jawabku tenang sambil menarik Clarissa ke belakang tubuhku.

​.. Kali ini, Adrian tidak membawa preman otot biasa. Di belakangnya berdiri dua pria dengan setelan safari rapi, badannya tegap, dan tatapannya dingin. Ini bukan preman pasar, ini profesional. "Hajar dia. Jangan sampai merusak wajahnya, biarkan dia merasakan sakit yang tidak terlihat," perintah Adrian dengan nada licik.

​.. Salah satu pria itu maju dengan gerakan yang sangat cepat. Dia mencoba melakukan kuncian di lenganku, tapi aku sudah lebih dulu membaca gerakannya. Di Pasar Malam yang ramai ini, aku punya keuntungan lebih: aku tahu cara memanfaatkan keadaan sekitar.

​.. Aku menyambar sebuah boneka beruang besar dari stan hadiah di sampingku, lalu melemparkannya tepat ke arah wajah pria itu. Saat dia teralihkan oleh boneka itu, aku melakukan sapuan kaki yang membuatnya jatuh tersungkur di atas rumput yang becek. "Maaf ya Mas, bonekanya mau kenalan dulu," ejekku yang membuat penonton pasar malam mulai bersorak sorai.

​.. Temannya yang satu lagi mencoba menyerang dari samping, tapi aku dengan cerdik berlari ke arah penjual gulali. Aku memutar tubuhku sedemikian rupa sehingga pria itu malah menabrak tumpukan kembang gula yang lengket. Wajahnya penuh dengan serat gula warna merah muda, membuatnya terlihat seperti badut pasar malam yang gagal.

​.. Clarissa yang tadinya ketakutan, kini mulai tertawa kecil melihat betapa konyolnya lawan-lawanku saat menghadapi gaya bertarungku yang "sengklek" ini. Adrian semakin geram, dia mencoba maju sendiri, tapi baru melangkah satu kali, dia sudah terpeleset kulit pisang yang memang sengaja aku buang ke arahnya tadi.

​.. "Sudahlah Mas Adrian, mending Mas pulang, mandi yang bersih, terus tidur. Daripada di sini makin malu dilihatin anak kecil yang lagi naik komedi putar," kataku sambil membantu Clarissa berjalan menuju parkiran mobil.

​.. Kami meninggalkan Adrian yang masih sibuk membersihkan sisa gulali dan lumpur di jas mahalnya. Di dalam mobil, Clarissa terus-menerus tertawa sampai perutnya sakit. "Genta... kamu benar-benar keterlaluan. Bisa-bisanya kamu pakai boneka dan gulali buat berantem!"

​.. "Itulah seni, Mbak Bos. Orang sombong itu jangan dihadapi dengan emosi, tapi dihadapi dengan komedi. Biar dia sadar kalau dunianya yang kaku itu nggak ada apa-apanya dibanding keceriaan di pasar malam," jawabku sambil melajukan mobil membelah malam. Malam ini bukan cuma bonus uang yang kudapatkan, tapi juga kenangan indah yang nggak akan pernah bisa dibeli pakai uang Adrian yang milyaran itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!