NovelToon NovelToon
DUDUK BERDUA

DUDUK BERDUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cintapertama / Teen
Popularitas:601
Nilai: 5
Nama Author: BiMO33

"Gue gak akan pergi," jawab Angga akhirnya. Suaranya tegas. Pasti. Tidak ada keraguan. "Itu cuma mimpi. Gue di sini. Nyata. Dan gue gak kemana-mana."

Adea menghela napas lega. Matanya yang tadinya tegang mulai mengendur.

"Janji?"

"Janji."

"Sumpah?"

Angga tersenyum kecil. "Sumpah pake kucing."

Adea menoleh ke bawah. Cumi sedang duduk manis di samping kursinya, menatap bolak-balik antara Angga dan Adea.

"Cumi jadi saksinya," ucap Angga.

"Meong," sahut Cumi, seolah mengiyakan.

Emang boleh sahabat jadi cinta? Emang boleh sahabat tapi tinggal se atap? Emang boleh manja-manjaan ke 'sahabat'..... Emang boleh~

Ikut cerita dua anomali ini yaaa~~~~

Intip dikit gpp lahhh~ kalo betah ya tinggal, kalo nggk ya skip ajaaaa~~~~~

Happy Reading ^^

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Demi Cumi

Pagi itu.

Matahari baru saja muncul di ufuk timur ketika Adea membuka matanya. Biasanya, ia akan berguling-guling malas, memeluk boneka panda erat-erat, dan menunggu Angga membangunkannya dengan teriakan khas "Adeaa~ sarapan!"

Tapi pagi ini berbeda.

Ia bangun sendiri.

Tanpa alarm. Tanpa teriakan. Tanpa rengekan.

Matanya terbuka lebar, menatap langit-langit kamar yang masih temaram. Lampu tidur sudah mati sejak subuh, hanya cahaya matahari pagi yang masuk melalui celah tirai, jatuh ke lantai berbentuk garis-garis keemasan.

Adea duduk.

Rambutnya berantakan. Piyama bintang-bintang kusut di bagian kerah. Pipinya masih sembab. Tapi matanya... matanya sudah jernih. Tidak sembab. Tidak merah. Tidak seperti kemarin.

Ia tersenyum kecil.

Lalu ia turun dari kasur, mengambil handuk dari gantungan di belakang pintu, dan melangkah ke kamar mandi.

---

Di dapur.

Angga sibuk dengan masakannya.

Ia sudah bangun sejak jam setengah lima. Tidak bisa tidur lagi setelah semalaman memikirkan ucapan Adea di villa Seoul: "Lo harusnya bilang itu dari kemarin."

Apa yang harus ia bilang?

Gue sayang lo, Dea?

Sudah. Sudah ia ucapkan.

Tapi apakah itu cukup?

Angga mengaduk wajan berisi tumisan ayam kecap. Aroma bawang dan kecap manis memenuhi ruang dapur, bercampur dengan uap nasi yang baru matang dari rice cooker. Telur dadar sudah siap di piring, jagung rebus di sampingnya.

Ia memasak lebih banyak dari biasanya.

Mungkin karena ia ingin Adea makan banyak hari ini. Mungkin karena ia ingin mengalihkan pikirannya dari sesuatu yang tidak bisa ia selesaikan dengan kata-kata.

Tiba-tiba~

Aroma lain menyeruak.

Bukan aroma masakan.

Parfum.

Vanilla. Wangi khas yang sudah ia kenal sejak SMA. Wangi yang selalu ia cium setiap pagi ketika Adea selesai mandi dan berlari kecil ke dapur seperti anak ayam.

Angga menoleh.

Adea berdiri di ambang pintu dapur.

Bukan piyama bintang-bintang. Bukan rambut kusut. Bukan wajah sembab.

Gadis itu sudah siap.

Seragam kampus, kemeja putih lengan panjang, rok abu-abu selutut. Rambut diikat setengah, menyisakan beberapa helai yang jatuh ke wajah. Wajahnya segar, pipinya merona alami, dan ada sedikit lip tint di bibirnya. Sesuatu yang jarang ia pakai.

Ia terlihat... berbeda.

Bukan berbeda seperti orang lain. Tapi berbeda dari biasanya. Lebih matang. Lebih siap.

Dan parfum vanilla itu... Angga tidak tahu kenapa, tapi wangi itu terasa lebih kuat pagi ini. Atau mungkin indranya sedang lebih peka.

"Hari ini ada praktikum," ucap Adea sambil berjalan masuk ke dapur. Langkahnya tidak berlari kecil seperti biasa. Langkahnya tegas, percaya diri. "Harus cepet."

Angga masih menatapnya. Wajan di tangannya berasap sedikit karena ia lupa mengaduk.

"Ya udah cepet habisin sarapannya," jawabnya akhirnya, berpura-pura tidak terpengaruh.

Tapi Adea tidak bergerak untuk duduk.

Ia berjalan mendekati Angga.

Satu langkah. Dua langkah.

Hingga jarak mereka hanya setengah lengan.

Angga menelan ludah. "Ada apa?"

"Gue liat bentar," ucap Adea sambil menatap wajah Angga dari dekat. Matanya menyusuri garis rahang pria itu, hidung mancungnya, bibir tebalnya yang kemarin malam-

"Apa sih yang diliat?" Angga sedikit gugup.

"Lo ada bekas kuas di pipi."

Adea mengulurkan tangan. Jari telunjuknya yang mungil menyentuh pipi kanan Angga, mengusap sesuatu yang tidak ada. Angga tahu itu. Ia sudah cuci muka. Tidak ada bekas kuas.

Tapi ia tidak bergerak.

Ia hanya berdiri diam, merasakan sentuhan lembut jari Adea di pipinya, dan parfum vanilla yang tiba-tiba terasa terlalu dekat.

"Udah," ucap Adea setelah beberapa detik. Ia tersenyum kecil. Senyum yang berbeda dari biasanya. Tidak manja. Tapi nakal. "Sekarang bersih."

Ia berbalik dan duduk di kursi makannya seperti tidak terjadi apa-apa.

Angga masih berdiri di depan kompor, wajan di tangan, jantung berdebar tidak karuan.

Dia sengaja.

Dia sengaja godain gue.

Ia menghela napas panjang dan kembali mengaduk tumisan ayam.

---

Di meja makan.

Adea makan dengan lahap, tapi tidak seperti biasanya yang ceplas-ceplos sambil bicara. Kali ini ia makan dengan tenang, sesekali meneguk susu hangat, sesekali mengambil ayam kecap dari piring tengah.

"Enak," ucapnya.

"Iya."

"Lo masak lebih banyak dari biasanya."

"Biar lo bisa bawa bekal."

Adea mengangkat alis. "Bekal?"

"Lo bilang hari ini praktikum. Biasanya kalo praktikum lo gak sempat makan siang. Jadi gue bekalin."

Angga berjalan ke meja dan meletakkan sebuah kotak makan berwarna merah muda di samping piring Adea. Kotak itu sudah terisi rapi, nasi, tumisan ayam, telur dadar gulung, dan sedikit sayuran.

Adea menatap kotak makan itu.

Lalu menatap Angga.

"Lo bikin ini kapan?"

"Tadi pagi."

"Jam berapa lo bangun?"

"Jam setengah lima."

Adea terdiam.

Jam setengah lima. Angga bangun jam setengah lima hanya untuk memasak sarapan dan bekal untuknya. Padahal semalam ia tidur larut karena menemani Adea di villa Seoul. Padahal hari ini ia juga ada kuliah.

"Angga."

"Hmm."

"Lo tuh..." Adea menggigit bibir bawahnya. "Baik banget. Saking baiknya kadang gue takut."

"Takut apa?"

"Takut kalo suatu saat lo capek jadi orang baik."

Angga yang sedang menuangkan teh ke cangkirnya berhenti sejenak. Ia meletakkan teko, lalu duduk di seberang Adea.

"Gue gak capek jadi orang baik," ucapnya. "Yang bikin capek tuh kalo orang yang gue baikin malah ngunci diri di kamar tanpa alasan."

Adea menunduk. "Maaf."

"Gue gak minta maaf. Gue cuma minta..." Angga berhenti, mencari kata. "...lain kali kalo ada apa-apa, cerita ke gue. Jangan diem sendiri."

"Gue janji."

"Sumpah pake apa?"

"Sumpah pake Cumi."

Dari bawah meja, Cumi yang sedang makan daging ayam mentah di mangkuknya mengeong pelan seolah protes karena namanya disebut tanpa izin.

Adea dan Angga tertawa kecil.

"Cumi setuju," ucap Adea.

"Cumi gak punya pilihan."

"Dia punya. Dia memilih setuju."

Angga menggeleng. Tapi senyumnya tidak hilang.

---

Setelah sarapan.

Adea membantu membereskan meja, mengangkat piring ke wastafel, membersihkan remah-remah nasi, mencuci gelas susu. Angga menyusul dengan membawa wajan dan panci.

Mereka bekerja berdampingan di dapur kecil itu.

Seperti biasa.

Tapi tidak seperti biasa.

Karena sesekali, siku mereka bersentuhan. Dan setiap kali itu terjadi, Adea tersenyum kecil, sementara Angga berpura-pura tidak merasakan apa-apa.

"Angga."

"Hmm."

"Nanti jemput gue jam berapa?"

"Jam tiga. Kayak biasa."

"Tapi hari ini gue selesai lebih cepet. Jam setengah tiga."

"Ya gue jemput jam setengah tiga."

"Janji?"

"Janji."

Adea mengambil kotak bekal merah mudanya, memasukannya ke tas ransel, lalu berjalan ke pintu. Cumi sudah menunggu di teras, duduk manis di samping helm biru yang menggantung di stang motor.

Angga menyusul. Ia mengambil helm biru itu, lalu berjalan ke arah Adea.

"Ditekuk," ucapnya.

Adea menunduk. Angga memasangkan helm biru itu ke kepalanya perlahan, lembut, seperti biasa. Tapi kali ini, ketika tali helm sudah terpasang, Angga tidak segera melepaskan tangannya.

Ia menahan sebentar.

Matanya menatap mata Adea dari balik kaca helm.

"Adea."

"Hm?"

"Hari ini semangat ya."

"Iya."

"Jangan telat."

"Gak akan."

"Jangan lupa makan siang."

"Iya."

"Jangan-"

"Angga." Adea memotong. "Lo tiba-tiba jadi cerewet."

"Ya lo yang bikin gue cerewet."

Adea tersenyum di balik kaca helm. Senyum yang tidak bisa Angga lihat dengan jelas, tapi bisa ia rasakan.

"Angga."

"Hmm."

"Gue juga sayang lo."

Angga terdiam.

Adea sudah berbalik dan berlari kecil menuju motor, naik ke jok belakang tanpa diangkat, kali ini ia berhasil meski sedikit canggung. Ia menepuk-nepuk jok di depannya.

"Cepetan naik! Nanti telat!"

Angga masih berdiri di teras, memegang helm hitamnya yang belum ia pakai.

Dia bilang 'juga'.

Juga.

Berarti...

Ia menggelengkan kepalanya sendiri, lalu berjalan ke motor, memasang helm, dan duduk di depan Adea.

Mesin menyala.

Adea langsung memeluknya erat, tangannya melingkar di perut Angga, pipinya menempel di punggung pria itu.

"Angga."

"Hmm."

"Makasih buat bekalnya."

"Sama-sama."

"Makasih buat semuanya."

Angga tidak menjawab. Tapi tangannya yang kiri turun sebentar, menyentuh jari-jari Adea yang bertaut di perutnya, lalu kembali ke setang.

Motor melaju pelan meninggalkan halaman.

Cumi duduk di teras, mengeong pelan, lalu masuk ke rumah dan merebahkan diri di sofa.

---

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!